Seorang wanita yang bernama Winda sudah lama menikah mencoba bermain api dengan teman sekantornya yang bernama Hendra. Rasa cinta & nyaman yang sebelumnya tidak dirasakan olehnya ditemukan dalam diri Hendra. Setelah sepakat meninggalkan pasangan masing-masing.
Hendra justru memilih kembali kedalam pelukan istrinya. Winda yang sudah terlanjur menggugat cerai suaminya merasa kecewa & marah kepada Hendra.
Apa yang dilakukan Winda setelah Hendra & Suaminya tidak didapati ?
BURUAN KEPOIN ??? JANGAN LUPA BACA YAA KISAH KELANJUTANNYAAA !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nukhbatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Memikirkan Winda
Langit begitu gelap, hujan tak juga reda, Hendra rebahan di sofa santainya dengan muka kucel, rambut berantakan tak karuan dengan warna rambut kusam. Hati dan pikirannya gundah gulana sedang memikirkan Winda kekasih gelapnya yang sudah lama hubungan mereka kandas tanpa ada putus ataupun perpisahan.
Walau raga berada disisi istrinya Lastri namun hati dan pikirannya hanya terpaku dengan satu nama Winda wanita cantik yang saat ini tengah mengandung anaknya. Ingin sekali ia menghubungi dan menghampiri Winda namun langkah kakinya terasa berat.
Lastri wanita sederhana yang hanya mengenakan daster selutut dirumahnya, berparas polos nan juga ayu seperti ciri khas wanita Jawa pada umumnya. Dengan matanya ia sedang menyimak apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.
"Mas... kenapa kamu dari tadi, aku perhatikan muka kamu murung terus?" Ucap Lastri memberanikan diri bertanya kepada suaminya itu. Raut muka suaminya itu pun tidak dapat dibohongi. Seperti tidak ada semangat lagi dalam menjalani hidupnya akhir-akhir ini.
"Mas, tidak memikirkan siapa-siapa, Las" Jawabku dengan berbohong kepada Lastri agar istrinya tidak cemburu lagi kepadaku.
"Jujur saja kamu mas, tidak usah bohong atau menutupi sesuatu dariku". Jawab Lastri menanti ucapan jujur dari suaminya itu.
"Aku sedang memikirkan Winda, Las. Aku mau tau kabar calon anak yang ada dalam kandungannya itu,". Ucapku polos dan pelan dengan istriku.
Lastri pun dengan muka tidak suka dan kesalnya bila suaminya itu membicarakan wanita pelakor itu. Mukanya pun langsung ditekuk berkali-kali lipat tak ada ucapan yang keluar dari bibir tebal istrinya itu.
Ia pun langsung meninggalkan suaminya itu sendiri di atas Sofanya dan Langkah kakinya pun berjalan terburu-buru, menahan tangis airmatanya yang sempat tertahan dan berniat mengurung dirinya dikamar tidurnya, Berisitirahat dan menenangkan dirinya. Ia tidak percaya kalau suaminya masih belum melupakannya begitu saja.
Handphone miliknya itu hanya diputar-putar saja, Ia tidak berani dan berat tangannya untuk menghubungi Winda. Untuk hanya sekadar ingin mengetahui kabarnya saja, nyalinya sudah ciut dan sungkan.
Lastri pun sengaja membanting gelas yang berada dikamar tidurnya, ia lakukan agar suaminya tidak sibuk memikirkan Winda saja. Dan sengaja untuk membuyarkan lamunan panjangnya hari ini.
PRANG....PRANG....
Hendra dengan muka panik dan cemasnya berjalan berlarian menghampiri istrinya yang sedang berada didalam kamarnya itu. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Kenapa kamu Las, apa yang pecah". Ucap Hendra pelan memperhatikan istrinya itu. Kamu tidak apa-apa kan tangan kamu, sayang.
"Tidak apa-apa, Mas.Maaf mas, tidak sengaja gelas ini kesenggol tanganku". Balas Lastri berbohong kepada suaminya.
Suaminya pun langsung membereskan pecahan gelas yang berserakan dilantai kamar tidurnya. Ia pun tidak ingin tangan Lastri berdarah dan terluka.
"Sudah aku saja yang beresin pecahan gelas dikamar tidur ini, kamu jaga Kandita saja diruang tamu ya, sayang". Balas Hendra dengan penuh perhatian kepada istrinya itu
Rasa perhatian dan rasa pedulinya suaminya terhadap istrinya ternyata masih ada. Pecahan gelas kaca pun ia segera bereskan dengan sapu dan kain pel. Lantai yang kotor pun dalam sekejap bersih dan wangi kembali.
Lastri pun berhasil mencari perhatian suaminya, ia tidak ingin Hendra memikirkan dan bertemu lagi dengan Winda wanita yang telah merusak rumah tangganya itu.
Sementara diseberang sana, ada Winda yang tengah berbahagia karena perutnya makin lama makin membesar dengan mengenakan baju baby doll berwarna warna-warni seperti pelangi dipagi hari bila sedang berjalan sebentar nafasnya pun ngos-ngosan. Ia tidak sabar menanti kelahiran buah hatinya itu yang telah lama dinantinya.
Winda pun harus mempersiapkan kelahirannya anaknya itu pun seorang diri, tidak ada suami yang mendampinginya. Ia pun harus menerima konsekuensinya karena menjalani hubungan dengan suami orang lain.
Ditengah keterpurukan Winda didalam hidupnya masih ada teman kantor baiknya yang masih setia berkawan dengannya yaitu Nadia, Ia paham betul bahwa temannya itu salah dalam mengambil langkah didalam hidupnya namun ia tidak menghakiminya.
Winda teman yang sangat baik buat Nadia, Dalam urusan pribadi Winda, Nadia tidak mau ikut campur atau menjauhi Winda ditengah gosip miring yang sedang ia hadapi.
Winda pun meminta tolong Nadia untuk menemaninya berbelanja ke Mall membeli perlengkapan calon anaknya.
"Nad, tolong temanin gue yukk, belanja ke Mall buat beli keperluan calon anak gue". Ajak Winda ke teman cantiknya itu, Nadia.
"Boleh...mau kapan gue temenin Win". Balas Nadia semangat menyala kepada Winda.
Nadia yang bertubuh ramping, berkulit putih dengan warna mata hitam bulat pun menemui sahabatnya itu ditempat kontrakan Winda dengan mengendarai mobil sedan hitamnya itu.
Nadia pun melewati para penghuni kontrakan yang sedang asik berkerumun. Kontrakan eksekutif yang ditempati oleh Winda saat ini dengan rumah berjajaran dengan jarak tidak berjauhan pun semakin Nadia risih ditempat tersebut.
Didalam Mall pun kekompakan mereka berdua tidak diragukan kembali, tertawa bersama, bercanda tawa menghilangkan kesuntukan dihidup ini.
Dua wanita cantik yang berpenampilan modis yang telah lama bersahabat didalam kantor tempat mereka berdua bekerja. Berbelanja dan makan bersama..Namun didalam restoran yang dipenuhi oleh banyak pengunjung yang antri memesan makanan, kedua mata Winda menangkap sosok seseorang yang ia kenal banget dengan dirinya dengan mata berbinar-binar pun hati Hendra menari-menari ketika melihat Winda mantannya yang sangat ia rindukan.
Hati yang sangat ia rindukan akhirnya Hendra pun bisa melihatnya juga walau hanya sedetik saja tapi rasa kangennya sudah berhasil ia tumpahkan.
Sekujur tubuhnya yang dipenuhi kerinduan akan sosok wanita cantik yang sedang mengandung calon anaknya itu. Ingin rasanya Hendra memeluk dan mendekap erat dirinya agar selalu disisinya setiap saat.
Kebodohan dalam hidup Hendra adalah melukainya dan memberikan harapan palsu kepadanya. Winda yang ia pandangi saat ini jauh lebih cantik dari yang sebelumnya hari perut dan tubuhnya makin gempal dan berisi.
Dengan mata menunduk malu melihat kebawah lantai yang dipenuhi cahaya lampu terang didalam restoran berharap Winda tidak melihat dirinya disini. Ia tidak ingin melihat Winda menghilang dari sini.
"Maafkan aku Winda.... Yang banyak melakukan kesalahan dan terlalu banyak memberikan harapan palsu kepadamu". Batin Hendra dengan penyesalan terdalam kepada wanita yang sangat ia cintainya itu.
Rupanya teriakan Lastri mengejar anaknya yang sedang berlarian pun membuat Winda tersadar akan keberadaan Hendra didalam restoran itu.
"Kandita... Sini sayang kamu makan dulu, nak". Perintah Lastri kepada anaknya itu.
Winda pun seperti mengenal teriakan wanita itu, ia pun menatap dari kejauhan sesosok pria yang bernama Hendra. Ayah dari calon anaknya itu seperti lelaki pengecut.