Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Krucuk!
Suara perut yang nyaring itu menggema di dalam kabin mobil sedan mewah yang sunyi.
Raka langsung memegang perutnya dan menundukkan wajahnya dalam-dalam karena sangat malu.
Sasa yang duduk di sebelahnya hanya menoleh sekilas tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin.
"Berapa lama kau tidak makan, Raka?" tanya Sasa memecah keheningan.
"Sekitar dua hari penuh, Nona Sasa," jawab Raka jujur karena memang perutnya sudah sangat perih.
Sasa membuka kompartemen kecil di tengah kursi penumpang dan mengeluarkan sekotak biskuit gandum impor.
Wanita itu menyodorkan kotak biskuit tersebut ke arah Raka tanpa banyak bicara.
"Makanlah dulu untuk mengganjal perutmu sampai kita selesai dari bank."
"Terima kasih banyak, Nona Sasa, Anda benar-benar baik hati," ucap Raka sambil menerima kotak itu dengan tangan bergetar.
Krek!
Raka langsung membuka bungkusnya dan melahap biskuit itu seolah-olah itu adalah makanan paling enak di dunia.
Rasa manis dan gurih langsung menyebar di mulutnya membuat energinya perlahan kembali pulih.
Mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota dan akhirnya masuk ke area parkir VIP sebuah bank swasta ternama.
Ceklek.
Bodyguard berbadan tegap itu membukakan pintu untuk Sasa dan kemudian membukakan pintu untuk Raka.
Raka turun dari mobil sambil mengunyah biskuit terakhirnya dan menatap takjub gedung bank yang menjulang tinggi.
Ini adalah pertama kalinya seumur hidup Raka menginjakkan kaki di tempat elit seperti ini.
Dua orang satpam bank yang berdiri di pintu masuk tampak mengerutkan dahi melihat penampilan Raka.
Pakaian Raka sangat kumal dan celananya penuh noda lumpur sisa hujan semalam.
Salah satu satpam maju selangkah dengan niat ingin mengusir Raka dari area pintu masuk.
"Maaf, Mas, pengemis dilarang masuk ke dalam," tegur satpam itu dengan nada ketus.
"Dia bersamaku, Pak," potong Sasa dengan suara datar tapi penuh tekanan.
Satpam itu langsung menoleh dan wajahnya berubah pucat saat menyadari siapa yang berbicara.
"Eh, selamat pagi Nona Sasa, maaf saya tidak tahu kalau pemuda ini tamu Anda," ucap satpam itu gugup sambil membungkuk hormat.
Sasa tidak mempedulikan permintaan maaf itu dan langsung berjalan masuk melewati pintu kaca otomatis.
Raka tersenyum mengejek ke arah satpam itu lalu berjalan mengekor di belakang Sasa.
Mereka tidak pergi ke area antrian umum melainkan diarahkan oleh manajer bank menuju ruangan VIP di lantai dua.
Ruangan VIP itu sangat luas, ber-AC dingin, dan dilengkapi sofa kulit yang sangat empuk.
Seorang petugas teller wanita dengan seragam rapi sudah menunggu mereka dengan senyum profesional.
"Selamat pagi Nona Sasa, ada transaksi besar yang ingin dilakukan hari ini?" sapa teller itu sopan.
"Aku ingin mentransfer dua miliar rupiah ke rekening pemuda ini sekarang juga," jawab Sasa sambil duduk menyilangkan kakinya.
Teller itu melirik Raka dengan tatapan bingung namun berusaha keras menyembunyikannya.
"Baik, Nona. Maaf, Tuan, boleh saya meminjam kartu identitas dan buku tabungan Anda?" tanya teller itu pada Raka.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia sama sekali tidak punya rekening bank.
"Saya tidak punya rekening bank, Mbak, bisakah saya membuatnya sekarang?" tanya Raka polos.
Teller itu tersenyum canggung lalu mengangguk pelan.
"Tentu saja bisa, Tuan, tapi saya tetap butuh kartu identitas seperti KTP untuk pendaftaran."
Raka merogoh saku celana jeansnya yang kotor dan mengeluarkan sebuah dompet kain yang sudah sobek ujungnya.
Ia mengambil sebuah KTP yang warnanya sudah memudar dan sedikit terlipat lalu menyerahkannya ke teller.
Sasa melirik KTP yang diletakkan di atas meja itu dengan sudut matanya.
"Raka Mahesa?" eja Sasa membaca nama yang tertera di KTP tersebut.
Raka menoleh ke arah Sasa lalu tersenyum canggung.
"Iya, Nona Sasa, itu nama asli saya sejak lahir," jawab Raka jujur.
Sasa mendengus pelan namun tidak bertanya lebih lanjut mengenai masalah nama tersebut.
Teller bank mengetik data Raka dengan cepat di komputernya untuk membuka rekening baru jalur VIP.
Tidak sampai lima belas menit, sebuah buku tabungan hitam dan kartu ATM platinum sudah tersaji di atas meja.
"Rekening atas nama Raka Mahesa sudah aktif, Nona Sasa bisa melakukan transfer sekarang," lapor teller tersebut.
Sasa memberikan instruksi dari ponselnya dan dalam hitungan detik proses itu selesai.
Ting!
Suara notifikasi dari mesin komputer teller menandakan bahwa dana segar telah masuk.
Teller itu mencetak mutasi di buku tabungan Raka lalu menyerahkannya dengan kedua tangan.
"Dana sebesar dua miliar rupiah sudah masuk ke rekening Anda, Tuan Raka," ucap teller itu tersenyum ramah.
Raka menerima buku tabungan itu dengan tangan gemetar lalu menatap deretan angka nol yang sangat panjang di sana.
Satu, dua, tiga, ada sembilan angka nol di belakang angka dua.
"Gila, ini uang beneran," batin Raka menelan ludah karena masih merasa seperti bermimpi.
Sasa berdiri dari sofanya lalu merapikan setelan blazernya.
"Urusan kita sudah selesai, Raka Mahesa."
Sasa menatap Raka dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mendapatkan ginseng dan jamur kualitas dewa itu."
Sasa mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Raka hingga wangi parfum mawarnya tercium jelas.
"Tapi kalau suatu hari kau punya barang pusaka seperti itu lagi, pastikan kau mencariku pertama kali."
"Pasti, Nona Sasa, Anda adalah pelanggan VIP saya mulai sekarang," jawab Raka tersenyum lebar.
Sasa mengangguk puas lalu berbalik berjalan keluar dari ruangan VIP diikuti bodyguardnya.
"Bima, antar anak ini ke pusat perbelanjaan terdekat, jangan biarkan dia berkeliaran pakai baju gembel seperti itu," perintah Sasa pada bodyguardnya sebelum berpisah di lobi.
"Baik, Nona," jawab Bima si bodyguard patuh.
Sasa masuk ke dalam mobil lain yang sudah disiapkan manajer bank untuknya dan melaju pergi.