Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proses Transaksi
Sean mengerang pelan. Kesadarannya mulai terkumpul, tapi matanya masih sangat berat. Ia meraba-raba tempat kosong di sampingnya. Tak sengaja menyentuh wajah Hanis yang masih tertidur.
Sentuhan itu sukses membangunkan Hanis. Wanita yang terbiasa bangun karena anaknya yang lapar atau mengompol itu langsung membuka mata. Otomatis terduduk.
Sedetik kemudian, ia tidak sedang berada di rumah bersama anak-anaknya, melainkan bersama Sean. Ia sedang bekerja. Atau lebih tepatnya persiapan untuk pekerjaan itu.
“Hummm…” Sean bergumam tidak jelas, kemudian meregangkan tubuhnya. Dua tangan direntangkan ke kanan dan kiri.
“Pagi Sean,” sapa Hanis canggung.
Ini kali pertama Hanis bangun dan ada pria selain Rino atau anak-anaknya di sampingnya. Rasanya asing dan baru, namun Hanis sudah jauh lebih nyaman berada di dekat Sean berkat deep talk mereka semalam.
“Heung? Oh… Hanis.” Sean sepertinya kaget, baru ingat bahwa yang di sampingnya adalah Hanis, bukan Jinny.
“Iya, ini Hanis.”
Sean tertawa kecil. “Ah, maaf… aku lupa.”
“Nggak apa-apa. Wajar…”
“Mau sekarang, Han? Langsung?”
“Sekarang? Apanya?”
“Itu… mumpung bangun tidur, keras ini.”
Butuh waktu sekian detik hingga Hanis menyadari apa yang Sean maksud. Ia gelagapan, membuang muka, malu. “Ya… terserah saja.”
“Ayo… katanya kualitas sperma pagi hari paling bagus,” ucap Sean sembari memiringkan tubuhnya menghadap ke Hanis. “Ayo sini, tiduran aja.”
Hanis membaringkan kembali tubuhnya, dan Sean langsung memeluk dari arah samping. Dapat Hanis rasakan dengan jelas milik Sean telah mengeras di balik kain celana tidur.
“Sean… itu…”
“Apa?” Sean mendongak. Kini wajahnya sangat dekat dengan wajah Hanis.
“Itu, kerasa…”
“Oh…” Bukannya menjauh, justru mengeratkan pelukannya. Seolah sengaja membiarkan merasakan miliknya yang sangat keras. “Artinya sudah siap ini.”
Hanis tahu, ini saatnya. Dan dia tidak punya hak lagi untuk menolak, apalagi ia juga ingin transaksi ini cepat selesai. Maka ia menurut saja ketika Sean mulai menciumi lehernya.
Tubuhnya pasrah, namun dalam hati, Hanis meminta maaf pada Rino dan anak-anaknya. Ini pilihannya, namun Hanis tetap merasa sangat berdosa, kotor dan menjijikkan.
“Han… buka sendiri ya?” Sean akhirnya menjauh, bukan untuk berhenti melainkan untuk melucuti pakaiannya sendiri.
“Semua?” tanya Hanis, memastikan ia tidak membuka lebih atau kurang dari yang Sean mau.
“Ya semua dong. Kalau nggak semua terus gimana?” Sean terkekeh sembari melemparkan celana tidurnya sendiri. Ia sudah lebih dahulu naked namun ditutupi oleh selimut tebal sebatas perut.
Dengan gerakan kaku yang lambat, Hanis melepaskan pakaian satu per satu. Setelah semuanya terlepas, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Menutupi tubuhnya yang polos. Rasanya sangat memalukan dilihat orang lain yang bukan suaminya.
“Rileks aja, Han. Cuma sebentar kok,” bisik Sean.
Selimut dilebarkan sehingga Hanis ikut berada di dalamnya. Rupanya Sean memilih untuk melakukannya di dalam selimut. Mungkin karena menyadari ketidaknyamanan Hanis jika ia melihat tubuhnya.
Hanis kini berada di bawah kungkungan tubuh Sean. Sangat wangi, kulitnya sangat lembut. Berbeda dengan Rino yang sering bekerja kasar.
“Aku mulai ya, Han,” izin Sean, mulai memposisikan dirinya di antara kedua kaki Hanis.
Mata Hanis terpejam erat. Ia pasrah, namun menolak untuk menikmati. Pikirannya berusaha ia alihkan, meski sulit.
“Ah!” sebuah pekikan lolos tanpa sengaja ketika Sean berhasil menyatukan tubuh mereka.
Sean mengingkari janjinya pada Jinny. Nyatanya mereka sudah tidur berdampingan semalam. Sebelum mulai Sean sempat memeluk Hanis. Dan kini ia menempelkan bibirnya ke bibir Hanis. Terlebih, dalam hati Sean memuji kecantikan Hanis ketika berusaha menahan desahan di bawahnya.
Entah karena efek gairah yang meningkat di pagi hari, dampak pertikaiannya dengan Jinny atau hasil dari bonding yang mereka ciptakan seharian kemarin, Sean kini menikmatinya. Ia tidak merasa ini hanya kewajiban demi sebuah transaksi, ia menikmati setiap detiknya.
Tubuh Hanis ikut terguncang ketika Sean bergerak semakin cepat. Temponya terus meningkat, hingga akhirnya pria itu berhenti, menekan tubuhnya semakin dalam.
“Hanis… udah selesai,” bisik Sean dengan napas terengah di depan telinga Hanis.
“Euh… iya… semoga langsung jadi.”
...****************...