Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Pulang ke Rumah yang Bukan Rumah
BAB 7 — Pulang ke Rumah yang Bukan Rumah
Kantor terasa berbeda setelah semua orang pulang.
Pada siang hari, Ruang Tengah penuh suara: dering telepon, mesin kopi, kursi yang digeser, dan orang-orang yang berusaha berbicara pelan meski sedang membahas hidup mereka yang berantakan. Menjelang tengah malam, setiap pintu kaca hanya memantulkan bayanganku sendiri.
Aku menyalakan lampu ruang rapat, lalu mengunci pintu utama dua kali.
Buku abu-abu kutaruh di dekat mesin pemindai. Aku tidak tahu apakah Rendra akan berubah pikiran dan mengambilnya kembali. Aku juga tidak tahu apakah orang lain memiliki akses ke kantor ini. Setelah malam ini, kata “tidak tahu” terasa lebih jujur daripada semua keyakinan yang selama bertahun-tahun kupegang.
Aku memindai tujuh halaman pertama.
Nama Tara. Gilang. Dr. Mira. Bu Ratna. Naufal. Dua perusahaan yang belum kukenal. Setiap halaman kukirim ke alamat surel baru yang kubuat dari ponsel. Aku juga menyimpannya di penyimpanan kantor, lalu menyalin berkas ke kartu memori kecil dari laci administrasi.
Layar mesin menampilkan tulisan SINKRONISASI SELESAI.
Biasanya aku tidak akan memperhatikan. Tara yang mengurus kontrak perangkat dan penyimpanan data. Malam itu aku menekan menu informasi, tetapi hanya menemukan nama vendor serta nomor layanan pelanggan.
Aku memotret layar sebelum mematikan mesin.
Kali ini aku ingin punya bukti dulu sebelum seseorang mengatakan bahwa yang kulihat tidak pernah terjadi.
Tas kutaruh di atas sofa ruang konsultasi tiga. Ruangan itu memiliki lampu paling hangat dan dinding berwarna hijau pucat. Banyak klien berkata tempat tersebut terasa seperti ruang keluarga. Aku selalu menganggapnya keberhasilan desain.
Aku membuka lemari kecil di sudut dan menemukan dua selimut tipis, bantal leher, dan satu kaus bersih milikku.
Aku tidak ingat pernah menyimpan kaus itu di kantor.
Kerahnya masih memiliki label laundry yang biasa dipakai rumah kami.
Aku menjatuhkannya kembali ke lemari.
Entah Tara yang membawanya, entah Gilang, entah Rendra yang sudah memikirkan kemungkinan aku perlu menginap di sini sebelum aku sendiri pernah mempertimbangkannya.
Suara kunci dari pintu utama membuat tubuhku menegang.
Aku meraih ponsel dan berjalan keluar. Tara berdiri di dekat resepsionis dengan satu kantong belanja dan tas laptop di bahunya.
“Kenapa kamu datang?” tanyaku setelah melihat kunci di tangannya.
“Aku direktur operasional di kantor ini, tapi aku datang karena kamu pasti enggak makan dan sofa ruang tiga bikin pinggang sakit.”
Ia meletakkan kantong berisi air mineral, roti, sikat gigi, dan obat lambung di meja.
“Rendra menyuruh atau menghubungimu setelah aku pergi?”
“Enggak. Dia menelepon sebelum itu, dan aku tidak mengangkat lagi.”
Aku tidak tahu apakah harus percaya. Setiap jawaban rasanya malah membuka pertanyaan lain.
“Aku cuma mau memastikan kamu aman,” lanjutnya.
Kalimat itu membuatku tertawa kecil. “Semua orang memakai kata aman seolah itu bisa menjelaskan apa saja.”
Tara menunduk. “Benar.”
Ia tidak membela diri. Entah kenapa, itu malah membuatku semakin marah.
“Kamu seharusnya pulang.”
“Aku akan pulang setelah kita bicara.”
“Aku belum ingin bicara.”
“Tapi kamu perlu tahu satu hal sebelum membaca sisanya.”
“Apa? Bahwa kamu menerima uang karena enggak punya pilihan?”
“Aku punya pilihan.” Suara Tara serak, tetapi tegas. “Aku memilih menerimanya. Jangan bikin kesalahanku terdengar lebih baik dari kenyataannya.”
Aku bersandar pada meja resepsionis.
Tara menarik kursi, tetapi tidak duduk. Seolah ia tidak ingin terlihat terlalu nyaman di tempat yang ikut ia bangun.
“Pembayaran pertama bukan dari Rendra,” katanya. “Dari Ibu kamu.”
Aku sudah mendengar nama Ibu terlalu sering malam ini. Setiap orang seolah membawa bagian dirinya yang tidak pernah diberikan kepadaku.
“Waktu kita baru masuk kuliah,” katanya.
Aku dan Tara bertemu saat berusia tujuh belas tahun. Ia meminjam catatanku pada pekan pertama, lalu mengembalikannya dengan tiga halaman tambahan karena menurutnya penjelasan dosen terlalu buruk untuk dibiarkan. Setelah itu kami hampir selalu bersama.
“Ibu mendatangimu tanpa bilang kepadaku?”
“Iya. Awalnya dia hanya meminta aku memastikan kamu tidak pulang sendirian setelah kelas malam. Uangnya disebut biaya transport dan makan.”
“Dan kamu percaya?”
“Aku sembilan belas tahun, Nad. Uang kosku terlambat dua bulan. Aku percaya pada apa yang ingin kupercaya.”
Pembayaran itu berlangsung sampai Ibu meninggal. Tara hanya melaporkan apakah aku sudah pulang, bersama siapa, dan apakah ada orang asing yang mengikuti; sesekali ia diminta membawaku ke perpustakaan, rumahnya, kampus, atau tempat ramai.
“Ibu takut kepada siapa?”
“Dia tidak pernah bilang.”
Aku membuka buku pada halaman Tara. Deretan pembayaran lama memang berbeda. Nominalnya lebih kecil dan berasal dari rekening yayasan yang tidak kukenal. Setelah tanggal kematian Ibu, pembayaran berhenti selama beberapa bulan. Kemudian muncul lagi dengan jumlah lebih besar.
Sumbernya berganti menjadi perusahaan yang terhubung dengan Rendra.
“Rendra datang setelah Ibu meninggal dan mengaku melanjutkan permintaannya?”
Tara mengiyakan. “Aku menolak dua kali. Lalu dia menunjukkan foto seseorang yang mengikuti kamu pulang dari kantor lama dan bilang akan mencari orang lain kalau aku tidak mau terlibat.”
“Kamu memilih menerima agar orang asing tidak menggantikanmu.”
“Iya. Awalnya kupikir itu perlindungan.”
Kata itu sama dengan yang dipakai Rendra.
“Lalu dia meminta lebih banyak.”
Tara menunduk. “Setelah kalian menikah, dia mulai bertanya tentang suasana hatimu, rencana bepergian, orang yang membuatmu tidak nyaman, dan apakah kamu pernah bicara soal meninggalkannya.”
Aku merasa udara di kantor semakin dingin.
“Kamu menjawab?”
“Sebagian.”
“Jangan memakai kata itu seolah ada jumlah pengkhianatan yang bisa diterima. Kamu memberi tahu Rendra ketika aku mengeluh ia terlalu mengatur jadwal, dan ketika aku ingin pergi sendiri ke Bali.”
Tara menutup mata. “Iya. Aku tidak tahu dia akan membuat perjalanan itu batal, tapi informasinya datang dariku.”
Jawaban itu jatuh di antara kami.
Aku ingin mengusirnya. Aku juga ingin bertanya apakah dua belas tahun terakhir punya satu hari yang tidak pernah dilaporkan kepada siapa pun. Aku tidak tahu mana yang lebih ingin kulakukan.
“Apakah kamu berteman denganku sebelum Ibu membayar?” tanyaku.
Tara mengangkat wajah. Air matanya sudah memenuhi mata, tetapi tidak jatuh.
“Ibu kamu enggak membayar aku untuk menjadi temanmu,” katanya. “Dia mendatangiku karena aku sudah menjadi temanmu.”
“Setelah uangnya berhenti, kamu tetap tinggal karena Rendra melanjutkannya.”
“Aku tetap tinggal selama beberapa bulan sebelum Rendra datang.”
“Lalu setelah dia membayar?”
“Aku menggunakan uangnya. Itu tetap salah. Tapi aku enggak pernah bangun pagi dan berpikir harus menemanimu karena transfer masuk.” Ia menarik napas. “Aku ada waktu Ibu meninggal karena aku sayang kamu. Aku membantu membangun kantor ini karena aku percaya pada pekerjaan kita. Aku menyerahkan buku itu karena akhirnya aku lebih takut kehilangan diriku sendiri daripada kehilangan uangnya.”
Aku menelan sesuatu yang terasa tajam di tenggorokan.
“Aku belum bisa memercayai itu. Aku butuh jarak.”
Wajah Tara bergetar sedikit. “Berapa lama?”
“Aku enggak tahu. Kirim pekerjaan yang perlu kamu serahkan besok, tapi jangan datang sebelum aku menghubungimu.”
Menyuruhnya menjauh dari Ruang Tengah terasa seperti menghukumnya di tempat yang ikut ia bangun. Tapi kalau melihatnya duduk di meja seberang, aku akan mempertanyakan setiap rapat, setiap lelucon, dan setiap kali ia menyuruhku pulang lebih cepat karena Rendra menunggu.
“Baik,” katanya. “Aku akan kirim akses operasional ke Lila untuk sementara.”
Ia mendorong kantong belanja ke arahku. Aku tidak menyentuhnya.
Sebelum pergi, Tara meletakkan kunci cadangan di meja.
“Kamu tidak perlu menyerahkan itu,” kataku.
“Aku tahu. Aku cuma enggak mau kamu berpikir aku akan masuk tanpa izin.”
Pintu tertutup setelah ia keluar. Kali ini aku mendengar bunyi kunci dari sisi dalam dan memastikan aku sendiri yang memutarnya.
Aku kembali ke ruang konsultasi tiga. Sofa itu memang membuat pinggang sakit. Selimutnya terlalu tipis. Lampu hangat yang biasanya menenangkan klien justru membuat ruangan tampak seperti tiruan rumah yang dibuat orang yang tidak pernah tinggal di sana.
Aku membuka laptop dan mulai mencari pengacara perceraian.
Nama-nama firma muncul, sebagian kukenal dari pekerjaan. Aku tidak tahu mana yang pernah bekerja dengan Kalyana Group. Aku tidak tahu apakah rekomendasi di halaman pertama juga telah disentuh Rendra.
Baru kali itu aku merasa kemampuan memilih jalan keluar tidak banyak membantu. Aku bahkan tidak tahu jalan mana yang benar-benar masih bebas.
Ponselku berbunyi pukul 00.47.
Nomor tidak dikenal mengirim satu foto.
Foto itu sudah tua dan sedikit buram. Seorang lelaki berdiri di depan dinding kaca dengan logo Kalyana Group di belakangnya. Kemeja lengannya digulung, map cokelat terjepit di bawah lengan, dan wajahnya menoleh ke arah kamera dengan senyum yang sangat kukenal.
Ayah.
Di sudut bawah foto tercetak tanggal sebelas tahun lalu—sembilan hari sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Pesan berikutnya masuk sebelum aku sempat memperbesar gambar.
Tanyakan kepada suamimu mengapa foto terakhir ayahmu di kantor Kalyana seharusnya sudah dimusnahkan.