NovelToon NovelToon
DOSEN DUDA DINGIN

DOSEN DUDA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Dosen
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BJP

Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.

Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Zafana kembali ke rumah Oliver dengan sebuah paper bag digenggamannya. Oliver melangkah masuk kedalam kamar kedua anaknya dan terlihat mereka yang sedang bermain.

“Sayang”panggil Oliver pada kedua anaknya.

Enzi dan Aileen sontak menoleh, “papa udah pulang”ucap Aileen lalu berlari berhambur ke pelukan Oliver.

“KAKAK MAMA!”Enzi berteriak lalu memeluk Zafana yang masih berdiri diambang pintu.

Zafana mengusap puncak kepala Enzi dengan wajah yang memerah. Panggilan ‘kakak mama’ yang dibuat Enzi sungguh membuatnya malu.

“Kakak gak jadi pulang, kan?”tanya Enzi.

“Kak Zafa nginap disini, Enzi sama Ai harus berbagi kamar sama kak Rhey ya”ucap Oliver.

Enzi mengangguk antusias, “kakak mama boleh bobo dikasur Enzi”

“Dikasur Ai aja”ucap Aileen.

“Kasur Ai sempit, gak cukup untuk berdua”jawab Enzi.

“Tapi kasur Enzi juga sempit, sama kayak punya Ai”ucap Aileen.

“Kenapa bertengkar? Kalau kalian bertengkar maka kak Zafa akan tidur dikamar papa”timpal Oliver.

Aileen dan Enzi sontak membulatkan kedua matanya lalu tersenyum.

“Kalau gitu Enzi dan Ai juga akan tidur dikamar papa  yeaaaaaay”ucap Aileen lalu berlari kearah Enzi dan Zafana.

Enzi dan Aileen menarik Zafana masuk kedalam kamar milik Oliver meninggalkan si pemilik kamar.

“Ajaib”gumam Oliver lalu berjalan mengikuti kedua anaknya.

Oliver masuk kedalam kamar dan Zafana sontak menoleh kearahnya dengan canggung. Sedangkan Enzi dan Aileen sibuk mengatur posisi tidur mereka.

“P-pak..maaf tapi saya tidur diluar aja”ucap Zafana.

“Gak usah, kamu tidur disini aja sama mereka biar saya diluar”jawab Oliver.

“Papa bobo disini juga! Papa gak boleh bobo diluar”ucap Aileen.

“Aileen tapi---”

“Iya sayang, papa tidur sama kalian disini”Oliver dengan cepat memotong ucapan Zafana.

Pukul 8 malam Zafana sudah rapi dengan piyama miliknya lalu berjalan menuju kasur dimana kedua anak Oliver sudah menunggunya untuk membacakan sebuah dongeng.

Oliver sendiri sedang berada diruang kerjanya membiarkan mereka mengobrol.

“Hal yang sangat langka, Enzi tiba-tiba sangat ekspresif dan banyak bicara pada orang asing”gumam Oliver.

“Dia benar-benar menyukai Zafana sejak pertama mereka bertemu”lanjutnya.

Pikirannya begitu bercabang. Selama ini belum pernah ada orang yang bisa membuat Enzi sangat ekspresif seperti ini, bahkan dirinya sendiri tidak bisa membuat Enzi selincah itu dan sesenang itu.

Melihat bagaimana Zafana bersikap baik kepada kedua anaknya dengan tulus pun membuat Oliver semakin menyukainya. Zafana memang berbeda dari Kirana, Sintya maupun Casandra, mantan istrinya. Sangat berbeda.

Satu jam berada didalam ruang kerjanya hanya untuk memikirkan hal-hal seperti itu memang membuat kepala Oliver semakin berat. Pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar dan memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.

Matanya menghangat saat melihat Zafana bersama kedua anaknya sudah tertidur dengan buku dongeng yang berada dipelukan Zafana. Dengan perlahan Oliver mengangkat tangan Zafana lalu menarik buku dongeng tersebut dan menyimpannya dinakas.

Melihat posisi tidur Zafana yang sangat tidak nyaman itu membuat Oliver ingin membenarkannya, tapi belum sempat ia menyentuh, Enzi sudah bergerak memeluk tubuh Zafana dengan sangat erat dan mata terpejam.

“Papa akan melakukan yang terbaik”gumam Oliver sambil mengusap puncak kepala Enzi.

Keesokan paginya Enzi terbangun lebih dulu lalu mendongak menatap Zafana yang masih terlelap. Ia pun beringsut lalu mengecup singkat pipi Zafana.

“Enzi, sedang apa?”tanya Aileen.

“Sssttt, jangan berisik! Ayo ikut aku keluar, Ai”ucap Enzi setengah berbisik.

Aileen mengangguk lalu menggeser tubuhnya untuk turun dari kasur. Enzi berlari kecil lalu menepuk punggung Alvano hingga papanya itu terbangun.

“Kenapa, Zi?”tanya Oliver dengan suara serak.

Enzi beringsut lalu mendekatkan dirinya ke telinga Alvano, “papa geseran bobonya”

Oliver yang masih mengantuk dan tidak begitu sadar pun hanya menuruti perkataan anaknya untuk lebih bergeser ke tengah lalu kembali terlelap.

Enzi tersenyum lalu menarik Aileen untuk keluar dari kamar itu menuju ruang keluarga dan menonton televisi bersama.

Zafana terbangun saat merasakan deru napas hangat yang menerpa puncak kepalanya dan juga benda yang cukup berat di bagian pinggangnya. Matanya sontak membulat saat menyadari Oliver tertidur sambil memeluknya. Ia segera bangkit dan menyingkirkan tangan Oliver dari tubuhnya hingga membuat Oliver ikut terbangun.

“Ada apa?”tanya Oliver dengan suara seraknya.

“B-bapak.....”

‘Ah udah lah lupain aja’-lanjut Zafana dalam hati.

“Saya harus pulang sekarang”ucap Zafana lalu bangkit mengambil paper bag berisi baju yang ia pakai kemarin lalu membawanya kedalam kamar mandi.

Jantungnya berdetak sangat cepat membuat Zafana dengan panik menetralkannya didalam kamar mandi. Oliver hanya diam memperhatikan pintu kamar mandi yang tertutup dengan perasaan bingung karena dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Zafana.

Selesai mandi Zafana segera menghampiri kedua anak Oliver yang masih menonton televisi.

“Kalian kenapa gak bangunin kakak tadi?”tanya Zafana pada Enzi dan Aileen.

“Enzi yang mpphh---”

“Enzi tadi buru-buru pengen nonton tayo, jadi gak bangunin kakak mama”ucap Enzi dengan salah satu tangan membekap mulut Aileen.

Zafana menghela lalu menurunkan tangan Enzi dari mulut Aileen dan ikut duduk disofa bersama mereka.

“Kalian mau sarapan apa? Kakak gak bisa masak”tanya Zafana.

“Ai sama papa suka sarapan bubur”jawab Aileen yang diangguki oleh Enzi.

Seketika pikiran Zafana kembali pada kejadian tempo hari ia bertemu dengan Oliver dan kedua bocah cilik ini digerobak jualan milik Bang Iman.

“Eum...Enzi sama Aileen gak mandi?”tanya Zafana.

“Ai dimandiin sama papa”jawab Aileen.

‘Woow, dibalik dinginnya dia ternyata dia sayang banget sama anak-anaknya..bahkan sampai mau mandiin, padahal orang tua laki-laki kebanyakan gengsi?’-batin Zafa.

“Kakak mama mau mandiin Enzi sama Ai?”tanya Enzi.

Zafana tertegun dengan kedua alis terangkat, “emangnya gak papa? Nanti papa marah gak?”

“Enggak kok, ayok kakak mama mandiin Enzi”jawab Enzi sambil menarik tangan Zafana untuk bangkit.

Zafana menuntun kedua anak itu untuk masuk kedalam kamar mereka lalu memandikan mereka berdua secara bergantian.

Saat bertemu dengan Enzi untuk pertama kali Zafana memang sudah sangat tersentuh karena tingkahnya yang sangat menggemaskan. Lalu sekarang ia dibuat tersentuh lagi dengan sikap Oliver kepada kedua anaknya yang terlihat sangat baik.

1
JULIAN
Mohan bantuanya karna saya masi pemula klu ada kesalahan dlm penulisnya tolong dibantu untuk saya perbaiki🙏🙏
Reni Anjarwani
lanjut2
Reni Anjarwani
bagus ceritanya up doubel thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!