Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Jaket di Malam Hujan
Dua malam sebelum lomba, langit pecah tepat setelah apel terakhir.
Hujan menghantam atap dapur seperti kerikil dilemparkan dari atas. Angin mendorong air melalui kisi jendela, memercikkan meja latihan yang baru kubersihkan.
"Pulang saja," kata Darman sambil mengangkat keranjang ke tempat kering. "Bumbu dasarmu sudah jadi."
"Pasta fermentasi belum saya cek. Kalau terlalu asam besok, saya kehilangan satu hari."
Sari sudah membawa Nala dan Sena ke kamarnya. Kedua anak baru tidur setelah kenyang, dan aku berjanji hanya tinggal setengah jam. Tuti pergi lebih dulu untuk mengambil jemuran. Darman akhirnya menyerah setelah kuberi tahu pos jaga berada tak sampai seratus meter.
"Kunci gudang. Matikan gas dua kali," pesannya.
Ketika tinggal sendiri, aku membuka dua wadah kecil. Pasta pertama berisi bawang merah, bawang putih, kemiri panggang, dan rempah yang ditumis sampai airnya hilang. Yang kedua lebih tajam, hasil campuran kedelai fermentasi lokal dalam jumlah sedikit, cabai, gula aren, dan air asam. Aku mencicipi ujung sendok. Rasa umaminya dalam, tetapi baunya harus dijinakkan.
Aku memarut jahe, memeras sari bawang, lalu membuat tiga perbandingan kecil di atas piring. Di luar, kilat memutihkan jendela. Hembusan berikutnya mendorong daun jendela sampai membentur dinding.
Aku berlari menutupnya. Pengait besi telah berkarat dan tidak mau masuk. Saat kutarik lebih keras, angin menyemburkan air ke punggung. Blusku basah dalam sekejap, melekat dingin sampai ke kulit.
"Astaga."
Aku menggunakan gagang sendok untuk mengungkit pengait. Tidak bergerak. Hujan terus masuk, membasahi rambut di tengkuk dan bagian belakang rok.
Pintu dapur tiba-tiba terbuka.
Bram masuk membawa senter, bahunya juga terkena air. "Kenapa masih di sini?"
"Saya latihan. Bapak kenapa datang?"
"Jas hujanku tertinggal di gudang setelah inspeksi siang. Pos bilang dapur masih menyala."
Ia melihat jendela, lalu punggungku. Tatapannya segera beralih ke rak bumbu.
"Menjauh. Biar aku yang tutup."
"Pengaitnya macet."
"Karena kamu menarik dari sudut yang salah."
"Saya sudah mencoba semua sudut."
"Termasuk menyerah?"
"Itu bukan sudut."
Ia hampir tersenyum. Bram mengambil kain lap, membungkus pengait, lalu mendorong bingkai dengan bahu. Aku memegang sisi bawah agar tidak memantul. Kilat menyambar lagi. Dalam cahaya putih itu, wajah kami hanya berjarak satu lengan.
Pengait akhirnya masuk. Jendela tertutup, tetapi kami berdua sudah basah.
"Kamu kedinginan," katanya.
"Cuma sedikit."
Gigiku beradu tepat setelah menyangkal. Bram menatapku tanpa komentar, membuka jaket lapangan yang dikenakannya, lalu menyampirkannya ke bahuku.
"Pakai."
"Bapak juga basah."
"Kausku kering."
Jaket itu berat dan masih menyimpan hangat tubuhnya. Bau hujan, kain bersih, dan aroma samar sabun memenuhi napasku. Aku memasukkan tangan ke lengan yang terlalu panjang.
Bram berdiri di belakangku untuk menarik kerah agar menutup bagian punggung yang basah. Buku-buku jarinya menyentuh kulit tengkukku.
Hanya sesaat.
Namun tubuhku membeku bukan karena dingin.
Tangannya juga berhenti. Napas kami tertahan dalam suara hujan yang mendadak terasa jauh. Aku bisa merasakan panas jarinya tertinggal di bawah rambut, satu garis tipis yang menjalar sampai tulang belakang.
"Maaf," katanya, lebih serak dari biasanya.
Aku seharusnya mundur. Sebaliknya, aku menoleh.
Matanya turun ke wajahku. Air menetes dari ujung rambutnya ke rahang. Tidak ada senyum, tidak ada kata manis. Hanya tatapan seorang lelaki yang terlalu lama memerintahkan dirinya sendiri untuk tidak menginginkan apa pun.
Jantungku berdetak keras. Sekali. Dua kali.
Sudah lama tak ada sentuhan orang dewasa yang membuatku sadar bahwa aku masih perempuan, bukan hanya ibu, janda, pekerja dapur, atau nama pada formulir bantuan. Kesadaran itu datang begitu tajam hingga rasa bersalah langsung mengikutinya. Wahyu sudah pergi. Mbah baru dikuburkan. Di kamar, dua bayi menungguku. Bagaimana mungkin satu sentuhan di tengkuk masih sanggup membuat darahku terasa hidup?
Bram menelan ludah. Tatapannya berpindah ke bibirku, lalu segera naik lagi. Ia mengambil satu langkah mundur, seolah jarak itu garis yang harus ia pertahankan dengan seluruh disiplin yang dimilikinya.
"Kamu perlu pakaian kering," katanya.
"Di kamar ada."
"Sari menjaga anak-anak?"
"Iya. Nala sudah minum sebelum saya ke sini. Sena punya dua botol cadangan. Saya juga meninggalkan nomor klinik."
Ia mengangguk, tetapi matanya masih memeriksa wajahku, mencari tanda menggigil atau lelah. Perhatian yang rinci itu terasa lebih berbahaya daripada sentuhan tadi. Seorang lelaki bisa menyentuh tanpa peduli. Bram selalu peduli bahkan ketika berusaha tampak tidak.
Dari lorong, pintu logam dibanting angin. Kami sama-sama bergerak menjauh.
Aku merapatkan jaket. "Bumbu saya belum selesai."
"Berapa lama?"
"Sepuluh menit."
"Lima belas. Setelah itu pulang."
"Bapak memerintah saya?"
"Aku mencegah peserta lomba masuk klinik karena demam."
Ia mengambil pel dan mengeringkan genangan di bawah jendela. Seorang letkol, komandan batalyon, mengepel dapur sementara aku mengaduk pasta bumbu. Pemandangan itu begitu tidak masuk akal hingga rasa tegang di tubuhku perlahan mencair.
"Kalau ada orang masuk, reputasi Bapak benar-benar selesai," kataku.
"Reputasiku sudah rusak karena bahuku digigit bayi pagi kemarin."
"Saya tidak menyebarkan."
"Sena meninggalkan bekas yang bisa dilihat satu kompi."
Aku tertawa. Bram menatapku, dan selama satu detik tatapannya kembali terlalu hangat.
***
Aku datang hanya untuk mengambil jas hujan.
Itu yang kuulang dalam kepala saat melihat Laras berdiri dengan jaketku menutupi tubuhnya. Lengan jaket menggantung melewati jemarinya. Rambut basah menempel pada pipi. Ruangan yang selalu berbau bawang dan minyak tiba-tiba terasa terlalu sempit.
Aku seharusnya pergi setelah jendela tertutup. Namun hujan terlalu deras untuk membiarkannya berjalan sendiri, dan bagian diriku yang paling jujur tahu bahwa alasan itu hanya separuh kebenaran.
Laras menuang tiga campuran ke mangkuk kecil, mencicipi, lalu menulis angka pada buku. Ketika bekerja, wajahnya kembali tenang. Kesedihan karena Mbah masih tinggal di bawah matanya, tetapi tangannya tidak kehilangan ketepatan.
"Yang kedua," kataku.
Ia mengangkat alis. "Bapak tahu apa yang saya bandingkan?"
"Tidak. Tapi wajahmu paling tidak kecewa setelah mencicipi yang kedua."
Ia mencoba lagi. "Memang yang kedua. Sari bawangnya cukup menekan bau fermentasi."
"Berarti selesai."
"Belum. Wadah harus diberi label, meja dibersihkan, gas diperiksa."
Kami bekerja tanpa banyak bicara. Aku memeriksa katup gas dan jendela belakang. Ia mencuci peralatan, mengeringkan wadah, mencatat tanggal, lalu memasukkannya ke lemari terkunci. Setiap gerakan memiliki tempat. Aku memahami mengapa ia marah saat pertolongan kusembunyikan. Laras tidak takut bekerja keras. Ia takut hidupnya ditentukan tanpa diberi kesempatan memegang catatan sendiri.
Di meja latihan, kulihat susunan catatannya. Setiap versi bumbu memiliki takaran, waktu tumis, suhu penyimpanan, dan hasil rasa. Tidak ada rahasia gaib yang bisa dipakai orang untuk menuduhnya menang karena keberuntungan. Bahkan wadah fermentasi diberi segel bernomor dan tanda tangan Darman.
"Kamu menyiapkan bantahan sebelum ada yang menuduh," kataku.
"Karena tuduhan selalu datang setelah hasilnya terlihat. Kalau baru mencari bukti saat itu, sudah terlambat."
Aku teringat surat anonim, Ratna di papan pengumuman, dan Sukandar yang mencatat setiap kendaraan. Laras sedang belajar bahasa pertahanan yang selama ini kupakai: bukan suara paling keras, melainkan bukti yang datang lebih dulu.
"Besok bahan lomba diantar siapa?"
"Tim Korem menyediakan bahan utama. Kami hanya membawa bumbu dasar yang sudah didaftarkan, pisau, seragam kerja, dan surat tugas. Hendra memeriksa kotak sebelum berangkat."
"Pengasuhan anak?"
"Sari pagi, Tuti siang. Anindya berjaga kalau ada masalah. Jadwal menyusui dan stok ASI sudah kutulis."
Semua sudah ia pikirkan. Tetap saja, aku ingin mengatakan bahwa kalau sesuatu terjadi, ia boleh memanggilku. Kalimat itu tertahan karena seorang komandan tidak bisa meninggalkan agenda hanya untuk menenangkan kegelisahannya sendiri.
"Adi memegang jadwalku," kataku akhirnya. "Nomor kantor ada di daftar itu."
Laras menatapku sebentar. "Baik."
"Soal rincian biaya," kataku. "Adi bilang kamu sudah melihat semuanya."
Tangannya berhenti di atas kunci lemari. "Iya."
"Aku seharusnya memberitahumu sejak awal."
"Iya."
Tak ada pengampunan mudah dalam jawabannya. Anehnya, aku lebih menghargai itu.
"Mulai sekarang, bantuan pribadi apa pun harus dengan persetujuanmu."
"Dan yang sudah terlanjur?"
"Bukan utang."
"Saya akan tetap menggantinya perlahan."
"Kalau itu membuatmu tenang, catat. Tapi kebutuhan anak tidak menunggu cicilan."
Ia menatapku, lalu mengangguk. Kami belum sepakat tentang uang, tetapi setidaknya tak ada lagi pintu tersembunyi di antara kami untuk urusan itu.
Lampu berkedip. Hujan belum reda.
"Jas hujan Bapak?" tanyanya.
Aku membuka gudang dan menemukannya tergantung di belakang pintu. Hanya ada satu. Aku menyerahkannya kepada Laras.
"Pakai di luar jaket."
"Lalu Bapak?"
"Aku lari ke gedung kantor."
"Jangan bodoh. Kita bisa pakai bergantian."
"Kalau aku sakit, ada dokter. Kalau kamu sakit, tim dapur kehilangan peserta dua hari sebelum lomba."
Ia ingin membantah, tetapi kilat menyala dan hujan semakin deras. Aku menutupkan tudung jas di kepalanya, menjaga tanganku agar tidak kembali menyentuh tengkuknya.
"Jalan di sisi dalam koridor. Jangan lewat lapangan."
Aku membuka pintu, lalu berlari menerobos hujan hanya dengan kaus yang mulai basah dalam tiga langkah.
"Bram!"
Aku menoleh. Laras berdiri di bawah atap dengan jaketku di dalam jas hujan. Wajahnya cemas dan marah.
"Besok kembalikan," kataku.
Aku terus berlari sebelum keinginanku untuk kembali menjadi lebih kuat daripada akal sehat.
***
Aku memeluk jaket di balik jas hujan dan menyusuri koridor. Air menetes dari atap. Lampu taman mati, membuat kompleks hanya muncul setiap kali kilat membelah langit.
Pada kilatan ketiga, seseorang berdiri di ujung koridor.
Wajah Ratna tampak putih di antara gelap, matanya tepat mengarah pada jaket lelaki yang membungkus tubuhku.