Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Tepat pukul delapan malam, keheningan di dalam kamar mendadak pecah ketika salah satu ART mengetuk pintu dengan tergesa-gesa.
"Permisi, Tuan Muda... di bawah... ada Tuan Besar dan Nyonya Besar baru saja datang," lapor si bibi dengan wajah tegang.
Alvarez terkejut. "Mama dan Papa?"
Tanpa membuang waktu, Alvarez langsung keluar dari kamar Raelyn dan turun ke lantai bawah untuk menemui kedua orang tuanya. Benar saja, di ruang tamu sudah berdiri sang papa dengan koper kecil, dan sang mama yang wajahnya dipenuhi raut kecemasan luar biasa.
"Alvarez! Mana mantu Mama? Mana Raelyn?!" tanya mamanya langsung menyerbu begitu melihat putranya turun.
"Ada di kamar, Mah. Sedang istirahat," jawab Alvarez tenang.
Alvarez akhirnya mengantar kedua orang tuanya naik ke lantai atas, menuju kamar yang selama ini ditempati oleh Raelyn. Begitu pintu kamar dibuka, Raelyn yang sedang bosan di atas kasur langsung menoleh. Jantungnya nyaris melompat keluar melihat siapa yang datang.
"Aduh sayang! Kok bisa sih kayak gini? Mana yang sakit coba Mama lihat!" ucap mama Alvarez heboh, langsung berlari ke tepi ranjang dan memeriksa kaki Raelyn yang diperban.
"C-cuma kaki kok, Mah. Aman, gak apa-apa," jawab Raelyn gugup, mendadak harus mengaktifkan mode menantu yang ramah.
"Kamu juga ngapain sih mau masak segala? Kan di rumah ini sudah ada banyak ART, Raelyn," omel mamanya dengan nada penuh rasa sayang dan khawatir.
"Hehe... cuma mau coba-coba kok, Mah," jawab Raelyn sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dia kemudian teringat sesuatu. "Eh, bukannya Mama sama Papa lagi di Bali ya?"
"Iya, Mama langsung minta Papa pesan tiket penerbangan pertama buat pulang pas dikabarin kamu kena musibah begini," jelas sang mama berapi-api.
Raelyn mengernyitkan dahi, merasa heran. "Dikabarin siapa, Mah?"
"Alvarez yang telepon Mama tadi siang," jawab sang mama polos.
Raelyn langsung membeku. Dia benar-benar tidak percaya kalau pria sedingin Alvarez ternyata bertindak sejauh itu sampai melaporkan kondisinya ke mertua demi mematikan ruang geraknya agar tidak bisa membantah lagi.
Raelyn langsung melirik tajam ke arah Alvarez yang berdiri di dekat pintu. Pria itu hanya menaikkan sebelah alisnya dengan wajah tanpa dosa, seolah berkata, 'Itu namanya strategi.'
"Kamu gak apa-apa kan, Raelyn?" tanya papanya Alvarez, ikut mendekat dengan senyum hangat.
"Gak apa-apa kok, Pah. Aman terkendali," jawab Raelyn mantap.
Namun, drama sesungguhnya baru saja dimulai. Mama Alvarez mendadak menghentikan elusannya di rambut Raelyn.
Wanita paruh baya itu berdiri, memutar tubuhnya, dan menatap sekeliling interior kamar dengan kening berkerut dalam.
"Tunggu dulu... Alvarez, Raelyn. Kenapa kamu di kamar ini? Ini kan bukan kamar utama? Kenapa gak di kamar utama milik Alvarez?" tanya sang mama tiba-tiba dengan nada menyelidik.
DEG!
Jantung Raelyn rasanya seperti berhenti berdetak detik itu juga. Otak cerdasnya langsung berputar cepat mencari alasan masuk akal agar rahasia pisah ranjang mereka tidak terbongkar.
"E-ee... itu, iya Mah! Raelyn lagi bosen banget di kamar utama, pengen ganti suasana baru makanya minta tidur di kamar ini dulu sementara waktu. Iya kan, Al?" ucap Raelyn terbata-bata, matanya memberi kode darurat tingkat tinggi pada suaminya agar ikut membantu bersandiwara.
Alvarez yang tanggap langsung mengangguk formal. "Iya, Mah. Raelyn yang minta."
Mama Alvarez memicingkan matanya curiga, menatap bergantian ke arah putra dan menantunya.
"Kalian... gak pisah kamar, kan?"
"Enggak dong, Mah! Mana ada! Masa suami istri pisah kamar, ada-ada aja Mama mah!" ucap Raelyn dengan tawa renyah yang sangat dipaksakan, lengkap dengan senyum yang kaku seperti manekin toko.
"Awas ya kalau sampai Mama tahu kalian pisah kamar. Mama ini sudah tua, pengen cepat-cepat punya cucu tahu!" ancam mama Alvarez dengan senyum penuh arti.
Cucu?! batin Raelyn menjerit histeris.
Jangankan bikin cucu, tidur satu ranjang saja mereka belum pernah sama sekali!
"Yasudah, kalau kamu gak apa-apa Mama lega. Papa sama Mama malam ini tidur di sini ya," ucap papa Alvarez santai, meruntuhkan sisa-sisa ketenangan yang dimiliki Raelyn.
"TIDUR DI SINI?!" ucap Raelyn dan Alvarez secara bersamaan, kompak mengekspresikan keterkejutan mereka.
"Iya, Papa capek banget kalau harus perjalanan pulang lagi malam ini. Badan Papa pegal-pegal," keluh sang papa.
"Tapi Pah, dari rumah ini ke rumah utama kan cuma butuh waktu tiga puluh menit," ucap Raelyn mencoba bernegosiasi demi keselamatan kamarnya.
"Ya gak apa-apa dong, Raelyn. Kita nginep di rumah anak sendiri sekali-kali, masa gak boleh? Iya kan, Mah?" ucap papa Alvarez meminta dukungan istrinya.
"Iya, Pah. Mama juga mau sekalian jagain mantu Mama malam ini," timpal sang mama senang.
Di dalam hatinya, Raelyn sudah menangis meraung-raung.
Aduuh! Kenapa pakai acara nginep segala sih?! batin Raelyn frustrasi.
Dengan keberadaan orang tua Alvarez di rumah ini, maka mau tidak mau, suka tidak suka, malam ini mereka berdua harus tidur di dalam satu kamar yang sama agar rahasia pernikahan bisnis ini tidak hancur berantakan.
Setelah kedua orang tua Alvarez keluar dari kamar untuk menuju ke kamar tamu dan beristirahat, suasana di dalam kamar Raelyn mendadak berubah menjadi area sidang pleno darurat.
Alvarez berdiri di depan Raelyn yang masih terduduk di atas ranjang dengan wajah horor.
"Kita tidur di kamar aku," ucap Alvarez langsung pada solusinya.
"Enggak mau!" tolak Raelyn cepat, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Raelyn, di luar ada Mama sama Papa. Kamar tamu posisinya dekat dengan lorong tengah. Kalau mereka malam-malam keluar dan tahu kita tidak tidur di kamar yang sama, bagaimana?" jelas Alvarez, menggunakan logika bisnisnya untuk menekan ego Raelyn.
"iiih, tapi gue gak mau ah!" rengek Raelyn, meremas ujung selimutnya gugup.
"Yaudah, kalau kamu gak mau pindah, kita tidur di sini. Di kamar ini," tawar Alvarez santai.
Raelyn langsung melirik ukuran tempat tidurnya yang berukuran single size.
"Kasurnya cuma single bed, Al! Gak akan muat buat berdua! Badan lo aja segede gaban gitu!" kesal Raelyn.
"Ya makanya, pindah ke kamar aku." jawab Alvarez telak, memenangkan negosiasi malam itu.
Dengan wajah yang ditekuk sedalam lautan dan bibir mengerucut kesal, Raelyn akhirnya pasrah menerima kekalahannya. Dia mengulurkan kedua tangannya dengan malas.
Untuk kesekian kalinya hari ini, Alvarez dengan sangat mudah menyusupkan tangannya, menggendong tubuh Raelyn dengan gaya bridal style, lalu melangkah keluar kamar menuju ujung lorong sebelah kanan area terlarang yang selama tiga masa pernikahan belum pernah dimasuki oleh Raelyn.
Cklek.
Pintu kamar utama dibuka oleh Alvarez menggunakan sensor sidik jarinya. Begitu masuk ke dalam, Raelyn sempat terpaku sejenak di dalam gendongan Alvarez. Ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kamar sang suami.
Kamar utama itu terasa sangat luas, dingin, dan dipenuhi dengan aroma parfum maskulin khas Alvarez yang menenangkan. Desain interiornya sangat minimalis modern dengan dominasi warna abu-abu gelap dan hitam.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang berukuran raksasa dengan sprei sutra hitam yang tampak sangat rapi dan empuk. Jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah gemerlap lampu malam kota Jakarta membuat kamar ini terasa sangat mewah namun tenang di saat yang bersamaan.
Alvarez berjalan mendekati ranjang raksasa itu, lalu membaringkan tubuh Raelyn di sisi sebelah kiri dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tidak menyenggol kaki istrinya yang terluka. Pria itu kemudian menarik selimut tebal sewarna arang untuk menutupi tubuh Raelyn.
Raelyn bergeming di bawah selimut, matanya bergerak liar memperhatikan Alvarez yang kini berjalan menuju sisi ranjang sebelah kanan. Jantung Raelyn mendadak berdegup dengan kecepatan yang sangat tidak wajar.