“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Rumi sudah beberapa hari terakhir merasa kepalanya berat. Bukan hanya karena tubuhnya yang mulai mudah lelah, tetapi juga karena tingkah menantu barunya yang semakin hari semakin membuatnya naik darah.
Siang itu, Rumi duduk di ruang keluarga sambil memijat pelipisnya. Di hadapannya, Haikal baru saja pulang dari kantor. Pria itu meletakkan tas kerjanya di sofa sebelum duduk di samping ibunya.
“Ibu kenapa?” tanya Haikal melihat wajah Rumi yang kusut.
Rumi mengembuskan napas panjang.
“Ibu pusing.”
“Pusing bagaimana? Sudah minum obat?”
“Bukan cuma kepala ibu yang pusing, tapi pikiran ibu juga.”
Haikal mengernyit.
“Ada apa?”
Rumi langsung memandang putranya dengan wajah kesal.
“Intan.”
Mendengar nama istrinya disebut, Haikal terdiam.
“Kenapa dengan Intan, Bu?”
“Menikah dengan dia membuat kepala ibu tambah pusing,” gerutu Rumi. “Dia itu hanya bisa makan, tidur, minta uang, dan pergi bermain bersama teman-temannya.”
Haikal menarik napas.
“Bu…”
“Jangan membela dia dulu. Ibu belum selesai bicara.”
Rumi semakin berapi-api.
“Rumah berantakan kalau tidak dibersihkan asisten rumah tangga. Memasak juga tidak pernah. Pagi bangun, sarapan, lalu sibuk dengan ponselnya. Siang pergi bersama teman-temannya. Sore pulang, makan lagi. Malam tidur. Besoknya begitu lagi.”
Rumi menggelengkan kepala.
“Dulu waktu ada Tiara, ibu tidak pernah perlu memikirkan hal-hal seperti ini.”
Nama Tiara membuat Haikal terdiam cukup lama.
“Ibu tahu Intan bukan Tiara,” katanya akhirnya.
“Memang bukan.”
“Dia bukan wanita rumahan seperti Tiara, Bu. Jadi wajar kalau dia seperti itu.”
Rumi menatap putranya tajam.
“Wajar?”
“Iya.”
“Lalu menurutmu, ibu harus melayani dia seumur hidup?”
“Kan di rumah ada asisten rumah tangga.”
Rumi mendengus.
“Memangnya kamu mau dilayani asisten terus?”
Haikal tidak menjawab.
“Buat kopi, ambil makanan, siapkan air panas untuk mandi, menyiapkan pakaian, mengurus keperluan suami… Itu semua tugas istri, bukan tugas asisten rumah tangga!”
“Ibu terlalu membanding-bandingkan.”
“Karena memang berbeda jauh!”
Suasana ruang keluarga mendadak hening.
Rumi menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Tiara dulu tidak pernah membiarkanmu mengurus dirimu sendiri. Bahkan sebelum kamu meminta, dia sudah tahu apa yang kamu butuhkan.”
Haikal menundukkan wajah.
Entah kenapa, ucapan ibunya membuat dadanya terasa sesak.
Ia teringat pagi-pagi ketika Tiara bangun lebih dulu. Wanita itu menyiapkan sarapan, membuat kopi kesukaannya, menyiapkan pakaian kerja, bahkan mengingatkan jadwal rapatnya.
Dulu semua itu terasa biasa.
Terlalu biasa sampai Haikal tidak pernah menyadari nilainya.
Sekarang, ketika semuanya menghilang, barulah ia merasakan kekosongan yang begitu besar.
Intan memang cantik.
Intan juga membuatnya merasa dicintai dengan cara yang berbeda.
Namun, perhatian Intan tidak pernah seperti Tiara.
Tiara hangat.
Penuh perhatian.
Selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri.
Dan sekarang wanita itu sudah bukan istrinya lagi.
“Sudahlah, Bu,” ucap Haikal pelan. “Jangan terus membicarakan Tiara.”
Rumi menatapnya.
“Kenapa? Kamu merindukannya?”
Haikal langsung menggeleng.
“Tidak.”
Namun jawabannya terlalu cepat.
Rumi tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti orang kehilangan?”
Haikal terdiam.
Rumi hendak melanjutkan ucapannya, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu.
“Walaupun begitu, setidaknya Intan tidak mandul seperti Tiara.”
Haikal langsung menatap ibunya.
“Sudah, Bu.”
Nada suaranya kali ini terdengar tegas.
“Jangan bahas wanita itu lagi.”
Rumi mengangkat bahu.
“Ibu hanya mengatakan kenyataan.”
“Sudah.”
Haikal berdiri.
Namun baru beberapa langkah, Rumi tiba-tiba memegang kepalanya.
“Aduh…”
“Ibu?”
Rumi meringis.
“Kepala ibu… sakit sekali.”
Haikal langsung berbalik.
“Ibu!”
Tubuh Rumi tampak limbung. Haikal buru-buru menopang tubuh ibunya.
“Bu, ibu kenapa?”
“Kepala ibu berputar…”
Haikal panik.
“Bertahan, Bu. Kita ke rumah sakit sekarang.”
Tidak lama kemudian, Haikal membawa Rumi ke rumah sakit.
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter keluar dari ruang pemeriksaan sambil membawa hasil laboratorium.
“Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanya Haikal cemas.
“Untuk saat ini kondisinya stabil. Tetapi kadar gula darah dan asam uratnya cukup tinggi.”
Haikal menghela napas lega sekaligus cemas.
“Kenapa bisa begitu?”
“Pola makannya harus diperhatikan. Selain itu, beliau juga mengalami demam. Saya menyarankan untuk menjalani rawat inap sementara agar kondisinya bisa dipantau.”
Haikal mengangguk.
“Baik, Dok.”
Setelah Rumi dipindahkan ke kamar rawat, Haikal duduk di samping ranjang.
“Ibu ini bagaimana sih?” keluhnya. “Aku sudah bilang jangan makan sembarangan.”
Rumi menatap putranya dengan lemah.
“Ibu hanya makan apa yang ada di rumah.”
“Justru itu. Ibu harus menjaga makanan.”
Rumi menghela napas.
“Dulu Tiara yang memasak.”
Haikal kembali terdiam.
“Dia yang mengatur makanan ibu. Mana yang boleh, mana yang tidak. Bahkan obat pun dia yang mengingatkan.”
Rumi menatap langit-langit kamar.
“Sekarang dia tidak ada.”
Haikal menggenggam tangannya.
“Sudah, Bu.”
“Telepon saja Tiara.”
Haikal mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Minta dia datang kemari.”
“Ibu…”
“Sekalian minta dia menuliskan menu yang boleh ibu makan. Resepnya juga. Biar Intan belajar memasaknya.”
Haikal terdiam.
Permintaan itu terdengar sederhana.
Namun baginya, menelepon Tiara bukan perkara mudah.
Mereka sudah bercerai.
Tiara bukan lagi bagian dari keluarganya.
Tetapi melihat kondisi ibunya, Haikal akhirnya mengambil ponsel.
Ia mencari nama Tiara.
Jarinya sempat berhenti beberapa detik di atas layar.
Kemudian ia menekan tombol panggil.
Di rumahnya, Tiara sedang sibuk di dapur.
Tangannya mengaduk masakan yang sedang dimasak ketika ponselnya yang diletakkan di atas meja tiba-tiba berdering.
Tiara menoleh.
Langkahnya terhenti.
Nama yang muncul di layar membuat wajahnya seketika berubah.
Haikal.
Mantan suaminya.
Selama beberapa detik Tiara hanya mematung.
“Untuk apa dia meneleponku?”
Ponsel terus berdering.
Akhirnya Tiara mengangkatnya.
“Halo, Mas.”
“Halo, Tiara.”
Suara Haikal terdengar berbeda.
Tidak setegas biasanya.
“Ibuku sakit.”
Tiara diam.
“Dia ingin bertemu denganmu. Apa kamu bisa datang mengunjunginya?”
Tiara memejamkan mata sebentar.
Dulu, ketika Rumi sakit, dialah orang pertama yang cemas. Membawanya kerumah sakit, mengurusnya. Dulu, ketika Rumi membutuhkan sesuatu, dialah yang sibuk mencarikan.
Tetapi sekarang semuanya sudah berakhir.
Dengan suara tenang, Tiara menjawab,
“Maaf, Mas. Aku sedang sibuk.”
“Tiara…”
“Sudah dulu, ya. Aku sedang sibuk sekarang dan tidak bisa mengobrol dengan siapa pun.”
Klik.
Tiara langsung menutup telepon.
Bahkan setelah itu, ia mematikan ponselnya.
Ia kembali mengaduk masakan dengan wajah kesal.
“Enak saja.”
Tiara mendengus.
“Waktu sehat, aku dihina dan direndahkan semaunya. Sekarang sakit, aku yang dia cari.”
Tangannya terus bekerja.
“Aku tidak sudi menemui mantan mertua dan mantan suami yang masih mengandalkanku!”
Tiara menggelengkan kepala.
“Rasakan sekarang.”
Ia tersenyum tipis.
“Baru beberapa minggu bercerai sudah mencariku.”
Sementara itu, di rumah sakit, Haikal masih memegang ponselnya.
Panggilan sudah berakhir.
Ibunya menatap wajah Haikal.
“Dia mau datang?”
Haikal tidak langsung menjawab.
Rumi mulai memahami sesuatu dari ekspresi putranya.
“Dia menolak?”
Haikal mengangguk pelan.
Rumi terdiam, ia merasa Tiara berubah. Wanita tua itu merasakan bahwa Tiara sudah tidak berada di bawah kendalinya lagi.
Bersambung....