Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bulan tidak tertarik dengan kata-kata Bintang yang ujung-ujungnya pasti akan minta maaf di bibir saja setiap kali berbuat kesalahan. Namun, hembusan napas Bintang tiba-tiba menerpa pipinya. Bulan pun membuka mata, ternyata hidung Bintang yang bangir itu nyaris menyentuh pipi.
"Kiaaaa..." Bulan segera berguling ke samping menjauh dari Bintang dan duduk dengan cepat, melempar tatapan tajam.
"Kok kamu takut gitu?" Bintang justru tertawa, melihat wajah Bulan yang memerah.
"Dasar pria tidak bertanggung jawab! Siapa yang memaksa saya untuk makan di restoran tadi? Kamu bukan? Tapi kamu tinggalkan saya begitu saja tanpa punya perasaan!" Bulan mulai menabuh genderang perang.
Bintang menghela napas panjang, lalu menyeret bokongnya hingga duduk berhadapan, berusaha menatap mata Bulan yang masih dingin itu penuh penyesalan.
"Aku minta maaf, Bull..."
"Sudah aku tebak, begitu mudahnya kamu minta maaf tapi besok-besok berbuat kesalahan lagi," potong Bulan melengos tajam, bibirnya terus ngomel-ngomel.
"Tadi itu aku terima telepon dari tukang yang merapikan kamar ini, memberi kabar bahwa pekerjaannya sudah selesai," Bintang menceritakan ketika ke atm hendak transfer untuk membayar mereka, antreannya sangat panjang dan sinyal di sana sempat bermasalah sampai lama sekali baru berhasil.
"Aku sungguh tidak bermaksud meninggalkanmu, apalagi tanpa pamit," Bintang menatap wajah Bulan tapi istrinya itu masih cemberut.
"Maaf ya... kamu tadi juga membayar makanan sendiri," Bintang lalu minta nomor rekening Bulan.
"Buat apa?!" Ketus Bulan, tidak rugi baginya membayar makanan yang ia makan sendiri.
"Aku mau transfer nafkah bulanan, aku kan suami kamu."
"Tidak usah, kita hanya pasangan sementara," jawab Bulan. Amarahnya belum sepenuhnya hilang, lalu menghentakkan kaki meninggalkan kamar itu diikuti Bintang, tapi mereka beda tujuan. Bulan ke kamar Lita, sementara Bintang ke kamar Mentari.
Dalam perjalanan Bintang bertemu Sherly yang tengah memberikan senyuman manis lalu berjalan di sebelahnya.
"Kak Bintang mau ke kamar Kak Mentari?" Tanya Sherly, tapi tidak ada jawaban dari Bintang, wajahnya datar dan dingin. Tapi Sherly justru menempelkan pipinya ke bahu kakak iparnya.
"Apa sih yang Kak Bintang harapkan dari Kak Mentari yang sudah tidak bisa memberi apapun untukmu? Melayani di tempat tidur sudah tidak bisa, apa lagi memberi adik untuk Talita. Sementara aku kan sehat, kuat, dan bisa memberi apapun untuk Kak Bintang."
"Jaga ucapan kamu Sherly!" Bintang pun terpancing lalu menghentikan langkahnya. Tangan kirinya mencengkeram kerah adik iparnya dengan tatapan tajam.
"Dengar Sherly! Kamu memang sehat tapi Kakak kamu wanita terhormat, sementara kamu? Murahan!" Bintang melepas cengkeraman tanganya sambil sedikit mendorong tubuh Sherly hingga sempoyongan.
"Awas kamu Kak?! Lihat saja nanti!" Gumam Sherly menatap kakak iparnya hingga masuk ke kamar Mentari.
Sherly pun putar balik masuk ke kamar, membanting bokongnya di pinggir ranjang dengan kasar.
"Kenapa kamu?" Tanya Ratih menatap wajah putrinya yang sangat kesal.
"Aagghhh... Aku kesel banget Mah, menundukkan Kakak ipar dari Kak Mentari yang sudah tidak bisa memberi apa-apa saja susah sekali, tapi di rumah ini malah ada saingan lagi!" Sherly akhirnya mengadu.
"Saingan?" Tanya Ratih dengan mata menyipit, ia pikir tidak akan ada yang mampu bersaing dengan Sherly yang sudah oplas hingga wajahnya seperti boneka India.
"Kan di rumah ini ada Dokter Rembulan Mah," Sherly membayangkan jika Bintang lama-lama akan jatuh cinta pada dokter pribadi Mentari.
"Kamu yakin wanita itu benar-benar Dokter?" Ratih masih tidak percaya jika menantunya segitu perhatiannya kepada Mentari hingga rela mengeluarkan banyak uang untuk membayar dokter pribadi.
"Yakin Mah."
"Tahu dari mana kamu? Memang sudah pernah melihat Bulan memeriksa Mentari," Tanya Ratih segera berpaling dari handphone genggam.
"Kan Kak Mentari tadi pagi sudah cerita sama kita Mah, masa lupa. Lagi pula pas pulang tadi aku melihat Bulan masih mengenakan pakaian seragam dokter," papar Sherly tidak menyangka wanita yang ia kira art di rumah ini ternyata seorang dokter.
"Siapapun wanita itu, jangan biarkan mendekati Bintang. Terus saja pepet Kakak ipar kamu. Ingat Sherly, harta Bintang itu tidak akan habis dimakan tujuh turunan," kata Ratih penuh rencana.
********
Suara lantunan shalawat nabi dari masjid dan mushola terdekat mulai terdengar, Bulan terbangun dari tidur. Ia hendak membalikkan badan, tapi gerakannya terhenti ketika ada beban yang melingkar di perutnya, dan tubuh seseorang menempel rapat di punggung.
"Pak Bintang? Emmm... enak banget," gumamnya, tapi ia tidak ingin mengganggu tidur Bintang, lalu menurunkan tangan pria itu perlahan-lahan.
Bulan sama sekali tidak tahu kapan dan bagaimana Bintang bisa masuk ke kamar, tidur di kasur yang sama, bahkan berani memeluknya sedekat itu.
Bulan menyeret bokongnya ingin turun dari tempat tidur dan menjalankan shalat subuh sebelum melakukan aktivitas lain.
"Pak Bintang, ih!" sentak Bulan. Baru satu kaki menyentuh lantai, pinggangnya tiba-tiba ditarik Bintang dari belakang. Tubuhnya terhuyung mundur hingga jatuh kembali ke atas kasur. Bulan menoleh, menatap Bintang yang masih setengah terjaga, mata sayu itu menatapnya lekat.
"Jangan pergi dulu..." bisik Bintang pelan tepat di belakang telinga Bulan.
"Pak Bintang, lepas! Ih!" Tandas Bulan.
Ia meronta-ronta tapi akhirnya berhenti saat bibir Bintang mendarat lembut di bibirnya. Tubuh Bulan yang sempat tegang perlahan melemas, napasnya tertahan, dan tangannya yang tadinya mendorong dada Bintang pun akhirnya berhenti.
Hingga beberapa detik adegan tukar saliva terjadi, Bintang lantas melepaskan ciumannya sesaat, lalu menyandarkan dahinya ke dahi Bulan. "Maaf... biarkan aku memelukmu sebentar saja," suaranya terdengar serak. Namun, dorongan secepat kilat membuat tubuhnya terjengkang di kasur.
Bintang tersenyum menatap istri keduanya berlari ke kamar mandi.
Waktu sudah jam 6. 30 menit, saat berkumpul di meja makan. Bulan menyiapkan sarapan untuk Bintang tapi wajahnya seolah tidak mau diangkat. Selalu menunduk karena ingat kejadian di kamar tadi.
"Mah, ini minuman apa?" Tanya Talita saat menyeruput minuman dalam gelas yang tidak pernah ia minum sebelumnya, tapi rasa manis khas membuat anak balita itu ketagihan.
"Ini namanya jus wortel sayang... jika Lita minum setiap pagi mata kita jadi sehat, tubuh kita tidak gampang sakit, dan satu lagi, kulit kita pun sehat," papar Bulan.
"Pantas, pipi kamu seperti telur rebus, ternyata ini resepnya," Bintang menambahkan.
Wajah Bulan seketika memerah.
"Enak Pah, cobain deh," seru Talita.
"Eemmm... memang enak," Bintang menyeruput Jus tersebut.
Saat sedang mencicipi jus di gelas masing-masing dua orang wanita muncul dan berdiri di samping meja makan.
"Sarapan macam apa ini?!" Tandas Ratih, menatap telur rebus di belah dua, jagung rebus, dan melon yang dipotong-potong sungguh tidak cocok baginya.
Sunyi seketika di meja makan, Rembulan menatap wanita itu merasa bersalah, seharusnya ia menyuruh bibi untuk membuat sarapan yang lain untuk mereka.
Sementara Bintang tidak berpaling dari piring, menusuk sepotong melon memasukkan ke dalam mulut. Pria itu mulai menerima makanan yang Bulan siapkan, setelah sarapan seperti ini ia merasa tubuhnya lebih bugar.
"Enak loh Nek, cobain. Sekarang Lita nggak pernah sarapan nasi goreng lagi, kata Mama sarapan seperti ini menjaga daya tahan tubuh," papar Lita menirukan kata-kata Bulan.
"Nenek tidak suka sarapan seperti ini sayang... Bibiii..." panggil Ratih melengking.
Tidak lama kemudian muncul bibi yang berlari ke arahnya.
"Buatkan sarapan untuk saya!" perintahnya dengan mata merah.
"Baik Nyonya," Bibi membungkuk lalu bergegas ke dapur.
"Heh kamu Dokter gadungan! Anda hanya benalu di rumah ini, jadi jangan pernah merubah aturan!"
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌