Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Bab 13: Duka dalam Keheningan, Kehangatan Seribu Tahun, dan Dekapan Senja
Hujan gerimis membungkus ibu kota dalam tirai kelabu yang dingin. Langit seolah ikut berduka atas bencana berdarah yang baru saja merenggut ribuan nyawa di malam pesta ulang tahun kota. Di pemakaman umum kerajaan, ribuan warga, ksatria, dan keluarga korban berkumpul dengan pakaian serba hitam. Raja Kerajaan berdiri di atas panggung batu yang dibasahi air hujan, membacakan pidato penghormatan terakhir bagi para pahlawan dan warga yang tewas dalam pembantaian Sekte Pemuja Iblis.
Julius Pendragon berdiri di barisan depan bersama kedua putranya, Julius Jr. dan Hector. Wajah sang kepala keluarga terlihat sangat tua dan lesu hanya dalam waktu semalam. Lingkaran hitam tebal melingkupi matanya, sementara bahunya meluruh kaku. Di sampingnya, Julius Jr. dan Hector menundukkan kepala mereka dalam-dalam, menahan rasa bersalah dan duka yang mencengkeram dada mereka.
Namun, di antara kerumunan keluarga Pendragon yang menghadiri prosesi pemakaman massal Eleanor Pendragon, ada satu sosok yang tidak pernah memunculkan batang hidungnya.
Wiliam tidak hadir.
Sejak malam mengerikan itu berakhir—sejak ia membawa pulang jasad ibunya yang dingin ke mansion—Wiliam mengunci dirinya di dalam kamar. Tiga hari tiga malam berlalu, dan pintu kayu tebal kamarnya di lantai dua tidak pernah terbuka sedikit pun. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada erangan kesakitan, bahkan tidak ada pendar aura mana yang terpancar keluar. Kamar itu mati, sehening kuburan.
Di luar pintu kamar Wiliam, Julius Pendragon berdiri terpaku. Tangan kanannya yang kasar melayang ragu di udara sebelum akhirnya mengetuk pintu kayu itu dengan pelan.
"Wiliam..." suara Julius terdengar begitu serak dan pecah, sepenuhnya kehilangan nada dominan seorang kepala keluarga. "Wiliam, ini Ayah, Nak. Buka pintunya... Tolong, buka pintunya sebentar saja."
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya keheningan absolut yang menyambutnya.
Julius menyandarkan dahinya pada pintu kayu yang dingin, air mata penyesalan mengalir pelan menyusuri pipinya yang keriput. "Ayah minta maaf, Wiliam... Ayah sangat menyesal. Selama ini Ayah buta. Ayah tidak tahu berapa banyak beban yang kau tanggung sendiri... Ayah tidak tahu kau begitu kuat dan mengorbankan segalanya. Dan Ayah... Ayah gagal melindungi ibumu. Ini semua salah Ayah, Nak. Hukumlah Ayah, tapi tolong... jangan siksa dirimu seperti ini."
Di belakang Julius, Hector dan Julius Jr. melangkah mendekat dengan raut wajah hancur. Hector, yang biasanya menyombongkan diri dan bertindak kasar, kini berlutut di depan pintu kamar adik bungsunya.
"Wiliam... ini aku, Hector," ucapnya dengan suara gemetaran, menahan isak tangis yang menyeruak di tenggorokannya. "Aku mohon, Pukul aku. Balas semua perlakuan burukku padamu selama ini. Aku pantas mendapatkannya, Wiliam... Tapi tolong keluar dan makanlah sedikit. Ibu... Ibu tidak akan suka melihatmu menghancurkan dirimu sendiri seperti ini..."
"Adikku..." sambung Julius Jr. seraya memegangi gagang pintu yang terkunci. "Maafkan kami. Maafkan kami yang begitu bodoh dan tidak berguna... Tolong buka pintunya."
Namun, terlepas dari semua ratapan dan permohonan maaf dari ayah dan kedua kakaknya, pintu itu tetap terkunci rapat. Wiliam seolah telah memutus seluruh hubungannya dengan dunia luar.
Merasa putus asa dan cemas bahwa Wiliam akan melakukan hal nekat, Julius menghubungi dua kawan terdekat Wiliam dari akademi. Sore harinya, Leo dan Reno tiba di mansion Pendragon dengan wajah dipenuhi rasa cemas yang amat sangat.
Leo mengetuk pintu kamar Wiliam dengan agak kencang. "Wiliam! Ini aku, Leo! Dan Reno ada di sini juga! Kau dengar kami, kan?!"
"Wiliam," panggil Reno dengan nada lembut namun penuh penekanan. "Kami tahu apa yang terjadi di alun-alun. Kami tahu kau adalah Hantu Topeng... dan kami tahu tentang ibumu. Tapi mengurung dirimu di sini tidak akan mengubah apa pun, Kawan. Kami ada di sini untukmu. Bisakah kau membukakan pintu untuk kami?"
Leo menyandarkan tubuhnya ke pintu, menahan tangisnya. "Sialan kau, Wiliam... Katanya kita kawan? Kenapa kau menanggung rasa sakit sendirian seperti ini?! Keluar, Wiliam! Biarkan kami membantumu!"
Namun, terlepas dari segala bujukan Leo dan Reno yang bertahan hingga larut malam, kamar itu tetap bungkam. Tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari dalam.
Memasuki hari ketiga, dalam keputusasaan yang memuncak, Julius Pendragon menulis selembar surat darurat dan mengirimkannya melalui burung merpati sihir tercepat menuju tempat peristirahatan Anastasia (Anya).
Kepada Nona Suci Anastasia,
Maafkan kelantangan saya yang mengganggu Anda. Namun, ini mengenai Wiliam. Eleanor telah gugur di malam bencana ulang tahun kota... dan sejak malam itu, Wiliam telah mengunci dirinya di dalam kamar selama tiga hari penuh tanpa makan, minum, atau berbicara.
Kami telah mencoba segalanya—saya, kedua kakaknya, bahkan kawan-kawannya dari akademi—namun ia tidak merespons sama sekali. Saya takut jiwanya telah tenggelam ke dalam kegelapan yang tak bisa kembali. Hanya Anda satu-satunya harapan kami, Nona Suci.
— Julius Pendragon.
Di dalam istana esnya yang megah dan terisolasi, Anastasia berdiri di tepi balkon, memegang lembar surat tersebut. Saat matanya membaca setiap kata yang tertulis di atas perkamen, sepasang mata perak-kebiruannya yang biasanya dingin dan tenang mendadak bergetar hebat.
CRACK!
Niat membunuh dan aura kecemasan yang luar biasa masif meletus dari tubuhnya, membuat kristal es di sekeliling istananya retak seketika!
"Eleanor... gugur? Dan Wiliam..." bisik Anya, suaranya gemetaran penuh rasa sakit yang membakar dadanya.
Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Anya merentangkan tangan kanannya.
"Sihir Lipat Ruang Purba (Space Folding)!"
SWOOSH!
Ruang di hadapannya terbelah bagaikan kain sutra, membentuk sebuah portal dimensi berwarna perak keemasan yang langsung terhubung ke koridor mansion Pendragon! Anya melangkah masuk menembus portal tersebut dengan gaun panjangnya yang menjuntai anggun.
Julius Pendragon yang sedang terduduk lesu di luar kamar Wiliam terkejut melihat kehadiran Wanita Suci secara mendadak.
"Nona Anastasia...!" panggil Julius seraya hendak membungkuk hormat.
Anya hanya mengibaskan tangannya pelan, menghentikan ucapan Julius. Matanya tertuju lurus pada pintu kamar Wiliam yang terkunci. Ia bisa merasakan aura kehampaan, rasa sakit yang membakar, dan sisa-sisa kepahitan yang mengendap di dalam ruangan itu.
Anya melangkah mendekati pintu, mengetuknya dengan ketukan halus.
"Wiliam..." panggil Anya, suaranya begitu lembut, hangat, dan sarat akan kerinduan serta rasa cemas. "Ini aku, Anya. Buka pintunya untukku, Sayang..."
Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban dari dalam.
Anya memejamkan matanya rapat-rapat, menghela napas panjang penuh kehangatan. Ia tahu bahwa kata-kata biasa tidak akan mampu menembus benteng isolasi yang telah dibangun oleh jiwa Wiliam yang hancur.
"Baiklah kalau begitu," bisik Anya pelan.
Anya mengangkat jemari lentiknya, menyentuh garis ruang di depan pintu kayu tersebut.
SZZZT!
Dengan satu gerakan halus, Anya melipat dimensi ruang di depan pintu, memindahkan tubuhnya secara instan melintasi pintu kayu yang terkunci dan mendarat di dalam kamar Wiliam.
Kondisi di dalam kamar itu sungguh mengenaskan.
Gorden jendela tertutup rapat, menghalangi setiap inci cahaya matahari atau lampu sihir. Ruangan itu gelap gulita, dingin, dan dipenuhi oleh aroma darah yang mengering serta sisa-sisa api hitam yang mengendap di udara. Barang-barang di dalam kamar berantakan, buku-buku berserakan di lantai, dan pecahan cermin hancur berkeping-keping.
Di sudut ruangan terkulai sesosok pemuda bersandarkan dinding batu.
Itu adalah Wiliam.
Penampilannya sangat mengenaskan. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh tegapnya yang penuh dengan garis-garis memar kehitaman dan bekas luka tebasan yang belum sepenuhnya pulih. Rambut hitamnya yang bergaris perak berantakan menutupi dahinya. Punggung tangannya yang memiliki segel iblis berpendip redup. Namun yang paling menyayat hati adalah wajahnya—pucat pasi, bibirnya pecah-pecah kering, dan sepasang matanya yang hampa menatap kosong ke lantai granit yang dingin. Ia tampak bagaikan cangkang kosong yang telah ditinggalkan oleh jiwanya.
Anya merasakan dadanya sesak yang teramat sangat melihat pemuda yang dicintainya berada dalam kondisi sehebat ini.
Anya melangkah pelan, mengabaikan pecahan kaca yang terinjak oleh alas kakinya. Ia berlutut di atas lantai yang dingin tepat di hadapan Wiliam.
"Wiliam..." bisik Anya pelan, mengulurkan tangannya yang hangat untuk merengkuh dan memegang kedua pipi pucat Wiliam.
Sentuhan kulit Anya yang lembut membuat mata hampa Wiliam perlahan bergerak naik, menatap paras cantik gadis Elf di hadapannya. Namun, tidak ada kata yang keluar dari bibir Wiliam. Hanya pandangan hampa yang sarat akan rasa bersalah yang tak terukur.
"Kau sudah bertarung dengan sangat keras, Sayang..." kata Anya lembut, air mata bening mulai menggenang di sudut mata peraknya. Ia menarik tubuh tegap Wiliam ke dalam dekapan hangatnya, memeluk kepala pemuda itu erat-erat di ceruk leher dan dadanya. "Maafkan aku... Maafkan aku karena tidak ada di sampingmu saat kau membutuhkan bantuan. Maafkan aku, Wiliam..."
Hawa hangat dari tubuh Anya, aroma harum bunga es murni yang sangat dirindukannya, dan kelembutan dekapan gadis itu mendadak menghancurkan seluruh benteng ketahanan mental Wiliam yang telah bertahan selama tiga hari.
"A... Anya..." suara Wiliam akhirnya keluar—serak, pecah, dan gemetaran hebat.
"Iya, ini aku... Aku di sini, Wiliam," bisik Anya seraya mengusap lembut rambut bergaris perak milik Wiliam, menepuk-nepuk punggung tegapnya dengan penuh kehangatan.
"Ibu... Ibu sudah tidak ada, Anya..." Wiliam meraba gaun belakang Anya dengan jemarinya yang gemetaran kaku. Rasa sakit yang ia tahan selama tiga hari tiga malam akhirnya meledak sepenuhnya. "Aku... aku berada di sana! Aku memiliki Tubuh Demigod, aku memiliki sihir petir, aku memiliki api hitam... tapi aku tidak bisa menyelamatkannya! Ibu mati di dalam pelukanku untuk melindungiku! Ini semua salahku, Anya! AKU YANG MENGHANCURKANNYA!"
Wiliam menyembunyikan wajahnya di leher Anya, menangis sejadi-jadinya seraya meraung meratapi kehilangannya. Isak tangis seorang pemuda yang biasanya dingin, kuat, dan tak tergoyahkan itu bergema pilu di dalam kamar yang gelap.
Anya memeluk Wiliam makin erat, membiarkan air mata Wiliam membasahi gaun dan bahunya. Ia menciumi kepala Wiliam berulang kali, menyalurkan seluruh energi kehangatan jiwanya untuk membalut hati Wiliam yang hancur.
"Ini bukan salahmu, Wiliam... Dengarkan aku, ini sama sekali bukan salahmu," kata Anya dengan nada penuh kejujuran dan penegasan yang lembut. "Ibumu melakukan itu karena dia sangat mencintaimu. Dia memberikan hidupnya bukan agar kau menyiksa dirimu dalam rasa bersalah ini... dia ingin kau tetap hidup dan bahagia."
Anya perlahan melepaskan pelukannya sedikit, memegang kedua bahu telanjang Wiliam dan menatap lurus ke dalam sepasang mata merah Wiliam yang kini dipenuhi air mata.
"Kau tahu, Wiliam..." bisik Anya seraya menyapu air mata di pipi Wiliam dengan jemarinya. "...seribu tahun yang lalu, dunia ini jauh lebih mengerikan dari apa yang kau lihat hari ini. Tanah di mana-mana dibasahi oleh lautan darah, langit berwarna merah tua, dan teman-teman sejuanganku gugur satu per satu di depan mataku setiap harinya."
Wiliam menatap Anya, mendengarkan setiap patah kata dari gadis itu.
"Dahulu, aku hanyalah seorang ksatria Elf tingkat rendah yang lemah dan penakut," lanjut Anya dengan senyuman nostalgia yang pahit namun indah. "Setiap kali aku kehilangan rekan atau keluargaku dalam peperangan melawan Demon dan Devil, aku selalu mengurung diri di dalam tenda dan menangis hingga mataku membengkak. Aku merasa dunia ini begitu kejam dan hampa."
Anya mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya pada dahi Wiliam yang dingin, membiarkan napas hangat mereka menyatu di udara kamar.
"Tapi kau tahu apa yang membuatku bertahan hidup melewati seribu tahun yang sepi dan penuh darah itu, Wiliam?" tanya Anya pelan.
"Apa...?" bisik Wiliam tipis.
"Takdir..." jawab Anya lembut seraya menatap manik mata Wiliam dengan penuh cinta yang mendalam. "Aku bertahan hidup karena di dalam ramalan jiwa kuno, aku tahu bahwa seribu tahun di masa depan, akan ada seorang pemuda berambut hitam yang akan menjadi pahlawanku... menjadi calon suamiku yang paling berani dan berhati tulus. Kau adalah alasan mengapa aku bertahan melewati seribu tahun kesendirian itu, Wiliam."
Wiliam tertegun kaku. Kata-kata Anya merayap masuk ke dalam dasar jiwanya yang paling dalam, menyirami kekeringan dan kehampaan yang mencengkeram hatinya selama tiga hari terakhir. Rasa hangat yang sangat besar perlahan-lahan mengusir kegelapan dan kepahitan dari Inti Cadangan Sekunder di dadanya.
"Anya..." gumam Wiliam, tangannya yang terikat bekas luka naik meraba jemari Anya di pipinya.
"Kau tidak sendirian lagi, Wiliam Pendragon," kata Anya seraya tersenyum manis, sebuah senyuman paling indah yang sanggup meluluhkan seluruh kebekuan di dunia. "Kau memiliki aku. Aku akan selalu berdiri di sampingmu, membagikan rasa sakitmu, dan bertarung bersamamu. Jadi tolong... jangan pernah mengurung dirimu di dalam kegelapan ini lagi."
Wiliam menatap wajah cantik Anya yang begitu dekat darinya. Kehangatan, cinta, dan ketulusan murni dari gadis Elf berusia seribu tahun itu sepenuhnya memulihkan kesadaran jiwanya.
Tanpa mampu menahannya lagi, Wiliam memajukan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Anya.
Sebuah ciuman pertama yang dipenuhi oleh luapan emosi—rasa duka yang meleleh, rasa terima kasih yang teramat dalam, dan kehangatan cinta yang mengikat dua jiwa melewati rentang waktu seribu tahun.
Anya memejamkan matanya, membalas ciuman Wiliam dengan penuh kelembutan. Lengan mulusnya melingkari leher tegap Wiliam, menarik tubuh pemuda itu makin rapat ke dalam pelukannya. Cahaya perak keemasan dan pendar api hitam menari-nari halus di sekeliling mereka, menyatu menjadi harmoni sihir yang sangat indah di dalam kamar yang gelap.
Setelah beberapa saat yang terasa begitu abadi, mereka perlahan melepaskan ciuman tersebut. Napas mereka saling bertautan dekat, dan gurat kebahagiaan serta ketenangan akhirnya kembali terlihat di wajah tampan Wiliam.
"Terima kasih, Anya..." bisik Wiliam, menyandarkan kepalanya di bahu Anya seraya menghirup aroma harum rambut gadis itu. "Terima kasih telah membangunkanku."
"Selalu, Calon Suamiku," terkekeh Anya pelan seraya mengusap Punggung Wiliam dengan penuh kasih sayang.
Anya kemudian membantu Wiliam berdiri dari lantai. Dengan sihir air dan pemulih murni miliknya, Anya membersihkan sisa-sisa luka, darah, dan debu dari tubuh telanjang Wiliam. Ia menyisir rambut hitam bergaris perak Wiliam dengan jemarinya, lalu membantunya mengenakan pakaian baru yang bersih.
Anya meraih tangan kanan Wiliam, menggenggamnya erat-erat, lalu menatap pintu kamar yang terkunci.
"Di luar sana, ayahmu, kakak-kakakmu, dan kawan-kawanmu telah menunggumu selama tiga hari," kata Anya lembut. "Mari kita temui mereka bersama."
Wiliam mengangguk pelan. "Iya. Mari kita keluar."
Wiliam melangkah maju bersama Anya dan menggeser kunci pintu kayu tersebut, lalu mendorongnya hingga terbuka lebar.
Kriiet.
Di luar koridor, Julius Pendragon, Hector, Julius Jr., Leo, dan Reno yang masih setia menunggu seketika mendongak kaget.
Cahaya lampu koridor menyinari sosok Wiliam yang berdiri tegap di samping Anastasia. Meski wajahnya masih memperlihatkan jejak duka cita yang mendalam, pandangan matanya tak lagi hampa—sebaliknya, mata merah itu kini memancarkan keberanian, ketenangan, dan tekad baru yang tak tergoyahkan.
"Wiliam...!" teriak Leo dan Reno terharu, hampir saja menangis lega melihat sahabat mereka akhirnya keluar.
Julius Pendragon melangkah maju dengan mata berkaca-kaca, menatap anak bungsunya dengan rasa syukur yang tak terhingga. "Wiliam..."
Wiliam menatap ayahnya dan kedua kakaknya dengan tenang. Ia tidak lagi menyimpan dendam atau kepahitan atas masa lalu. Rasa kehilangan Eleanor telah menyatukan kembali sisa-sisa keluarga yang retak ini.
"Ayah... Kakak..." panggil Wiliam dengan suara yang mantap. "Maafkan aku karena telah membuat kalian semua khawatir."
Julius Pendragon tidak sanggup menahan emosinya lagi, melangkah maju dan memeluk putra bungsunya dengan erat, menangis lega di bahu Wiliam. Hector dan Julius Jr. mendekat, menepuk bahu Wiliam dengan penuh rasa penyesalan dan kasih sayang persaudaraan yang baru tumbuh.
Berdiri di samping mereka, Anastasia tersenyum hangat menatap pemandangan keluarga tersebut, tahu bahwa sang Hantu Topeng telah kembali—siap melangkah maju menghadapi takdir pertempuran masa depan dengan kehangatan cinta di sisinya.