wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Jejak Masa Lalu
"Aku akan kembali nanti, Pangeran."
Pangeran Asher menatapku beberapa detik sebelum mengangguk pelan.
"Jangan pergi terlalu jauh."
Aku berjalan keluar dari aula dansa menuju lorong belakang akademi yang jarang digunakan para tamu. Lorong itu gelap dan sunyi. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela tinggi di sepanjang dinding. Suara musik pesta perlahan menghilang seiring langkahku yang semakin menjauh.
Saat melewati sebuah pintu tua di ujung lorong, aku mendengar suara pelan dari dalam ruangan.
Awalnya aku tidak terlalu memedulikannya. Namun langkahku langsung terhenti ketika mendengar nama keluargaku disebut.
"...Celestior."
Aku perlahan mendekati pintu itu. Di permukaannya terdapat sebuah simbol aneh berwarna hitam pekat. Aku pernah melihat simbol itu sebelumnya.
Simbol yang sama seperti yang kulihat pada beberapa meja guru saat menemui Kak Sera.
Tubuhku mulai menegang.
Di dalam ruangan terdengar beberapa pria sedang berbicara.
"Kita tidak bisa membiarkan Pangeran Mahkota tetap hidup."
"Jika gadis berambut putih keperakan itu berhasil masuk ke akademi, semuanya akan terbongkar."
"Keturunan Bulan ya..."
"Bukankah keluarga itu sudah dimusnahkan sejak lama?"
Aku membeku.
Mereka sedang membicarakanku.
Salah satu suara kembali terdengar, kali ini jauh lebih dingin.
"Bunuh Pangeran Mahkota malam ini."
"Kekacauan itu akan membuat kita lebih mudah menangkap gadis itu dan menghilangkan semua jejak."
Tanpa sadar aku mundur selangkah.
Krek...
Lantai kayu di bawah kakiku berbunyi.
Semua suara di dalam ruangan langsung terhenti.
Aura mana yang mengerikan memenuhi seluruh lorong.
"Ada seseorang di luar."
"Tangkap dia. Jangan sampai lolos."
Pintu tua itu perlahan terbuka.
Aku tahu...
Begitu mereka melihatku, mereka akan tahu bahwa akulah yang menguping.
Di bawah cahaya bulan, rambutku mulai memantulkan warna aslinya. Dengan cepat aku menggunakan sihir kuno yang telah kupelajari untuk menyamarkan warna rambutku selama beberapa menit.
"Itu dia!"
"Kejar dia!"
Aku tahu lorong tadi sangat jauh dari aula pesta. Jika aku berlari ke sana, kemungkinan besar aku akan tertangkap sebelum sempat meminta bantuan.
Aku terus berlari menyusuri lorong-lorong gelap akademi, berbelok ke berbagai arah tanpa tujuan yang jelas.
Tiba-tiba...
Seseorang menarik tanganku.
Aku refleks memberontak dan hampir berteriak.
"Diam."
"Aku tidak akan menyakitimu."
Aku langsung terdiam.
Entah kenapa, suara itu membuatku sedikit tenang.
Dia bukan salah satu dari mereka.
"Terima kasih telah..."
Ucapanku terhenti.
Aku akhirnya dapat melihat wajah pria yang berdiri di hadapanku.
Rambut pirang, mata biru, serta pakaian bangsawan yang dihiasi lambang keluarga kerajaan.
Di lengannya terpasang sebuah lambang berbentuk perisai dengan gambar naga, phoenix, dan pegasus pada tiga sisinya, sementara sebuah mahkota berada tepat di tengahnya.
Lambang keluarga kerajaan Silveth.
Tidak mungkin aku salah mengenalinya.
Dia adalah Pangeran Mahkota Kerajaan Silveth, Gabriel Zaydan de Silveth.
"Pangeran Gabriel..." ucapku refleks.
Gabriel segera mengangkat telunjuknya ke depan bibir.
"Ssst..."
"Lihat ke sana."
Aku mengikuti arah pandangannya.
Tiga pria paruh baya tampak berlari menyusuri lorong demi lorong, seolah sedang mencari seseorang.
"Dia berhasil kabur."
"Aku melihatnya menghilang ke arah sini."
"Tidak perlu membuang waktu. Cari di tempat lain."
Langkah kaki mereka perlahan menjauh.
Barulah aku bisa mengembuskan napas lega.
Namun, sebuah pertanyaan terus mengganggu pikiranku.
Kenapa mereka juga mengejarku?
Bukankah aku hanya putri seorang Viscount?
Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, Gabriel membawaku ke sebuah ruangan tersembunyi di dalam akademi.
Ruangan itu kecil dan sunyi.
"Hm..."
Tatapan Gabriel tertuju kepadaku.
"Kenapa mereka mengejarmu?"
"Dan... siapa sebenarnya kau?"
"Aku tidak melihat gadis berambut biru terang sepertimu saat upacara pembukaan."
Aku tersenyum canggung.
"Maaf, Pangeran."
"Ada alasannya."
"Namaku Celestia Lunastella Celesthior."
"Putri ketiga keluarga Viscount Celesthior."
Saat aku selesai memperkenalkan diri, sihir penyamar rambutku mulai menghilang. Perlahan, warna rambutku kembali menjadi perak berkilau.
Gabriel menatapku cukup lama.
"Jadi..."
"Kau adalah putri Viscount yang juga sedang diburu oleh mereka."
"Benar."
"Tapi... apakah Anda mengetahui alasan mereka juga mengejarku?"
Gabriel terdiam sesaat.
"Untuk saat ini..."
"Kau tidak perlu mengetahuinya."
Berarti dia tahu.
Hanya saja, dia tidak mau memberitahuku.
Jangan pelit informasi, batinku kesal.
"Wajah apa itu?" tanya Gabriel datar.
"Oh..."
"Tidak ada apa-apa."
"Kau melihat wajah pemimpin mereka?" tanya Pangeran Gabriel.
"Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas," jawabku pelan. "Namun, mana yang mengelilinginya sangat pekat."
"Kau bisa melihat mana?"
"Tentu saja."
"Mana seseorang dapat terlihat sesuai dengan kepribadian pemiliknya."
"Semakin kuat seseorang, semakin pekat pula mana yang dimilikinya."
Aku tersenyum kecil sebelum tanpa sadar melanjutkan penjelasanku.
"Mana Pangeran berwarna kuning keemasan. Sangat berbeda dengan kesan dingin dari penampilan dan status Anda."
"Menurutku... sebenarnya Pangeran adalah orang yang ceria, bukan?"
Seketika aku terdiam.
Gawat...
Aku lupa siapa lawan bicaraku.
Aku memang memiliki kebiasaan berbicara panjang jika sudah membahas topik yang kusukai.
"Haha..."
Tiba-tiba Pangeran Gabriel tertawa pelan.
"Dulu aku memang ceria."
"Namun sekarang... sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bisa tertawa seperti itu."
"Pangeran masih bisa kembali seperti dulu."
"Pangeran hanya perlu menjadi diri sendiri."
Gabriel menatapku beberapa saat.
"Lalu... panggil saja aku Gabriel."
Aku mengangguk pelan.
"Celestia."
"Kau mendengar apa yang mereka bicarakan tadi, bukan?"
Aku mengangguk.
"Mereka ingin membunuhmu... dan juga menangkapku."
Gabriel mengembuskan napas panjang.
"Sepertinya selama ini aku terlalu meremehkan mereka."
"Siapa mereka sebenarnya?" tanyaku untuk pertama kalinya.
Untuk pertama kalinya, wajah Gabriel terlihat begitu suram.
"Mereka adalah orang-orang yang seharusnya telah lenyap dari kerajaan ini bertahun-tahun yang lalu."
Aku hanya terdiam.
"Dan sekarang," lanjut Gabriel sambil menatap lurus ke arahku, "alasan mereka muncul kembali... adalah karena keberadaanmu, Celestia Lunastella Celesthior."
Aku langsung membeku mendengar namaku disebut.
"Apa maksudmu?"
Gabriel terdiam cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu ia bertanya pelan,
"Apa yang kau ketahui tentang Stella?"
Aku berpikir sejenak.
"Stella Evelyne Lumielle Celesthior."
"Istri pertama ayahku."
"Wanita yang meninggal sebelum aku lahir."
"Tidak banyak yang kuketahui."
"Yang kutahu... beliau meninggal karena amukan monster."
Tatapan Gabriel kembali berubah suram.
"Itulah kebohongan yang disebarkan kerajaan."
Tubuhku langsung menegang.
"Apa?"
"Stella tidak mati karena monster."
Aku membeku.
"Beliau diculik."
Jantungku seolah berhenti berdetak.
"Diculik...?"
Gabriel mengangguk pelan.
"Beliau dijadikan pengorbanan oleh organisasi yang sekarang sedang mengejarmu."
"Mustahil..."
"Banyak anggota keluarga kerajaan, kedua orang tuamu, dan segelintir orang mengetahui kebenaran ini."
Aku menatap Gabriel dengan tatapan tidak percaya.
"Kalau begitu... kenapa semua itu harus dirahasiakan?"
Gabriel mengembuskan napas pelan.
"Karena jika rakyat mengetahui bahwa ada sebuah organisasi yang mampu menculik bangsawan dan menghilang tanpa jejak..."
"...kerajaan akan dilanda kekacauan."
Keheningan menyelimuti kami.
Angin malam yang berembus melalui jendela terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
"Kenapa mereka memilih Ibunda Stella dibanding bangsawan lainnya?" tanyaku.
"Karena beliau memiliki sihir elemen kegelapan," jawab Gabriel.
"Kalau begitu, kenapa bukan Kepala Akademi yang diculik?"
"Karena beliau bukan keturunan Dewi Bulan."
"Dewi Bulan?"
"Dewi *******"
Aku sedikit terkejut.
Aku merasa tidak asing dengan nama itu...
"Kau pernah mendengar nama itu?" tanya Gabriel.
"Ah... tidak. Hanya saja namanya seperti pernah kudengar," jawabku sambil tersenyum kecil.
Untuk saat ini, aku memilih menyelidiki ingatanku sendiri.
siapa pernah berkata tentang nama *******.
"Untuk apa pengorbanan itu dilakukan?" tanyaku lagi.
"Untuk membangkitkan Lunar Dragon."
"Lunar Dragon?"
Gabriel mengembuskan napas pelan.
"Kau terlalu banyak bertanya."
"Jawaban dari semua pertanyaanmu hanya bisa kau temukan dengan menyelesaikan misteri ini."
Ia kemudian menatapku dengan serius.
"Aku akan melindungi diriku sendiri."
"Begitu juga denganmu."
Setelah mengatakan itu, Gabriel berbalik dan meninggalkanku sendirian di ruangan tersebut.