Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 33
Merasa menjadi buronan Yumna menghentikan langkahnya, melihat ke arah baru yang tidak jauh darinya berdiri. Membuat Yuman melangkah mendekat untuk duduk di sana, dan dengan sadar tangan Yumna melepas topi di kepalanya. Karena Yumna tidak mau orang yang mengirimnya pesan merasa curiga.
Diam sejenak, Yumna membuang napas lelahnya. Melihat ke depan yang hanya mendapati beberapa kendaraan beroda empat. Sebelum beranjak dari duduknya untuk melanjutkan tujuannya menemui seseorang. Dan tidak lupa, Yumna menurut kepalanya dengan topi.
Yumna tidak mencari Yuan, karena Yumna tahu. Mungkin Yuan memilih untuk berhenti mengikutinya. Dan itu benar-benar membuat benak Yumna sedikit merasa lega. Karena beban yang Yumna takuti itu tidak terjadi.
Tibanya di tempat yang dituju, Yumna melibatkan pandangannya untuk mencari salah satu dari bangunan yang berjejer rapi di sekitar Yumna saat ini.
"Dia hanya memberiku alamatnya, tapi dia tidak memberitahu ku berapa nomor rumahnya. Apa dia sudah gila?" Monolog Yumna yang merasa dibodohi oleh Natussa. Tapi itu tidak membuat Yumna menyerah, dan putar balik untuk pulang.
"Dia akan memberitahu ku jika dia sudah dapat balasan dari kekasihnya?" Yumna membaca ulang pesan dari Natussa, yang benar-benar membuat Yumna ingin menarik rambut Natussa saat ini.
"Kenapa dia harus menunggu balasan dari pria itu? Apa susahnya dia langsung memberitahu ku? Apa dia tidak percaya dengan ku?" Dengan kesal Yumna terus bergumam dengan menempelkan benda pipih itu pada telinga kananya. Untuk menghubungkan Natussa yang begitu tega tidak menerima panggilannya.
"Jika aku tidak membawa Malla malam ini. Besok akan menjadi masalah besar." Yumna menggigit sebentar ujung ibu jarinya. Merasa gemas sendiri dengan keadaannya saat ini.
Yumna terus menghubungi Natussa yang lagi dan lagi mengabaikan telepon dari Yumna. "Apa dia tidak pernah dimainkan? Apa dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya di tipu seperti ini?"
Kepala Yumna sedikit menunduk, melihat sepatu putihnya yang melekat pada kakinya. Tanpa menjauhkan handphone itu pada telinganya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Suara yang menyapa, membuat Yuman melihat kearah sosok pria familiar di mata Yumna.
Benar, seharusnya Yumna tidak ada di sini. Karena mungkin saja ini hanya jebakan untuknya.
"Kenapa kau diam saja? Siapa yang kau cari?" Suara itu kembali masuk memenuhi pendengaran Yumna. Masih diam berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Kenapa aku melupakan jika rumah orang itu ada di sekitar ini? Padahal aku juga pernah datang ke tempat ini untuk mengantar bahan makanan itu." Yumna mengatakannya dalam hati. Karena pikiran dan lidah tidak bisa diajak bekerja sama untuk bicara apa adanya.
"Apa Sella menyuruh mu kesini?" Tanpa mendapat jawaban, Lingga kembali melontarkan pertanyaan yang mungkin akan diabaikan lagi oleh Yumna.
"Di mana manager mu?" Yumna mengalihkan pembicaraan. Yumna tidak mau menyeret artis itu ke dalam masalah siapapun.
"Kenapa kau mencarinya? Apa kau mengenalnya?" Ada sedikit keraguan, Lingga mengatakannya. Tapi Lingga memang ingin tahu. Kenapa Yumna menanyakan manajernya.
"Tidak!! Aku hanya bertanya. Apa itu tidak boleh?" Bukannya Yumna tidak mau bersikap sopan dengan Lingga. Hanya saja, Yumna ingin membuat pria itu enyah dari pandangannya secepat mungkin saat ini.
"Benarkah?" Kepala Lingga mengangguk paham. Tapi saat itu juga Lingga merasa tidak adil. Karena Yuman tidak memberinya jawaban atas pertanyaan tadi. "Bagaimana dengan mu sendiri? Apa yang aku lakukan disini?"
"Itu bukan urusan mu, dan kau juga tidak perlu tahu." Final Yuman yang pada akhirnya tetap mengalah untuk tidak mendapat pertanyaan aneh dari Lingga. Dan Yumna melangkah pergi. Tanpa menunggu Lingga membuka suaranya kembali.
Meninggalkan Lingga sendiri dengan perasaan janggal. Tapi Yumna tidak tahu itu apa. Keningnya mengerut samar, melupakan hal yang membuat pikirannya semakin kacau itu. Dan kini Yumna kembali menghubungi Natussa yang masih diam tidak menerima panggilannya.
Satu pesan dari seseorang di seberang sana membuat Yumna membuang napas pendek. Karena melupakan alasannya. "Apa aku keluar terlalu lama?" Gumam Yumna yang kini memilih untuk menyimpan handphonenya, dan berjalan ke arah di aman tempat kerjanya berada.
Dan bukan berarti Yumna menyerah untuk tidak melanjutkan pencarian. Hanya saja, Yumna memang harus kembali ke perusahaan. Karena Vallen tadi bilang, jika Sella mencarinya. Mungkin Yumna akan mendapat peringatan dari Sella kali ini.
Yumna mengurangi kecepatan langkah kakinya saat merasa ada seseorang mengikutinya dari belakang. Tapi saat Yumna menoleh, dia tidak menemukan siapapun. Hanya beberapa orang asing yang lalang di sekitarnya.
"Apa hanya perasaan ku saja?" Monolog Yumna, kembali melihat ke depan. Sebentar mengusap lehernya yang entah kenapa merasa merinding sendiri.
"Tapi sejak tadi benar-benar ada yang aneh." Sekilas Yuman memiringkan sedikit kepalanya dengan kening mengerut samar. Berusaha untuk tetap tenang, agar siapapun pengganggu itu tidak bisa mengalahkan Yumna.
"Tapi ingin melihatnya sekali lagi. Siapa tahu, memang ada orang yang mengikuti ku." Rendah Yumna yang hanya bisa di dengar oleh wanita itu sendiri.
Tanpa berpikir lagi, begitu cepat Yumna membakikan tubuhnya. Dan benar dugaannya. Memang ada seorang penguntit. Pantas saja, sejak tadi perasaan Yumna tidak enak. Apalagi saat Rama mengirimnya pesan. Bodohnya Yumna kehilangan sedikit ingatannya tentang Rama.
Di mana Rama tidak ada di dalam perusahaan sejak tadi.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Seru Yumna kepada Rama.
Hal itu membuat Rama tersenyum melambaikan sebentar tangannya kearah Yumna. Tanpa adanya rasa bersalah Rama kini menawarkan diri untuk mentraktir Yumna makan malam.
"Apa kau punya uang?" Tanya Yumna dengan wajah lelahnya.
"Aku baru saja menerima gaji. Dan aku bisa membelikan apapun yang kau mau." Jawab Rama, tanpa melunturkan senyumannya. Rama masih menahan diri untuk tidak menanyakan kenapa Yumna datang ke perumahan itu.
"Simpanlah uang mu untuk ayah mu itu." Ujar Yumna, kini melangkah pelan. Membiarkan Rama menjajarkan kedua kakinya dengan milik Yumna.
"Aku tidak akan memberinya uang lagi. Jika dia mendatangi ibu, aku akan melaporkannya ke polisi."
Sebenarnya Yumna tidak begitu percaya dengan apa yang di katakan Rama. Tapi sebisa mungkin Yumna akan selalu memberikan kepercayaannya pada Rama. Yumna hanya tidak ingin menghancurkan hubungannya dengan saudaranya itu. Karena mau bagaimana pun Yumna harus membuat Rama tetap berada di pihaknya. Dengan itu, Yumna dapat melakukan apapun yang dia mau.
"Apa Malla baik-baik saja?" Hanya kalimat itu yang bisa dilontarkan Yumna saat ini.
"Pikirkan dirimu sendiri lebih dulu. Kau harus fokus pada hidupmu sebelum orang lain. Jika pun Malla masih saudara kita. Tapi aku tidak mau melihat mu jatuh sakit, karena terus-menerus memikirkan nasib orang lain." Ada sedikit peringatan yang keluar dari mulut Rama.
"Tapi mau bagaimana pun, melihatnya hidup menderita itu benar-benar menyesakan. Karena sejak kecil Malla tidak pernah mendapat keberuntungan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum tanpa menyembunyikan beban. Hanya itu." Jelas Yumna. Yang memang tidak mau melihat hidup Malla terus menderita.
Malla layak mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari masa kecilnya. Sudah cukup Malla di jadikan barang penghasil uang untuk ayahnya, tanpa mendapat pendidikan.
Cerita yang keluar dari mulut Malla malam itu benar-benar membuat dada Yumna sesak. Apalagi saat Malla bilang. Jika Malla harus bekerja dari pagi hingga dini hari. Dan uang yang Malla dapat langsung diambil paksa oleh pria gila itu.
"Malla akan baik-baik saja." Sangat rendah, Rama mencetuskannya.