NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Minggu pertama di Villa Awan berjalan seperti latihan hidup yang terlalu rapi.

Pagi hari, Keira turun pukul tujuh. Sarapan sudah tersusun di meja: bubur ayam, buah potong, kopi hitam untuk Richard, dan teh hangat untuknya. Richard biasanya sudah duduk di ujung meja, membaca berita ekonomi dari tablet. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu menunggu sampai Keira menyentuh makanan sebelum mulai membahas jadwal.

"Hari ini divisi proyek ada rapat pukul sepuluh," katanya pada hari pertama.

Keira mengangkat alis. "Om tahu jadwal divisi proyek?"

"Sekarang tahu."

Jawaban itu membuat Keira tidak bertanya lagi.

Mobil mereka berangkat bersama ke Lim Group. Di kantor, Keira memanggilnya Pak Lim. Di rumah, ia kembali menjadi Om. Pergantian itu awalnya terasa seperti permainan kecil, lalu perlahan menjadi garis rahasia yang hanya mereka berdua pahami.

Di kantor, Pak Dharma tidak berani memberi file sampah secara terang-terangan lagi. Ia mengganti serangan dengan komentar tajam.

"Nona Tan cepat sekali pulang kalau ada Pak Lim yang menunggu."

Keira tersenyum. "Saya pulang sesuai jam kerja, Pak."

"Anak muda sekarang pandai berlindung di aturan."

"Aturan memang dibuat untuk dipakai."

Beberapa staf menunduk menyembunyikan senyum. Pak Dharma pergi dengan wajah gelap.

Sore hari, Richard mengantar Keira pulang bila jadwalnya memungkinkan. Bila tidak, Jason atau sopir khusus yang menjemput. Makan malam hampir selalu bersama. Tidak ada percakapan panjang, tetapi ada ritme. Richard memindahkan piring sayur lebih dekat padanya. Keira mengingat bahwa Richard tidak suka saus terlalu manis. Staf villa mulai paham bahwa lampu koridor lantai tiga tidak boleh dimatikan sebelum Keira tidur.

Hari kedua, Keira menemukan perpustakaan di lantai dua. Raknya tinggi, penuh buku bisnis, sejarah militer, dan beberapa novel tua dalam bahasa Inggris. Ia mengambil satu buku tanpa izin, lalu malamnya buku itu sudah diberi pembatas halaman baru di meja kamarnya.

Hari ketiga, ia menyadari kopi Richard selalu hitam tanpa gula. Hari kelima, Richard menyadari Keira tidak makan udang bila kulitnya belum dikupas. Tidak ada yang membahasnya. Piring mereka hanya berubah diam-diam.

Hidup bersama ternyata tidak selalu dimulai dari pengakuan besar.

Kadang dimulai dari hal kecil yang terlalu mudah membuat orang terbiasa.

Pada malam keenam, Keira turun ke dapur karena lapar. Ia menemukan Richard berdiri di sana, memegang ponsel lama dengan tombol fisik.

"Om masih pakai itu?"

"Ini cadangan."

"Cadangan dari zaman kerajaan?"

Richard menatapnya. Keira cepat mengambil biskuit dari rak, tetapi senyumnya sudah telanjur keluar. Untuk pertama kalinya, ia menggoda Richard tanpa rencana apa pun.

Dan untuk pertama kalinya, Richard tidak terlihat keberatan.

Ia bahkan mengambil biskuit dari rak yang lebih tinggi dan meletakkannya di depan Keira.

"Jangan makan terlalu banyak. Nanti batuk."

"Om ini sedang melarang atau memberi?"

"Dua-duanya."

Keira tertawa pelan. Suara itu kecil, tetapi membuat dapur yang luas terasa tidak terlalu kosong.

Hari keempat, Keira baru tahu siapa yang memerintahkan itu.

Ia pulang terlambat dari kantor. Hujan deras membuat langit gelap lebih cepat. Saat naik ke lantai tiga, lampu koridor menyala terang, lampu kamar sudah dinyalakan, bahkan lampu kecil di sisi ranjang menyala hangat.

Keira berdiri di ambang pintu.

Richard muncul dari tangga, membawa map. "Kenapa berhenti?"

"Lampunya."

"Ada masalah?"

"Tidak." Keira menyentuh saklar di dekat pintu. "Biasanya staf mematikan lampu kalau kamar kosong."

"Aku minta mereka tidak mematikan."

Keira menoleh.

Richard berkata datar, "Kamu takut gelap."

Tenggorokan Keira tercekat.

Ia tidak pernah mengatakan itu. Tidak langsung. Mungkin Richard melihat dari cara ia selalu menyalakan lampu tidur, cara ia menahan napas ketika listrik sempat berkedip, atau dari laporan Pak Hasan yang terlalu jujur.

"Saya tidak separah itu."

"Aku tidak bilang parah."

Keira masuk ke kamar, lalu berbalik. "Om memperhatikan hal kecil begitu?"

Richard menatapnya. "Itu bukan hal kecil kalau membuatmu takut."

Kalimat itu diam di antara mereka lebih lama dari seharusnya.

Keira ingin tersenyum, ingin menangis, ingin menggunakan momen itu untuk melangkah lebih dekat. Tetapi kali ini ia hanya mengangguk.

"Terima kasih, Om."

"Jangan terima kasih." Richard menatap kamar itu, lalu kembali pada Keira. "Ini rumahmu sekarang."

"Rumah Om."

"Rumahmu."

Keira memegang gagang pintu lebih erat.

Rumah.

Kata itu terlalu mudah diberikan olehnya. Terlalu berbahaya diterima oleh Keira.

Malam itu, ia tidak langsung tidur. Ia membuka koper yang selama beberapa hari belum sepenuhnya dibongkar. Satu per satu, ia memindahkan bajunya ke lemari. Amplop DNA tetap ia simpan di kotak terkunci. Foto Papa ia letakkan di meja kecil dekat ranjang.

Di luar kamar, langkah Richard lewat seperti biasa.

Kali ini, ia berhenti.

Keira menunggu.

Tiga detik.

Empat.

Lalu suara Richard terdengar dari balik pintu, rendah dan tenang.

"Lampunya cukup?"

Keira menatap lampu tidur otomatis yang menyala lembut.

"Cukup, Om."

"Tidur."

Langkah itu pergi.

Keira duduk di ranjang, memeluk lututnya. Di luar jendela, hujan turun pelan di taman Villa Awan. Untuk pertama kalinya sejak mimpi buruk itu dimulai, malam tidak terasa seperti sesuatu yang akan menelannya.

Ia menatap pintu yang tertutup.

Richard berkata ini rumahnya.

Keira belum tahu apakah ia boleh percaya.

Tetapi malam itu, ia ingin.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!