NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Pewaris Mulai Diragukan

Pagi itu, keluarga Mahesa berkumpul di meja makan untuk sarapan. Raffi terlihat lebih serius dari biasanya. Sambil menikmati sarapannya, ia mulai menjelaskan bahwa beberapa minggu ke depan dirinya akan sangat sibuk mengurus berbagai urusan di Arunika Food Group.

"Aku mungkin akan sering pulang malam. Ada banyak yang harus diurus, mulai dari karyawan baru, proses produksi, sampai pembangunan mess," ujar Raffi.

Mahesa mengangguk memahami. Ia justru senang melihat Raffi mulai benar-benar terlibat dalam perusahaan. Baginya, kesibukan itu merupakan bagian dari proses Raffi belajar menjadi pemimpin.

Namun, Naura justru tersenyum sinis.

"Baru juga mulai memimpin, sudah merasa paling sibuk," sindirnya. "Jangan sampai nanti sibuk mengurus karyawan, tapi lupa kalau perusahaan sebesar itu juga punya banyak tanggung jawab lain."

Raffi terdiam sejenak. Ia tidak ingin membalas perkataan Naura. Menurutnya, setiap orang memiliki cara berbeda dalam menjalankan tanggung jawabnya.

"Aku tahu tanggung jawabku, Bu," jawab Raffi tenang. "Justru karena itu aku ingin belajar semuanya dari sekarang."

Naura kembali menyindir bahwa mengurus karyawan dan membangun mess bukanlah pekerjaan seorang pemimpin. Menurutnya, Raffi seharusnya lebih banyak duduk di kantor dan menyerahkan urusan teknis kepada bawahannya.

Mahesa yang mendengar perkataan itu akhirnya ikut angkat bicara.

"Biarkan Raffi bekerja dengan caranya. Selama yang dia lakukan untuk kepentingan perusahaan, tidak ada yang salah."

Raffi menundukkan kepala. Ada sedikit rasa lega mendengar ayahnya kembali mendukungnya. Ia tahu jalan yang dipilihnya mungkin berbeda dari orang lain, tetapi ia ingin membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak harus hanya memerintah dari balik meja.

Sementara Naura memilih diam. Tatapannya masih menunjukkan ketidaksukaan, tetapi Raffi tidak lagi mempermasalahkannya. Pikirannya sudah kembali pada pekerjaan yang menunggu.

Ia tahu hari-hari ke depan akan melelahkan. Namun, justru dari kesibukan itulah ia ingin membangun Arunika menjadi perusahaan yang tidak hanya besar, tetapi juga memiliki arti bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Raffi yang sejak tadi penasaran akhirnya bertanya kepada Nenek Ratih tentang satu hal yang selama ini mengusik pikirannya. Ia merasa aneh mengapa restoran keluarga tetap menggunakan nama Arunika, sementara bisnis lain seperti hotel menggunakan nama Pratama.

"Nek, kenapa restoran ini tetap memakai nama Arunika? Kenapa tidak dibuat seperti Hotel Pratama?" tanya Raffi.

Bu Ratih tersenyum tipis. Pertanyaan itu justru membuatnya teringat pada masa lalu yang sudah begitu jauh.

"Karena Arunika bukan sekadar nama, Raffi. Restoran itu adalah awal dari semuanya."

Bu Ratih kemudian bercerita bahwa dulu kakeknya memulai usaha benar-benar dari nol. Tidak ada gedung besar, tidak ada banyak karyawan, dan tidak ada modal seperti yang dimiliki Arunika sekarang. Saat itu, mereka hanya memiliki sebuah warung kecil yang menjual sup daging sapi.

Bagi kakek dan kakek buyut Raffi, warung kecil itu memiliki nilai yang tidak bisa dibandingkan dengan gedung ataupun keuntungan sebesar apa pun. Dari tempat sederhana itulah mereka belajar berdagang, melayani pelanggan, menjaga kualitas makanan, dan membangun kepercayaan.

"Sup daging itu mungkin terlihat sederhana sekarang. Tapi dulu, dari semangkuk sup itulah keluarga kita bisa bertahan dan berkembang," jelas Bu Ratih.

Raffi mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia semakin memahami mengapa keluarganya begitu menjaga keberadaan restoran tersebut.

Bu Ratih kemudian mengungkapkan bahwa perjalanan restoran itu juga tidak selalu mudah. Pernah ada masa ketika restoran tersebut diambil alih oleh adik kakeknya. Saat itu, keluarga mereka sempat kehilangan tempat yang menjadi awal perjuangan mereka.

"Karena itu, ketika akhirnya restoran itu kembali, Kakek dan Kakek buyutmu bertekad mempertahankan nama Arunika. Mereka tidak ingin sejarah perjuangan itu hilang begitu saja."

Raffi terdiam. Kini ia mengerti bahwa nama Arunika bukan sekadar identitas sebuah perusahaan. Nama itu adalah simbol dari perjalanan panjang keluarganya.

Ia teringat kembali pada rencananya untuk mengembangkan Arunika ke berbagai tempat. Tiba-tiba ia merasa memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar. Ia bukan hanya sedang mengembangkan sebuah bisnis, tetapi juga membawa warisan yang dibangun dari sebuah warung kecil dan semangkuk sup daging sapi.

"Nanti aku akan tetap mempertahankan semuanya, Nek," ujar Raffi pelan.

Bu Ratih tersenyum haru. Dalam tatapannya, ia melihat sesuatu yang selama ini ia harapkan dari generasi berikutnya—bukan sekadar kemampuan mengembangkan perusahaan, tetapi juga kesediaan untuk menghargai dari mana semuanya bermula.

Mahesa kembali berbicara kepada Raffi setelah mendengar berbagai rencana yang ingin dikerjakannya. Ia merasa Raffi tidak perlu mengurus semuanya sendirian, terutama pembangunan mess karyawan.

"Raffi, kamu fokus saja pada restoran dan pabrik. Untuk pembangunan mess, biar Setyo yang mengurusnya," ujar Mahesa.

Raffi mengangguk. Ia memang sadar bahwa jika ingin menjadi pemimpin yang baik, dirinya tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Ia bisa membagi tugas kepada orang-orang yang memiliki pengalaman.

Namun, nama Setyo yang disebut Mahesa membuat Naura seketika terdiam.

Tangannya yang sedang memegang cangkir berhenti. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah. Nama itu kembali terdengar setelah bertahun-tahun ia berusaha menganggap laki-laki tersebut sudah menjadi bagian dari masa lalu.

Setyo telah pergi selama dua puluh tahun.

Naura sempat berpikir kepulangannya ke Jakarta tidak akan pernah terjadi. Ia berharap waktu yang panjang sudah cukup untuk membuat semua kenangan terkubur dan tidak pernah muncul lagi.

Namun sekarang, laki-laki itu kembali.

Naura menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai terlihat. Ia takut kepulangan Setyo akan membawa sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

Mahesa sama sekali tidak menyadari perubahan istrinya. Baginya, Setyo hanyalah orang yang berpengalaman dan paling tepat untuk menangani pembangunan mess.

Sementara Raffi justru merasa lega. Dengan adanya Setyo, ia bisa lebih fokus mempelajari restoran dan pabrik seperti yang diminta ayahnya.

Naura hanya bisa diam. Di dalam pikirannya, satu pertanyaan terus berputar.

Mengapa Setyo harus kembali sekarang, setelah dua puluh tahun berlalu?

Dan semakin ia memikirkannya, semakin kuat rasa takut yang selama ini ia kira sudah mati bersama waktu.

Hari pertama pelatihan kerja membuat Dewi kembali merasakan gugup. Meskipun ia telah menyelesaikan pendidikan kuliner di Amerika, dirinya tetap harus mengikuti proses yang sama seperti karyawan baru lainnya. Tidak ada perlakuan khusus hanya karena ia pernah menempuh pendidikan di luar negeri.

Dewi justru merasa itu adalah hal yang baik. Ia tidak ingin hanya mengandalkan gelar atau pengalaman selama kuliah. Ia ingin benar-benar memahami bagaimana Arunika menjalankan proses produksi dari dasar.

Dalam pelatihan, Dewi ditempatkan untuk belajar bersama tim quality control. Ia mulai mengenal bagaimana memilih dan memeriksa kualitas bahan baku, mulai dari daging sapi, sayuran, hingga berbagai bahan makanan lainnya.

Ia belajar bahwa kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh resep. Kondisi daging, kesegaran sayuran, kebersihan bahan, penyimpanan, hingga suhu semuanya harus diperhatikan dengan teliti.

Dewi beberapa kali terlihat serius mencatat penjelasan dari karyawan yang membimbingnya. Ada banyak hal yang belum pernah ia pelajari secara langsung selama kuliah. Kali ini ia benar-benar melihat bagaimana ilmu yang selama ini dipelajarinya diterapkan di dunia kerja.

Sesekali ia merasa lelah, tetapi justru rasa lelah itu membuatnya semakin bersemangat. Ia tidak ingin menjadi karyawan yang hanya tahu teori.

Dalam hati, Dewi menyadari bahwa memulai dari bawah bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru dari sinilah ia bisa memahami setiap proses dan menghargai orang-orang yang selama ini bekerja di balik sebuah makanan sebelum sampai ke meja pelanggan.

Lima tahun belajar di Amerika memberinya pengetahuan. Namun, hari-harinya di Arunika mulai mengajarinya sesuatu yang berbeda—bagaimana menjadikan pengetahuan itu benar-benar berguna.

Dewi tersenyum kecil sambil kembali mencatat. Ia siap belajar dari awal, satu proses demi satu proses, hingga suatu hari nanti dirinya benar-benar pantas menjadi bagian penting dari Arunika Food Group.

Bagi Arunika Food Group, sup daging sapi bukan sekadar salah satu menu yang dijual. Menu itulah yang menjadi awal perjalanan perusahaan sejak zaman kakek Raffi masih membangun usaha dari sebuah warung kecil. Karena itu, kualitas menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Raffi yang baru tiba langsung menuju area tempat para karyawan baru dan beberapa staf berkumpul. Tanpa membuang waktu, ia meminta semua orang mengikuti briefing. Wajahnya terlihat serius, tetapi tidak membuat suasana terasa menegangkan.

"Saya ingin kalian memahami satu hal. Sup daging sapi adalah menu utama Arunika. Jadi kualitas bahan, proses pengolahan, sampai makanan diterima pelanggan harus kita jaga."

Para karyawan memperhatikan dengan saksama. Raffi kemudian menjelaskan bahwa kualitas tidak hanya menjadi tanggung jawab bagian produksi atau quality control. Semua orang memiliki peran yang sama.

"Kalau satu bagian mengabaikan tugasnya, dampaknya bisa sampai ke pelanggan. Jadi jangan pernah berpikir pekerjaan kalian kecil."

Dewi yang berada di antara karyawan baru ikut mendengarkan dengan serius. Ia semakin memahami mengapa sejak awal dirinya ditempatkan untuk belajar quality control. Arunika ternyata tidak hanya mengejar jumlah produksi, tetapi benar-benar menjaga nilai yang telah diwariskan sejak awal berdirinya perusahaan.

Raffi kemudian meminta staf menjelaskan kembali standar pemeriksaan bahan baku yang sudah dipelajari. Ia ingin memastikan semua karyawan benar-benar memahami pekerjaannya, bukan sekadar mengangguk ketika diberi arahan.

Suasana briefing berlangsung serius, tetapi perlahan para karyawan mulai merasa lebih percaya diri. Raffi tidak hanya memberikan perintah, ia juga menjelaskan alasan di balik setiap standar yang diterapkan.

Bagi Raffi, mempertahankan kualitas sup daging sapi berarti mempertahankan sejarah keluarganya. Semangkuk sup yang dahulu dijual dari warung kecil kini menjadi bagian dari perusahaan besar.

Dan ia tidak ingin perkembangan Arunika membuat mereka melupakan alasan mengapa perusahaan itu bisa berdiri sampai hari ini.

Sementara itu, Julian justru menjalani hari pertamanya di hotel dengan perasaan yang jauh berbeda. Berbagai laporan yang menumpuk di atas meja membuatnya merasa bosan. Baru beberapa halaman ia baca, pikirannya sudah mulai melayang ke mana-mana.

Ia menghela napas panjang, kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi. Dunia perhotelan ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Berhadapan dengan angka, laporan operasional, dan berbagai urusan administrasi membuatnya kehilangan minat.

Beberapa staf yang memperhatikan dari kejauhan mulai saling bertukar pandangan. Mereka tidak berani mengomentari Julian secara langsung karena tahu siapa dirinya. Namun, dalam hati mereka mulai muncul keraguan.

Apakah benar Julian bisa menggantikan Pak Mahesa suatu hari nanti?

Selama bertahun-tahun, Mahesa dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan sangat memahami setiap bagian hotel. Ia bisa membahas keuangan, pelayanan, pemasaran, bahkan masalah operasional tanpa terlihat kebingungan.

Sementara Julian baru beberapa hari berada di hotel saja sudah terlihat tidak bersemangat.

Salah seorang staf bahkan merasa khawatir. Jika suatu hari Mahesa benar-benar menyerahkan Grand Hotel kepada Julian, apakah Julian mampu menghadapi tekanan sebesar itu?

Namun, tidak ada seorang pun yang berani mengatakan keraguan tersebut. Mereka hanya bisa menunggu dan melihat apakah Julian akan berubah setelah mulai memahami pekerjaannya.

Di dalam ruangannya, Julian kembali memandang tumpukan laporan. Ia sebenarnya sadar bahwa dirinya belum terbiasa. Tetapi rasa malas yang muncul membuatnya semakin sulit memulai.

Untuk pertama kalinya, Julian mulai memahami mengapa ayahnya begitu keras memintanya belajar mengelola hotel. Tanggung jawab sebagai calon penerus ternyata jauh lebih berat daripada sekadar memiliki nama keluarga di baliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!