NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 16

“Hasil pemeriksaan sampel tanaman padi …?” Anne menghentikan ucapannya, menatap heran ke arah Hans yang santai menghisap cerutu.

“Apa maksudnya ini, Hans?” tanyanya kemudian.

“Kau sudah tak bisa membaca? Bacalah dengan saksama,” sahut Hans acuh tak acuh.

Bibir Anne mulai bergumam, membaca tiap baris kata yang ditulis dengan mesin tik.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium Balai Penelitian Pertanian, tidak ditemukan tanda-tanda serangan hama maupun penyakit pada sampel yang diuji. Gejala menguning pada batang dan daun padi diduga disebabkan oleh keracunan pestisida …,” Anne berhenti sejenak, keningnya berkerut dalam, tersirat kebingungan di sorot matanya yang mengeras. “Apa maksud semua ini, Hans? Maria bilang ….”

“Bacalah dengan tuntas, Anne,” potong Hans Williams seraya menekankan sisa cerutu pada asbak kaca.

“Keracunan disebabkan oleh penggunaan pestisida yang tidak sesuai dosis atau frekuensi pemakaian. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya residu bahan kimia pada jaringan tanaman yang diduga berasal dari pestisida yang digunakan.”

Pundak Anne merosot seketika, netra sendunya berkedip beberapa kali, seolah mencerna sesuatu yang terasa mustahil untuk dipercayai.

“Kau tidak sedang bercanda ‘kan, Hans? Ini ….”

“Aku memeriksanya di laboratorium Ibu Kota, butuh waktu berhari-hari untuk perjalanannya saja. Kau masih bisa bilang aku bercanda?!” kata Hans sambil menggeleng kecil.

“Hans, aku sedang serius saat ini. Apa hasil yang kau bawa ini benar adanya?” tekan Anne, masih enggan percaya pada kertas yang berada di genggamannya.

“Kau lihat saja Kop surat serta nomor sampel yang terlampir, ada juga tanda tangan dan cap biru si peneliti. Apa masih kurang meyakinkan?” balas Hans.

“Tapi Maria bilang ….”

“Kita tak bisa sepenuhnya percaya pada seseorang, Anne,” potong pemuda berdarah Eropa itu, manik birunya memicing, bibir dengan kulit pucat terangkat tipis. “Musuh itu bisa siapa saja, pun ada di mana-mana. Kentutmu juga bisa jadi musuh jika kau buang dalam selimut, lalu kepalamu bersembunyi di dalamnya.”

“Berhenti bercanda akan hal ini, Hans. Aku butuh pikiran jernih untuk mencernanya!” tukas Anne, jari tangannya memijat batang hidung yang terasa nyeri.

“Kenapa Maria mengatakan tak terdeteksi apapun, dan justru menggiring opini ambigu sampai penduduk mengaitkannya dengan hal klenik. Apa dia ada hubungannya dengan tiga orang pendatang itu?” Bibir Anne terus bergumam, mengurai benang kusut dalam otaknya.

“Boleh jadi iya. Boleh jadi juga tidak. Kita tak ‘kan tau, jika tak mencari tau,” sahut Hans seraya berjalan ke meja terdapat kendi air dingin, meneguk cepat lalu kembali duduk di sebelah Anne.

“Masalah ini tak pelik, Anne, hanya kau saja yang lambat menyadarinya. Aku pikir saat kau mengambil tindakan untuk padi-padi itu, kau sudah mengetahui akar permasalahannya. Ternyata—”

“Aku hanya berspekulasi dengan tindakan itu, kalaupun terselamatkan masih rezekiku, kalaupun tidak … berarti aku memang kalah, pada alam bukan pada mereka,” sergah Anne.

“Patutlah kau jadi ketua kelompok tani, instingmu tepat. Aku akui, kau hebat Anne,” puji Hans.

“Tapi, kenapa Maria bisa melakukan ini semua, apa salahku padanya?” cicit Anne, pikirannya terus menggali masa lampau, kenangan saat mereka bertiga berlibur bersama, menghindari musim panas Eropa, memilih menghabiskan waktu di negeri tercinta. Indonesia.

“Karena dia menyukaiku, dan aku menyukaimu. Cerita ini tak lebih seperti kisah cinta segitiga yang diputar di layar tancap alun-alun desa, kisah Rama dan Sinta.” Hans beranjak dari duduknya, suaranya dibuat lebih berat, tangan mengalun mengikuti bait-bait kata yang diucapkan, seolah tengah membaca puisi cinta.

“Rahwana boleh mencintai Sinta, tetapi hati Sinta tetaplah milik Rama seorang. Sama halnya dengan kisah kita, Maria boleh saja menarik perhatianku, tapi hatiku selalu tertuju padamu.”

Bugh

Dengan kekuatan penuh, Anne menendang betis Hans, sampai pemuda itu berjingkat-jingkat, menahan sakit.

Wajah putih pucatnya meringis, kedua tangan mengusap betis terasa nyeri. “Kau mau membuatku lumpuh?!”

“Ya. Biar kau tak bisa lagi sembarangan bicara. Memang salah sedari tadi aku berdiam di sini, mendengar ocehanmu,” sungut Anne seraya berjalan keluar rumah, meninggalkan Hans yang masih meringis kesakitan.

“Kau mau kemana? Anne?” teriak Hans, namun tak gadis itu indahkan. “Dasar bocah liar, tak ada berubahnya, selalu menendang di bagian sini.”

Ia kemudian berlari terpincang-pincang, mengejar Anne yang sudah menghilang di kegelapan sebab hari telah berganti malam.

Gemeretak kaki kuda menggilas kasar tanah merah yang lembab oleh air hujan. Desir angin sesekali menyapa, membawa dingin yang wingit. Sayup-sayup dapat Anne mendengar pembicaraan beberapa penduduk desa, tengah berkumpul pada sebuah gardu kayu sambil bermain kartu.

“Tapi, betul juga, kalau kita tanam palawija, misal kacang ijo, pasti nggak nemen-nemen kerugian kita, paling tidak dua-tiga kedok ‘kan wes lumayan, iki malah suruh biarkan nganggur metekur, tapi sawah dia sendiri diobati,” dengus Sugi sambil membagikan kartu pada bapak-bapak, duduk melingkar di lantai beralas tikar pandan.

“Perkara ne, sawah yang kita garap punya dia, lokasinya pun dikelilingi miliknya, kalau kita ndak manut, bisa saja kita nggak di kasih bagian air, bisa saja bibit dan segala penunjang tanam kita dikurangi. Semua bisa saja, to? Intinya selama wedokan itu yang berkuasa, kita iki nggak kebagian apa-apa,” timpal Rusli—suami Rodiyah.

“Gek bojoku perutnya semakin besar, sebentar lagi lahiran. Kalau sampai gagal panen tenan … opo ndak mati aku, bayiku minum air tajin bisa-bisa.” Sugi yang merupakan suami dari Tutik melanjutkan keluh-kesahnya.

Dari arah belakang gardu, Argono muncul dengan berkalung sarung di leher, kepala biasa memakai caping, berganti songkok hitam. “Kalau hanya sambat, tapi nggak ambil tindakan, yo percuma, Kang. Mabur koyok janjinya wong gedean.”

“Kudune tanah kalau sudah pasrah ngalah di garap orang, terserah mau di apakan sama orang itu, yang penting ‘kan pembagiannya masih sesuai. Bukane tetep ikut mengatur, pas giliran ada ketlenyeke menyalahkan petani. Ngunu kui ‘kan nggak sesuai sama tugas nya.” Begitu santai Argono ikut bergabung dalam lingkaran, mengambil kartu tertumpuk di tengah-tengah. (ketlenyek\= tidak sesuai)

“Kalau sejatine pemimpin, seharusnya berada di depan, jadi tameng. Iki malah kebalikannya, sawah petani hancur lebur, sawah miliknya subur makmur. Apalagi yang di wilayah Joglo Punjer, mungkin per hektarnya kalau tiga sampai lima ton bisa dapat,” lanjut Argono.

“La iyo to. Pantes saja dia berani mengatakan akan memberikan semua lahannya kalau gagal. Lawong miliknya jelas sukses, panen raya, jelaslah nanti bisa buat tambel biar dikira berhasil.” Seorang bapak-bapak setengah baya ikut menyahut.

“Sebetulnya selama di pimpin mbak Anne, kita tak pernah gagal. Pasokan air, pupuk, pestisida pun terpenuhi semua. Baru tahun iki masalah ini terjadi, beruntun.” Bapak-bapak dengan baju kemeja lusuh turut menyela, sedari tadi menjadi pendengar.

“Sawah ….”

Bersambung

1
Muhammad Arifin
embo komen OPO
❤️❤️❤️❤️❤️
Anna: Kakak hadir saja author sudah senang, terima kasih, kakak. 🫶
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
sabarr yaa hanss
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
Anna: "Kapan?" tanya Hans.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mbak Wulan
ada info apa
Anna: Sotonya sudah mateng.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
pantesan tak tengok blm ada up
nayla tsaqif
Visualnya gk ada kah,, thorr,,?? 🤭
Anna: Sedang di persiapkan, untuk Anne sama yang ada di cover. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
Kuhadiahi secangkir kopi unt pakde broto dkk biar kuat melek mengawasi cecunguk yg mau menebar pesrisida disawah
Anna: Di sampaikan matur nembah nuwun dari Pakde Broto and the gengsssss 🫶
total 1 replies
rama Rasyidin
sehat sehat Ndoro
Anna: Sendiko dawuh, Gusti. 🙏
total 1 replies
Lylia Yuu
udah bangkotan bjirrrr masih aja 😭
Anna: Nafsu bagai kuda 🫢
total 1 replies
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
argono anake sopo jane
saudara tiri anne duduu ?
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully: iyyuuhh , gimna itu sii kecebong meluncurr 🤣🤣🤣
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
walahhhh , .....
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
Anna: Pucek kalo kata anak sekarang. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu ulahmu sendiri man, manukk di umbar sembarangan..
Anna: Di umbar banget nggak tuh 🤣
total 1 replies
Muhammad Arifin
kok gak kapok Kasman iku 😒😒
Anna: kapok lombok kalo kata orang Jawa 🤣
total 1 replies
Lylia Yuu
anak e amina 😭😭
Aisyah Suyuti
good
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
teman tapi menusuk di belakang
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
Anna: real bangetttt, ntar suatu saat tk masukin ke sebuah judul naskah 😆
total 3 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cangkem mu Maria
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅: 🤭 jiian
total 2 replies
Muhammad Arifin
kangenmu ngapusi 😒😒😒
Anna: hanya di bibir saja 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
hansss ohh hanss
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
Anna: Apapun cara akan ditempuh demi sang jelita ... eyaaaaa 🤣
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
siapa yg dendam ke maria
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria
Anna: Tebak. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu pasti pakdhe broto
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!