Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023: Durhaka Bukan Istilah Hukum
Kantor Pak Surya berada di lantai dua ruko dekat Pengadilan Agama.
Tangga menuju ke sana sempit. Cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian. Di ruang tunggu, kipas angin tua berputar dengan suara berderit, seperti ikut lelah mendengar urusan rumah tangga orang.
Nadia duduk dengan map di pangkuan.
Ia sudah menghadapi pasien muntah darah, keluarga pasien mengamuk, dan panggilan darurat pukul tiga pagi. Tapi menunggu giliran konsultasi pengacara membuat telapak tangannya lebih dingin daripada semua itu.
Sari duduk di sebelahnya, tidak menyuruh tenang.
Itu justru membantu.
Pak Surya memanggil mereka masuk pukul sepuluh. Di mejanya ada dua gelas air mineral, satu kotak tisu, dan kalender Pengadilan Agama. Nadia menatap kotak tisu.
"Pak sering ada klien menangis?"
"Sering."
"Saya belum tentu menangis."
"Kotaknya tidak memaksa."
Sari menahan senyum.
Nadia membuka map. "Saya belum pasti mau cerai."
"Baik," kata Pak Surya. "Hari ini kita tidak memutus hidup Ibu. Kita hanya melihat pilihan hukum."
Kalimat itu membuat bahu Nadia turun sedikit. Sejak perhiasannya hilang, semua orang seolah menuntut keputusan cepat. Dimas menuntut ia pulang. Bu Marni menuntut ia mengerti. Sari menuntut ia menyimpan bukti. Sekarang, untuk pertama kalinya, ada orang berkata ia boleh melihat dulu.
Pak Surya memeriksa bukti satu per satu.
Mutasi rekening.
Foto kotak perhiasan kosong.
Rekaman suara Bu Marni.
Pesan Dimas yang mengancam mengganti kunci.
Daftar barang rumah.
Agenda kecil Nadia.
Saat rekaman Bu Marni diputar, ruangan itu dipenuhi suara yang sangat dikenal Nadia.
"Barang menantu itu barang keluarga. Jangan hitung-hitungan kalau mau rumah tangga adem."
Nadia menunduk. Mendengar ulang suara itu di kantor pengacara membuatnya merasa bodoh sekaligus marah. Dulu kalimat tersebut terdengar seperti aturan hidup. Hari ini terdengar seperti bukti.
Pak Surya menghentikan rekaman. "Untuk perhiasan pribadi, posisi Ibu cukup kuat. Apalagi kalau itu mahar, seserahan, hadiah pribadi, atau barang yang Ibu beli sendiri. Kita perlu tahu barang digadaikan ke mana dan atas nama siapa."
"Kalau mereka tidak mau kasih tahu?"
"Kita kirim somasi. Kalau tetap tidak ada jawaban, bisa masuk ranah dugaan penggelapan. Tapi strategi pidana harus hati-hati karena Ibu masih mempertimbangkan status pernikahan."
Nadia menggenggam ujung map. "Saya takut kelihatan seperti istri yang sedikit-sedikit lapor."
Sari hampir bicara. Pak Surya mendahului.
"Bu Nadia, orang yang mau menyalahkan Ibu akan menemukan alasan apa pun. Kalau Ibu diam, dibilang lemah. Kalau Ibu bicara, dibilang melawan. Jadi jangan pakai omongan mereka sebagai kompas."
Nadia menelan ludah.
"Kompasku apa?"
"Keselamatan, hak, dan fakta."
Tiga kata itu terdengar kering. Tidak indah. Tidak romantis. Tapi Nadia merasa sesuatu di dadanya menjadi lebih kokoh.
Pak Surya lanjut menjelaskan soal harta bersama, barang bergerak, perabot, renovasi, dan uang rekening bersama. Ia tidak menjanjikan semua akan kembali. Ia juga tidak menakut-nakuti. Setiap kalimat punya batas.
"Rumah atas nama siapa?"
"Dimas."
"Dibeli sebelum atau setelah menikah?"
"Sebelum. Tapi renovasi setelah menikah. Banyak dari uang saya."
"Maka rumahnya belum tentu bisa Ibu klaim, tetapi biaya renovasi dan barang yang bisa dibuktikan bisa masuk perhitungan."
"Kalau mesin cuci?"
"Ada bukti pembelian?"
"Ada."
"Bisa diminta kembali atau diganti nilainya."
"Kalau Bu Marni bilang saya tidak ikhlas?"
Pak Surya menatapnya. "Ikhlas bukan tanda terima."
Sari menunduk, bahunya bergerak sedikit. Nadia tahu ibunya menahan tawa.
Untuk pertama kalinya sejak datang, Nadia juga ingin tertawa.
Lalu Pak Surya membuka laptop.
"Ada satu hal lagi. Saya belum menyebut ini sebagai bukti perselingkuhan. Kita sebut petunjuk awal."
Nadia langsung kaku.
Sari menoleh. "Apa?"
"Asisten saya menemukan beberapa unggahan publik. Nama Pak Dimas muncul dalam acara rumah sakit bersama seorang perempuan bernama Livia. Anak salah satu direktur rumah sakit swasta."
Foto pertama muncul di layar. Dimas berdiri di aula seminar, memakai batik. Di sebelahnya seorang perempuan muda berblazer krem tersenyum. Jarak mereka dekat, tapi masih bisa disebut rekan.
Foto kedua membuat Nadia berhenti bernapas sebentar.
Dimas dan Livia duduk di kafe hotel. Meja kecil. Dua cangkir kopi. Tidak ada peserta seminar lain.
"Dia bilang malam itu rapat tambahan," kata Nadia.
Pak Surya tidak memberi komentar. Ia membuka foto ketiga. Livia memegang paper bag mahal. Di sisi foto, sebagian tangan Dimas terlihat. Jam tangannya sama.
Sari menatap foto itu dengan mata dingin.
"Ini belum cukup untuk menuduh," kata Pak Surya. "Tapi cukup untuk menjadi catatan. Jangan konfrontasi tanpa rencana. Orang yang merasa jejaknya terlihat biasanya cepat menghapus."
Nadia tertawa kecil. "Jadi aku harus diam?"
"Diam bisa berarti menyimpan amunisi."
Sari berkata pelan, "Itu kalimat bagus."
Pak Surya tersenyum. "Silakan pakai."
Nadia tidak tersenyum. Ia masih menatap foto Dimas dan Livia. Bagian dirinya yang paling menyedihkan masih ingin membela. Mungkin itu acara kerja. Mungkin Livia hanya rekan. Mungkin Dimas bodoh, bukan selingkuh. Tapi bagian lain yang baru tumbuh sejak semalam berkata: kalau semuanya bersih, kenapa tasnya hilang?
"Pak," katanya, "kalau saya belum siap cerai, apakah saya tetap bisa meminta barang saya kembali?"
"Bisa. Hak pribadi tidak hilang hanya karena Ibu masih menikah."
"Kalau saya tinggal sementara di tempat Mama?"
"Boleh. Secara sosial mungkin ramai, tapi secara hukum Ibu berhak mencari tempat aman."
"Kalau Bu Marni bilang saya durhaka?"
Pak Surya berhenti menulis.
Ia menatap Nadia dengan sabar, seperti sudah mendengar kata itu ratusan kali dari mulut mertua, orang tua, saudara, bahkan suami.
"Durhaka bukan istilah hukum."
Ruangan itu hening.
Kalimat tersebut tidak keras. Tidak dramatis. Tapi bagi Nadia, rasanya seperti seseorang mencabut paku dari pintu yang selama ini tertutup.
Durhaka bukan istilah hukum.
Selama ini kata itu dipakai untuk membuatnya menunduk. Dipakai saat ia menolak jamu tanpa label. Dipakai saat ia ingin tetap bekerja. Dipakai saat ia bertanya kenapa uangnya dipindahkan. Hari ini kata itu jatuh ke lantai, kehilangan mahkotanya.
Sari menggenggam tangan Nadia di bawah meja.
Nadia tidak menangis. Ia hanya mengangguk.
Pak Surya membuat daftar langkah. Semua komunikasi soal barang dan uang lewat tertulis. Jangan pulang sendiri jika situasi memanas. Jangan unggah tuduhan emosional. Jika mengambil barang, dokumentasikan dengan saksi. Jika Dimas mengganti kunci, jangan memaksa masuk tanpa pendamping.
"Buat kronologi," katanya. "Tidak perlu indah. Tanggal, kejadian, siapa yang ada, bukti apa."
"Rasanya seperti menulis laporan pasien."
"Anggap saja begitu."
"Pasiennya pernikahan saya?"
"Kalau Ibu mau menyebut begitu."
Nadia menatap kertas kosong yang diberikan Pak Surya. "Kalau hasil pemeriksaannya buruk?"
Pak Surya tidak menjawab cepat. "Maka setidaknya Ibu berhenti memberi obat yang salah."
Setelah konsultasi selesai, mereka turun tangga. Azan zuhur terdengar dari masjid dekat ruko. Udara panas, suara motor ramai, tukang bakso lewat memukul mangkuk. Dunia luar tidak tahu bahwa dalam satu jam, Nadia baru saja kehilangan rasa takut pada satu kata.
Di parkiran, ponselnya berbunyi.
Dimas: Kamu pulang kapan? Ibu sakit kepala gara-gara kelakuanmu.
Pesan kedua masuk sebelum Nadia membalas.
Dimas: Jangan bawa pengacara ke rumahku lagi.
Nadia menatap layar.
"Screenshot?" tanya Sari.
Nadia mengangguk. "Screenshot."
Ia menyimpan dua pesan itu, lalu membuka foto Dimas dan Livia sekali lagi. Kali ini ia tidak memperbesar wajah Dimas. Ia memperbesar paper bag di tangan Livia.
Ada logo merek yang sama dengan tas cokelatnya.
Nadia mengirim foto itu kepada Pak Surya.
Tolong simpan ini juga, Pak.
Balasan datang cepat:
Saya simpan. Jangan konfrontasi dulu.
Nadia memasukkan ponsel ke tas. Tapi di dadanya, pertanyaan sudah menunggu seperti api kecil.
Kalau tas itu benar miliknya, berarti Dimas bukan hanya membiarkan barangnya diambil.
Ia memberikannya kepada perempuan lain.
Sari melihat wajah putrinya berubah. "Jangan pergi ke rumahnya sekarang."
"Aku tahu."
"Jangan chat Livia."
"Aku tahu."
"Jangan tanya Dimas sebelum kita siap."
Nadia menatap ibunya. "Mama pikir aku akan meledak?"
"Ibu pikir kamu manusia."
Nadia menghela napas panjang. Marahnya belum besar. Justru karena itu ia takut. Ada dingin yang aneh di dalam dirinya, seperti ruang operasi sebelum sayatan pertama.
"Aku tidak akan meledak," katanya. "Aku akan tunggu dia membuat kesalahan berikutnya."
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??