Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
...Bagian I...
...Batu Sipangoluan...
..."Kesunyian bukanlah ketiadaan suara. Kesunyian adalah ketika seseorang harus menemukan jawaban tanpa ada lagi yang membisikkan arah."...
Pelangi yang menghubungkan Banua Ginjang dan Banua Tonga perlahan memudar di belakang langkah Deak. Ia tidak menoleh. Bukan karena ingin melupakan rumahnya, melainkan karena ia tahu... ada perpisahan yang hanya akan menjadi lebih berat apabila terus dipandang.
Di bahunya masih tersampir Ulos Cahaya. Coraknya masih hidup. Tiga batu penyangga semesta terasa berdenyut perlahan, seolah bernapas mengikuti denyut jantung sang putri. Benang-benang pelangi di dalam tenunan itu sesekali berkilau, mengingatkan Deak pada kehangatan Banua Ginjang.
Namun semakin jauh ia melangkah... cahaya ulos itu mulai semakin meredup. Bukan karena kehilangan kekuatannya. Melainkan karena kini ia telah memasuki wilayah dunia yang belum mengenal cahaya seperti Banua Ginjang.
Banua Tonga terbentang tanpa batas. Tidak ada pulau-pulau langit. Tidak ada Air Terjun Cahaya. Tidak ada jembatan pelangi. Yang terbentang hanyalah samudra purba berwarna biru tua yang berkilau di bawah langit senja.
Angin bertiup membawa aroma asin, sangat berbeda dari angin Banua Ginjang yang selalu beraroma bunga dan embun.
Ombak datang silih berganti. Tidak tergesa-gesa. Namun juga tidak pernah berhenti. Seolah sedang mengucapkan selamat datang dengan bahasa yang belum dipahami Deak.
Ia berdiri lama di tepi pantai berbatu. Tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Kesunyian itu terasa begitu asing buat Deak Parujar, sang Putri Langit yang selama ini selalu dikelilingi makhluk-makhluk Banua Ginjang yang mengasihinya dengan ketulusan hati.
Di Banua Ginjang, ke mana pun ia melangkah selalu ada suara burung, tawa Jonggi, denting Lonceng Angin atau sapaan para penenun. Kini... yang menemaninya hanyalah desir angin dan debur ombak.
Untuk pertama kalinya sejak ia dilahirkan... Deak merasa benar-benar sendiri.
Tanpa sadar, tangannya menggenggam erat ujung ulos di bahunya. Ia memejamkan mata. Mencoba mendengarkan bisikan Hariara Bolon. Namun... tidak ada suara yang terdengar.
Ia mencoba mengingat nyanyian Burung Erung. Namun yang terdengar hanya hembusan angin laut.
Perlahan air mata mengalir di pipinya. Bukan karena menyesali pengasingannya. Melainkan karena ia mulai menyadari bahwa sejak hari ini ia harus belajar berjalan tanpa mendengar petunjuk lagi.
Deak lalu berlutut. Telapak tangannya menyentuh tanah Banua Tonga. Tanahnya dingin dan terasa kasar, terlihat telah dipenuhi butiran pasir hitam dan serpihan batu yang dibentuk ombak selama ribuan musim.
Ia mengambil segenggam tanah. Membiarkannya jatuh perlahan di sela-sela jemarinya dan bergumam, "Maafkan aku.." ia mengambil nafas sejenak dan kembali berbisik: "Telah lama sekali engkau menunggu."
Angin laut berembus lebih pelan. Seolah mendengarkan.
"Mulai hari ini... aku akan belajar mengenalmu." bisik Deak, bukan sebagai penguasa, bukan pula sebagai penakluk. Tetapi sebagai anak... yang ingin mencintai rumah barunya.
Deak terus melangkahkan kakinya di pulau karang kecil yang membatasi tanah dan samudra. Karang kecil itu terasa kokoh ketika Deak injak.
Tiba-tiba terlintas sebuah nama di pikiran Deak. Batu Sipangoluan, batu karang awal dari kehidupannya di Banua Tonga. Karang itu bukanlah sekedar batu biasa, karena dari padanya akan lahir benih pertama dunia. Deak berharap tanah yang ia huni akan menjadi semakin meluas hingga akhirnya kehidupan-kehidupan baru dapat turut tumbuh dan berkembang bersamanya.
...****************...
Ketika senja berubah menjadi malam, sesuatu yang belum pernah dilihat Deak bermunculan di langit. Ribuan bintang. Bukan bintang yang berpendar dekat seperti di Banua Ginjang. Melainkan titik-titik cahaya yang terasa begitu jauh. Begitu sunyi. Begitu misterius.
Ia mendongak lama. Lalu tersenyum tipis dan bergumam sendiri, "Aku mengerti sekarang... Di Banua Ginjang, aku selalu melihat cahaya. Di Banua Tonga ini, aku harus belajar menemukan cahaya."
Di kejauhan, ombak kembali memecah karang. Namun kali ini Deak mendengar sesuatu yang berbeda. Bukan kata-kata. Bukan juga bisikan. Melainkan irama. Pelan. Teratur. Seolah seluruh samudra sedang berdetak seperti sebuah jantung raksasa.
Ia menutup mata. Mendengarkan dengan saksama. Dan untuk pertama kalinya, Banua Tonga menjawab kehadirannya. Bukan dengan suara sambutan, tetapi dengan kehidupan yang perlahan mulai memperkenalkan dirinya.
...****************...
...Bagian II...
...Samudra yang Bernapas...
..."Ada bahasa yang hanya dapat didengar ketika seluruh dunia berhenti berbicara."...
Malam turun perlahan di atas Batu Sipangoluon. Untuk pertama kalinya sejak Deak dilahirkan di Banua Ginjang, tidak ada cahaya pelangi yang menyambut datangnya malam.
Tidak ada denting Lonceng Angin. Tidak ada nyanyian Burung Erung. Tidak ada desir lembut daun-daun Hariara Bolon. Yang ada hanyalah langit yang begitu luas, dihiasi ribuan bintang yang berkelip dalam keheningan.
Deak duduk di atas batu karang yang masih hangat oleh sisa cahaya senja. Ulos Cahaya masih menyelimuti bahunya. Namun benang-benang pelangi yang biasanya berdenyut lembut kini hanya memancarkan cahaya redup, seolah ikut merasakan sunyinya dunia baru itu.
Ia menarik lututnya ke dada. Lalu memandang cakrawala yang tidak memiliki ujung.
"Aku sudah tiba..." Bisiknya. Namun kata-katanya segera ditelan angin laut.
Waktu berjalan tanpa terasa. Tidak ada yang dapat dijadikan penanda hari selain perubahan terang dan gelap serta kehadiran bintang-bintang di langit.
Deak mencoba memejamkan mata. Di Banua Ginjang, setiap kali ia memejamkan mata, selalu terdengar suara para tetua, nyanyian air, atau bisikan Hariara Bolon.
Kini, yang terdengar hanya debur ombak. Berulang. Teratur. Tanpa henti. Semula ia mengira itu hanyalah suara laut. Namun semakin lama ia mendengarkan, semakin ia menyadari sesuatu.
Irama ombak itu, tidak pernah benar-benar sama. Ada jeda. Ada tekanan. Ada tarikan. Seperti... helaan napas.
Deak membuka mata. Ia berdiri perlahan. Kemudian melangkah ke tepi Batu Sipangoluon. Kakinya menyentuh air laut yang dingin. Ombak kecil datang menyapu telapak kakinya. Lalu kembali ke samudra. Datang lagi. Lalu pergi lagi. Seolah sedang menyapa.
Deak berjongkok. Kedua telapak tangannya menyentuh permukaan air. Air itu tidak sejernih Sungai Cahaya di Banua Ginjang. Warnanya lebih gelap dan terlihat dalam.
Namun di balik kedalaman itu, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan ketakutan ataupun kesedihan, tapi kerinduan. Kerinduan yang sangat tua. Seolah samudra itu telah menunggu seseorang selama ribuan musim.
Tanpa sadar Deak berbisik, "Apakah... engkau menungguku?"
Tidak ada jawaban. Namun ombak berikutnya datang terasa lebih lembut. Membasuh kedua tangan dan kakinya.
Deak menutup mata. Ia tidak lagi berusaha mendengar dengan telinganya. Ia mendengar dengan hatinya. Dan pada saat itulah, ia memahami sesuatu.
Samudra Purba tidak berbicara menggunakan kata-kata. Ia berbicara melalui irama. Melalui pasang dan surut. Melalui ombak yang datang dan kembali.
Seperti jantung. Yang terus berdetak untuk memberi kehidupan.
Deak tersenyum dan kembali berbisik, "Jadi... Inilah caramu berbicara."
Angin malam berembus pelan. Membawa aroma asin dan batu-batu basah. Kesunyian yang sejak senja terasa begitu menyesakkan kini perlahan berubah. Deak tidak lagi merasa sedang ditinggalkan. Ia hanya sedang belajar bahasa yang baru.
Malam semakin larut. Bintang-bintang memenuhi seluruh langit Banua Tonga. Deak membaringkan tubuhnya di atas batu. Pandangannya tertuju ke langit.
"Ayah..." Bisiknya lirih, mengenang Mulajadi Nabolon, "Aku akan menjaga dunia ini. Bukan karena aku telah dihukum. Tetapi karena inilah jalan yang Engkau percayakan kepadaku."
Air mata jatuh perlahan. Namun kali ini bukan air mata kesedihan, tetapi tekad.
...****************...
Jauh di dasar Samudra Purba yang belum pernah disentuh cahaya, sesuatu bergerak. Perlahan. Tenang. Bukan ombak ataupun arus.
Melainkan tubuh seekor makhluk purba yang telah ada, bahkan sebelum batu pertama muncul di Banua Tonga. Matanya perlahan terbuka. Dua cahaya hijau kebiruan bersinar dari kedalaman. Makhluk itu tidak berenang mendekat. Ia hanya memandang ke arah Batu Sipangoluon. Ke arah seorang putri yang sedang memandangi langit.
Di dasar samudra, suara tua yang bahkan tidak terdengar oleh ombak bergema pelan, "Akhirnya... Anak langit itu datang."
Makhluk purba itu menutup kembali matanya. Belum waktunya bertemu. Belum waktunya memperkenalkan diri. Masih ada kesunyian yang harus menjadi guru pertama bagi sang putri.
Dan di atas Batu Sipangoluon, Deak tidak mengetahui bahwa sesungguhnya ia tidak sendirian.
Malam pertama di Banua Tonga tidak menghadiahkan Deak jawaban. Ia hanya memberinya keheningan. Namun di dalam keheningan itulah, lahir sebuah harapan. Karena setiap dunia yang besar, selalu dimulai dari satu hati yang berani bertahan dalam sunyi.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/