Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Pertolongan
Pagi hari menyingsing membawa kehangatan lembut yang menembus celah-celah kanopi Hutan Kematian. Di dalam aula darurat, para penghuni sementara mulai terbangun dari tidur mereka. Semburat keheranan jelas terlihat di wajah masing-masing; untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dihantui teror perang, rasa lelah, dan ancaman monster malam, mereka benar-benar bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan apa pun.
Bahkan, suasana pagi itu langsung mencair ketika dua anak kecil dari rombongan pengungsi memberanikan diri keluar dan langsung diajak bermain bersama Luna di halaman tengah.
Sementara itu, ketiga pedagang yang ikut mengungsi mulai mengedarkan pandangan mereka, mengamati setiap sudut desa kecil tersebut dengan mata berbinar-binar penuh takjub. Mereka melihat petak-petak sawah yang tertata sangat rapi, kebun sayur yang subur, area bengkel tempat percikan api mulai berpijar, gudang logistik yang tertutup rapat, hingga dapur terbuka yang bersih.
Salah satu pedagang berbisik takjub kepada rekannya, "Tempat ini... apa benar-benar dibangun dari nol oleh manusia?"
Rekan di sebelahnya mengangguk pelan, sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
Di tengah suasana damai itu, salah satu prajurit iblis bernama Doran—sosok bertubuh tegap dengan watak keras kepala dan sulit diatur—mulai berjalan-jalan mengitari area gudang penyimpanan terbuka. Ia melihat karung-karung beras yang bertumpuk tinggi, deretan batang besi berkualitas, serta hasil panen melimpah yang tersusun rapi.
Pikiran negatif mulai merasuki kepalanya. Sambil mendengus sinis, Doran membatin, “Dengan persediaan sebanyak ini... kenapa mereka tadi malam hanya memberi kami jatah makan yang begitu sedikit? Jelas-jelas mereka punya lebih dari cukup.”
Tanpa sengaja, Haruto yang sedang melintas mendengar gumaman tersebut. Pemuda itu tidak menunjukkan kemarahan atau membentak. Sebaliknya, Haruto justru berhenti, menoleh tenang, dan melambaikan tangan mengisyaratkan agar Doran mendekat.
"Kemarilah, lihat baik-baik," ujar Haruto ramah namun tegas, mengajak Doran melangkah masuk ke dalam gudang.
Haruto mulai menjelaskan dengan kepala dingin. "Persediaan yang kau lihat ini adalah kalkulasi ketat untuk bertahan hidup sembilan orang penduduk asli desa ini. Jika musim panen kami gagal total sekali saja karena cuaca atau hama..." Haruto menatap lurus mata sang prajurit, "...kami semua juga bisa mati kelaparan."
Doran tertegun, tidak bisa membantah.
Haruto melanjutkan dengan nada bicara yang lebih dalam, "Aku memang menolong dan memberi kalian makan. Tapi bukan berarti aku harus mempertaruhkan seluruh keselamatan desaku demi menanggung hidup kalian secara cuma-cuma."
Skakmat. Doran akhirnya terdiam seribu bahasa, meresapi realitas pahit tersebut.
Haruto kemudian menepuk bahu Doran pelan, lalu berbalik mengumpulkan seluruh pengungsi di halaman tengah.
"Kalian boleh tinggal di sini untuk memulihkan diri selama beberapa hari ke depan," umum Haruto kepada semua orang. "Kalian tidak perlu membayar apa pun. Tapi sebagai gantinya, bantu lah mengerjakan pekerjaan harian di desa ini."
Semua pengungsi langsung mengangguk setuju tanpa ada yang keberatan. Pembagian tugas harian pun langsung diatur dengan adil:
Para prajurit iblis—termasuk Doran yang kini sudah melunak—dikerahkan untuk membantu memperkuat struktur pagar pembatas kedua di sisi luar.
Ketiga pedagang membantu Elara menyusun, merapikan, dan mencatat ulang keluar-masuk barang di dalam gudang logistik.
Penduduk sipil membantu Kaelin dan Hana membersihkan serta merawat area kebun baru.
Kedua anak kecil membantu Luna mengumpulkan ranting-ranting kayu kecil untuk perapian dapur.
Pekerjaan itu tidak terasa berat; suasananya lebih mirip seperti kegiatan gotong royong antar-tetangga di perkampungan damai.
Saat sibuk membantu di dalam gudang bersama Elara, salah satu pedagang memperhatikan ketelitian sistem pencatatan desa tersebut. Setiap hasil panen yang masuk dan keluar dicatat dengan tinta rapi di atas buku khusus. Gudangnya bersih tanpa ada sisa makanan yang dibiarkan membusuk terbuang sia-sia.
Merasa penasaran, sang pedagang bertanya kepada Elara, "Sistem pencatatan dan tata kelola seperti ini sangat profesional. Siapa yang mengajarkan semua ini kepada kalian?"
Elara tersenyum lembut, merapikan gulungan kertas di tangannya. "Semua ini... diajarkan oleh Haruto."
Mendengar jawaban itu, sang pedagang semakin sadar. Yang membuat desa terpencil di tengah Hutan Kematian ini bisa maju dan bertahan bukan sekadar faktor kesuburan tanahnya semata, melainkan disiplin manajerial dan cara mereka mengelola setiap sumber daya yang ada.
Di sudut lain desa, sebuah kebetulan yang menyenangkan terjadi di area bengkel. Salah satu prajurit iblis dari kelompok pengungsi ternyata memiliki latar belakang masa lalu sebagai penjaga jalur logistik dan peninjau tambang besi—bukan seorang pandai besi, namun ia memahami klasifikasi kualitas berbagai jenis bijih logam.
Begitu mengetahui hal itu, Brom langsung bersemangat. Ia menarik sang prajurit duduk di sebelah pandai besinya, lalu mereka terlibat obrolan panjang yang berapi-api mengenai metalurgi.
Dari perbincangan tersebut, Brom mendapatkan banyak informasi baru yang sangat berharga: di beberapa wilayah terpencil kekuasaan Kerajaan Iblis, terdapat titik-titik tambang tua yang menghasilkan bijih besi dengan kualitas jauh lebih murni. Bola mata sang dwarf tua berbinar-binar membayangkan masa depan.
Sambil tertawa kecil penuh impian, Brom berbisik pada dirinya sendiri, "Suatu hari nanti... aku pasti bisa menempa logam menggunakan besi dari tambang-tambang itu."
Menjelang sore hari, saat pekerjaan gotong royong mereda, Haruto kembali melanjutkan proyek renovasi rumah utamanya bersama Brom. Dua anak kecil pengungsi yang melihat pembongkaran dinding itu mendekat dengan rasa penasaran yang besar.
"Kak, kenapa rumah ini dibongkar? Apa mau dirubuhkan?" tanya salah satu anak polos.
Haruto tertawa renyah, mengelus pucuk kepala anak itu. "Bukan dirubuhkan, tapi dikembangkan. Karena sebuah tempat tinggal juga harus ikut berkembang seiring bertambahnya penghuni dan barang." Ia menunjuk ke arah rumah Ras Kelinci di sebelah barat. "Nanti, rumah mereka juga akan kita renovasi bertahap agar semakin nyaman."
Brom langsung menyela di tengah percakapan, mengangkat palunya tinggi-tinggi. "Jangan lupa, setelah itu giliran rumahku yang harus dibangun!"
Haruto mengangguk mantap. "Iya, tenang saja."
Seluruh orang yang mendengarnya tertawa bersama, menciptakan kehangatan yang meruntuhkan sisa-sisa kecanggungan di antara penduduk lama dan para pendatang baru.
Malam hari tiba dengan sambutan makan malam bersama di ruang terbuka. Suasana di sekitar meja panjang malam itu terasa jauh lebih santai dan cair dibandingkan malam pertama kedatangan mereka. Bahkan Doran—prajurit iblis yang tadinya sempat bersikap kasar dan sinis—kini mendatangi Haruto untuk mengucapkan terima kasih atas tumpangan dan makanannya, meski kalimat itu diucapkannya dengan nada yang masih terdengar agak canggung.
Sementara itu, di sudut halaman, salah satu pedagang dari rombongan pengungsi duduk terdiam seorang diri, memandangi aktivitas damai di dalam desa sambil menyeruput sisa air hangat di mangkuknya.
Di dalam hatinya, sang pedagang merenung dalam-dalam:
“Jika tempat seperti ini... suatu hari nanti benar-benar diketahui oleh dunia luar yang penuh konflik...” matanya menyapu keindahan tata kota kecil itu, “...pasti akan ada sangat banyak orang yang berlomba-lomba ingin datang dan tinggal di sini.”