"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Organisasi Black Serpent
"Black serpent."
Erick langsung terdiam. Wajahnya berubah serius.
"Maksud Tuan... organisasi milik Tuan Eduardo Brown?"
Jose mengangguk pelan.
"Iya."
Ia kembali menatap foto itu lekat-lekat.
"Aku tidak mungkin salah mengenalinya. Pria itu adalah Richard Hale. Selama bertahun-tahun dia menjadi pengacara sekaligus penasihat hukum Eduardo."
Erick mengernyit.
"Tapi... bukankah organisasi Brown selalu menjaga jarak dengan organisasi Escobar?"
"Itu yang selama ini kita kira," jawab Jose dingin.
Jose kembali membalik beberapa lembar laporan.
Di halaman berikutnya terpampang catatan transfer dana, foto pertemuan, dan rekaman kamera pengawas.
"Semuanya mulai masuk akal."
Erick menatap Jose.
"Tuan mencurigai mereka bekerja sama?"
Jose menggeleng pelan.
"Belum. Aku tidak ingin mengambil kesimpulan tanpa bukti. Tapi..."
Ia mengetuk foto Richard dengan telunjuknya.
"...keberadaan orang ini di sisi Luna bukan sebuah kebetulan."
Erick mengangguk.
"Lalu... Apa perintah Tuan?"
Jose menutup map itu.
"Segera pindahkan Eva dari rumah sakit. Cari tempat yang paling aman. Hingga tidak ada seorangpun yang menduga keberadaannya."
Erick mengerutkan dahinya.
"Tempat aman?" gumamnya nyaris tidak terdengar.
"Tuan."
"Apa?"
"Kondominium."
Jose menoleh perlahan.
"Kondominium?"
Erick mengangguk mantap.
"Iya, Tuan. Beberapa tahun lalu Tuan pernah membeli sebuah kondominium dengan identitas perusahaan. Bangunan itu tidak pernah tercatat sebagai aset pribadi organisasi."
Jose mulai mengingat.
"Kondominium di distrik utara?"
"Benar."
"Selama ini hanya saya yang mengetahui akses masuknya."
Jose terdiam beberapa saat.
"Bagaimana sistem keamanannya?"
Erick segera menjelaskan.
"Setiap lantai menggunakan akses sidik jari dan kartu khusus. Lift pribadi hanya bisa berhenti di lantai penthouse. Selain itu, seluruh CCTV terhubung langsung ke ruang kendali internal, bukan ke jaringan umum."
Jose mengangguk pelan.
"Itu cukup."
Namun Erick masih tampak ragu.
"Tapi, Tuan..."
Jose menatapnya.
"Apa lagi?"
"Kalau Nyonya Eva dipindahkan secara terang-terangan, siapa pun pasti akan mengikuti."
Jose tersenyum tipis.
"Itu sebabnya kita tidak akan memindahkannya secara terang-terangan."
Erick langsung memahami maksud atasannya.
"Tuan ingin membuat pengalihan?"
"Iya."
Jose membuka kembali map di tangannya.
"Siapkan dua ambulans. Ambulans pertama keluar melalui pintu depan dengan pengawalan penuh. Biarkan semua orang mengira Eva ada di dalamnya. Sedangkan ambulans kedua..."
Jose berhenti sejenak.
"...keluar dari pintu layanan belakang. Tidak memakai sirene. Tidak memakai pengawal mencolok. Hanya tiga orang yang mengetahui Eva berada di sana."
Erick mengangguk.
"Saya, Tuan, dan dokter."
"Benar."
Jose menambahkan,
"Setelah Eva tiba di kondominium, ganti seluruh petugas keamanan. Gunakan orang-orang yang benar-benar loyal.Jangan libatkan anggota organisasi Escobar."
Erick sedikit terkejut.
"Tuan tidak mempercayai mereka?"
Jose menatap lurus ke depan.
"Bukan. Aku hanya tidak tahu... siapa yang masih bisa dipercaya."
Suasana kembali hening. Beberapa detik kemudian Jose kembali berbicara.
"Mulai hari ini... tidak seorang pun boleh mengetahui lokasi Eva. Bahkan jika yang bertanya adalah Luna. Atau..."
Sorot mata Jose berubah tajam.
"...Escobar sekalipun."
Erick membelalak.
"Tuan..."
Jose mengepalkan tangannya.
"Selama kebenaran yang sebenarnya belum ditemukan, siapa pun bisa menjadi ancaman."
Erick menundukkan kepala.
"Saya mengerti."
****
Enam jam kemudian...
Langit mulai menggelap. Hujan rintik-rintik membasahi halaman rumah sakit, sementara suasana di lorong VIP tampak lebih ramai dari biasanya. Erick bersama dokter yang merawat Eva memasuki ruangan.
"Nyonya Eva..." sapa dokter dengan suara lembut.
Eva yang sedang menatap keluar jendela perlahan menoleh.
"Ada apa, Dok?"
Dokter saling berpandangan dengan Erick sebelum akhirnya berkata,
"Kondisi Anda sudah cukup stabil."
Eva mengangguk pelan.
"Lalu?"
Erick maju selangkah.
"Maaf, Nyonya. Demi keselamatan Anda... kami harus memindahkan Anda malam ini."
Eva tampak bingung.
"Memindahkan ku?"
"Iya."
"Apakah terjadi sesuatu?"
Erick tidak langsung menjawab. Ia sudah berjanji kepada Jose untuk tidak membuat Eva panik.
"Kami menerima informasi bahwa rumah sakit ini sudah tidak aman. Kami tidak ingin mengambil risiko."
Eva menatap Erick beberapa detik.
"Jose yang meminta ini?"
Erick mengangguk.
"Iya."
Eva menundukkan pandangannya. Entah mengapa, setiap mendengar nama Jose, dadanya masih terasa sesak. Namun ia juga tahu...
Setelah kejadian beberapa hari terakhir, ancaman terhadap dirinya memang nyata.
"Baik. Aku akan ikut."
Dokter tersenyum tipis.
"Terima kasih atas pengertiannya."
Erick segera memberi isyarat kepada dua perawat kepercayaannya.
"Kita berangkat lima menit lagi."
Di waktu yang sama...
Halaman depan rumah sakit.
Sebuah ambulans putih berhenti tepat di depan pintu utama. Belasan pengawal berbadan besar langsung mengelilinginya. Beberapa wartawan yang sejak tadi berjaga segera mengangkat kamera.
"Itu dia!"
"Nyonya Jose dipindahkan!"
Lampu ambulans menyala.
WIUU... WIUU...
Ambulans itu melaju cepat meninggalkan rumah sakit dengan iring-iringan empat mobil SUV hitam.
Dari kejauhan...
Seorang pria bertopi hitam segera mengangkat ponselnya.
"Target bergerak."
"Iya. Mereka menuju jalan tol timur."
Setelah mengatakan itu, ia masuk ke dalam mobil dan mulai mengikuti iring-iringan tersebut.
Namun...
Di sisi lain rumah sakit.
Pintu layanan belakang terbuka perlahan.
Tanpa suara sirene. Tanpa lampu darurat.
Sebuah ambulans berwarna abu-abu keluar perlahan.
Di dalamnya hanya ada dokter, seorang perawat, Erick dan Eva yang berbaring tenang di atas ranjang pasien. Eva memandang ke arah Erick.
"Kenapa ambulans ini tidak memakai sirene?"
Erick tersenyum tipis.
"Karena kita tidak ingin menarik perhatian siapa pun."
Eva mengangguk pelan.
Ambulans itu melaju menyusuri jalan-jalan kecil yang sepi. Sementara itu... Jose berdiri di atas atap gedung parkir rumah sakit. Melalui teropongnya, ia melihat beberapa mobil asing mulai mengejar ambulans pertama.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Bagus... Mereka memakan umpannya."
Namun...
Belum sempat ia menurunkan teropongnya.
DRRTT...
Ponselnya bergetar. Erick menelepon. Jose segera mengangkatnya.
"Bagaimana?"
Suara Erick terdengar tegang.
"Tuan... Kami punya masalah."
Raut wajah Jose langsung berubah.
"Apa yang terjadi?"
Erick menarik napas dalam.
"Tepat lima ratus meter di depan...ada sebuah truk kontainer melintang menutup seluruh jalan."
Mata Jose membelalak.
"Mustahil... Itu bukan rute yang diketahui siapa pun."
Suara Erick terdengar semakin pelan.
"Itulah masalahnya, Tuan. Seseorang...ternyata sudah mengetahui rencana kita sejak awal."
Mata Jose langsung membeku.
"Apa ada kendaraan lain di sekitar kalian?" tanyanya cepat.
Erick menoleh ke depan melalui kaca ambulans.
"Sepi... terlalu sepi."
Kalimat itu justru membuat firasat Jose semakin buruk.
"Jangan dekati truk itu!" bentaknya.
"Tuan?"
"Itu jebakan! Mundur sekarang juga!"
Namun...
BRRAAAKKK!
Suara benturan keras terdengar dari arah belakang ambulans.
"AARGH!"
Eva dan perawat langsung terlempar ke depan. Ambulans berguncang hebat.
"Apa yang terjadi?!" seru Eva panik.
Erick menoleh ke kaca belakang.
Sebuah SUV hitam baru saja menabrak bagian belakang ambulans hingga penyok.
Belum sempat ia bereaksi...
DUG!
SUV kedua berhenti melintang di belakang mereka. Jalan sempit itu kini benar-benar terkunci.
"Nona Eva, tetap di bawah!" teriak Erick.
Ia segera mencabut pistol dari balik jasnya. Dokter dan perawat buru-buru melindungi Eva.
Di luar ambulans...
Pintu-pintu SUV terbuka bersamaan.
BRAK! BRAK! BRAK!
Delapan pria berpakaian hitam turun dengan langkah tenang. Wajah mereka tertutup masker.
Salah seorang di antara mereka mengangkat tangannya.
"Tidak usah buang waktu. Bawa wanitanya hidup-hidup."
"Baik!"
Mereka serempak mengokang senjata.
KLIK!
Di dalam ambulans, Erick menggertakkan giginya.
"Sial..."
Jose yang masih berada di telepon mendengar semuanya.
"Erick!"
"Tuan... mereka sudah datang."
"Berapa orang?"
"Sedikitnya delapan."
Jose mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tahan mereka! Aku akan sampai dalam lima menit!"
Jose langsung berlari menuju mobilnya.
Sementara itu... Pemimpin kelompok bertopeng melangkah mendekati ambulans. Ia mengetuk pintu belakang tiga kali.
TOK. TOK. TOK.
"Serahkan Eva."
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
mudah banget dikibulin
nggak kayak bosmu