Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Arga dengan cepat merebut kotak obat itu dari tangan Kinan, lalu menyembunyikannya ke dalam saku jasnya. Setelah memastikan situasi aman, Arga perlahan melepas bekapan tangannya.
Kinan mengusap bibirnya. Disusul sudut bibirnya yang justru terangkat, ia melirik Arga dengan pandangan jahil.
"Emm... Ya ampun, Pak CEO..." Kinan menahan tawa, menyenggol pelan lengan Arga dengan bahunya. "Ternyata Anda selemah itu ya di mata Mamah Mira? Sampai-sampai perlu dibekali suplemen anti-loyo begini?"
"Kinan, jaga bicara kamu," tegur Arga, memalingkan wajahnya yang makin memerah.
"Nggak usah malu-malu gitu juga kali, Pak," ledek Kinan seraya mengetuk-ngetuk lengan Arga dengan ujung telunjuknya sembari menahan tawa.
Mendengar celotehan Kinan yang terus memanas-manasinya, Arga memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, mencoba mengembalikan kendali dirinya.
Pria itu memutar tubuhnya menghadap Kinan. Dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat serius dan tatapan mata yang tajam, Arga mencondongkan tubuhnya mendekat.
"Apa kamu mau saya membuktikan-nya?" tanya Arga dengan kilat serius di matanya.
Deg.
Tawa Kinan seketika terhenti di tenggorokan. Semua celotehannya terasa tertelan kembali saat menyadari jarak wajah Arga yang mendadak hanya tersisa beberapa senti di depannya.
Sadar dirinya terskakmat, Kinan refleks menyambar bantal kecil di belakang kepalanya, lalu melemparnya tepat ke wajah Arga.
Puk!
"Jangan harap, Pak CEO!" seru Kinan cepat dengan wajah yang mendadak ikut panas. Ia langsung berbalik membelakangi Arga, menarik selimutnya hingga ke batas leher dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Hening seketika.
Arga menangkap bantal yang mengenai wajahnya. Melihat reaksi panik Kinan yang mendadak bungkam dan menyembunyikan wajahnya di dalam selimut, sudut bibir Arga perlahan terangkat tipis.
Satu kosong, ucapnya dalam hati. Setidaknya ia bisa mengembalikan harga dirinya.
**
Penerbangan sore dari Jakarta menuju Singapura berlalu tanpa hambatan. Tepat pukul 18.30 waktu setempat, sebuah mobil Alphard berwarna hitam dari pihak hotel sudah menyusuri kawasan Beach Road, lalu melaju pelan memasuki area pelataran Raffles Hotel Singapore.
Bangunan bergaya kolonial abad ke-19 yang didominasi warna putih itu berdiri megah di tengah rindangnya taman palem. Suasana di sekitarnya terasa begitu tenang, privat, dan memancarkan kemewahan kelas atas.
Begitu pintu mobil dibuka, seorang Raffles Butler berseragam serba putih yang rapi dan berwibawa langsung menyambut mereka dengan senyum hangat.
"Good evening, Mr. and Mrs. Draken. Welcome to Raffles Singapore. It is an absolute honor to have you with us tonight," sapa sang Butler seraya membungkukkan badan penuh hormat.
("Selamat malam, Pak dan Bu Draken. Selamat datang di Raffles Singapore. Sebuah kehormatan besar bagi kami menyambut Anda berdua malam ini.")
Arga melangkah keluar dari mobil dengan postur tubuh tegap penuh percaya diri. Pria itu merespons sapaan tersebut dengan bahasa Inggris yang fasih, dengan aksen British tipis yang terdengar sangat alami.
"Good evening. Thank you. Please ensure our luggage is sent directly to the suite, as I have a business meeting later tonight," sahut Arga lugas.
("Selamat malam. Terima kasih. Tolong pastikan bagasi kami langsung diantar ke suite, karena saya ada rapat bisnis nanti malam.")
"Certainly, Sir. Everything has been prepared according to your request. Please, follow me," balas sang Butler ramah, memandu jalan menuju koridor VIP.
("Tentu saja, Pak. Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda. Mari, silakan ikuti saya.")
Kinan yang berjalan di sebelah Arga sempat tertegun sejenak. Meski Kinan tergolong wanita yang cerdas saat sekolah maupun kuliah, harus ia akui secara diam-diam dalam hati bahwa tingkat kefasihan dan gaya bahasa Arga berada di kelas yang berbeda dengannya.
Perhatian Kinan mendadak teralih begitu mereka melangkah menyusuri koridor utama hotel.
Lantai marmer mengkilap yang dilapisi karpet tebal, deretan lampu gantung kristal, serta pemandangan taman dalam yang begitu asri dan tertata rapi seketika memanjakan matanya. Tanpa sadar, Kinan berdecak kagum dengan mata yang berbinar-binar.
"Wah..." gumam Kinan pelan, mengamati tiap sudut arsitektur klasik yang terlihat sangat menakjubkan di matanya.
Arga yang berjalan di sampingnya melirik dari sudut mata. Sudut bibir pria itu terangkat, lalu ia mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik dengan nada datar yang menusuk.
"Norak... Kamu baru pertama kali ke sini, ya?"
Skakmat.
Langkah Kinan mendadak tertahan setengah detik. Bibirnya sedikit menganga, bahkan tak ada satu kata pun yang terpikirkan olehnya untuk membalas ledekan pria yang kini berjalan tepat di depannya. Kinan hanya bisa mengerjapkan mata dan memutar bola matanya, pura-pura kembali menatap lurus ke depan.
Mereka akhirnya sampai di depan pintu kamar. Sang Butler membukakan pintu Courtyard Suite mereka dengan gerakan anggun.
"Here is your Courtyard Suite, Mr. Draken. If you need any further assistance, please do not hesitate to press the butler button. Have a pleasant stay," ujar sang Butler sebelum membungkuk hormat dan pamit mundur.
("Ini Courtyard Suite Anda, Pak Draken. Jika Anda membutuhkan bantuan lebih lanjut, jangan ragu untuk memencet tombol butler. Semoga masa menginap Anda menyenangkan.")
Ruangan di dalam suite itu luar biasa luas. Langit-langitnya tinggi, memiliki ruang tamu terpisah, dan sebuah tempat tidur king-size yang dibalut seprai berwarna putih.
Kinan langsung mengalihkan rasa gengsinya. Ia melangkah cepat menuju tempat tidur mewah itu, mengelus permukaan seprainya yang terasa sangat halus, lalu memandangi kasur itu dengan tatapan penuh dambaan.
"Astaga... Inilah nikmatnya dunia," ucap Kinan seraya melonjakkan tubuhnya dan terlentang di atas kasur dengan jemari tangan yang ia gerak-gerakkan di atas permukaan seprai.
Arga melipat kedua tangannya di dada, bersandar pada pintu kamar sambil memperhatikan tingkah wanita di hadapannya dengan raut wajah datar.
"Ibu Rina pernah cerita, kamu selalu menganggap kalau kamar tidur itu 'surga dunia'. Tapi sudut pandang kamu terlalu sempit, Kinan," ujar Arga dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.
Arga berjalan perlahan menuju jendela di sisi ruangan yang menghadap langsung ke arah pemandangan taman luar dan lanskap kota Singapura yang indah.
"Surga dunia itu bukan cuma tempat kamu mengurung diri dan menghemat energi di atas kasur," lanjut Arga, menatap keluar jendela sebelum memutar tubuh memandang Kinan. "Keindahan arsitektur, lanskap alam yang tertata, bagaimana sejarah dan kenyamanan sekelas tempat ini diciptakan... itu juga definisi keindahan dunia."
Kinan mengembuskan napas panjang. Rasa lelah di kakinya membuat filosofi tinggi Arga sama sekali tidak mempan di telinganya.
"Teori Pak CEO tinggi sekali," balas Kinan santai, memiringkan kepalanya. "Tapi buat orang seperti saya, kasur empuk ini tetap pemenangnya."
"Setidaknya saat ini keindahan arsitektur tidak bisa bikin kaki saya berhenti pegal, Pak."