"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Tanpa disadari
Peta kekuatan bisnis Dharma Group terbentang di atas meja kaca di hadapan kedua anak muda yang terluka itu. Cahaya biru dari proyektor holografik menyinari wajah Savira yang pucat pasi. Matanya bergerak lincah, merekam setiap titik kelemahan finansial perusahaan ayahnya dalam keheningan yang mencekam.
Tangan kanan Savira menunjuk sebuah simpul data di sektor manufaktur. Simpul tersebut berkedip merah secara ritmis.
"Ini titik buta mereka," ucap Savira dingin. "Mereka sedang memompa dana riset secara masif ke proyek kosmetik baru yang dipimpin oleh Nadia."
Aaron mencondongkan tubuh tegapnya ke depan meja. Aroma pinus dan kopi hitam menguar tajam, menekan pasokan udara di sekitar Savira.
"Proyek kosmetik itu memakan likuiditas yang sangat besar," tanggap Aaron dengan suara baritonnya. Pria itu menatap deretan angka merah yang melayang di udara. "Jika kita memutus rantai pasokan bahan baku dari pelabuhan, proyek itu akan mati lemas sebelum diluncurkan."
Savira menggeleng pelan. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Wijaya akan menutupi kerugian itu dengan mudah dan memutarbalikkan narasi publik." Savira menatap mata kelam Aaron. "Kita harus membiarkan proyek itu meluncur, membiarkan mereka memanen kesombongan, lalu menghancurkannya dari dalam."
Aaron menatap profil samping Savira lekat-lekat. Insting pria itu menangkap ambisi gelap yang berkobar di mata gadis tersebut.
"Kau meremehkan sosiopat itu, Savira," peringat Aaron. Suaranya merendah, sarat akan ketegangan yang mematikan.
Savira menoleh tajam. Urat lehernya menegang kaku di balik kulit putihnya. Ia sangat benci diragukan.
"Saya hidup di bawah atap yang sama dengannya selama tujuh belas tahun. Saya tahu persis cara monster itu bernapas." Savira mendesis, menekan kuku-kukunya ke permukaan kaca meja.
Aaron memangkas jarak di antara mereka berdua. Pria raksasa itu berdiri menjulang, menciptakan bayangan gelap yang menelan postur Savira bulat-bulat.
"Kau tahu cara dia berbisnis, tapi kau belum pernah melihatnya bertarung saat merasa terancam." Aaron memperingatkan dengan nada yang luar biasa serius. "Wijaya Dharma tidak pernah berteriak saat dia marah."
Napas Savira tertahan di pangkal kerongkongan. Ingatan tentang senyum kebapakan Wijaya di ruang kerja pagi tadi kembali memukul lambungnya dengan keras.
"Dia akan tersenyum sangat ramah," lanjut Aaron parau. Matanya menggelap, menembus memori berdarah masa lalunya sendiri. "Dia akan menyajikan secangkir teh hangat dengan sangat sopan, tepat di detik dia menginjak lehermu hingga patah."
Dada Savira bergemuruh hebat. Keringat dingin merembes pelan dari pelipisnya. Rentetan kalimat Aaron adalah deskripsi paling presisi dari kematian mentalnya di kehidupan pertama.
"Saya tidak akan pernah memberinya kesempatan untuk menyeduh teh itu," balas Savira kaku. Ia memundurkan langkahnya perlahan, menjaga jarak absolut dari dominasi fisik Aaron.
Luka lamanya kembali berdenyut perih di dalam dada. Ia menatap Aaron dengan kewaspadaan penuh. Pria ini baru saja bersumpah menjadi sekutu, tetapi insting protektif Aaron mulai memancarkan jerat baru yang siap membelenggu kebebasannya. Ia menolak dikontrol oleh pria mana pun.
"Beri saya akses ke jaringan media independen milik Jayanegara," tuntut Savira tajam, mengalihkan fokus pembicaraan secara paksa. "Saya akan menyiapkan narasi kehancuran untuk menyambut peluncuran kosmetik Dharma."
"Seluruh akses intelijen itu milikmu mulai malam ini." Aaron menyetujuinya tanpa ragu sedikit pun.
Savira meraih tas kecilnya dari atas kursi. Aliansi berdarah ini sudah terbentuk sempurna. Ia telah mendapatkan senjata mutlak yang ia butuhkan untuk meruntuhkan kerajaan ayahnya.
"Saya harus kembali sekarang, sebelum Wijaya mencium ketidakhadiran saya di rumah," ucap Savira datar.
Aaron melangkah maju secepat kilat, menghalangi pintu keluar ruang kerjanya. Pria itu menatap lekat gaun hitam sederhana yang membalut tubuh ramping Savira.
"Kau tidak bisa bergerak sendirian tanpa pengawasan di medan perang ini," kata Aaron. Suaranya berubah menjadi geraman posesif yang bergetar di udara.
"Saya bukan anak kecil yang butuh pengawal pribadi, Tuan Aaron." Savira menajamkan sorot matanya, menolak tunduk pada kendali sepihak pria itu. "Kebebasan bergerak adalah syarat utama dari aliansi kita."
Aaron terdiam sesaat. Rahang kerasnya mengatup rapat menahan gejolak emosi. Pria itu akhirnya menghela napas panjang, menyingkir perlahan dari depan pintu kayu tersebut.
"Hati-hati di jalan, Savira." Aaron berbisik lembut, sebuah nada afeksi yang sangat ganjil keluar dari mulut seorang predator.
Pria itu mengulurkan tangan kanannya, merapikan kerah gaun Savira yang sedikit terlipat di dekat bahu. Sentuhan itu berlangsung sangat cepat, nyaris seringan embusan angin malam.
Savira mematung kaku. Bau melati dari kulitnya bergesekan tajam dengan wangi pinus maskulin Aaron. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat, terkejut oleh kontak fisik yang menginvasi ruang pribadinya.
Ia segera memutar tubuh, melangkah cepat keluar dari ruang kerja yang menyesakkan tersebut. Pikirannya langsung berpacu menyusun skenario serangan untuk proyek kosmetik keluarganya.
Otak jenius Savira sudah bisa membayangkan lampu kristal mansion Dharma yang pasti sedang menyinari deretan produk kosmetik baru di ruang tamu utama.
Di dalam ruang kerja yang kembali sunyi, Aaron berdiri tegap menatap pintu yang tertutup rapat. Senyum asimetris perlahan terukir di wajah keras pria itu.
Tanpa disadari Savira, barusan jari jemari Aaron sempat menyentuh bros perak di dadanya, dan menyisipkan pelacak GPS mini di sana.