NovelToon NovelToon
Satu Triliun Untuk Semalam

Satu Triliun Untuk Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zahraal

Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.

“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

: tawaran yang mustahil

Langit sore di kota Semarang itu terlihat kelabu, seolah ikut merasakan beban berat yang sedang dipikul oleh Laras. Di dalam ruang tunggu rumah sakit yang berbau obat dan kesunyian, gadis berusia dua puluh dua tahun itu duduk menunduk, tangannya meremas selembar kertas tagihan rumah sakit yang sudah ia baca puluhan kali.

Angka yang tertera di sana terasa seperti tanda akhir dari segalanya. Seratus lima puluh juta rupiah. Jumlah yang mustahil untuk dikumpulkan dalam waktu tujuh hari—batas terakhir yang diberikan dokter sebelum ayahnya tidak bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut dan nyawanya semakin terancam.

Laras mengusap sudut matanya yang mulai basah. Ia sudah menjual semua barang berharga yang dimiliki, meminjam ke sana ke mari sampai tidak ada lagi kerabat atau teman yang berani menolong. Usahanya selama ini hanya mengumpulkan sedikit lebih dari dua puluh juta rupiah. Masih sangat jauh dari yang dibutuhkan.

“Nak Laras?”

Suara lembut memecah kesunyian. Ia mendongak, melihat Pak Budi, petugas administrasi yang sudah mengenalnya sejak ayahnya masuk rumah sakit dua minggu lalu. Wajah pria paruh baya itu terlihat prihatin.

“Ada kabar baik sekaligus kabar yang mungkin terdengar aneh untukmu,” kata Pak Budi pelan sambil melirik sekeliling agar tidak didengar orang lain. “Ada seseorang yang tahu keadaanmu. Ia bersedia melunasi semua biaya pengobatan ayahmu… bahkan memberikanmu uang yang jauh lebih banyak dari itu.”

Jantung Laras berdegup kencang. “Siapa, Pak? Apa syaratnya?”

“Beliau menunggu di ruang tamu utama. Namanya Raka Dirgantara. Kau pasti pernah mendengar namanya pemilik kelompok usaha terbesar di negeri ini. Tapi… aku harus ingatkan. Jangan terburu-buru setuju sebelum mendengar semuanya.”

Nama itu sudah cukup membuat Laras menahan nafas. Raka Dirgantara. Orang yang sering terlihat di berita, pemilik kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, dikenal sebagai pria yang dingin, tegas, dan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa ada keuntungan untuk dirinya. Apa yang mungkin ia inginkan dari gadis biasa sepertinya?

Dengan kaki yang terasa lemas, Laras mengikuti Pak Budi menuju ruang yang lebih tenang dan mewah. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca besar. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan jas hitam rapi yang terlihat sangat mahal. Udara di ruangan itu terasa lebih dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan, tapi juga karena aura yang terpancar dari pria itu.

“Silakan masuk,” suara Raka terdengar dalam dan tenang, meski ia belum berbalik.

Laras melangkah masuk perlahan, jantungnya berdegup semakin kencang. Ketika Raka akhirnya memutar badannya, pandangan matanya langsung bertemu dengan tatapan pria itu. Matanya gelap dan tajam, seolah bisa menembus ke dalam setiap rahasia yang disembunyikan Laras. Wajahnya tampan sempurna, namun tanpa senyum—hanya ada ketegasan dan jarak yang sulit ditembus.

“Duduklah,” perintahnya singkat, lalu ia menempati kursi di hadapannya.

Laras duduk dengan hati-hati, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan untuk menyembunyikan kegugupannya. “Terima kasih sudah sudi menemui saya, Tuan. Saya dengar Anda bersedia membantu… tapi tentu saja ada syaratnya, bukan?”

Raka menatapnya lekat selama beberapa detik, seolah sedang menilai sesuatu pada diri gadis itu. Ia lalu menyandarkan punggungnya dan berbicara dengan nada datar, seolah sedang membahas urusan bisnis biasa.

“Kondisimu sedang terdesak. Ayahmu butuh biaya besar, dan waktu yang tersisa sangat sedikit. Aku bisa menyelesaikan semuanya dalam hitungan jam.”

“Lalu apa yang Tuan inginkan dari saya?” tanya Laras lurus, berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

Sudut bibir Raka terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tidak menyentuh matanya. “Jawaban yang tepat. Aku tidak suka bertele-tele. Aku punya satu syarat sederhana: Kau harus menghabiskan satu malam bersamaku.”

Darah seketika terasa berhenti mengalir di tubuh Laras. Matanya terbelalak, wajahnya memucat. Ia sudah menduga ada syarat berat, tapi tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu.

“Satu malam?” ulangnya dengan suara yang nyaris tercekik.

“Ya. Hanya satu malam,” tegas Raka tanpa ragu. “Mulai dari matahari terbenam sampai matahari terbit keesokan harinya. Selama itu, kau akan menemaniku sesuai apa yang aku butuhkan. Setelah malam itu berakhir… semuanya selesai.”

Laras menelan ludah, pikirannya berputar kacau. Harga diri melawan rasa takut kehilangan ayahnya. “Dan sebagai gantinya… Tuan akan membayar biaya rumah sakit ayah saya?”

Raka menggeleng perlahan. “Lebih dari itu. Biaya pengobatan, biaya perawatan lanjutan, semuanya akan ditanggung. Dan sebagai bayaran untuk satu malam itu… aku akan memberimu uang tunai sebesar Satu Triliun Rupiah.”

Satu triliun.

Angka itu berputar di kepala Laras seolah menjadi gema yang memekakkan telinga. Jumlah yang nilainya cukup untuk mengubah nasib keluarganya selama tujuh turunan, cukup untuk menghapus segala kekhawatiran soal uang selamanya. Namun di balik angka yang luar biasa itu, tersimpan harga yang mungkin tidak bisa ia bayar dengan apa pun selain dirinya sendiri.

“Mengapa saya?” tanya Laras akhirnya, suaranya bergetar namun berusaha tetap tenang. “Dunia ini penuh wanita yang lebih cantik, lebih cerdas, dan tentu saja lebih pantas untuk tawaran sebesar itu dibanding saya.”

Raka menatapnya lebih dalam, ada kilatan samar yang sulit diartikan di balik matanya. “Karena kau terlihat bersih. Tidak ada niat tersembunyi, tidak ada ambisi untuk memanfaatkan kekayaanku. Aku hanya butuh seseorang yang bisa hadir malam itu tanpa membuat masalah, tanpa menuntut apa pun lagi setelahnya. Dan menurut laporan yang aku dapatkan, saat ini kau sedang dalam posisi yang tidak punya banyak pilihan.”

Kalimat itu jujur, namun terasa menusuk. Benar, Laras sadar ia sedang terjebak. Menolak berarti membiarkan ayahnya perlahan pergi, dan hidupnya akan hancur selamanya. Menerima berarti ia harus menyerahkan dirinya ke tangan pria yang tidak ia kenal, dengan risiko yang tidak bisa diprediksi.

“Berikan aku waktu untuk berpikir,” bisik Laras pelan.

“Tentu saja,” jawab Raka tenang. “Tapi ingat, tawaran ini hanya berlaku sampai matahari terbenam besok sore. Jika kau belum menjawab saat itu, tawaran ini akan ditarik kembali selamanya. Tidak akan ada kesempatan kedua.”

Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Laras.

“Jika kau setuju, hubungi nomor itu. Seseorang akan menjemputmu malam itu juga.”

Setelah mengucapkannya, Raka berdiri seolah urusannya sudah selesai. Ia melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Laras yang masih terduduk kaku, ditinggalkan bersama tawaran yang terasa seperti mimpi sekaligus jebakan.

Saat pintu tertutup rapat, Laras menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan menangis dalam diam. Di satu sisi ada harga diri, di sisi lain ada nyawa ayahnya yang tergantung. Dan di tengah-tengah itu, ada angka satu triliun yang terus berputar di pikirannya sebuah tawaran yang terlalu besar untuk ditolak, tapi terlalu berat untuk diterima.

Apakah ia sanggup menjajakan satu malam hidupnya demi segunung uang? Dan yang lebih penting lagi… apa yang sebenarnya tersembunyi di balik tawaran itu?

Laras belum tahu, bahwa keputusan yang akan ia ambil itu bukan hanya akan menyelamatkan hidupnya, tapi juga akan menjeratnya masuk ke dalam dunia Raka Dirgantara—dunia yang penuh kekuasaan, rahasia kelam, dan perasaan yang bisa menghancurkan keduanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!