Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Penyelamatan di Bukit Beringin
Ratih memeluk Aluna dengan tubuh gemetar. Kotak besi tua yang baru saja dibuka masih berada di atas tanah. Surat yang belum sempat dibaca itu hampir terlepas dari tangan Aluna.
Pria berjas hitam melangkah maju sambil tersenyum tipis.
"Akhirnya, benda-benda itu kembali muncul."
"Siapa kamu?" tanya Aluna dengan suara bergetar.
Pria itu tidak langsung menjawab.
"Namaku tidak penting. Yang penting adalah apa yang ada di dalam kotak itu."
Ratih segera mengambil surat dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.
"Kalian tidak akan mendapatkannya."
Pria itu tertawa pelan.
"Kau masih keras kepala seperti dulu."
Ia memberi isyarat kepada anak buahnya.
"Ambil kotak itu!"
Dua pria langsung maju.
Aluna berdiri di depan Ratih.
"Jangan sentuh nenekku!"
Salah seorang pria mendorong Aluna hingga terjatuh. Lututnya membentur batu dan mengeluarkan sedikit darah.
"Aluna!" Ratih berteriak panik.
Saat salah satu pria hendak merebut kotak besi, terdengar suara deru mobil dari bawah bukit.
Beberapa detik kemudian, Arsen dan Rangga berlari menaiki bukit.
"Berhenti!"
Arsen langsung menarik Aluna menjauh dari pria-pria itu.
"Kamu tidak apa-apa?"
Aluna mengangguk meski lututnya terasa perih.
Pria berjas hitam tersenyum sinis.
"Arsen Mahardika lagi."
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti mereka."
Tanpa banyak bicara, anak buah pria itu menyerang.
Rangga berhasil menahan salah satu dari mereka, sementara Arsen melindungi Aluna dan Ratih.
Perkelahian singkat pun terjadi.
Mendengar suara sirene polisi yang semakin mendekat, pria berjas hitam mengepalkan tangannya.
"Sial!"
Ia menatap Ratih dengan tajam.
"Kali ini kau beruntung."
Sebelum pergi, ia menunjuk Aluna.
"Kita pasti akan bertemu lagi."
Mobil mereka melaju meninggalkan bukit sebelum polisi tiba.
Setelah keadaan tenang, Arsen memeriksa luka di lutut Aluna.
"Lukamu harus diobati."
"Aku tidak apa-apa."
"Kamu selalu bilang begitu."
Rangga tersenyum kecil melihat kepedulian atasannya.
Ratih memandang Arsen dengan rasa syukur.
"Terima kasih, Nak."
"Bagaimana Bapak bisa tahu kami di sini?" tanya Aluna.
Arsen menoleh kepada Ratih.
"Nenek mengirim pesan kepadaku sebelum berangkat."
Ratih mengangguk pelan.
"Nenek merasa ada yang mengikuti kita."
Aluna menggenggam tangan Ratih.
"Untung Nenek melakukannya."
Mereka kembali ke rumah membawa kotak besi itu.
Di ruang tamu, Ratih meletakkan kotak di atas meja.
"Aku tidak bisa menunda lagi."
Aluna duduk di samping Ratih, sementara Arsen dan Rangga ikut menyimak.
Ratih membuka surat yang tadi nyaris direbut.
Air matanya menetes sebelum ia mulai berbicara.
"Delapan belas tahun yang lalu, seorang wanita datang ke rumah Nenek pada tengah malam."
"Wanita itu menggendong seorang bayi."
Aluna menahan napas.
"Dia menangis sambil memohon agar Nenek menyelamatkan bayinya."
"Apakah... bayi itu Aluna?" tanya Arsen.
Ratih mengangguk.
"Iya."
"Siapa wanita itu?" suara Aluna bergetar.
Ratih menggenggam tangan cucunya erat.
"Nenek tidak pernah mengetahui namanya."
"Dia hanya berkata bahwa banyak orang ingin membunuh bayi itu."
Suasana menjadi hening.
"Dia juga menitipkan kalung bulan sabit yang kamu pakai sekarang dan meminta Nenek merahasiakan identitasmu sampai waktunya tiba."
Aluna tidak mampu berkata-kata.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Jadi... Aluna memang bukan cucu kandung Nenek?"
Ratih memeluknya erat.
"Tidak."
"Tapi sejak hari pertama menggendongmu, Nenek sudah menganggapmu sebagai cucu sendiri."
Tangis Aluna pecah.
"Aku sayang Nenek."
"Nenek juga sangat menyayangimu."
Arsen memalingkan wajah sejenak. Pemandangan itu membuat hatinya ikut sesak.
Namun, saat Ratih hendak membuka dokumen lain di dalam kotak, wajahnya berubah pucat.
"Dokumennya..."
"Ada apa, Nek?" tanya Aluna.
Ratih membolak-balik isi kotak dengan panik.
"Dokumen identitasmu hilang."
Semua orang terdiam.
Arsen langsung teringat pada kekacauan yang terjadi di bukit.
Pria berjas hitam itu ternyata tidak datang hanya untuk merebut kotak.
Diam-diam, ia berhasil mengambil dokumen terpenting yang dapat mengungkap siapa sebenarnya Aluna.
Rahasia itu kini kembali berada di tangan orang yang salah.