Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Lensa
Malam menjelang, namun ketegangan di rumah Ardhana tidak surut sedikit pun. Justru sebaliknya, ia semakin memuncak seperti benang yang ditarik hingga titik putus. Langit Semarang berubah menjadi kanvas kelabu pekat, disertai gemuruh petir yang sesekali membelah keheningan, seolah-olah alam sedang murka atas drama manusia yang terjadi di bawahnya.
Zidan berdiri di depan jendela kamar kerjanya, menatap hujan deras yang mulai mengguyur kota. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel tua—ponsel cadangan yang hanya digunakan untuk komunikasi dengan Raka dan tim keamanannya. Layarnya menyala redup, menampilkan peta digital dengan beberapa titik merah yang bergerak lambat di sekitar perimeter rumah.
"Mereka masih di sana," gumam Zidan pelan. Titik-titik merah itu adalah mobil-mobil pengintai milik Paman Hendra. Mereka tidak menyerang lagi malam ini, tapi mereka mengawasi. Menunggu celah. Seperti serigala yang mengepung kawanan rusa yang terluka.
Pintu kamar terbuka perlahan. Viona masuk, membawa dua cangkir kopi hitam. Wajahnya tampak lelah, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas, namun matanya tetap waspada. Ia mengenakan jaket hoodie oversized milik Zidan, yang membuatnya terlihat lebih kecil dan rapuh, kontras dengan keteguhan sikapnya siang tadi.
"Aku bawa bahan bakar," ucap Viona tipis, mencoba bercanda untuk meredakan suasana. Ia meletakkan cangkir di meja kerja Zidan yang penuh dengan berkas-berkas dokumen hukum dan catatan strategi.
Zidan berbalik, tersenyum lemah. "Terima kasih, Vion. Kau seharusnya istirahat. Pengawal sudah berjaga di luar."
"Aku tidak bisa tidur," jawab Viona jujur. Ia duduk di tepi sofa kulit di sudut ruangan. "Setiap kali aku menutup mata, aku mendengar suara Paman Hendra. 'Racun itu bekerja paling efektif ketika korbannya tidak sadar.' Apa maksudnya, Kak? Apakah dia sudah meracuni Ayah secara fisik juga?"
Pertanyaan itu membuat darah Zidan membeku. Ia belum memikirkan kemungkinan itu. Selama ini, ia berasumsi "racun" yang dimaksud Hendra adalah metafora—fitnah, manipulasi, dan penghancuran reputasi. Tapi jika Hendra benar-benar gila kekuasaan...
"Aku akan periksa kondisi Ayah besok pagi," kata Zidan, meski keraguan mulai merayap di hatinya. "Sekarang, fokus kita adalah konferensi pers. Kita harus memastikan setiap kata yang keluar dari mulut Ayah telah dihitung dampaknya. Satu kesalahan kecil, dan Hendra akan menggunakannya untuk membalikkan keadaan."
Viona mengangguk. Ia membuka laptopnya, menampilkan draf pidato Pak Wahyu yang telah mereka revisi berulang kali. "Bagian tentang permintaan maaf sudah cukup kuat. Tapi bagian tuduhan terhadap Hendra... apakah kita punya bukti konkret selain rekaman suara itu? Rekaman bisa dibantah sebagai hasil editan."
Zidan menghela napas. "Kita punya transfer bank. Itu bukti fisik. Tapi Hendra pasti akan berkata bahwa itu adalah pinjaman bisnis atau pembayaran konsultasi. Kita butuh sesuatu yang lebih personal. Sesuatu yang menghubungkannya langsung dengan kejahatan fisik, bukan hanya keuangan."
Tiba-tiba, ponsel Zidan bergetar. Pesan dari Raka.
"Zidan, cek email pribadimu. Ada file anonim masuk. Judulnya: 'Hadiah Pernikahan'. Hati-hati, mungkin malware."
Jantung Zidan berdegup kencang. Hadiah Pernikahan? Istilah itu sangat spesifik. Itu adalah julukan yang dulu sering digunakan oleh almarhum Ibu Zidan untuk menyebut surat-surat penting keluarga.
Dengan hati-hati, Zidan membuka laptop kerjanya yang terisolasi dari jaringan internet utama (air-gapped). Ia mengakses email melalui server aman yang disediakan Raka. Benar saja, ada satu email tanpa pengirim, hanya berisi satu file PDF terenkripsi.
"Bisa kau dekripsi ini, Vion?" tanya Zidan, menyerahkan laptop itu pada Viona yang ahli dalam keamanan siber dasar.
Viona mengerutkan kening, jari-jarinya menari cepat di keyboard. "Enkripsinya standar. Tunggu..."
Beberapa detik kemudian, file terbuka. Isinya bukan dokumen teks, melainkan scan foto-foto lama. Foto-foto pernikahan Zidan dan Viona? Tidak. Itu adalah foto-foto dokumentasi proyek pembangunan pabrik di Kendal tahun 2010. Namun, ada satu foto yang membuat napas keduanya terhenti.
Foto itu menunjukkan Paman Hendra berdiri di samping Budi Santoso di lokasi pembakaran. Di tangan Hendra, terlihat jelas sebuah jerigen bensin. Dan di latar belakang, terlihat sosok seorang pria tua yang sedang diikat—Pak Joko, sebelum ia meninggal dunia.
Di bagian bawah foto, ada tulisan tangan yang terbaca samar: "Hendra setuju. Bersihkan semua saksi. - H"
"Ini buktinya," bisik Viona, suaranya bergetar karena campuran antara ketakutan dan kemenangan. "Ini bukan sekadar perintah lisan. Ini keterlibatan langsung. Dia ada di lokasi kejadian. Dia membantu membakar bukti!"
Zidan merasa mual. Pamannya sendiri, saudara kandung ayahnya, ternyata adalah eksekutor dalam tragedi yang telah menghantui keluarga mereka selama belasan tahun. Racun warisan itu bukan hanya soal uang atau tanah. Itu adalah dosa darah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
"Tapi siapa yang mengirim ini?" tanya Zidan, matanya menyipit curiga. "Tidak ada nama pengirim. Tidak ada jejak IP yang jelas."
"Mungkin seseorang di dalam lingkaran Hendra yang merasa bersalah," duga Viona. "Atau... mungkin ini jebakan. Foto palsu yang dibuat sangat meyakinkan."
Zidan menggeleng. "Tidak. Detailnya terlalu akurat. Jerigen itu merek lama yang sudah tidak diproduksi sejak 2015. Hanya orang yang benar-benar ada di sana yang tahu detail itu."
Tiba-tiba, lampu di kamar Zidan berkedip-kedip, lalu padam total. Gelapan menyelimuti ruangan. Hanya cahaya dari layar laptop Viona yang tersisa, menerangi wajah mereka yang pucat.
"Listrik mati?" tanya Viona panik.
"Bukan," jawab Zidan dingin. Ia segera menutup laptopnya. "Ini sabotase. Mereka memutus aliran listrik utama untuk mengalihkan perhatian sistem keamanan elektronik."
Dari kejauhan, terdengar suara kaca pecah lagi. Kali ini bukan dari ruang tamu, tapi dari arah sayap timur rumah—di mana kamar tidur Pak Wahyu berada.
"Ayah!" teriak Viona.
Zidan langsung berdiri, meraih senter darurat dari laci meja. "Tetap di sini! Kunci pintu!"
"Tidak!" Viona sudah berlari menuju pintu. "Aku tidak akan meninggalkanmu!"
Mereka berdua berlari menyusuri koridor gelap. Suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Bukan satu atau dua orang, tapi banyak. Hendra tidak lagi mengirim preman bayaran. Kali ini, ia mengirimkan pasukan pribadi yang lebih terlatih dan lebih berbahaya.
Saat mereka mencapai ujung koridor, mereka melihat siluet beberapa orang bertopeng menyeret Pak Wahyu yang tampak pingsan keluar dari kamarnya. Di depan mereka, berdiri Paman Hendra, memegang sebuah pistol hitam mengilap.
Hendra menoleh saat melihat Zidan dan Viona muncul dari kegelapan. Senyumnya lebar dan mengerikan di tengah cahaya kilat petir yang menyambar dari jendela.
"Selamat datang di pesta sebenarnya, Zidan," ucap Hendra santai, mengarahkan pistolnya tepat ke dada Zidan. "Aku bilang kan, racun itu sudah bekerja. Dan sekarang... saatnya dosis mematikan diberikan."
Viona berteriak, mencoba maju, namun Zidan menahan lengannya kuat-kuat. Matanya terkunci pada pistol di tangan pamannya. Dalam kegelapan itu, Zidan menyadari satu hal: perang kata-kata sudah selesai. Sekarang, hanya nyawa yang bisa berbicara.
Dan di balik punggung Hendra, di kegelapan taman yang hujan, sepasang mata lain sedang mengamati. Mata milik seseorang yang menunggu momen yang tepat untuk menusuk dari belakang. Permainan belum berakhir. Bahkan, babak baru yang lebih berdarah baru saja dimulai.