Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 27.
Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala. Suasana lantai paling atas Rumah Sakit Romanov Medical Center dipenuhi keheningan yang mencekam.
Tempat itu bukan rumah sakit biasa. Seluruh gedung berada di bawah perlindungan keluarga Romanov, lengkap dengan pengamanan berlapis dan puluhan pria bersenjata yang berjaga di setiap sudut koridor. Tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk tanpa izin langsung dari keluarga Romanov.
Di ujung lorong, Velicia masih berdiri memandangi pintu ruang operasi. Gaun hitam yang dikenakannya masih berlumuran bercak darah Lorenzo.
Sejak helikopter mendarat hampir tiga jam yang lalu, wanita itu tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi kedua tangannya masih mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Antonio berdiri beberapa meter di belakang adiknya. Selama bertahun-tahun, ia mengenal Velicia sebagai wanita yang mampu menyembunyikan seluruh emosinya. Namun malam ini berbeda, Velicia memang tidak menangis. Akan tetapi, diamnya jauh lebih mengkhawatirkan daripada air mata.
Leon Romanov menghampiri putrinya perlahan. "Masih belum selesai?"
"Sudah tiga jam empat puluh menit," jawab Velicia lirih tanpa mengalihkan pandangan dari pintu operasi.
Leon mengangguk pelan. "Dokter terbaik kita yang menangani Lorenzo, tenanglah... dia akan selamat."
"Ayah..." Velicia mengembuskan napas panjang.
"Hm?"
"Kalau peluru itu mengenai aku, Lorenzo tidak akan berada di dalam sana."
Leon menatap putrinya beberapa saat. "Lalu, kau menyesal dia menyelamatkanmu?"
Velicia terdiam, wanita itu kehilangan jawaban.
Leon tersenyum tipis. "Velicia, ada orang yang melindungimu bukan karena kewajiban. Tapi karena... dia benar-benar ingin kau tetap hidup. Kau tak bisa menyangkalnya lagi, Lorenzo mencintaimu.“
Velicia memejamkan mata sejenak,
Lampu ruang operasi akhirnya padam, pintu terbuka perlahan. Seorang dokter senior keluar sambil melepas masker.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Leon lebih dulu.
Dokter menghela napas lega. "Operasinya berhasil."
Seluruh keluarga Romanov akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Peluru berhasil kami keluarkan, untungnya hanya meleset beberapa sentimeter dari jantung. Kalau sudut tembaknya sedikit saja berubah..." Dokter tidak melanjutkan kalimatnya.
Semua orang sudah memahami maksudnya.
"Lalu sekarang?"
"Dia kehilangan cukup banyak darah. Kondisinya masih kritis, tetapi sudah melewati masa paling berbahaya."
Velicia menutup matanya sesaat, baru sekarang napasnya terasa sedikit lega. "Bisakah aku menemuinya?"
"Sebentar lagi dia dipindahkan ke ruang perawatan khusus."
Beberapa menit kemudian, lorong kembali dipenuhi suara roda ranjang pasien. Lorenzo masih belum sadar, selang infus terpasang di lengannya. Perban tebal membungkus dada kirinya, wajah pria itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya.
Velicia melangkah mengikuti ranjang tersebut hingga masuk ke ruang perawatan VIP yang dijaga ketat.
Antonio hendak ikut masuk, namun Leon menahan bahunya.
"Biarkan mereka."
Antonio menoleh. "Ayah?"
"Adikmu membutuhkan waktu." Leon tersenyum tipis.
Antonio akhirnya mengangguk.
Di dalam ruangan, terdengar bunyi monitor detak jantung yang berdetak stabil. Velicia duduk di samping ranjang, tatapannya tidak lepas dari wajah Lorenzo.
"Kenapa kau melakukan itu..." Suara wanita itu begitu pelan. "Kau bahkan bisa menghindar."
Tak ada jawaban, Lorenzo masih terlelap di bawah pengaruh obat bius.
Velicia menatap perban di dada pria itu. Tanpa sadar jemarinya terangkat, namun berhenti sebelum menyentuh tangan Lorenzo.
Ia menarik napas panjang. "Aku sudah berjanji, tidak akan membuka hati untuk siapapun lagi. Tapi kau selalu membuatku kesulitan menepati janji itu."
Velicia akhirnya mengakui isi hatinya, bukan kepada siapapun akan tetapi kepada dirinya sendiri.
Sementara itu.
Di luar rumah sakit.
Sebuah sedan hitam berhenti tidak jauh dari gerbang utama, Michael turun perlahan.
Aaron ikut berdiri di sampingnya. "Tuan..."
"Aku hanya ingin memastikan keadaannya."
Aaron tahu Michael sebenarnya bukan datang untuk Lorenzo, melainkan untuk Velicia.
Dari kejauhan, Michael melihat lantai VIP dipenuhi penjaga Romanov. Ia tidak mungkin bisa masuk, namun keberuntungan berpihak kepadanya. Tirai salah satu jendela belum tertutup sempurna.
Dari halaman rumah sakit, Michael masih bisa melihat siluet di dalam ruangan. Velicia, wanita itu sedang duduk di sisi ranjang Lorenzo. Beberapa detik kemudian, Velicia berdiri. Wanita itu mengambil selimut yang sedikit bergeser dari tubuh Lorenzo, lalu membenarkannya dengan gerakan yang sangat lembut.
Setelah itu, ia menuangkan segelas air hangat dan meletakkannya di meja samping. Gerakan-gerakan kecil yang dulu begitu sering dilakukan Velicia untuk Michael. Kini, semuanya diberikan kepada pria lain.
Michael tidak berkedip, dadanya terasa sesak. Dulu... saat ia pulang larut malam, Velicia selalu menunggunya dengan makanan hangat. Saat ia terluka karena perang antar-organisasi, Velicia selalu diam-diam mengganti perbannya. Saat ia demam, Velicia tidak tidur semalaman demi menjaganya. Namun... Ia tidak pernah menghargai semua itu.
Sekarang, Ia melihat perhatian yang sama diberikan kepada Lorenzo. Bedanya, Lorenzo membalas semua perhatian itu dengan mempertaruhkan nyawanya. Sedangkan dirinya, membalasnya dengan penghinaan.
Michael tersenyum pahit. "Ternyata... aku memang sudah terlambat."
"Tuan..." Aaron menatap bosnya dengan iba.
Michael memejamkan mata. "Kalau dulu aku melindunginya seperti Lorenzo melindunginya hari ini, mungkin dia masih menjadi istriku."
Tidak ada yang bisa membantah kalimat itu, karena memang benar Michael baru menyadari nilai Velicia setelah kehilangan wanita itu.
Di dalam kamar perawatan, jari Lorenzo bergerak pelan. Kelopak matanya terbuka perlahan, dan pandangan pertama yang ia lihat adalah Velicia yang masih duduk di sampingnya.
Pria itu tersenyum kecil meski wajahnya masih pucat. "Aku masih hidup..."
"Jangan banyak bicara." Velicia langsung berdiri.
"Kalau tidak bicara, bagaimana aku tahu kau mengkhawatirkanku?"
"Kau hampir mati." Velicia menghela napas pelan.
"Tapi tidak jadi."
"Lorenzo."
"Hm?"
"Apa menurutmu nyawamu tidak berharga?"
Lorenzo menatap wanita itu cukup lama sebelum menjawab dengan suara yang pelan namun mantap. "Berharga, tentu saja."
"Lalu kenapa kau mempertaruhkannya untukku?"
Karena aku tidak sanggup melihatmu mati.
Kalimat itu hampir keluar dari bibirnya, namun Lorenzo menelannya kembali. Sebagai gantinya ia berkata pelan, "Kalau waktu itu aku tidak bergerak... orang yang sekarang berbaring di ranjang ini adalah dirimu."
"Lalu?"
"Aku lebih memilih yang terluka adalah aku."
Keheningan memenuhi ruangan.
Velicia menundukkan kepala, sejak mengakhiri pernikahannya dengan Michael... tembok yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya mulai memperlihatkan retakan kecil. Dan tanpa Lorenzo memaksa dan menuntut, dirinya sedang berjalan perlahan menuju celah itu.
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣