NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia itu akan Terbuka

Nada sambung itu terdengar cukup lama.

Arsen hampir berpikir teleponnya tidak akan diangkat.

Klik.

"Arsen."

Suara berat itu akhirnya terdengar dari seberang.

Arsen memejamkan mata sejenak.

Sudah hampir dua tahun...

Ia tidak pernah lagi mendengar suara pria itu secara langsung.

"...Pa."

Hening.

Tidak ada sapaan hangat.

Tidak ada pertanyaan kabar.

Hanya keheningan yang canggung.

Beberapa detik kemudian, Adrian Malik membuka suara.

"Sudah dua tahun."

Arsen mengembuskan napas pelan.

"Iya."

"Kamu menelepon."

"Berarti ada sesuatu."

Bukan pertanyaan.

Melainkan kesimpulan.

Arsen mengenal Papanya terlalu baik.

Begitu pula sebaliknya.

"Saya ingin bertemu."

Keheningan kembali menyelimuti sambungan telepon.

Lalu Adrian berkata singkat,

"Besok."

"Jam tujuh malam."

"Datang ke rumah utama."

"Tidak di kantor?"

"Tidak."

"Kita bicara di rumah."

Arsen mengangguk pelan.

"Baik, Pa."

Sebelum menutup telepon, Adrian kembali berbicara.

"Arsen."

"Iya?"

"Datang sendiri."

Tatapan Arsen berubah sedikit.

"Baik."

Tut.

Sambungan terputus.

Arsen masih menatap layar ponselnya.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun...

Ia akan kembali menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik.

Dan entah mengapa...

Perasaannya mengatakan...

Pertemuan itu akan mengubah banyak hal.

Keesokan paginya, Malik Media kembali dipenuhi aktivitas.

Ruang CEO tak pernah benar-benar sepi.

Satu demi satu jajaran direksi keluar masuk membawa laporan dan proposal kerja sama.

Namun pagi itu...

Arsen tidak benar-benar mendengarkan.

Tatapannya sesekali jatuh pada jam tangan di pergelangan kirinya.

Pukul sembilan.

Lalu sebelas.

Kemudian satu siang.

Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.

"Pak?"

Suara Senja membuyarkan lamunannya.

Arsen mengangkat kepala.

"Iya?"

"Ini berkas yang Bapak minta sudah saya revisi."

Senja meletakkan map berwarna biru di atas meja.

Namun ia tidak langsung pergi.

Tatapannya justru mengamati wajah Arsen beberapa saat.

"Bapak kurang tidur?"

Arsen menggeleng pelan.

"Tidak."

"Bohong."

Arsen sedikit mengernyit.

"Memangnya kelihatan?"

"Sedikit."

Senja tersenyum kecil.

"Dari tadi Bapak lihat jam terus."

Arsen baru menyadari kebiasaannya itu.

Ia menutup map di hadapannya.

"Saya ada urusan malam ini."

"Oh..."

Senja mengangguk pelan.

"Urusan penting?"

"Cukup penting."

Senja tidak bertanya lebih jauh.

Ia tahu batasannya sebagai seorang asisten.

"Kalau begitu..."

"Saya jadwalkan rapat sore selesai lebih cepat ya, Pak."

Arsen menatap Senja sejenak.

"Terima kasih."

Senja tersenyum.

"Sama-sama."

Ia berbalik hendak keluar.

Namun baru beberapa langkah...

Arsen memanggilnya.

"Senja."

Perempuan itu menoleh.

"Iya, Pak?"

"Malam ini..."

"...kamu langsung pulang ke apartemen."

"Saya mungkin sedikit terlambat."

Senja tampak bingung.

"Perlu saya tunggu?"

"Tidak."

Jawaban Arsen terdengar mantap.

"Saya sudah meminta Genta mengantarmu."

"Baik, Pak."

Senja mengangguk tanpa curiga.

Baginya, itu hanya salah satu kesibukan Arsen sebagai CEO.

Namun setelah pintu ruangan kembali tertutup...

Tatapan Arsen berubah serius.

Ia mengambil ponselnya.

Membuka pesan terakhir dari Adrian Malik.

Rumah utama. Jam 19.00. Jangan terlambat.

Arsen mengembuskan napas panjang.

Sudah dua tahun...

Dan malam ini...

Ia harus kembali menghadapi pria yang paling keras kepala dalam hidupnya.

Entah untuk mencari jawaban...

Atau justru menemukan lebih banyak rahasia daripada yang siap ia hadapi.

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam tepat.

Sebuah Mercedes-Benz G-Class berwarna hitam memasuki kawasan elit di Jakarta Selatan.

Mobil itu berhenti di depan sebuah mansion bergaya klasik modern yang berdiri megah di atas lahan yang luas.

Sudah dua tahun...

Arsen tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tempat itu.

Ia mematikan mesin mobil.

Tatapannya tertuju pada bangunan yang pernah ia sebut rumah.

Namun malam ini...

Tempat itu terasa begitu asing.

Arsen menarik napas panjang sebelum akhirnya turun dari mobil.

Begitu ia melangkah memasuki halaman, seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam segera menghampiri.

"Wah..."

"Tuan Arsen?"

Arsen menoleh.

"Om Budi."

Pria itu tersenyum haru.

"Saya kira Tuan tidak akan kembali lagi."

Arsen membalas senyum tipis.

"Saya juga sempat berpikir begitu."

Om Budi sudah bekerja di keluarga Malik bahkan sebelum Arsen lahir.

Baginya...

Arsen bukan sekadar pewaris Malik Group.

Melainkan anak yang ia lihat tumbuh sejak kecil.

"Papa sudah menunggu sejak tadi."

Arsen mengangguk pelan.

"Di ruang kerja?"

"Iya."

"Beliau bahkan tidak menyentuh makan malam."

Arsen terdiam sesaat.

Papanya...

Masih memiliki kebiasaan yang sama.

Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikirannya...

Ia memilih bekerja daripada makan.

"Silakan masuk, Tuan."

Arsen melangkah memasuki rumah.

Interiornya tidak banyak berubah.

Lukisan-lukisan mahal masih menghiasi dinding.

Lampu kristal besar masih menggantung di tengah foyer.

Bahkan aroma kayu jati yang khas masih memenuhi ruangan.

Namun...

Rumah itu terasa jauh lebih sunyi.

Saat menaiki tangga menuju lantai dua...

Tatapan Arsen tanpa sengaja berhenti pada sebuah foto keluarga yang tergantung di dinding.

Foto itu diambil belasan tahun lalu.

Seorang Arsen remaja berdiri di samping Adrian Malik.

Di sisi lain berdiri seorang wanita cantik yang tersenyum hangat.

Mama.

Arsen memandang foto itu cukup lama.

Sudah hampir lima tahun sejak wanita itu meninggal.

Dan sejak saat itu pula...

Hubungan Arsen dengan Papanya perlahan berubah.

"Tuan..."

Suara Om Budi membuyarkan lamunannya.

"Tuan Adrian menunggu di dalam."

Arsen mengalihkan pandangannya ke pintu ruang kerja yang tertutup rapat.

Ia mengepalkan tangan pelan.

Lalu...

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Suara berat dari dalam ruangan terdengar tegas.

Arsen memutar gagang pintu.

Perlahan...

Pintu ruang kerja itu terbuka.

Di balik meja kayu mahoni yang besar...

Adrian Malik duduk dengan setelan abu-abu gelap, sepasang kacamata baca masih bertengger di hidungnya.

Pria itu mengangkat kepala.

Tatapan ayah dan anak itu akhirnya kembali bertemu...

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun.

Ruangan itu dipenuhi keheningan.

Adrian Malik mempersilakan Arsen duduk tanpa sepatah kata.

Arsen menarik kursi di hadapan meja kerja besar itu.

Tak ada yang memulai pembicaraan.

Hingga akhirnya Adrian menutup map yang sedang dibacanya.

"Jadi..."

"Apa yang membuatmu datang kemari setelah dua tahun?"

Tatapan Arsen tetap lurus.

"Saya ingin bertanya sesuatu."

Adrian mengangguk kecil.

"Tentang?"

"Keluarga Bagaskara."

Nama itu membuat jemari Adrian yang semula hendak mengambil cangkir teh berhenti di udara.

Hanya sesaat.

Namun Arsen menangkapnya.

Papa mengenal nama itu.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Bukan itu yang ingin saya ketahui."

Arsen membalas tenang.

"Saya ingin tahu..."

"...apa hubungan Papa dengan keluarga Bagaskara."

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tatapannya beralih ke jendela besar di belakang meja.

"Sudah berapa banyak yang kamu ketahui?"

"Valery Walker."

"Ratih."

"Dan..."

"Senja."

Untuk pertama kalinya...

Ekspresi Adrian berubah.

Sangat tipis.

Namun cukup bagi Arsen untuk menyadari bahwa nama terakhir itu memiliki arti.

"Jadi..."

Arsen melanjutkan.

"Papa memang tahu siapa Senja."

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia justru bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari kayu tua di sudut ruangan.

Dari dalam laci paling bawah...

Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna hitam.

Kotak itu tampak tua.

Bahkan sudut-sudutnya mulai memudar dimakan usia.

Adrian meletakkannya di atas meja.

"Lima tahun lalu..."

"...sebelum ibumu meninggal."

"Beliau memintaku menyimpan ini."

Tatapan Arsen langsung tertuju pada kotak tersebut.

"Apa isinya?"

"Aku tidak pernah membukanya."

Arsen mengernyit.

"Kenapa?"

"Karena itu bukan untukku."

Adrian mendorong kotak itu perlahan ke arah Arsen.

"Melainkan..."

"...untukmu."

Arsen membeku.

"Untuk saya?"

Adrian mengangguk pelan.

"Ibumu hanya berpesan satu kalimat."

"Apa?"

Adrian menatap putranya dalam-dalam.

"Kalau suatu hari Arsen mulai mencari keluarga Bagaskara..."

Ia berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan.

"...berikan kotak ini kepadanya."

Jantung Arsen seolah berhenti berdetak.

Bagaimana...

Mamanya bisa mengetahui...

Bahwa bertahun-tahun kemudian ia akan mencari keluarga Bagaskara?

Tatapannya perlahan turun ke arah kotak kayu tua itu.

Dan untuk pertama kalinya...

Arsen merasa...

Seluruh hidupnya mungkin telah disiapkan menuju malam ini.

Tatapan Arsen belum lepas dari kotak kayu berwarna hitam itu.

Jarinya bahkan belum bergerak untuk menyentuhnya.

Ruangan kembali diliputi keheningan.

"Kenapa..."

Suara Arsen akhirnya memecah sunyi.

"...Papa tidak pernah memberikannya lebih awal?"

Adrian kembali duduk di kursinya.

Tatapannya ikut jatuh pada kotak itu.

"Karena ibumu melarang."

Arsen mengernyit.

"Beliau bilang..."

"...kalau kotak itu sampai ke tanganmu sebelum waktunya..."

"...hidupmu akan berada dalam bahaya."

Arsen tersenyum tipis.

"Dan sekarang?"

"Menurut Papa..."

"...saya sudah tidak dalam bahaya?"

Adrian menggeleng pelan.

"Justru sebaliknya."

"Bahaya itu..."

"...sudah menemukanmu."

Kalimat itu membuat Arsen terdiam.

Adrian melanjutkan,

"Sejak kamu mulai mencari nama Bagaskara..."

"...tidak ada jalan untuk kembali."

Arsen menatap Papanya lekat.

"Papa tahu siapa yang mengejar Senja?"

Adrian mengembuskan napas panjang.

"Aku tahu..."

"...bahwa mereka belum pernah berhenti mencari."

"Tapi aku tidak tahu siapa yang berada di balik semua itu sekarang."

"Sudah terlalu banyak orang yang berganti."

Arsen mengepalkan tangannya.

"Kalau begitu..."

"...Papa juga tahu Senja adalah putri keluarga Bagaskara."

Adrian tidak menjawab.

Namun diamnya...

Sudah menjadi jawaban.

Beberapa saat kemudian Adrian berkata pelan,

"Arsen."

"Iya."

"Aku tidak pernah ikut campur dengan kehidupan pribadimu."

"Tapi kali ini..."

"...aku akan memberimu satu nasihat."

Arsen mengangkat pandangannya.

"Jauhi Senja."

Ruangan mendadak sunyi.

Tatapan Arsen berubah tajam.

"Apa?"

"Kalau kamu benar-benar menyayanginya..."

"...maka semakin jauh kamu darinya..."

"...semakin besar peluang Senja untuk tetap hidup."

Arsen bangkit dari kursinya.

"Tidak."

Jawabannya tegas.

"Saya sudah berjanji pada Bu Ratih."

"Saya juga sudah berjanji pada diri saya sendiri."

"Apa pun yang terjadi..."

"...saya tidak akan meninggalkan Senja."

Tatapan ayah dan anak itu kembali bertemu.

Adrian memandang putranya cukup lama.

Lalu...

Untuk pertama kalinya malam itu...

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Senyum yang nyaris tak terlihat.

"Kamu..."

"...ternyata benar-benar mirip ibumu."

Arsen terdiam.

Sudah bertahun-tahun...

Ia tidak pernah mendengar Papanya membicarakan Mama.

Adrian mendorong kotak kayu itu sedikit lebih dekat.

"Bawa."

"Jangan dibuka malam ini."

"Tunggu sampai kamu benar-benar siap menerima semua jawabannya."

Arsen mengangguk pelan.

Ia mengambil kotak kayu itu dengan kedua tangannya.

Kotak itu tidak besar.

Namun entah mengapa...

Rasanya jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah ia genggam.

Malam itu...

Arsen meninggalkan rumah utama keluarga Malik dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Sementara Adrian tetap berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Menatap mobil putranya yang perlahan meninggalkan halaman.

Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik,

"Maafkan Papa, Arsen..."

"...semoga kali ini Papa tidak terlambat melindungi kalian."

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!