Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Teh di cangkir dan Makanan di kotak
Vina melangkah masuk ke kamar Ibu Mertua dengan napas yang teratur. Di belakangnya, Ica mengikuti dengan langkah ringan, membawa nampan kayu yang berisi satu teko teh dan dua cangkir porselen halus.
Di dalam ruangan, Vina mendapati Nyonya Laksmana sedang duduk tegak di atas kursi kayu jati. Di mulutnya, wanita tua itu tampak merapalkan doa-doa panjang, sementara tangannya dengan ritme yang konstan memutar tasbih kayu di sela-sela jemari.
"Ibu... aku membawakan teh untuk Ibu," ucap Vina lembut. Ia berhenti sejenak, menuangkan cairan panas ke dalam cangkir dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Nyonya Laksmana tidak langsung menyahut. Ia membuka sebelah matanya, menatap Vina dari atas ke bawah dengan tatapan tajam yang menghakimi, kemudian ia segera memejamkan kedua matanya lagi.
"Tunggu," ucapnya dingin. "Kenapa pakaianmu seperti itu?"
Vina terdiam. Pakaian yang ia kenakan saat ini memang jauh dari standar kemewahan keluarga Laksmana.
Ia hanya memakai qipao rumahan berbahan katun tipis berwarna abu-abu yang warnanya sudah kusam, dipadukan dengan jaket berlapis kapas yang sudah menipis dan terkesan lusuh. Rambutnya, meski sudah ia ikat rapi, tetap terlihat kurang terawat karena keterbatasan alat.
"Maafkan aku, Bu. Saat datang ke sini, aku tidak membawa apa-apa selain pakaian yang kupakai ini," jawab Vina jujur, menundukkan pandangannya.
"Kau berpenampilan seperti itu sama sekali tidak mencerminkan statusmu sebagai menantu keluarga Laksmana," cibir Nyonya Laksmana dengan nada merendahkan. "Kau tampak seperti pesuruh, bukan nyonya muda."
"Maaf, Bu. Setelah ini, aku akan berusaha mengubah penampilanku agar lebih pantas," Vina menunduk, menahan gejolak di dadanya.
Nyonya Laksmana hanya mendengus, "Hmm." Ia kemudian memberi isyarat dengan dagunya ke arah Asih, pelayan tua di belakangnya. "Letakkan bantalan di bawah kakiku. Aku ingin melihat bagaimana tata krama yang kau dapatkan selama hidup di kampung itu."
Vina membeku. Dalam benaknya, ia merasa seperti tokoh dalam drama kerajaan kuno. Ia paham betul, ini adalah ujian kesabaran yang sengaja diciptakan untuknya. Vina melirik ke arah Ica dan Asih yang tampak gelisah di belakang sana. Ia memberikan gelengan pelan pada Ica, mengisyaratkan agar pelayan itu tidak perlu mencampuri urusannya.
Setelah mengambil cangkir yang sudah terisi teh, Vina dengan perlahan menjatuhkan lututnya ke lantai marmer yang dingin. Ia berlutut tepat di depan kaki Nyonya Laksmana.
"Ibu, ini tehnya," ujar Vina seraya menyodorkan cangkir teh itu dengan kedua tangan.
Namun, sebelum jemari Nyonya Laksmana menyentuh cangkir itu, ia justru berteriak, "Pelayan!"
Asih maju dengan cepat, mengambil cangkir dari tangan Vina, lalu dengan sengaja membuang isinya ke lantai hingga basah kuyup. Ia kemudian meletakkan cangkir kosong itu kembali ke tangan Vina yang sedang gemetar, lalu berbalik mengambil teko dari nampan.
"Maafkan aku, Nyonya muda," bisik Asih sangat lirih, suaranya sarat akan rasa bersalah.
Vina hanya membalas dengan senyuman kecil, memberikan pengertian bahwa ia tidak apa-apa. Dengan sangat hati-hati, Asih menuangkan teh yang baru dari teko. Uap panas mengepul dari cangkir tersebut. Vina bisa merasakan panas yang luar biasa menjalar dari permukaan gelas ke jemarinya, namun ia memilih diam, menahan rasa panas yang membakar kulitnya.
"Ibu, ini tehnya," Vina mengangkat cangkir itu kembali dengan posisi tangan yang masih bergetar.
Nyonya Laksmana membuka matanya, menatap cangkir di tangan Vina yang masih mengepulkan asap tebal. Alih-alih menerimanya, ia justru berdiri dengan angkuh. "Pelayan, bantu aku berganti pakaian."
"Baik, Nyonya," sahut Asih dengan sigap.
Vina dihiraukan begitu saja. Ia tetap berlutut dengan posisi cangkir yang masih ia pegang erat.
"Vina," panggil Nyonya Laksmana di tengah langkahnya menuju ruang pakaian.
"Iya, Ibu?" jawab Vina tanpa menoleh, karena ia harus tetap menjaga posisi tunduknya.
"Kau bisa tunggu aku di sini?"
"Tentu, Ibu."
Nyonya Laksmana pergi meninggalkan ruangan. Vina tetap berlutut di sana. Rasa panas dari cangkir itu kini sudah menjalar ke seluruh telapak tangannya, membuat kulitnya memerah hebat. Namun, ia tidak bergeming. Ia tahu, jika ia menjatuhkan cangkir ini atau beranjak sebelum diizinkan, ia hanya akan memberi celah bagi Ibu Mertuanya untuk kembali menghina harga dirinya.
Ica yang berdiri di samping Vina hanya bisa menatapnya dengan tatapan iba, namun tidak berani berkata apa-apa.
Tak lama kemudian, Ica mendekat dan berbisik pelan, meminta izin untuk keluar sebentar guna mengambil sesuatu di dapur. Vina yang masih menahan rasa panas di tangannya hanya memberikan anggukan pelan sebagai tanda izin, membiarkan dirinya kini benar-benar sendirian di kamar yang sunyi itu demi memenuhi ujian sang ibu mertua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di tempat yang berbeda jauh dari ketegangan mansion Laksmana, suasana di markas militer tampak sangat sibuk pagi itu.
Sebuah mobil jip hijau khas tentara berbelok dan berhenti dengan gagah di depan gedung komando utama. Pintu mobil terbuka, dan Radit turun dari sana dengan penampilan yang jauh berbeda dari subuh tadi. Ia kini mengenakan seragam dinas harian militer yang sangat rapi, lengkap dengan atribut pangkat perwiranya yang berkilat di bahu.
Namun, ada satu pemandangan unik pagi itu. Saat turun dari jip, tangan kanan sang perwira tampak membawa sebuah kotak makanan plastik sederhana yang dibungkus kain rajut—bekal yang sudah disiapkan oleh Vina dengan penuh salah tingkah pagi tadi. Radit melangkah tegap masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, lalu meletakkan kotak makanan tersebut di atas meja kayu besarnya dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah dokumen rahasia negara yang sangat berharga.
Baru saja Radit mendudukkan dirinya di kursi kerja, pintu ruangannya mendadak didorong terbuka secara kasar. Sahabat karibnya, Angga, masuk dengan langkah yang terburu-buru dan napas yang sedikit memburu.
"Astaga, Radit! Aku pikir kau tidak akan hadir mengambil apel pagi hari ini!" seru Angga sembari berkacak pinggang di depan meja kerja sahabatnya.
Radit mendongak, menatap Angga dengan ekspresi datarnya yang biasa. "Aku harus tetap hadir hari ini, Angga. Karena aku harus membuat laporan resmi kepada komandan tentang diriku yang masih selamat dari jebakan hutan kemarin, dan..." Radit menggantung kalimatnya sejenak, melirik ke arah jendela.
"Dan apa? Jangan memotong kalimatmu sendiri," cecar Angga penasaran, memajukan tubuhnya ke depan meja.
"Dan... aku juga harus melaporkan tentang pernikahan resmiku kemarin," lanjut Radit dengan nada suara yang tenang namun sarat akan ketegasan seorang pria sejati.
Angga seketika membelalakkan matanya tidak percaya. Ia memukul meja kerja Radit dengan pelan. "Kau... kau benar-benar serius tentang pernikahan kilat itu, Dit?! Kau tidak sedang bercanda, kan?"
Radit menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap sahabatnya dengan tatapan lurus. "Lalu? Menurutmu aku harus bagaimana, Angga? Apa aku harus meninggalkan gadis itu begitu saja setelah kami berdua resmi membuat buku nikah sah di kantor administrasi negara?"
Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak beralasan. "Bukan begitu... Aku hanya berpikir kalau tindakanmu kemarin itu cuma sekadar formalitas untuk menyelamatkan dia dari kekejaman ibu tirinya saja yang mau menjualnya. Aku tidak menyangka kau akan membawanya sejauh ini hingga ke hubungan yang sungguhan."
Radit terdiam sebentar, pandangannya beralih menatap permukaan meja kerjanya. Pikirannya mendadak melayang kembali pada momen malam badai di gubuk tua, dan tatapan mata Vina yang jernih saat mereka berkenalan di dalam jip.
"Setelah melewati malam badai itu bersama dirinya di hutan, aku merasa... seperti aku sudah sangat lama mengenalnya," ungkap Radit lirih, suaranya terdengar sangat tulus hingga membuat Angga tertegun. "Bahkan ada sesuatu yang aneh yang bergejolak di dalam dadaku setiap kali aku melihatnya. Cuma... saat ini aku masih tidak mengerti apa maksud dari perasaan itu."
Mendengar pengakuan emosional dari sahabatnya yang terkenal kaku itu, Angga tersenyum jahil. Matanya mendadak melirik ke arah sudut meja kerja Radit, tertuju pada sebuah kotak makanan yang terbungkus rapi.
"Oh... lihat itu! Itu pasti kotak makanan berisi sarapan dari kakak ipar kita, kan?" goda Angga dengan cengiran lebar di wajahnya.
Radit berdeham keras, mencoba menyembunyikan rona tipis di wajahnya yang mendadak muncul. "Iya, itu memang dari dia. Vina sengaja memasakkan bekal ini untukku sebelum aku berangkat bekerja tadi fajar."
Angga menghela napas panjang, memasang wajah iri yang dibuat-buat. "Wah, senang banget ya nasibmu sekarang, Pak Perwira. Baru sehari menikah, pagi-pagi sudah ada wanita cantik yang melayani dan membuatkan bekal sarapan. Seandainya diriku ini juga punya satu wanita manis seperti itu di rumah, pasti aku akan sangat betah pulang cepat."
"Sudahlah, jangan mulai meracau yang tidak-tidak," potong Radit sembari bangkit berdiri dari kursi kerjanya untuk bersiap menuju ruang komandan.
Sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan, Radit berjalan melewati Angga dan menepuk pundak tegap sahabatnya itu dengan sisa senyum tipis di wajahnya. "Kau pasti akan mendapatkan satu wanita yang baik nanti, Angga. Tapi saran dari aku... rawatlah dulu wajahmu itu agar tidak terlihat terlalu kusam di depan para gadis."
"Sialan kau, Radit!" umpat Angga tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan dari sahabatnya yang kini sudah resmi berubah status menjadi seorang suami tersebut.