NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilamar CEO Asing

Hening begitu terasa di sebuah ruangan, hanya denting jam dinding dan sesekali suara printer yang berbunyi. Namira Calista, atau yang lebih akrab dipanggil Dokter Nami di lingkungan ini tersenyum lembut sambil menuliskan sesuatu pada dokumen hasil pemeriksaan kardiologi.

Ia menoleh, memperhatikan pasiennya yang sedang merapikan tas Gucci berkilau di pangkuan, mungkin seharga gajinya lima bulan.

The Lotus Medical Center bukanlah rumah sakit biasa. Fasilitas kelas satu dengan bangunan megah sembilan lantai di pusat kota Jakarta ini dikenal sebagai rumah sakit langganan para pejabat, konglomerat, dan figur publik.

Lobi depannya saja sudah menyerupai hotel bintang lima, dengan chandelier kristal menggantung di langit-langit tinggi, lantai marmer mengkilap, dan musik piano instrumental yang diputar lembut melalui speaker tersembunyi.

Setiap pasien datang dengan sopir pribadi. Bahkan, tak jarang rombongan mobil mewah berjejer di pelataran masuk, diiringi suara walkie-talkie petugas keamanan berseragam hitam, begitu khas untuk kalangan elite.

Sebagai residen kardiologi tahun pertama, usia Nami tergolong masih sangat muda untuk berada di lingkungan ini. Namun, dedikasinya membuat ia dipercaya memegang beberapa pasien VIP.

Setahun bekerja di sini membuat Nami terbiasa melihat pasien dengan gaya hidup serba glamor, wajah-wajah yang sering muncul di acara talkshow atau halaman depan majalah bisnis.

Ia juga terbiasa mendengar keluhan bukan hanya soal penyakit, tapi juga tentang investasi properti yang stagnan, anak yang kuliah di luar negeri, atau rencana liburan ke Swiss.

Namun, di balik senyumnya yang tenang, tidak ada yang tahu bahwa dokter muda ini hidup dengan beban besar di pundaknya. Di antara pasien-pasien yang datang dengan mobil seharga lima miliar dan asisten pribadi, Nami hanyalah satu titik kecil.

Pekerja keras yang berusaha bertahan hidup di tengah kemewahan yang tidak pernah menjadi miliknya.

Saat ini Nami tengah bekerja. Wanita setengah baya di depannya mengulaskan senyuman. Wajahnya tampak tenang, namun matanya memancarkan rasa ingin tahu yang hangat.

"Dokter Namira, saya ini sudah hampir berusia lima puluh tahun. Tapi setiap kali datang ke sini, rasanya saya seperti muda kembali setiap melihat dokter residen yang cantik dan muda seperti ini," ujarnya sambil tersenyum manis.

Nami tertawa kecil, mengalihkan pandangannya dari layar monitor ekokardiografi. "Itu karena kondisi jantung Anda sangat stabil hari ini, Nyonya Sofia. Hasil rekam medis dan kateterisasi kemarin menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Tapi ingat, tetap disiplin dengan jadwal obatnya dan jangan terlalu lelah."

Nyonya Sofia mencondongkan tubuh sedikit, matanya penuh rasa ingin tahu. "Tapi bukan itu yang saya maksud. Saya ini sudah tua, jadi wajar kalau ingin tahu. Dokter Nami, sudah ada rencana menikah, belum?"

"Belum ada, Nyonya."

"Kenapa? Padahal cantik, cerdas, dan sopan pula. Saya juga punya anak laki-laki. Dia juga bekerja, orangnya serius. Saya rasa, dia bisa cocok dengan dokter."

Nami hanya menunduk sopan sambil tersenyum.

"Kalau putra Nyonya orang yang baik dan pekerja keras, mungkin lebih cocok dijodohkan dengan perempuan yang hidupnya lebih baik dari saya," Nami berusaha bergurau meski itu fakta, membuat Nyonya Sofia tertawa geli.

"Tapi saya serius, lain kali saya perkenalkan dokter dengan anak saya. Mau lihat fotonya?"

"Tidak perlu, Nyonya. Terima kasih banyak."

Menikah masih jauh dari pikirannya saat ini. Sekadar bertahan hidup sendirian di Jakarta saja sudah merupakan perjuangan besar. Ia tidak ada waktu untuk berpacaran, apalagi menikah.

Hampir dua puluh empat jam sehari di hidupnya habis dikuras untuk dinas rumah sakit dan bekerja sampingan untuk mengumpulkan uang.

***

Ruang istirahat dokter sore ini tidak terlalu ramai, namun tetap dipenuhi suara percakapan ringan dan aroma kopi sachet yang asapnya mengepul di udara. Nami membuka kulkas kecil, mengambil sebotol air dingin, lalu meneguknya sambil melonggarkan kancing teratas dari seragam medisnya.

Ponselnya bergetar di dalam saku. Ia membuka layar, dan seketika tubuhnya menegang.

NOTIFIKASI BANK

Total Tunggakan Pinjaman Anda: Rp407.230.000. Mohon segera lakukan pembayaran untuk menghindari proses hukum lebih lanjut.

Kepalanya mendadak pening. Angka empat ratus juta lebih di layar seperti menari dan mengejeknya. Sudah berapa bulan ia menunda pembayaran? Bunganya terus menggulung, seakan waktu tak peduli apakah ia masih mampu bernapas atau tidak.

"Nami?" Suara familiar memanggil. Brian, rekan sesama residen tahun pertama, berdiri di dekat dispenser sambil memegang secangkir kopi.

Nami segera mengunci ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku. Ia memaksakan senyum. "Iya?"

"Melamun?"

"Tidak," jawabnya singkat, berharap tidak ditanya lebih jauh.

Brian melangkah menuju sofa seberang. "Ah iya, Dokter Rasha meminta residen tahun pertama membantunya di operasi sore nanti, kau bisa kan?"

"Tentu."

Nami menarik napas panjang. Mengeluh pun tidak akan mengubah keadaan. Sejak kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan lima tahun lalu, hidupnya tak pernah lagi stabil.

Asuransi tidak cukup menutup biaya kuliah kedokteran yang sangat mahal. Ia terpaksa berutang ke mana-mana demi bisa bertahan hingga titik ini.

Dalam hidupnya, utang menjadi teman yang paling setia. Teman yang tak pernah benar-benar pergi.

***

Pukul sembilan malam. Di dalam sebuah restoran mewah di kawasan SCBD, Nami berganti pakaian di ruang staf. Seragam putih dokternya telah ia simpan, diganti dengan atasan hitam dan rok panjang, serta apron bertanda logo restoran yang melingkar di pinggangnya. Ia memasang name tag kecil bertuliskan "Namira" di sisi kiri dada.

Dengan langkah pelan, ia membawa nampan berisi dua gelas wine ke meja pelanggan. Tapi pikirannya melayang. Tunggakan bank yang mencekik leher, gaji residennya yang habis untuk mencicil bunga, serta kewajiban kembali ke rumah sakit esok hari sebelum pukul tujuh. Semua itu berkumpul menjadi satu di kepalanya.

Tanpa sadar, sebuah suara dari ruang VIP memanggil pelayan. Nami segera mempercepat langkah. Namun, ia tak menyadari lantai yang licin. Ia kehilangan keseimbangan.

Prang!

Satu gelas terjatuh, isinya yang berwarna merah pekat tumpah sepenuhnya ke dada jas seorang pria muda yang duduk di dekat sana. Gelas kedua pecah di lantai, serpihannya menyambar hingga melukai telapak tangan Nami.

"Apa-apaan ini?!" Suara pemuda itu keras, penuh amarah.

Nami segera berlutut dan mulai memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar. "Aku minta maaf. Aku tidak sengaja, aku akan segera membersihkannya."

"Kau tahu berapa harga jas ini?!"

"Aku sungguh minta maaf, Tuan." Nami menunduk dalam. Tentu saja ia tahu, mungkin bekerja selama satu tahun di restoran ini belum cukup untuk membayar satu setelan jas mahal itu.

Di tengah kekacauan itu, pemilik restoran segera datang, membungkuk dalam-dalam. "Mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan. Ini adalah kesalahan pelayan kami. Kami akan bertanggung jawab sepenuhnya. Dan tentu saja, pelayan ini akan kami berhentikan.”

Wajah Nami memucat. Ia menatap bosnya dengan panik. "Pak, aku mohon jangan pecat aku. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini."

Sebelum pemilik restoran sempat membentaknya, sesosok pria berjalan mendekat dari sisi ruangan. Berbeda dengan tamu lain yang necis, pria ini berpenampilan sangat sederhana dengan kaus hitam polos dan celana selutut. Namun, auranya begitu kuat dan tatapannya tajam sedingin es.

"Kalian mengganggu ketenanganku."

Semua mata tertuju padanya. Pemilik restoran langsung tergagap. "Maaf jika insiden kecil ini membuat Anda terganggu, Tuan. Kami akan segera memecat pelayan ceroboh ini."

"Memecat satu pelayan tidak akan mengubah keadaan, Anda yakin itu solusi yang tepat?" Pria itu melangkah maju.

"Menurutku, tidak pantas mempermalukan pelayan sendiri di depan umum."

Ia kemudian mendekati Nami, berlutut tanpa peduli lantai yang kotor, dan membantu mengumpulkan pecahan kaca. Tanpa sengaja, jemari kokohnya menyentuh luka di telapak tangan Nami.

"Kau terluka," ujarnya lirih, matanya menatap darah yang merembes.

Nami menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, biar aku yang membersihkan ini."

Pria itu mengamati wajah lelah Nami sejenak dengan intens. "Kau dokter, bukan?"

Nami menahan napas, sedikit terkejut. "Kau… mengenalku?"

Pria itu mengangguk pelan, wajahnya kembali datar. "Ibuku adalah pasienmu. Nyonya Sofia."

Nami tertegun. Laki-laki serius yang diceritakan Nyonya Sofia tadi siang?

"Bolehkah kita bicara sebentar di luar?"

***

Mereka kini berdiri di balkon lantai dua restoran, menghadap gemerlap SCBD.

"Aku tidak bermaksud merepotkan," ucap Nami pelan, memegang tangannya yang terbalut tisu. "Tapi aku harus kembali ke dalam, jika tidak, pekerjaanku bisa hilang."

Pria itu menatapnya lekat, bersandar pada pembatas balkon. "Kau melakukan ini hanya karena uang? Pekerjaan utamamu sebagai residen kardiologi harusnya sudah cukup menguras energimu."

Nami tersenyum kecut. "Aku pun tidak menginginkan ini. Tapi, hidup di Jakarta itu mahal, Tuan. Dan aku terlalu miskin untuk sekadar berhenti bekerja."

Sunyi sejenak. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Nami yang letih. "Apa kau sangat membutuhkan uang?"

Nami terkekeh hambar. "Ya, aku tergila-gila padanya."

"Apa kau percaya pada jalan keluar yang tak terduga?"

Nami mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Apa kau percaya kadang hidup memberimu pintu darurat, saat semua terasa buntu?"

Nami menghela napas, berusaha tersenyum walau pahit. "Kalau ada pintu itu, aku pasti sudah menendangnya agar terbuka sejak dulu."

Lalu, hening kembali menyelimuti mereka.

"Kau butuh berapa? Aku bisa memberikannya."

"Kau tampak meyakinkan."

Suara pria itu terdengar lirih setelahnya, namun kalimat yang meluncur dari bibirnya laksana hantaman badai.

"Aku bisa memberimu satu miliar rupiah."

Nami menoleh cepat, menatap pria asing itu dengan dahi berkerut. "Kau… apa?"

"Menikahlah denganku."

Nami membeku seketika. Angin malam SCBD mendadak terasa berhenti berembus. Mata Nami membelalak, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada suara yang keluar.

Pria itu tetap menatapnya tenang, tanpa keraguan sedikit pun. "Aku tahu ini terdengar gila. Tapi ini bukan candaan, Dokter Namira."

"Kenapa aku?" bisik Nami, suaranya gemetar. "Kita bahkan tidak saling mengenal."

"Tapi ibuku mengenalmu, menyukaimu, dan menginginkanmu. Itu lebih dari cukup untukku."

Nami melangkah mundur setapak, tangannya meremas ujung apron restorannya. "Kau tidak waras."

Pria itu tidak membalas makian itu. Ia hanya membiarkan Nami memandangi gemerlap lampu Jakarta di bawah mereka.

Pikiran Nami mendadak riuh, mengingat angka tunggakan bank dan nominal satu miliar yang barusan diucapkan pria itu.

Apakah ini… satu-satunya pintu darurat yang tersisa untuknya?

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!