NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Arjun masih terpaku di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung Rani yang perlahan menjauh sambil mendorong kursi roda Haikal. Sesekali wanita itu membungkukkan badan untuk membenarkan selimut yang menutupi kedua kaki Haikal agar tidak tersangkut roda. Setiap gerakannya terlihat begitu terlatih, seolah semua itu telah menjadi kebiasaan yang dilakukan berulang kali tanpa perlu dipikirkan lagi.

Entah sejak kapan, rumah yang selama ini terasa begitu akrab mendadak berubah asing di mata Arjun. Bukan karena kehadiran Haikal, melainkan karena sosok Rani yang berjalan di hadapannya.

"Papa..."

Suara Aksan memecahkan lamunan semua orang.

"Apa Haikal benar-benar akan tinggal di sini?"

"Iya." Roy menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangan dari lorong yang baru saja dilalui Rani.

"Kalau begitu... Bagaimana dengan nama baik keluarga ini?" tanya Arlan hati-hati.

"Kalian masih bertanya?" bentak Roy.

"Maaf, Pa, kami salah," jawab Aksan.

Roy menggeleng lelah lalu berkata, "Setelah ini kalian harus patuh dengan Mama kalian."

Ketiga anak Roy yang tadi sudah diberitahu tentang situasi dimana sekarang ia harus menerima didikan dari Rani mereka langsung mengangguk. Namun, di menit berikutnya Arjun bertanya, "Lalu bagaimana dengan Tante Sintia?"

Kali ini Roy tidak segera menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia ungkapkan di hadapan anak-anaknya. Beberapa saat kemudian, barulah ia membuka suara.

"Itu urusan lain."

Kalimat pendek itu terdengar biasa saja, tetapi cukup membuat wajah Sintia yang berdiri tak jauh dari ruang tamu berubah kaku. Jemarinya perlahan mengepal di balik gaun yang dikenakannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Selama bertahun-tahun, setiap kali namanya dikaitkan dengan rumah ini, Roy selalu memberikan jawaban yang membuatnya merasa tenang. Setidaknya, pria itu tidak pernah membiarkannya merasa sendirian.

Namun kali ini berbeda. Roy tidak membelanya. Ia juga tidak memberinya kepastian.

Sintia mengangkat pandangan ke arah lorong yang mengarah ke kamar utama. Sorot matanya yang semula tampak rapuh perlahan berubah dingin. Dadanya dipenuhi kegelisahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Baru beberapa menit Rani menginjakkan kaki di rumah itu, tetapi perlahan semua yang selama ini berada dalam genggamannya mulai bergeser.

Tidak. Ia tidak akan membiarkan semua yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun direbut begitu saja.

***

Rani membantu Haikal berpindah dari kursi roda ke atas ranjang dengan hati-hati. Setelah membenarkan bantal di belakang punggungnya, ia menarik selimut hingga menutupi kedua kaki bocah itu. Jemarinya kemudian menyibak anak rambut yang menempel di dahi Haikal sebelum menyentuhnya pelan untuk memastikan suhu tubuhnya.

"Mama periksa suhu Haikal dulu, ya."

Haikal mengangguk pelan. Bola matanya menatap Rani tanpa berkedip sebelum bibirnya bergerak perlahan.

"C... ce... hat?"

Kekhawatiran yang terselip dalam suara bocah itu membuat dada Rani menghangat sekaligus sesak. Selama ini, Haikal rupanya terbiasa mengkhawatirkan dirinya sendiri, seolah sakit adalah sesuatu yang harus ia hadapi sendirian.

Rani tersenyum lembut sambil kembali mengusap rambutnya.

"Anak Mama sehat. Suhunya juga normal, jadi Haikal tidak perlu khawatir."

Namun, senyum itu belum juga muncul di wajah Haikal. Bocah itu justru menatap Rani dengan ragu, seakan belum sepenuhnya percaya pada ucapan yang didengarnya.

Melihat reaksi itu, Rani terkekeh pelan.

"Haikal lupa, ya? Mama ini dokter."

Mata Haikal langsung membulat. Bibirnya yang semula mengerucut perlahan terbuka.

"Do... dok... ter?"

"Iya." Rani menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Jadi tugas Mama memastikan Haikal tetap sehat. Kalau Haikal sakit, Mama yang akan mengobati. Kalau Haikal sedih, Mama juga yang akan menemani."

Tak lama sudut bibir Haikal terangkat membentuk senyum kecil. Meski begitu tipis hingga nyaris tak terlihat, senyum sederhana itu sudah cukup membuat rasa lelah Rani seolah menguap begitu saja.

Sayangnya, kehangatan yang baru saja memenuhi kamar itu tidak bertahan lama.

Suara pintu yang menutup pelan membuat Rani menoleh. Sintia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya masih tampak pucat, tetapi sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan kelemahan. Tatapan itu justru dipenuhi rasa tidak suka ketika melihat Haikal terbaring nyaman di atas ranjang, di kamar yang selama ini selalu ia anggap sebagai wilayah yang suatu hari akan menjadi miliknya.

"Kak Rani benar-benar hebat." Bibir Sintia melengkung tipis. "Baru bertahan hidup sudah berhasil merebut kamar ini lagi. Aku sampai hampir percaya kalau Kakak cuma bersandiwara, tapi sekarang Kakak benar-benar mengibarkan bendera perang."

Rani tidak menoleh. Ia hanya memastikan posisi selimut Haikal tidak bergeser. Sikapnya yang seolah menganggap Sintia tidak ada justru membuat senyum wanita itu perlahan memudar.

"Aku bicara sama Kakak."

"Aku mendengar."

"Lalu kenapa diam?"

Rani akhirnya mengangkat kepala. "Karena tidak semua ucapan perlu ditanggapi."

Jawaban datar itu membuat rahang Sintia mengeras. Selama ini, setiap kali ia memancing emosi Rani, wanita itu selalu terpancing. Namun sekarang, Rani justru bersikap seolah dirinya hanyalah angin yang lewat.

Sintia melangkah semakin dekat. "Aku kira percobaan bunuh diri kemarin sudah cukup membuat Kakak sadar kalau tidak semua hal bisa direbut kembali."

Kalimat itu membuat tangan Rani berhenti sesaat di atas selimut Haikal. Hanya sesaat. Setelah memastikan Haikal benar-benar nyaman, ia berdiri dan berbalik menghadap Sintia dengan ekspresi yang tetap tenang.

"Maksudmu?"

Sintia tersenyum puas karena akhirnya berhasil menghentikan gerakan tangan Rani.

"Kasihan Kakak sudah menjadi istri berbakti. Tapi tidak pernah mendapatkan hati suami."

Sorot mata Rani nyaris tak berubah. Ia hanya memandang Sintia sekilas sebelum kembali membenarkan posisi selimut Haikal yang sedikit bergeser.

"Kadang aku berpikir..." lanjut Sintia sambil mengembuskan napas pelan, "...kenapa Kakak tidak pergi saja? Malah menyetujui perjanjian bodoh itu dan justru membawa anak ini masuk ke rumah yang tak menerimanya?"

Tatapannya bergeser ke arah Haikal yang mulai terlelap di atas ranjang. "Haikal saja dulu hampir tidak tertolong."

Rani tetap diam. Ia membiarkan Sintia terus berbicara tanpa sekalipun memotong kalimatnya. Bagi Rani, orang yang datang dengan kemarahan biasanya akan kehilangan kendali lebih dulu. Dan saat itulah, mereka tanpa sadar mulai mengatakan lebih banyak daripada yang seharusnya.

"Waktu Haikal demam tinggi, Mas Roy sedang bersamaku di rumah sakit. Sedangkan Kakak..." Sudut bibir Sintia kembali terangkat. "Entahlah. Yang jelas, tidak ada satu pun orang tuanya yang berada di sisinya."

Rani menatap Sintia beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Setelah memastikan Haikal benar-benar tertidur, ia menarik selimut hingga menutupi bahu bocah itu, lalu berdiri menghadap wanita di hadapannya.

"Sudah selesai?"

Pertanyaan datar itu membuat senyum Sintia sedikit memudar.

"Maksud Kakak?"

"Kalau hanya itu yang ingin kamu katakan, Haikal butuh istirahat."

Sintia terkekeh pelan. "Kakak tidak marah?"

"Apa aku harus marah?"

"Tentu saja. Aku baru saja mengingatkan Kakak tentang hal-hal yang selama ini paling ingin Kakak lupakan."

Rani tersenyum tipis, tetapi tatapannya tetap tenang.

"Yang membuatku heran bukan ucapanmu."

"Lalu?"

"Caramu."

Kening Sintia berkerut.

"Sejak masuk ke kamar ini, kamu terus membicarakan masa lalu. Tentang Haikal, tentang Mas Roy, bahkan tentang kejadian yang tidak pernah kutanyakan."

Rani melangkah satu langkah mendekat. Jarak di antara mereka kini tinggal beberapa langkah saja. "Orang biasanya hanya menjelaskan banyak hal kalau memang ingin menjelaskan."

Sintia tetap tersenyum, meski sudut bibirnya mulai terlihat kaku.

"Atau..."

Rani menghentikan kalimatnya sejenak. "...kalau dia takut ada sesuatu yang akan diketahui orang lain."

Melihat Sintia terdiam, Rani menyunggingkan senyumnya, "Pergilah aku mau istirahat besok ada hal yang harus aku lakukan."

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!