SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 PENJELASAN YANG TIDAK MUDAH
Arkan memejamkan mata.
Bahkan di momen seperti ini, sistem tetap tidak bisa diam.
Di depan pintu rumah kecil itu, ibunya masih memeluk Naya dengan tubuh yang sedikit bergetar. Perempuan itu tidak menangis keras. Ia hanya menangis seperti orang yang terlalu lama menahan takut, lalu tiba-tiba diberi kabar bahwa satu beban besar di dadanya akhirnya boleh turun.
Arkan berdiri beberapa langkah dari mereka, menggenggam helm tuanya dengan jari yang masih belum sepenuhnya tenang.
Rumah itu terasa lebih sempit dari biasanya.
Dindingnya yang sederhana, lantai keramik yang beberapa bagiannya sudah kusam, kipas angin tua yang berputar pelan dari dalam ruang tamu, meja kayu kecil yang selalu dipakai ibu untuk melipat pakaian—semuanya tampak sama. Namun setelah mengetahui saldo dan otoritas aset yang kini berada dalam genggamannya, Arkan merasa seolah rumah itu menjadi saksi bahwa hidup mereka selama ini terlalu lama dipaksa bertahan di tempat yang tidak layak.
Ibunya melepaskan pelukan perlahan, lalu menyentuh wajah Naya dengan kedua tangan.
“Benar sudah keluar?” tanyanya lagi, seolah takut kabar itu menghilang kalau tidak dipastikan berkali-kali.
Naya mengangguk cepat, matanya masih basah. Ia membuka map dan memperlihatkan beberapa lembar berkas yang tadi hampir tidak bisa mereka ambil. “Ini, Bu. Semua sudah ada. Ijazah, nilai, surat keterangan… semuanya sudah lengkap.”
Ibu menarik napas panjang, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Matanya kembali berkaca-kaca. “Alhamdulillah…”
Kata itu keluar pelan, tapi bagi Arkan, rasanya lebih berat daripada suara apa pun hari itu.
Ia menunduk sebentar.
Selama ini, ia selalu merasa harus kuat. Harus tenang. Harus menjadi orang yang tetap berdiri saat uang habis, saat ibu sakit, saat Naya diam-diam menangis, saat orang lain meremehkan mereka. Namun melihat ibunya lega hanya karena berkas sekolah akhirnya keluar membuat Arkan sadar betapa kecilnya batas bahagia keluarga mereka selama ini.
Terlalu kecil.
Terlalu sederhana.
Terlalu menyedihkan untuk seseorang yang sekarang punya akses ke angka yang bahkan belum berani ia ucapkan keras-keras.
[Sistem mendeteksi penyesalan emosional.]
[Catatan: wajar.]
[Selama ini keluarga Tuan Rumah hidup dengan standar bertahan, bukan standar hidup.]
Arkan tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, komentar sistem tidak terdengar sepenuhnya menyebalkan. Ada bagian di dalam dirinya yang mengakui kebenaran kalimat itu.
Mereka memang hanya bertahan.
Bukan hidup.
Ibunya akhirnya menoleh kepada Arkan. Senyum lelah muncul di wajahnya, tetapi senyum itu perlahan memudar ketika melihat ekspresi anak laki-lakinya yang terlalu kaku.
“Kan,” panggilnya lembut. “Kamu bayar dari mana?”
Pertanyaan itu datang juga.
Naya yang tadi masih memegang map langsung terdiam. Ia menoleh ke Arkan, menunggu jawaban yang sama. Di teras sempit itu, udara terasa lebih berat. Dari luar gang, suara anak-anak bermain bola terdengar, bercampur dengan suara panci dari rumah tetangga dan motor yang lewat pelan. Semua suara itu seperti dunia biasa yang tidak tahu bahwa Arkan sedang berdiri di depan pertanyaan paling sulit dalam hidupnya.
Ia bisa saja berkata bahwa uang itu hasil pinjaman teman.
Tapi ibunya akan bertanya siapa.
Ia bisa berkata ada pekerjaan yang baru dibayar.
Tapi jumlahnya terlalu besar untuk kerja serabutan.
Ia bisa berkata bahwa ada sistem aneh di kepalanya yang baru saja memberinya tiga triliun rupiah dan akses aset dua puluh lima triliun.
Tapi itu mungkin akan membuat ibunya lebih takut daripada lega.
Di dalam kepalanya, sistem berbicara datar.
[Rekomendasi jawaban: pendapatan legal dari proyek finansial.]
Arkan menahan napas.
“Itu terlalu samar.”
[Benar.]
[Namun lebih aman daripada mengatakan Tuan Rumah mendapat uang dari entitas finansial tak terlihat yang menghina motor tua.]
Arkan hampir kehilangan ekspresi tenangnya.
Ibunya melangkah mendekat. Tangannya yang kurus menyentuh lengan Arkan. Sentuhan itu hangat, dan justru karena itulah Arkan merasa semakin sulit berbohong.
“Arkan,” suara ibu melembut, tapi ada takut yang jelas di dalamnya. “Ibu nggak marah. Ibu cuma mau tahu. Kamu nggak pinjam uang ke orang yang bahaya, kan?”
Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan Naya di jalan.
Dan itu membuat Arkan merasa dadanya sesak.
Keluarganya tidak bertanya apakah mereka akan kaya.
Mereka tidak bertanya apakah uang itu banyak.
Mereka hanya takut Arkan melakukan sesuatu yang buruk demi mereka.
Ia menggeleng pelan.
“Nggak, Bu. Arkan nggak pinjam ke rentenir. Nggak mencuri. Nggak melakukan hal buruk.”
Ibu menatapnya lama.
Matanya mencari kebohongan.
Arkan membiarkan ibunya melihat wajahnya. Meski ada banyak hal yang belum bisa ia jelaskan, kalimat itu bukan bohong. Ia memang tidak mencuri. Ia tidak meminjam. Ia tidak menjual diri pada hal berbahaya.
Setidaknya, ia berharap sistem ini bukan sesuatu yang berbahaya.
[Sistem tersinggung ringan.]
[Sistem bukan hal berbahaya.]
[Sistem adalah solusi.]
Arkan mengabaikannya.
Naya memeluk mapnya lagi. “Terus uangnya dari mana, Bang?”
Arkan menatap adiknya, lalu ibunya. Ia menarik napas panjang.
“Ada… proyek.”
Ibu mengerutkan kening. “Proyek?”
“Dulu Arkan pernah bantu beberapa orang soal data usaha dan laporan kecil-kecilan. Ada yang baru cair bayarannya. Legal. Masuk rekening. Tapi jumlahnya lumayan besar, jadi Arkan juga masih kaget.”
Kalimat itu keluar perlahan.
Bukan sepenuhnya benar.
Tapi juga tidak sepenuhnya salah.
Ia memang mahasiswa Manajemen Bisnis. Ia memang pernah mengambil kerja serabutan terkait data toko, catatan penjualan, dan laporan sederhana untuk beberapa orang. Hanya saja uang yang masuk hari ini jelas bukan dari sana.
[Sistem mendeteksi kebohongan setengah matang.]
[Catatan: kualitas alasan cukup rendah, tetapi masih dapat diterima oleh keluarga yang sedang emosional.]
Arkan ingin memarahi sistem, tetapi ibunya masih menatapnya.
“Berapa besar?” tanya ibu pelan.
Arkan diam sesaat.
Ini bagian paling berbahaya.
Kalau ia menyebut jumlah asli, ibu mungkin akan duduk lemas. Naya mungkin akan berteriak. Tetangga mungkin mendengar. Dan setelah itu, tidak ada yang bisa kembali normal.
“Cukup untuk menyelesaikan beberapa masalah kita dulu,” jawab Arkan akhirnya.
Ibu tidak terlihat puas.
Naya juga tidak.
Namun mereka tidak langsung memaksa.
Mungkin karena mata Arkan sendiri masih menunjukkan kebingungan. Mungkin karena mereka bisa melihat bahwa ia juga belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Atau mungkin karena untuk hari ini, berkas Naya yang keluar sudah cukup membuat mereka menunda banyak pertanyaan.
Ibu menghela napas pelan, lalu menyentuh pipi Arkan sebentar.
“Kamu jangan memikul semua sendirian terus,” katanya lirih. “Ibu tahu kamu selalu berusaha. Tapi kalau ada apa-apa, bilang ke Ibu. Jangan sampai demi kami, kamu masuk masalah.”
Arkan merasakan tenggorokannya mengeras.
Dari semua hal yang bisa dibeli uang, ternyata tidak ada yang bisa membuatnya kebal dari rasa bersalah saat ibunya bicara selembut itu.
“Iya, Bu.”
Naya menatapnya dari samping. “Abang janji?”
Arkan menoleh. Mata adiknya masih menyimpan sisa takut.
Ia mengangguk. “Janji.”
[Sistem mencatat janji keluarga.]
[Prioritas: menjaga keamanan sumber dana dan identitas Tuan Rumah.]
[Catatan tambahan: Tuan Rumah sebaiknya segera menyiapkan penjelasan yang lebih rapi sebelum kemampuan berbohongnya mempermalukan sistem.]
Arkan menahan napas.
Sistem ini benar-benar tidak bisa membiarkan satu momen pun berjalan tanpa komentar.
Ibu akhirnya mempersilakan mereka masuk. Ruang tamu kecil itu terasa hangat, bukan karena udara, tetapi karena terlalu banyak hal yang tertahan di dalamnya. Di sudut ruangan, kipas angin tua berputar dengan suara berdecit pelan. Meja kecil di tengah ruangan masih menyimpan piring berisi sisa gorengan pagi tadi. Di dekat dinding, beberapa buku Naya tersusun rapi, sebagian dilapisi plastik agar tidak cepat rusak.
Arkan duduk di kursi kayu yang sudah lama menjadi tempatnya melepas lelah.
Kursi itu berderit.
[Sistem mendeteksi furnitur.]
[Status: tua.]
[Potensi roboh jika digunakan oleh triliuner muda yang sedang stres: sedang.]
Arkan melirik kosong ke arah lantai.
“Jangan bahas kursi.”
[Baik.]
[Sistem akan menahan komentar tentang kipas angin selama tiga puluh detik.]
Arkan menekan pelipisnya.