Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman CCTV dan Mobil Hitam Misterius
Lantai bawah tanah sektor C Hotel Grand Luminary bukanlah tempat yang ramah bagi mata awan. Wilayah ini merupakan urat nadi logistik operasional hotel. Tempat di mana truk-truk pengangkut bahan makanan membongkar muatan, tempat linen-linen kotor diturunkan melalui pipa pembuangan vertikal, dan tempat para staf kebersihan berlalu-lalang dengan seragam kerja mereka yang bersahaja. Berbeda dengan lobi utama yang berkilauan oleh lampu kristal dan wewangian aromaterapi mahal, di sini udara terasa lembap, pekat oleh aroma asap knalpot, detergen industri, dan deru mesin generator yang konstan meredam suara.
Di dalam ruang kontrol keamanan yang terletak di sudut lorong tersebut, atmosfernya tidak kalah mencekam. Ruangan sempit itu dipenuhi oleh puluhan layar monitor tabung yang menampilkan sudut-sudut mati hotel dari berbagai penjuru. Sinar biru dari layar-layar digital memantul di wajah Reynald Pratama yang tampak tegang, memberikan kesan dingin pada rahangnya yang mengatup rapat. Di sampingnya, Gideon sang kepala tim investigasi internal Pratama Logistics, berdiri tegak seperti bayangan hitam yang siap menerkam.
"Putar ulang dari menit kedelapan puluh lima sebelum jadwal akad," perintah Reynald, suaranya terdengar datar namun sarat akan otoritas yang berbahaya.
Seorang operator keamanan hotel dengan tangan gemetar menekan beberapa tombol pada papan kendali. Layar monitor utama di tengah ruangan berkedip sesaat, menampilkan rekaman hitam-putih beresolusi tinggi dengan penunjuk waktu digital di sudut kanan atas: 08.45.22 WIB.
"Perhatikan kamera koridor belakang lantai lima belas, Tuan Muda," ujar Gideon sambil menunjuk layar sebelah kiri dengan pulpen taktisnya.
Pada layar tersebut, sebuah pintu darurat berwarna merah yang terletak di ujung lorong kamar suite Alea terbuka perlahan. Siluet seorang wanita melangkah keluar dengan gerakan yang sangat berhati-hati. Penampilan wanita itu telah berubah total dari keanggunan gaun pengantin yang ditinggalkannya di atas ranjang. Ia mengenakan celana jins denim gelap, jaket penahan angin berwarna hitam yang menyamarkan bentuk tubuhnya, dan sebuah topi rajut kelabu yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian besar wajahnya.
Namun, Reynald tidak perlu melihat wajah itu untuk mengenali siapa dia. Cara wanita itu berjalan, langkah-langkah kecil namun tegas, sedikit terburu-buru, dan tangan kirinya yang sesekali mencengkeram pergelangan tangan kanannya tempat sebuah gelang perak melingkar adalah detail yang telah dihafal Reynald selama enam bulan pertunangan mereka yang dingin.
"Dia tidak menoleh ke belakang sama sekali," desis Reynald, matanya menyipit, menatap layar dengan intensitas yang seolah mampu memecahkan kaca monitor.
"Dia pergi seolah-olah tempat ini adalah penjara yang sedang terbakar." Reynal kembali berkata pelan penuh penekanan.
"Nona Alea menggunakan lift servis nomor empat yang biasa digunakan untuk distribusi makanan," Gideon menjelaskan, mengalihkan perhatian ke monitor berikutnya.
"Lift itu langsung mengarah ke basement sektor C tanpa perlu melewati lobi transit atau pos pemeriksaan sekuriti utama." Gideon kembali menjelaskan
Layar monitor utama berganti menampilkan area parkir bawah tanah sektor C pada pukul 08.52.10 WIB. Suasana di sana sangat sepi karena seluruh perhatian personel keamanan hotel sedang dipusatkan untuk mengawal kedatangan para pejabat dan tamu VIP di lobi utama. Hanya ada satu kendaraan yang terparkir di bawah lampu neon yang berkedip redup di sudut pilar beton nomor 42.
Sebuah mobil SUV berukuran besar, berwarna hitam pekat tanpa plat nomor di bagian depan hanya ada plat nomor registrasi sementara yang sengaja dikaburkan oleh lapisan mika gelap. Kaca mobil tersebut menggunakan tingkat kegelapan seratus persen, membuat bagian dalamnya mustahil untuk ditembus oleh pandangan mata maupun kamera pengawas standar.
"Mobil itu sudah siaga di sana sejak pukul delapan pagi," kata Gideon.
"Mesinnya dibiarkan menyala, namun lampunya dimatikan agar tidak menarik perhatian petugas kebersihan."
Pada pukul 08.54.45 WIB, pintu lift servis terbuka. Alea keluar dari sana, melangkah cepat menyusuri koridor beton yang dingin. Langkah kakinya tampak goyah, seolah-olah beban keputusannya baru saja menghantam seluruh kesadarannya. Tepat ketika ia mendekati pilar nomor 42, pintu kemudi SUV hitam itu terbuka.
Seorang pria dengan postur tubuh tegap dan tinggi melangkah keluar. Ia mengenakan kemeja kasual berwarna gelap dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan kronograf perak yang berkilat di bawah lampu basement. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang keras dan sepasang mata tajam yang langsung mengunci pandangan ke arah kedatangan Alea.
Zahran Adrian Adiguna.
Di dalam ruang kontrol, Reynald mengepalkan kedua tangannya hingga urat-urat di lengannya menonjol di balik lengan kemeja putihnya yang mahal. Amarahnya mencapai titik didih melihat bagaimana pria itu mendekati Alea.
Dalam rekaman tanpa suara itu, Zahran tidak langsung membukakan pintu mobil. Pria itu berdiri diam selama tiga detik di hadapan Alea. Melalui bahasa tubuhnya, Reynald bisa melihat ada sebuah dialog singkat yang intens di antara mereka. Zahran tampak mengucapkan sesuatu, sebuah pertanyaan atau mungkin sebuah penegasan terakhir. Alea menatap Zahran, bahunya naik turun dengan napas yang memburu, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Barulah setelah anggukan itu, Zahran mengulurkan tangannya. Bukan untuk menyeret atau memaksa, melainkan sebuah gerakan lembut yang membuka pintu penumpang depan dengan penuh hormat. Begitu Alea masuk ke dalam kabin mobil yang gelap, Zahran berbalik untuk memutari kap mesin.
Namun, tepat sebelum masuk ke kursi kemudi, Zahran menghentikan langkahnya. Ia mendongak, menatap lurus ke arah kamera CCTV yang terpasang di sudut pilar beton. Selama dua detik penuh, pria itu memberikan tatapan dingin, tajam, dan penuh dengan nada menantang seolah-olah ia tahu bahwa suatu saat nanti, Reynald Pratama atau Baskoro Yoora akan duduk di ruang kontrol ini dan menyaksikan kekalahannya.
"Bajingan arogan," umpat Reynald dengan suara mendidih.
"Dia sengaja melakukan ini untuk mempermalukanku di depan seluruh dunia bisnis."
SUV hitam itu kemudian bergerak mulus, melaju memutari pilar-pilar beton menuju pintu keluar logistik bagian belakang yang mengarah langsung ke jalan arteri sekunder, menghindari gerbang tol utama kota yang biasanya dijaga ketat oleh petugas lalu lintas.
"Gideon," panggil Reynald, membalikkan badannya membelakangi layar monitor yang kini hanya menampilkan kekosongan pilar nomor 42.
"Apa yang ditemukan oleh tim analis digitalmu mengenai kendaraan itu?"
Gideon membuka sebuah berkas dokumen fisik bersampul cokelat dan membacanya dengan saksama.
"Mobil itu adalah jenis special edition dengan spesifikasi antipeluru tingkat rendah, Tuan Muda. Mesinnya telah dimodifikasi untuk kecepatan tinggi dan efisiensi bahan bakar jarak jauh. Nomor rangka yang berhasil kami lacak dari manifes masuk hotel merujuk pada sebuah perusahaan penyewaan kendaraan mewah yang saham mayoritasnya dimiliki secara tidak langsung oleh Adiguna Group melalui perusahaan cangkang di Singapura."
"Sinyal GPS-nya?" Tanya Reynald
"Dimatikan total tiga menit setelah mereka keluar dari area hotel," jawab Gideon dengan gelengan kepala.
"Mereka menggunakan alat pengacak sinyal (GPS jammer) portabel tingkat militer. Kami kehilangan jejak mereka di sekitar jalur lingkar luar kota yang menuju ke arah perbatasan provinsi barat."
Reynald berjalan mendekati meja operator, mengambil pulpen taktis milik Gideon lalu mencoret layar monitor yang menampilkan wajah Zahran dengan garis hitam yang kasar.
"Zahran pikir dia sangat cerdas dengan memanfaatkan jalur logistik belakang kota," desis Reynald dengan senyum getir yang dipenuhi rasa haus akan pembalasan.
"Dia lupa bahwa Pratama Logistics menguasai setiap jengkal pos pemeriksaan truk, gudang kontainer, dan depo bahan bakar di sepanjang jalur perbatasan lima provinsi. Jika polisi bergerak dengan birokrasi mereka yang lambat, maka kita akan bergerak dengan hukum kita sendiri." Ujarr Reynald sambil menatap Gideon dengan mata yang memancarkan perintah eksekusi yang mutlak.
"Hubungi seluruh kepala cabang distribusi kita di wilayah barat. Perintahkan mereka untuk memasang mata di setiap SPBU, warung peristirahatan antarprovinsi, dan jalur alternatif. Jika ada yang melihat mobil SUV hitam misterius dengan ciri-ciri ini, jangan dihentikan di jalan raya. Ikuti mereka, tunggu sampai mereka berhenti di tempat terpencil, lalu hubungi aku."
"Bagaimana dengan perintah untuk saudara Zahran, Tuan Muda?" tanya Gideon, memastikan batasan tindakan yang diizinkan.
Reynald merapikan kerah jasnya yang semula kusut, mengembalikan ketenangan dinginnya sebagai seorang eksekutif tertinggi.
"Jika dia melawan saat kalian mengamankan Alea... patahkan kakinya. Aku ingin memastikan bahwa bajingan arsitek itu tidak akan pernah bisa berjalan tegak lagi untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milik seorang Pratama." Ujar Reynald tegas.
Dengan instruksi yang telah dilepaskan itu, perburuan rahasia di luar jalur hukum resmi kini telah dimulai, mengubah kasus hilangnya sang pewaris menjadi perang berdarah di sepanjang aspal jalanan antar provinsi.