Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzie, Rendang dan Tunjang
Medical Examiner RS Bhayangkara
"Jenazahnya siapa itu Dok Ginanjar?" tanya dokter Adiwilaga yang hendak pulang.
"Jenazah di TKP kasus pembunuhan Akbar Maulana, Dok," jawab dokter Ginanjar.
"Siapa yang menemukannya?" tanya dokter Adiwilaga lagi.
"Kenzie Buwono, anaknya dokter Daisy. Permisi Dok. Saya harus autopsi segera," pamit dokter Ginanjar.
Dokter Adiwilaga terkejut. Bagaimana bisa?
***
Dokter Lucky pulang bersama Kenzie setelah melipat sepedanya. Kenzie, Sheva dan Zane memang lebih suka bersepeda karena jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Apalagi Jakarta sudah semakin tertib di jalan raya dengan pemisahan jalur trotoar, sepeda dan motor.
Ketiganya memang memakai sepeda lipat karena kalau sewaktu-waktu dijemput orang tua, sepedanya bisa dimasukkan ke dalam mobil. Tadi Sheva dan Zane juga pulang bersama ayah masing-masing.
"Kenz, Papa tidak melarang kamu jadi detektif karena tahu lah, umur-umur se kamu itu memang fase kepo tinggi. Papa suka jiwa kepo kamu lebih ke soal penyelidikan, jadi detektif, bukan yang aneh-aneh. Misal nih ke lawan jenis, coba-coba sesuatu yang belum boleh kamu lakukan ...."
"Have s3x maksud Papa?" potong Kenzie.
"Ya macam gitu deh," jawab dokter Lucky.
Dia dan Daisy memang sudah memberikan pelajaran anatomi badan sejak dini, bahkan sudah menerapkan s3x education agar Kenzie dan Elina tahu batasannya. Mereka ingin anak-anaknya bisa menjaga diri dan tidak mengikuti kehidupan bebas, meskipun ibunya orang Italia dan Brazil.
"Pa, kan Papa juga cerita sama aku dan dik El soal pasien Papa yang usia empat belas tahun sudah hamil dan berhubungan s3ksual dengan banyak cowok. Sampai kena komplikasi di rahim. Itu memang dia saja yang tolol! Bukan gimana-gimana. Kata Mama, have s3x itu enaknya paling satu jam tapiiiii ... efek sampingnya seumur hidup! Kalau have s3x nya tanpa ikatan pernikahan yang sah. Kan sama saja zinah itu Pa. Kata Eyang Fahreza, apa yang dilarang di Al Qur'an itu sudah pasti yang terbaik buat kita. Sesayang itu Allah sama umat-Nya. Soal asyu, coba saja cari ada di Al Kahfi dan Al Maidah serta Al Ar'af. Di Al Qur'an ada anjing yang setia tapi tidak ada kucing. Dalam shio pun, ada anjing tapi nggak ada kucing. Najisnya anjing dari air liur dan hidungnya bisa dibersihkan, ada tata aturannya. Tapi yang namanya zinah, mulut jahat alias fitnah, tidak bisa dibersihkan begitu saja! Jauh lebih berat karena harus sholat taubat dan tidak bisa cuma cuci tangan atau mandi," terang Kenzie.
Dokter Lucky melongo. Dia tidak menduga putranya sangat mirip pola pikirnya. Dokter Lucky dan Daisy bukan tipe muslim fanatik tapi segala sesuatu bisa dikaitkan dengan logika dan aturan agama. Agama sendiri adalah hukum norma yang tertulis berasal dari Allah.
"Kenz, Papa tidak menyangka kamu begitu dewasa dalam hal ini. Papa dukung pendapat kamu! Jadilah anak Papa dan Mama yang punya prinsip macam Mandra!" puji dokter Lucky sambil mengacak-acak rambut Kenzie.
"Yaelah Pa. Kalau Mandra itu ngomong prinsap prinsip tapi mokondo, gak balance Pa!" kekeh Kenzie.
"Eh, iya ya. Doi kan males orangnya," gumam dokter Lucky.
Ayah dan anak itu tertawa bersama. Tanpa terasa, meskipun jalannya macet, tapi mereka tidak merasa kesal karena dokter Lucky dan Kenzie suka berdiskusi macam-macam. Bagi dokter Lucky, penting baginya bounding dengan kedua anaknya karena dengan begitu, dia bisa memberikan rasa aman dan nyaman pada mereka.
Tak heran Kenzie dan Elina dekat dengannya dan Daisy. Karena baik Daisy maupun dokter Lucky, bisa menempatkan diri kapan jadi orang tua dan kapan menjadi sahabat bertukar cerita.
***
Ruang autopsi Medical Examiner RS Bhayangkara
"OD."
"Fix ya Dok?" tanya Mamat.
Dokter Ginanjar mengangguk. "Sepertinya dia memang junkie yang apes saja. Lihat, kondisi badannya macam tidak mandi empat hari. Ampun deh baunya!"
"Aku sudah dapat datanya," ucap Sanji. "Dia mantan pegawai galeri seni dan sudah dipecat setahun lalu."
"Tidak ada hubungannya dengan Akbar Maulana kan?" tanya dokter Ginanjar.
"Sepertinya tidak. Tapi biar aku kasih ke Kak Ros supaya bisa diselidiki lebih lanjut." Sanji pun berdiri. "Aku harus ke lab sekarang. Dok G bilang OD kan? Biar aku cek lebih detail lagi. Karena memang disini terlihat dia OD. Lab aku lebih lengkap."
Dokter Ginanjar dan Mamat hanya menatap sebal ke ahli forensik yang masih muda itu. "Kenapa aku merasa kamu songong ya Ji?" gumam dokter Ginanjar.
"Iya ih. Sepertinya alat kita jelek dan out of date ya Dok," timpal Mamat.
***
Hari Sabtu di kediaman Keluarga Buwono
Suara ribut-ribut terdengar di halaman belakang. Semalam Kenzie kena omel Daisy namun setelah tahu ayahnya memberikan hukuman yang fantas, akhirnya Daisy membatalkan memberikan hukuman.
"Papa ..." panggil Elina ke dokter Lucky yang sedang membaca lagi novel Trio Detektif berjudul Misteri Mumi Berbisik dengan ditemani Abon di sofa ruang tengah.
"Apa anak cantiknya Papa?" dokter Lucky menutup novelnya dengan memberikan pembatas buku. Dokter Lucky dan Daisy selalu mengingatkan agar tidak melipat halaman buku. Jika belum selesai, harus diberikan pembatas agar tidak rusak.
Elina pun duduk di sebelah ayahnya dan langsung memeluk tubuh kekar dokter Lucky. "Papa ... Mas Kenzie kewalahan itu."
Dokter Lucky yang langsung merangkul pundak Elina, menatap usil. "Kenapa?"
"Itu halaman belakang amburadul Papa. Mas Kenzie nggak bisa mandiin Rendang dan Tunjang bersaman. Apa harus panggil Bang Eko?" tanya Elina.
Dokter Lucky melihat dari dinding halaman belakang yang dari kaca tebal, dan dirinya tersenyum melihat Kenzie heboh sendiri.
"Biarin saja. Kenapa kamu tidak bantuin Mas Kenzie kalau begitu?" tanya dokter Lucky.
"Kata Mas Kenzie, ini hukuman dari Papa jadi harus dilakukan. El nggak boleh bantu. Padahal El kasihan Mas Kenzie jadi ikut mandi sama Rendang dan Tunjang." Elina menatap ayahnya dengan wajah sedih.
"El, itu namanya Mas Kenzie sangatlah lakik! Seorang lakik pantang kabur dari tanggung jawab. Jadi kalau Mas Kenzie menolak kamu bantuin, harus kamu apresiasi. Bukan karena tidak boleh tapi tidak mau. Ingat waktu El mecahin gelas dan Mama tidak boleh siapapun bantuin? Itu supaya El mau tanggung jawab agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. El yang merusak, El juga yang harus membersihkan. Gitu El," terang dokter Lucky lembut.
"Gara-gara Mas Kenzie jadi detektif ya? Kan nggak salah juga Papa."
"Nggak salah tapi ... Berbahaya. Kalau ada apa-apa, gimana? Papa dan Mama merasa bersalah sekali kalau kamu atau Mas Kenzie kenapa-kenapa. Kita merasa tidak bisa melindungi kalian. Paham ya El?" dokter Lucky mencium pucuk kepala putrinya.
Elina mengangguk di dada dokter Lucky. "Paham Papa."
Tiba-tiba ....
"AAARRRGGGHHH TUNJANG! NGGAK GITU! RENDANG! JANGAN KABUR KAU!" teriak Kenzie heboh.
"Ya ampun Mas. Mbok ya dibantu," celetuk Daisy.
"Wong adiknya mau bantuin nggak boleh, kok bapake disuruh bantuin," kekeh dokter Lucky.
Daisy hanya menghela napas panjang. Weekend yang rusuh!
Begini kira-kira
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛