sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 3
Disinilah mereka, jika Zean memiliki otak yang cerdas. Tentu otak itu tidak bisa dia gunakan untuk membantu mendorongnya berlari.
"Huh.. Huh.. " suara nafas Zean yang terengah engah. Dia tidak bisa berolahraga. Dia bukan ahlinya di bidang ini. Lebih baik mengerjakan 800 soal matematika daripada harus berlari lapangan 5 putaran. Diputaran ke tiga dia sudah tepar di dekat pohon.
Faris yang melihatnya terkekeh.
"Oy, piala kelas. Gitu doang? Malah nyantai. " Ucapnya bangga karena dia bisa mengalahkan Zean di ajang lari ini.
"heleh.. " Ucap Zean sambil mengatur nafasnya.
Teman teman nya yang lain juga ikut tertawa melihat Zean menghirup udara dengan banyak. Sungguh Zean sangat lemah jika berhadapan dengan olahraga.
Tidak berakhir begitu, setelah lari pelatih beralih ke olahraga basket.
'cobaan apa lagi ini' bantah Zean dalam hatinya.
Faris yang sedari tadi memperhatikan Zean. Dia terkekeh kembali seakan akan tau isi dan unek-unek yang ada di pikiran Zean.
Owh ayolah, dimana lagi dia harus melihat pemandangan ini? Zean yang tenang, sang piala sekolah sekarang berantakan hanya karena olahraga. Musuh terbesar Zean, olahraga.
"Tidak heran sih Zean lu disediain otak luar biasa, karena lu gabisa apa-apa di olahraga. Klo lu ga pinter, siapa yang mau temenan sama lu. " ucap Faris godain Zean.
Dan itu? Zean hanya melotot tanpa berniat membalas Faris. Tenaganya sudah tidak ada.
Yang lain bermain basket, sedangkan Zean dia memilih mengerjakan fisika.
Pelatih tidak memarahinya, karena dia tau dan mengerti Zean.
Disisi lain, Zean tidak menyadari bahwa sedari tadi dia diperhatikan oleh seorang siswa. Dia menatap Zean lurus, dan hanya fokus pada Zean saja.
"Oy. Lu liat apaan bre? " Tanya salah satu temannya.
Dia mengikuti arah pandang temannya itu.
"Owh. Lu liat dia? Hemm.. Ga heran si lu sampe ga kedip gitu. " Jawabnya.
Masih tetep fokus pada Zean.
"Haishh, udah lah njir. Lubang nanti wajah dia lu liatin kek gitu." jawabnya lagi.
"Dia siapa? " Akhirnya dia bertanya setelah kesekian lamanya melihat Zean.
"Owh dia? ...Dia Zean, piala sekolah. Dia berprestasi. Berkharisma dan elegan. Wajar si lu bengong kagum gitu. Lebih bengong lagi klo lu liat prestasi dia. Dia primadona di sekolah ini" Jawab temannya panjang lebar.
"Piala dan daftar besar yang ada di depan sekolah? Coba lu liat yg paling atas. Nama dia brow. Namanya ke pampang jelas. Lu coba liat sana" Jelasnya lagi.
Melihat tidak ada respon apapun, dia muak dan kembali ke lapangan.
"Njir lah. Ga ada respon. Dahlah, terserah lu cok. Gua mau main. ". Setelah itu, dia pergi.
'Wajah yang tampan, rambut kuning yang mengkilat, mata yang tenang tapi indah, tatapan damai dan penuh keyakinan. Elegan? Ya, dia elegan' entah kenapa tanpa dia sadari, dirinya telah mendeskripsikan seorang Zean di benaknya.
Kring!! Pulang sekolah.
Seperti biasa, Arine dan Zean pulang bersama.
"Zean. Aku ada sesuatu yang harus di kerjakan. Jadi, tidak apa-apa kau pulang sendiri. " Ucap Arine tiba-tiba.
"Kamu kira aku anak 5 tahun? Aku bisa menjaga diriku sendiri. " Ucap Zean.
Hahah iya iya... Balas Arine sambil meninggalkan Zean.
"Tolong!! "
Zean dikejutkan oleh teriakan gadis dari salah satu lorong di jalan kota.
"Tolong, siapapun tolong aku, Aaaa"
Zean mendengar kembali. Tidak, Zean harus menolongnya.
Dia kemudian mencari asal suara itu. Dia memasuki lorong sempit itu. Dan, dia melihat ada 4 pria besar dan seorang gadis. Zean ingin kesana dan menolong, tapi.... Langkah Zean terhenti. Tidak! Dia tidak tau bela diri, ia tidak mungkin melawan mereka. Jumlah mereka banyak dan tubuh Zean tidak sekuat itu untuk melawan mereka.
'Shh Zean. Ayo, ayo pikirkan caranya. Tidak mungkin kamu hanya diam saja.' dibalik kepanikannya. Dia melihat sebuah toko dan disana tergantung APAR di dinding dekat toko. Sebuah ide langsung muncul dikepalanya.
Dia meraih benda itu dan mengarahkan ke lantai dekat mereka, sebuah kepulan putih memenuhi lorong dan mengganggu pandangan.
"Apa-apaan ini?! " Tanya salah satunya.
Dengan keras Zean kemudian berteriak.
"KEBAKARAN! Ada kebakaran" Teriak Zean keras.
Mendengar teriakan itu ke 4 pria itu langsung panik dan berlari tanpa sadar kalau itu hanya tipu daya Zean.
Gadis itu juga panik dan ingin kabur, dia tidak sengaja menabrak Zean yang berjalan padanya.
"Aduhh,... " Keluhnya dan terjatuh.
Dia ingin berteriak lagi, tapi diurungkan melihat sebuah tangan terulur padanya.
" Kau tidak apa-apa? " Tanya Zean.
Gadis itu mendongak. Dan 'wahh' bukannya menjawab, dia malah menganga kagum.
Zean kebingungan melihat gadis itu. Dia kemudian bertanya kembali.
"Eh, hehe. Iya aku ga papa." Jawab gadis itu sambil meraih tangan Zean.
Dia sedikit salting melihat Zean. Oh ayolah, Zean itu tampan.
"Eh.anu.. Terima kasih Kak.. " Jawabnya kemudian.
Hem, Zean membalasnya dengan anggukan.
Zean bertanya padanya dan menjawab jika dia pulang sekolah dan dengan tidak tau diri kakaknya tidak menjemputnya. Dia di kejar oleh penjahat saat akan mencari bis. Zean mendengar hal itu, dia kemudian mengantar gadis itu sampai ke halte bis.
"Em.anu.. Kakak ga mau ikut bis juga? " Tanyanya.
"Ah, tidak. Rumah ku kearah sana" Jawab Zean.
Ya ampun dia telah merepotkan kakak ini. Dia harus berjalan lebih jauh karena dirinya.
"Terima kasih banyak kak. Aku jadi ngerepotin kakak. " Balasnya...
Tidak apa-apa... Jawab Zean.
"Nama kakak siapa? " 'Aku akan balas budi suatu hari nanti' lanjut nya dalam hati.
Zean, nama kakak Zean....
Setelah menerima anggukan dan senyuman ramah gadis itu, Zean pun beranjak pergi.
Zean berfikir jika gadis itu adalah anak orang kaya. Dia tidak ingin banyak banyak terlibat dengan kalangan elit seperti mereka. Hidup sederhana bersama ayahnya akan lebih baik. Tidak ingin seperti ibunya
Sesampainya dirumah....
"Apa yang ayah lakukan? " Tanya Zean.
"Haha, ayah bekerja di toko dan ayah diberikan kupon ini. Katanya berhadiah handphone. " Jawab sang ayah
Zean meletakkan tasnya dan melonggarkan dasinya.
"Diberi atau ayah membelinya? " Tanya Zean.
"Er.. Diberi" balasnya ga yakin.
"Ayah.. " Ucap Zean lagi..
"Aishh anak ini. Iya iya ayah membelinya. Tidak mahal kok. Sini duduk" Ucapnya.
Zean duduk di kursi dekat kupon tersebut.
"Hadiahnya lumayan. Sebuah handphone. Nak, kau membutuhkannya kan? " Jelasnya antusias.
Tidak, jawab Zean ketus.
"Aishh anak ini. Jika kamu punya handphone kamu bisa mengakses materi lebih mudah. Doakan saja ayah menang. "....
Huh... Zean menghela nafas. Dia tidak bisa mematahkan semangat ayahnya ini.
" Baiklah terserah ayah saja. Aku ke atas dulu yah". Jawab Zean nyerah.
"Iya iya sana. " Balasnya, dan lanjut berdoa untuk kupon itu supaya menang.
Didalam kamarnya...
Zean melakukan rutinitasnya, yaitu belajar dan belajar.....