Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Kaca Yang Retak
Isak tangis Alena mereda menjadi helahan napas yang tersendat-sendat di dalam sunyinya ruang makan. Ponsel di atas meja masih menyala, menampilkan ratusan komentar kejam dari netizen asing dan lokal yang mulai merangkai kepingan teka-teki yang disebarkan oleh Siska. Rasa mual yang sempat mereda kini kembali menyerang, bukan karena hormon kehamilan, melainkan karena rasa takut yang menguras seluruh energinya.
Dinding kaca perlindungan yang dibangun Adrian dengan uang dan kekuasaan korporasinya mulai retak oleh serangan senyap di dunia maya.
Alena buru-buru menghapus air matanya ketika mendengar deru mesin mobil sedan mewah Adrian memasuki pelataran rumah.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima malam. Adrian pulang lebih cepat dari yang dijanjikannya.
Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat ke arah ruang makan. Adrian melangkah masuk dengan jaket jas yang sudah tersampir di lengan kirinya, sementara dasinya sudah dimasukkan ke dalam saku kemeja. Wajahnya tampak sangat lelah setelah seharian menghadapi atmosfer canggung dan perombakan naskah di lokasi syuting.
Namun, begitu melihat mata Alena yang sembab dan ponsel yang tergeletak di atas meja, garis-garis kelelahan di wajah Adrian langsung tergantikan oleh ketegangan yang waspada.
"Apa yang terjadi?" tanya Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia berjalan mendekati meja makan.
Alena tidak menjawab. Ia hanya menggeser ponselnya ke arah Adrian.
Adrian mengambil ponsel tersebut, membaca pesan dari nomor tidak dikenal serta utas diskusi forum luar negeri yang tertera di sana. Rahang pria itu mengeras seketika. Buku-buku jarinya memutih saat menggenggam pinggiran ponsel. Kilat amarah yang sangat dingin memancar dari kedua matanya, membuat suasana di ruang makan yang hangat mendadak terasa mencekam.
"Siska benar-benar bosan hidup," desis Adrian dengan nada suara yang begitu rendah hingga menyerupai geraman.
"Adrian... bagaimana ini?" suara Alena bergetar, menahan tangis yang kembali mendesak di tenggorokannya. "Hukum kita tidak bisa menjangkau forum luar negeri itu, kan? Bagaimana kalau besok pagi akun-akun gosip besar di Indonesia mulai menerjemahkan artikel itu dan mengunggahnya di Instagram? Semua orang akan tahu kalau aku... kalau kita..."
"Tenang, Alena," potong Adrian tegas. Ia meletakkan ponsel itu kembali dengan hentakan pelan, lalu menatap Alena lurus-lurus. "Jangan panik. Stres yang kamu rasakan akan langsung memengaruhi janin di dalam rahimmu. Dengarkan aku. Masalah ini tidak akan sampai ke permukaan media lokal."
Adrian langsung mengeluarkan ponsel pribadinya sendiri, menekan sebuah nomor panggilan cepat, dan menempelkannya ke telinga. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan itu diangkat di seberang sana.
"Baskara, buka tautan forum diskusi internasional yang baru saja saya kirimkan ke emailmu," ujar Adrian tanpa basa-basi menyapa. "Siska menggunakan akun anonim dan server luar negeri untuk menyebarkan blind items tentang Alena. Saya ingin tim cyber kita bergerak malam ini juga."
Adrian mendengarkan penjelasan Baskara selama beberapa saat sambil berjalan mondar-mandir di ruang makan. "Saya tidak peduli seberapa rumit hukum yurisdiksi internasional. Hubungi perwakilan hukum Dewangga Group yang ada di Singapura dan Amerika.
Gunakan celah pelanggaran hak cipta data medik atau tuntutan pencemaran nama baik korporasi jika mereka tidak bisa menurunkan utas tersebut atas nama pribadi. Dan satu hal lagi... pastikan tidak ada satu pun akun gosip lokal yang berani menyentuh atau membahas masalah ini. Jika ada yang nekat, beli akun mereka atau hancurkan bisnis agensi mereka besok pagi."
Setelah mematikan panggilan dengan Baskara, Adrian mengembuskan napas panjang. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu berbalik menatap Alena yang masih duduk mematung dengan wajah pucat.
"Semua akan terkendali sebelum matahari terbit, Alena. Baskara tahu apa yang harus dilakukan. Tim IT kami akan melakukan serangan report massal dan tuntutan hukum legal ke penyedia hosting forum tersebut. Artikel itu akan hilang dalam beberapa jam ke depan," ujar Adrian, mencoba menenangkan rekan timnya.
Alena menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. "Sampai kapan, Adrian? Sampai kapan kita harus terus memadamkan api seperti ini? Hari ini forum luar negeri, besok mungkin foto-foto medikku yang asli akan tersebar dari tangan orang lain. Siska tidak akan berhenti sampai dia melihatku hancur dan karierku mati total."
Adrian berjalan mendekat, lalu mengambil posisi duduk di kursi tepat di samping Alena. Jarak mereka begitu dekat hingga Alena bisa merasakan hembusan napas hangat Adrian di pelipisnya. Pria itu mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya meletakkannya di atas bahu Alena yang gemetar, memberikan remasan lembut yang menguatkan.
"Kariermu tidak akan mati, Alena. Aku tidak akan membiarkannya," ujar Adrian dengan suara yang melembut, sebuah nada suara yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun. "Pernikahan ini adalah perisai utamamu. Selama kamu berdiri di sampingku sebagai istri seorang Adrian Dewangga, dunia tidak akan berani menyentuhmu secara terbuka. Siska hanya bisa menggonggong melalui akun-akun pengecut di internet karena dia tahu dia sudah kehilangan taringnya di dunia nyata."
Alena mendongak, menatap mata hitam pekat milik Adrian. Di dalam kegelapan malam dan ketegangan konflik yang mengintai, ada sebuah rasa aman yang aneh yang mulai merayap masuk ke dalam hatinya setiap kali pria ini berada di dekatnya. Adrian bukan lagi sekadar aktor lawan main yang dingin; ia adalah dinding pertahanan terakhir yang berdiri kokoh di depan badai untuk melindunginya.
"Sekarang, naiklah ke kamarmu dan tidur," perintah Adrian lembut namun tidak menerima bantahan. "Bi Asih sudah membersihkan kamarmu dan menyalakan aromaterapi lavender untuk membantumu rileks. Jangan sentuh ponsel itu lagi malam ini. Serahkan ponsel cadanganmu kepadaku, aku yang akan memantau setiap pesan mencurigakan yang masuk."
Alena mengangguk patuh. Ia menyerahkan ponsel cadangannya kepada Adrian, lalu berdiri dari kursi makan. "Terima kasih, Adrian. Selamat malam."
"Selamat malam, Alena. Istirahatlah," balas Adrian, menatap punggung Alena yang berjalan perlahan menaiki tangga menuju sayap barat.
Setelah Alena menghilang di balik pintu kamarnya, kehangatan yang sempat tercipta di ruang makan itu seketika lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Adrian berjalan menuju ruang kerja pribadinya, menyalakan laptop, dan mulai memantau pergerakan data sentimen publik bersama tim humas perusahaannya secara virtual hingga larut malam.
Pukul dua dini hari, sebuah email masuk dari Baskara. Utas di forum internasional tersebut telah resmi diturunkan (take down) atas dasar pelanggaran hak privasi internasional dan ancaman tuntutan ganti rugi bernilai jutaan dolar dari tim hukum Dewangga Group terhadap pemilik platform forum.
Tiga akun gosip lokal yang sempat mencoba membuat unggahan teka-teki terkait utas tersebut juga langsung mendapatkan surat peringatan hukum somasi tingkat satu dalam waktu satu jam, membuat mereka menghapus unggahan mereka dalam hitungan menit karena ketakutan.
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja, memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat perih karena kurang tidur. Ia berhasil memadamkan api malam ini. Namun, ia tahu betul bahwa ini hanyalah riak kecil dari gelombang besar yang sesungguhnya. Selama Siska masih memegang bukti atau informasi medik Alena, ancaman itu akan selalu ada, seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja ketika perut Alena mulai membuncit dalam beberapa bulan ke depan.
Keesokan paginya, suasana di rumah Menteng tampak kembali normal dan tenang. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden ruang makan, memberikan pencahayaan yang hangat di atas meja yang kini sudah dipenuhi oleh menu sarapan sehat: roti gandum panggang dengan alpukat, telur urak-arik tanpa minyak, dan segelas susu khusus ibu hamil.
Alena turun dengan penampilan yang jauh lebih segar. Meskipun matanya masih sedikit letih, raut wajahnya tidak lagi dipenuhi oleh kepanikan histeris seperti tadi malam. Ia melihat Adrian sudah duduk di kepala meja, sedang membaca koran bisnis harian sambil menyesap kopi hitamnya.
"Semua sudah selesai," ujar Adrian tanpa mendongak dari korannya begitu mendengar langkah kaki Alena. "Utas itu sudah dihapus, dan tidak ada satu pun media lokal yang berani mengangkat ceritanya. Kamu aman."
Alena duduk di kursinya, mengembuskan napas lega yang amat sangat. "Terima kasih, Adrian. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kamu tidak bertindak secepat itu malam tadi."
"Itu sudah menjadi bagian dari tugas tim kita," sahut Adrian, meletakkan korannya dan menatap Alena. "Hari ini aku memiliki jadwal syuting penuh hingga larut malam untuk mengejar ketertinggalan episode drama kita. Aku sudah meminta tim keamanan untuk mengganti nomor ponsel cadanganmu dengan nomor baru yang memiliki enkripsi militer. Tidak ada seorang pun yang bisa mengirimkan pesan atau meneleponmu selain aku, Bi Asih, dan Baskara."
"Baik, aku mengerti," jawab Alena seraya mulai memotong roti gandumnya.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama. Baru saja Alena menyuapkan potongan roti pertama ke dalam mulutnya, suara bel gerbang depan rumah berbunyi dengan keras dan konstan, diikuti oleh suara keributan samar dari arah halaman depan.
Adrian langsung mengernyitkan keningnya. Rumah ini adalah area privat yang dijaga ketat, tidak ada seorang pun yang boleh menekan bel gerbang tanpa konfirmasi terlebih dahulu dari pos penjagaan depan.
Seorang petugas keamanan rumah berlari masuk ke dalam dengan wajah yang pucat dan napas yang memburu. "Tuan Adrian... maaf mengganggu sarapannya. Ada... ada tamu penting di depan gerbang utama."
"Siapa?" tanya Adrian dingin, berdiri dari kursi makannya. "Bukankah aku sudah bilang untuk mengusir semua jurnalis?"
"B-bukan jurnalis, Tuan," jawab petugas keamanan itu dengan terbata-bata, melirik ke arah Alena dengan tatapan takut. "Itu... Tuan Baskoro Dewangga. Ayah Anda. Beliau datang bersama beberapa pengawal pribadi dan menuntut untuk masuk sekarang juga."
Mendengar nama "Baskoro Dewangga", sendok di tangan Alena seketika terlepas dan berdenting keras di atas piring porselen. Tubuhnya mendadak kaku. Ayah Adrian sang patriark kejam dari dinasti bisnis Dewangga Group, pria yang mengendalikan seluruh aliran uang dan kekuasaan keluarga mereka telah tiba di depan pintu sangkar emas mereka. Dan dari cara kedatangannya yang mendadak tanpa pemberitahuan, Alena tahu bahwa kedatangan pria tua itu bukan untuk memberikan restu pernikahan. Badai yang sesungguhnya dari dalam internal keluarga kini telah resmi mengetuk pintu rumah mereka, siap menguji seberapa kuat janji "rekan tim" yang baru saja diikrarkan oleh Adrian dan Alena.