NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 Tawaran Solusi Ala Ren Aksara

Sinar mentari di pagi hari masuk melalui jendela lebar yang menghadap halaman kecil di depan kontrakan. Anjani berdiri di tengah tempat barunya sambil memutar pelan tubuhnya.

Masih sulit dipercaya. Ruangan itu memang tidak besar, tetapi jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Kasur spring bed ukuran queen terpasang rapi di sudut kamar. AC terpasang di dinding. Televisi layar datar menempel di depan tempat tidur. Kamar mandi berada di dalam. Bahkan ada dapur mini lengkap dengan kabinet sederhana dan kompor. Semuanya bersih, rapi, nyaman.

Dan yang paling tidak masuk akal harganya. Anjani sudah berkali-kali memastikan kepada pemilik kontrakan kemarin. Benar, harga sewanya memang semurah itu.

Bahkan pemilik kontrakan berkata santai. "Bayarnya nanti aja kalau sudah ada rezeki, Nak."

Padahal Anjani tahu harga pasaran di kawasan ini. Harusnya jauh lebih mahal. Semalam ia sampai berkeliling mencari kemungkinan ada hal aneh. Mungkin AC-nya rusak. Mungkin saluran airnya bocor. Mungkin malam hari ada suara genderuwo karaoke, atau terdapat portal dimensi yang akan melemparnya ke alam lain. Tapi nyatanya tidak ada. Semuanya normal.

Dan akhirnya Anjani menyerah.

Mungkin memang Tuhan masih menyisakan sedikit belas kasih untuknya.

Di tempat lain, Ren sedang menatap layar laptopnya tanpa ekspresi.

"Kontrakannya sudah ditempati," lapor singkat dari Raka yang muncul di layar.

Ren hanya mengangguk tipis. "Bagus.

Setidaknya wanita keras kepala itu tidak tidur di jalan."

Anjani tentu saja tidak perlu tahu kalau pemilik kontrakan itu menerima instruksi khusus darinya, termasuk soal harga, soal pembayaran yang bisa ditunda, dan soal prioritas penyewa. Semua berjalan sesuai keinginannya. Dan tetap seperti yang ia inginkan. Anjani tidak akan pernah tahu.

Satu jam kemudian...

Tok. Tok. Tok.

Anjani yang sedang menyusun pakaian di lemari kecil langsung menoleh ke arah pintu.

"Hm?"

Siapa pagi-pagi begini? Pemilik kontrakan? Maria? Kurir? Atau mungkin si muka masam?

Tidak, itu mustahil.

Saat pintu dibuka...Anjani langsung membeku. Benar-benar membeku, seperti hp yang memori ramnya kritis.

Di depan pintunya berdiri Ren Aksara. Perawakan tinggi dengan satu tangan masuk ke saku celana, penampilan rapi dengan jas hitam mahal, jam tangan yang kemungkinan harga satuannya bisa menyewa kontrakan ini selama beberapa tahun. Tidak ketinggalan muka masam yang khas.

Beberapa detik mereka saling menatap.

"Pak Ren?"

"Hm."

"Kok ada di sini?"

"Ada urusan."

"Kok bisa tahu alamat saya?"

Ren seketika membeku, tapi hanya sedetik. "Kebetulan tahu."

Anjani masih belum bergerak dari ambang pintu, lalu matanya menyipit curiga. "Tunggu dulu."

"Hm."

"Jangan bilang Bapak nguntit saya."

Ren terdiam. Kalau saja Anjani tahu kemarin ia memang mengikutinya diam-diam. Dan baginya itu bukan menguntit, tapi memastikan. Harus digaris bawahi kalau dua hal itu sangat berbeda.

"Pemikiranmu buruk."

"Itu bukan jawaban."

"Itu juga bukan tuduhan yang cerdas."

Anjani mendecih. Ya, inilah Ren. Manusia yang kalau ditanya A akan menjawab Z.

"Pak Ren, mencurigakan."

"Kalau saya menguntit, saya tidak akan berdiri di depan pintu."

Jawaban yang masuk akal, tapi menyebalkan. Sayangnya wajah Ren terlalu mahal jika harus ditimpuk pakai sapu.

Pada akhirnya, badan Anjani menggeser, mempersilahkannya masuk. Ren melangkah ke dalam. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, mengamati sekali, dua kali, dan selesai. Kontrakan itu cukup baik dan itu memang sesuai harapan.

Pria itu duduk di kursi dekat meja kecil tanpa diminta, seolah dia yang punya kontrakan. Anjani masih belum terbiasa dengan aura dominan pria itu.

Anjani menyodorkan teh hangat. Ren menerimanya.

"Pak Ren ke sini sebenarnya mau apa?"

Ren mengeluarkan sebuah map tipis, lalu meletakkannya di meja. Insting Anjani mendadak tidak enak. Biasanya orang kaya yang datang membawa map tidak pernah membawa kabar yang menyenangkan.

"Ini."

Anjani membuka lembaran di dalamnya. Ia seketika menegang, napasnya tercekat di tenggorokan.

"Hah?"

"Tagihan."

"Hah?"

"Tagihan."

"Pak Ren, saya nggak tuli."

"Lalu kenapa bilang hah dua kali?"

Anjani serasa ingin melempar map itu ke kepalanya, namun urung. Angka yang dilihatnya jauh lebih mengerikan.

Empat set pakaian. Satu pasang sepatu. Totalnya bikin spot jantung.

Anjani membaca lagi dan lagi, seakan berharap angka nolnya gelundung satu karena kasihan. Ternyata tidak. Nolnya tetap banyak.

"Pak Ren."

"Hm."

"Ini salah ketik?"

"Tidak."

"Ini nolnya kebanyakan."

"Tidak."

"Ini harga satu baju?"

"Iya."

Anjani kembali menatap angka di depannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa ingin pingsan hanya karena pakaian.

"Lima puluh juta?" Anjani hampir tersedak napasnya sendiri.

"Hm."

"Lima puluh juta untuk beberapa potong baju?!"

"Hm."

"Mereka jual kain dari surga?"

Ren menatapnya datar. "Itu butik premium."

Anjani memegangi kepalanya. "Ya Allah..."

Ren menyeruput tehnya dengan tenang. Sementara Anjani mulai merutuki dirinya sendiri. Kenapa kemarin ia tidak bertanya harga?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Orang normal pasti bertanya, tapi kemarin otaknya sedang sibuk mengurus perceraian, pengusiran, dan kehancuran hidup. Mana sempat mikir harga baju.

"Itu seharga mobil bekas."

"Bukan."

"Hampir."

"Hm."

Anjani memejamkan mata. Kepalanya mendadak pusing. Sangat pusing.

"Saya nggak bisa langsung bayar."

"Boleh dicicil."

Anjani langsung sedikit lega. Syukurlah masih ada harapan hidup. Namun ketenangan itu hanya bertahan sekitar lima detik karena Ren kembali bicara.

"Masalahnya bukan itu."

Anjani mengernyit. "Lalu?"

"Kamu mau bayar pakai apa?"

Anjani langsung bungkam. Ren melanjutkan dengan nada datar dan tenang, tapi setiap kalimatnya seperti anak panah yang tepat sasaran.

"Kamu keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa."

Lidah Anjani kelu.

"KTP?"

Anjani diam.

"Kartu keluarga?"

Wanita itu tak menjawab.

"Ijazah?"

Ia masih tak menjawab.

"Sertifikat? Portofolio? Ponsel?"

Semakin lama wajah Anjani semakin muram karena sialnya semua itu benar. Tidak ada satu pun, bahkan tas pun tidak. Ia hanya keluar dengan tanktop, legging, anting peninggalan orang tua, dan harga diri yang tersisa setengah napas.

Ren menyandarkan tubuhnya. "Kalau kamu melamar kerja hari ini."

Anjani sudah punya firasat buruk.

"Kemungkinan diterima lebih kecil daripada peluang Sae diam selama satu jam."

Anjani refleks tertawa, lalu langsung kesal karena bisa-bisanya ia tertawa. Pria ini baru saja menghina kondisi hidupnya dengan cara yang masuk akal. Dan itu lebih menyebalkan.

"Ada solusi."

Akhirnya Ren membuka map lain. Anjani semakin menatap curiga. Tatapan yang biasanya muncul saat seseorang hendak dijebak secara profesional.

"Apa?"

"Kerja."

"Saya?"

"Hm."

"Tapi saya belum melamar."

"Sekarang saya yang menawarkan."

Anjani masih belum bisa percaya. Ren terlalu pintar dan orang pintar biasanya berbahaya.

"Kebetulan perusahaan saya sedang butuh seseorang."

"Kebetulan?"

"Hm."

Anjani menyipitkan mata. "Ini kebetulan sungguhan atau kebetulan yang dipaksa?"

Ren diam beberapa detik sebelum kembali menjawab. "Kamu banyak bertanya."

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban."

"Tapi saya nggak melamar," ucap Anjani lagi.

"Hutangmu 50 juta." Ren mengingatkan.

Sebenarnya ada secercah harapan baru saat tawaran itu diberikan. Tapi, Anjani tidak mau terlalu cepat bersenang hati dulu karena semakin dipikir keberadaan Ren di sana semakin terasa aneh.

"Pak Ren."

"Hm."

"Ini sebenarnya rekrutmen atau debt collector?"

Sunyi. Sudut bibir Ren benar-benar bergerak tipis. Nyaris tidak terlihat.

"Anggap saja kombinasi."

Anjani menghela napas panjang. Entah mengapa, sejak meninggalkan rumah Satriya ia merasa hidupnya akan menjadi sangat merepotkan karena berhubungan dengan laki-laki bernama Ren Aksara.

Sementara Ren diam-diam memperhatikannya. Perempuan itu memang keras kepala. Dan anehnya, semakin diperhatikan semakin sulit diabaikan. Awalnya ia hanya melihat kemampuan Anjani, lalu keberaniannya, lalu harga dirinya.

Sekarang? Ren mulai menyadari sesuatu yang sedikit mengganggu. Ia tidak suka membiarkan perempuan itu menghilang dari pandangannya terlalu lama. Tanpa ia sadari bahwa sesuatu mulai berubah menjadi obsesi.

Bersambung~~

1
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
Ayuwidia
CK, pasti suara si ulet kekekt 😏
ryuka
lanjuutt thoorr.. double up klo bisa 🤭🤭🤭🤭🤭🤭👍👍👍🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!