Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari siapa?
"Btw ngapain pagi-pagi tadi dari kamar Juna? Hayoo, wah mencurigakan nih!"
Kayla terpaku di tempatnya. Sial! Matilah dia!
Gadis itu terdiam sejenak, kemudian berbalik dan melirik Raka yang masih berada di balkon atas dengan senyuman menyebalkan itu.
"Heh, maksud lo apa ya! Jangan nyebar fitnah deh, wuu!" ucap Kayla.
Raka menaikan sebelah alisnya, "Kayaknya gua ngga salah lihat kok? Lu pake jaket merah sama celana polkadot, plus sereal cokelat, ya kan?"
Asem! Kayla refleks menengok pakaiannya sendiri, ia bahkan tak memperhatikan atasan dan bawahan yang ia kenakan sedari tadi. Kok cowok itu bisa ngeh sih?! Padahal dirinya sudah sehati-hati mungkin.
"Mending lo diem, awas lo ngomong aneh-aneh ya!" ancam Kayla sambil menunjukkan kepalan tangannya ke arah Raka dengan tatapan tajam.
Tanpa menunggu balasan Raka yang masih tertawa di atas, Kayla langsung mengambil langkah seribu. Ia melesat masuk ke koridor kos belakang dan cepat-cepat membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya dengan bunyi yang cukup keras.
"AH YA ALLAH?! BANYAK KALI COBAAN GUE SEJAK PINDAH DISINI!" gerutu gadis itu kesal.
Waktu berjalan dengan cepat, malam kini sudah tiba. Kayla duduk di atas kasurnya sambil menyeruput mie dengan lahap, bak seseorang yang belum makan 3 hari 3 malam.
Lagu "I Will Fly" dari Ten2Five mengalun kencang di kamar itu, dengan suara pas-pasannya gadis itu bernyanyi seperti biduan.
"I will fly inti you arms~"
"And be with you, till the end of timeee~"
"WHY ARE YOU SO FAR AWAY~~"
TOK! TOK! TOK!
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, membuat atensi gadis itu beralih seketika. Ia menghentikan playlist lagunya, memastikan bahwa pintu yang di ketok itu beneran pintu kamarnya atau bukan.
"Neng Kayla! Neng di dalam?" seru suara tak asing di luar sana.
Waduh! Itu suara si ibu macan tutul! Kayla langsung sigap merapikan rambutnya yang masih berantakan dan sesekali mengecek bau napasnya apa bau atau tidak.
Jantungnya berdebar tak karuan, ada apa nih Bu Arin tiba-tiba datang ke kamarnya malam-malam begini?
Ceklek!
Pintu kamar terbuka pelan, Kayla muncul dari balik sana dan menyambut kedatangan Bu Arin dengan senyuman hangat.
"Halo ibu, ada apa ya, Bu?" tanya Kayla.
Namun wanita itu tak bergeming. Ia hanya menatap Kayla tanpa sepatah kata apapun.
Deg!
Jantung Kayla semakin berdetak tak karuan, jangan sampai ini malam terakhirnya di tempat ini!
"Ini neng, ada titipan lagi buat eneng!" Bu Arin kemudian menyodorkan sebuah totebag hitam kepada Kayla.
Wajah Kayla langsung berubah seketika, matanya berbinar sembari mengambil totebag itu dari tangan Bu Arin.
"Owalah, makasih ya Bu!" ucap Kayla senang.
Bu Arin mengangguk pelan. "Ya sudah, Ibu duluan ya, Neng! Mau lanjut nonton sinetron, keburu habis nanti," pamitnya sebelum memutar tubuh dan melangkah pergi menyusuri koridor yang mulai sepi.
Begitu pintu kamarnya kembali tertutup rapat, Kayla langsung mengunci pintu dan meletakkan totebag hitam itu di atas kasur. Dengan rasa penasaran yang membuncah, ia membuka kancing magnet tas kain tersebut dan mengintip isinya.
Mata Kayla seketika membelalak sempurna.
"WADUH! Banyak banget!" pekiknya tertahan, tak ingin suaranya kedengaran sampai ke luar kamar.
Ia mengeluarkan isinya satu per satu dengan senyum yang mengembang lebar sampai ke telinga. Ada berbagai macam camilan premium, beberapa bungkus ramen instan impor, cokelat batangan, dan yang paling mengejutkan, di bagian paling dasar ternyata ada sekarung kecil beras organik berukuran tiga kilogram. Pantas saja sejak tadi pergelangan tangannya sampai pegal karena menahan bobot totebag yang lumayan berat itu.
Kayla langsung melompat kegirangan di atas lantai kamarnya yang sempit. "Asyik! Makmur banget hidup gue minggu ini! Makasih ya Allah, ternyata Papa beneran tobat dan berniat menyuburkan badan anak gadisnya yang teraniaya di kosan ini," gumamnya penuh rasa syukur sembari memeluk karung beras kecil itu layaknya guling.
Ting!
Tiba-tiba, suara notifikasi khas WhatsApp terdengar dari arah ponselnya yang tergeletak di samping mangkuk mi instan. Kayla dengan cepat meletakkan kembali barang-barangnya, lalu menyambar benda pipih tersebut.
Begitu layarnya menyala, sebuah nama tertera di sana, Papa.
Kayla mengerutkan dahi saat membaca baris pesan yang masuk. Ternyata, sang ayah baru saja membalas pesan singkat yang dikirimkan Kayla beberapa hari lalu—tepat setelah ayahnya mematikan sambungan telepon mereka secara sepihak dengan alasan sibuk bekerja.
Papa: Maaf ya, Kak. Papa baru sempat pegang HP. Kemarin-kemarin kerjaan Papa di kantor lagi padat banget sampai nggak bisa ditinggal.
Melihat balasan yang super telat itu, rasa kesal Kayla yang sempat menguap kini mendadak kembali sedikit. Ia memanyunkan bibir, lalu jemarinya dengan cepat mengetikkan balasan dengan nada merajuk.
Kayla: Udah lewat pah
Belum sempat Kayla meletakkan ponselnya kembali, status di bawah nama sang ayah langsung berubah menjadi 'typing'. Sebuah pesan baru kembali masuk.
Papa: Hahaha, anak Papa jangan ngambek dong. Btw, udah sampai belum paket dari Papa? Tadi Papa suruh Pak Yono buat nganterin langsung ke kosan kamu.
Senyuman Kayla yang sempat hilang kini langsung terbit lagi secara otomatis. Ia menatap ke arah kantong plastik pertama dan totebag hitam di atas kasurnya bergantian dengan mata berbinar-binar.
Kayla: Udaaaah dong, Pah! Baru aja sampai banget ini di titipin ke Bu Arin. Makasih banyak yaaa, Pah! Tumben banget Papa so sweet begini, sampai ngirim dua kantong gede sekaligus ke aku. Berasnya berasa dapet bansos, berat banget asli!
Kayla terkekeh geli setelah mengirimkan pesan tersebut. Ia sudah membayangkan balasan ayahnya yang pasti akan menyombongkan diri karena sudah menjadi ayah yang perhatian. Namun, beberapa detik kemudian, balasan yang masuk justru membuat dahi Kayla berkerut dalam.
Papa: Hah? Dua kantong gimana, Kak? Papa cuma nyuruh Pak Yono nganterin satu kantong plastik aja kok, isinya mi instan, minyak goreng, sama brownies titipan Bibi Dewi. Papa nggak ada ngirim beras atau kantong lain.
Deg.
Gerakan mengunyah mi di mulut Kayla mendadak terhenti seketika. Tubuhnya membeku di tepi kasur, menatap layar ponselnya dengan kedipan mata yang tidak percaya.
Ia buru-buru mengetik balasan untuk memastikan.
Kayla: Serius, Pah? Jangan bercanda deh. Ini ada dua kiriman, yang satu plastik biasa dari Pak Yono, terus barusan Bu Arin nganterin lagi totebag hitam isi snack sama beras.
Papa: Serius, Kak. Papa cuma ngirim satu yang dari Pak Yono itu aja. Kantong yang satunya lagi Papa gak tahu punya siapa. Salah alamat kali? Coba kamu cek lagi.
Kayla langsung menurunkan ponselnya dengan perlahan. Pandangannya perlahan beralih, menatap lurus ke arah totebag hitam misterius yang masih bertengger dengan anggun di atas kasurnya.
Bulu kuduk Kayla mendadak meremang ringan. Kalau kantong plastik pertama yang berisi mi instan dan minyak goreng itu murni dari ayahnya, lalu... kantong belanjaan mahal berisi beras dan camilan premium ini dari siapa? Tidak mungkin kan Bu Arin salah alamat, jelas-jelas tadi wanita daster macan tutul itu memanggil namanya dengan lantang.
"Lah... kalau bukan dari Papa, terus ini dari siapa dong?!" gumam Kayla horor, mendadak merasa merinding sendiri di dalam kamarnya yang sepi.
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan