"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 ~ Apa Kakak Malu Padaku?
"Kak, kenapa? Kamu sakit?" Ailin yang telah berdiri persis di samping Juan mengulurkan tangannya. Wanita itu menyentuh dahi sang suami, membuat Juan sedikit bergerak kaget.
"Enggak panas," gumamnya lalu menyentuh dahinya sendiri untuk membandingkan.
Sementara Juan menatap gerak-gerik sang istri dengan dalam. Ailin masih berdiri di depannya dengan perhatian, memandangnya dengan mata jernih tanpa kebencian. Rasa sesak di dada pria itu perlahan mengendur.
Untung saja. Semua itu hanyalah mimpi.
"Mau minum?" Ailin mengambil air yang tersedia di atas nakas. Mengulur ke arah Juan yang perlahan bangkit dari tidurnya.
Sedangkan Ailin bergegas membantu, wanita itu memastikan sang suami duduk dengan nyaman sebelum memberikan kembali minumannya.
"Terima kasih," ucap Juan setelah mengembalikan gelasnya. Namun saat mendongak, yang dilihatnya justru wajah cemberut sang istri.
"Kenapa?" tanya Juan berbalik bingung.
"Kakak gimana, sih?" gerutu Ailin menjawab pertanyaan sang suami. Wanita itu berkata dengan nada kesal. Memberi kerutan dahi pada pria yang merasa tidak tahu apa-apa itu.
"Maksudmu?"
"Kakak mimpiin aku masa sambil nangis? Yang benar saja? Aku yang cantik, manis dan ceria ini, malah jadi tokoh utama mimpi buruk."
Juan yang sebelumnya bingung akhirnya mengerti. Tidak menyangka juga, sebuah perkataan spontan yang bermaksud merajuk itu, ternyata sangat manjur untuk menetralisir emosinya yang sempat terguncang tadi.
Pria itu jadi menarik bibirnya tipis, tanpa sengaja menunduk untuk menyembunyikan senyum itu.
Namun sebuah sentuhan lembut di dagu membuatnya menahan napas. Tubuhnya menegang seketika. Terlebih dulu, kedekatan seperti ini terasa mustahil.
Perlahan Ailin membawa wajahnya mendongak, membuat pandangannya jatuh tepat pada wajah cantik sang istri.
Sementara wanita itu justru memiringkan kepalanya sendiri. Memperhatikan wajah sang suami dengan kening berkerut yang tanpa sadar membuat Juan berdehem canggung. "Kamu ...."
"Ssttt! Aku sedang memperhatikan wajah Kakak, sepertinya ada sesuatu yang kurang. Kakak jangan mengganggu eksperimenku!" ucapnya membuat Juan urung berkata.
Pria itu mengatup bibirnya diam, tidak menepis meski merasa tidak nyaman. Namun sentuhan lain membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Ailin tengah menyentuh kedua sudut bibirnya. Menarik hingga deretan gigi putihnya terlihat jelas, tampak seperti tengah tersenyum lebar.
"Mau senyum, senyum saja! Kenapa harus ditahan? Kenapa pula harus disembunyikan? Percaya diri, Kakak! Kakak itu sangat tampan, loh!" Ailin menegakkan tubuhnya, kedua tangannya berkacak di pinggang. Menatap wajah sang suami yang terpaku.
"Eh?" Wanita itu kembali mengerutkan kening. Tubuhnya juga kembali membungkuk, mendekatkan wajahnya dan memperhatikan telinga Juan yang memerah.
"Kak... telingamu gatal, ya? Kenapa merah sekali?" Kali ini wanita itu memasang wajah bingung. Namun yang ditanya justru salah tingkah, pria itu mendengus dan menoleh ke arah lain.
"Panas!"
"Hah? Panas?" Ailin menoleh pada AC yang menyala, lalu kembali memandang wajah Juan yang ikutan merah.
"Wajahmu juga merah!"
Juan menarik napas panjang, berusaha menjawab dengan suara yang normal. "Kamu, kamu terus berdiri di depanku. Bergerak ke sana sini, tentu saja membuatku kepanasan."
Ailin membulatkan mulutnya, memandang tidak percaya.
"Karena aku?" tanya wanita itu sembari menunjuk wajahnya sendiri. Tidak lupa dengan wajah yang menunjukkan ketidakterimaan.
Sementara yang diprotes itu memilih berdehem keras, mengangkat kedua tangan dan mendorong pelan sang istri. "Sudah malam, tidurlah!"
"Tapi aku ...."
"Tidur!" Pria itu berusaha menunjukkan wajah datar yang anehnya begitu tegang. Kejanggalan itu akhirnya disadari Ailin. Wanita itu langsung mengembangkan senyum, perlahan hingga akhirnya deretan gigi putihnya terlihat.
"Baiklah, baiklah. Aku tidur... aku tidur."
Ia berjalan pelan, kembali ke sisi yang kosong di sebelah sang suami. Tanpa berkata lagi ia mengangkat selimut, mendudukkan diri sebelum merebah di atas kasur. Kedua matanya menutup, meresapi kenyamanan yang tidak ia dapat dari ranjang rumah sakit sejak sadar kembali.
Sementara Juan yang melihat sang istri langsung bersiap tidur akhirnya ikut berbaring kembali. Pria itu memejamkan mata, berusaha menenangkan diri.
Namun ketika membuka mata sesaat, yang ia lihat adalah sang istri yang berbaring di ujung ranjang. Menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
Benar saja. Ailin tetaplah Ailin. Wanita itu mungkin bisa tersenyum padanya, bercanda dengannya, bahkan memperhatikannya.
Namun perhatian bukanlah cinta.
Memikirkan itu, Juan perlahan memejamkan mata kembali. Hingga saat hampir tertidur, sepasang tangan memeluk lengannya.
Pria itu membuka mata, menoleh pada sang istri yang telah memasang senyum lebar.
"Kak, wajah dan telingamu memerah, itu karena malu padaku, kan?"
.
.
.