NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

BAB 34

"Hei, Qatilah! Apa kau yakin ini jalan yang aman? Kalau kita ketahuan, kita berdua bisa dipenggal, tahu!" desis sebuah suara dari balik bayangan pilar batu yang dingin.

"Yah... nasib kalau memang itu terjadi," balasku kelewat santai. Mataku tetap awas mengamati pola pergerakan obor di ujung lorong, menghitung interval waktu dengan presisi.

"Hei! Jangan bercanda!" Pria muda di belakangku menarik kerah tuniknya yang sudah basah oleh keringat dingin. "Aku bahkan belum menikah! Aku masih ingin hidup!"

"Ssst... cerewet." Aku menoleh, menatapnya tajam dari bawah. "Diam dan ikuti saja aku. Lagipula, kita tidak punya pilihan lain, dan ini semua pada dasarnya juga salahmu!"

"Ya Tuhan... semoga Kristus dan para malaikat-Nya melindungi kita dari maut..." gumamnya parau, tangannya yang gemetar sibuk membuat tanda salib berulang kali di depan dada.

Aku memutar bola mata, lalu menyandarkan punggung sejenak pada dinding batu kapur yang dingin. Hawa lorong ini menghembuskan aroma lilin lebah dan debu. Sambil menunggu patroli penjaga di ujung lorong berbelok, tanpa sadar jemariku meraba permukaan tunik kasar yang kukenakan, tepat di area perut.

Tiga bulan.

Waktu berjalan begitu aneh di tempat ini. Ya, sudah sembilan puluh hari berlalu sejak dinginnya mata panah itu merobek perutku di tepi sungai es, merenggut kebebasanku, dan memisahkanku dari Goran serta Mila secara paksa. Lebih dari itu... tiga bulan sejak malam mengerikan di mana Tante Ruth menghembuskan napas terakhirnya.

Luka menganga di perutku perlahan telah menutup. Kulit melepuh bekas besi panas yang kutempelkan sendiri itu kini menjadi jaringan parut yang tebal. Bekasnya masih sering berdenyut ngilu dan gatal saat udara malam sedang menusuk tulang, tetapi setidaknya, secara ajaib, aku masih bernapas.

Bayi Tante Ruth juga selamat. Di tengah kebiadaban orang-orang yang menculik kami, bayi merah itu terus menangis menuntut haknya untuk hidup. Karena terlalu banyak hal gila yang terjadi dan aku tak sempat merenungkan nama yang puitis, aku memutuskan untuk memberikan nama kakeknya kepada bayi itu: Ezra.

Kini, rutinitasku di tempat asing ini berputar pada Ezra dan belasan anak budak lainnya.

Kerajaan ini rupanya memiliki birokrasi yang cukup pragmatis. Karena pola pikirku yang jauh lebih teratur namun terperangkap dalam tubuh Anak-anak yang tak punya tenaga untuk memecah batu, para pengawas menganggapku lebih efisien dipekerjakan sebagai pengasuh anak-anak budak yang masih terlalu kecil untuk bekerja di ladang atau tambang. Mau tidak mau, aku menerimanya tanpa protes. Selama Ezra tetap berada dalam jangkauanku, aku tidak punya alasan untuk menolak takdir ini.

Hening yang sedari tadi menemani kami tiba-tiba pecah. Suara gesekan logam dan derap langkah sepatu bot bergema memantul dari arah depan.

"Kenapa berhenti?" bisik pria di belakangku panik.

Aku langsung mengangkat kepalan tangan, memberi isyarat mutlak padanya. "Ada penjaga. Diamlah!"

Kami menekan tubuh merapat pada dinding cekung di persimpangan koridor. Di ujung lorong, dua orang penjaga berzirah besi berat sedang berdiri menggosok-gosokkan sarung tangan mereka di dekat obor.

"Bagaimana rasanya dikirim ke garis depan?" tanya penjaga pertama.

Penjaga kedua mendengus kasar. "Kau akan menyesal pernah bertanya. Aku masih bersyukur bisa kembali hidup-hidup dan melihat anak-anakku lagi. Orang-orang Bizantium itu memiliki jumlah prajurit elit yang seolah tak ada habisnya. Aku tidak yakin Kerajaan Valenia kita ini bisa terus bertahan menahan gempuran mereka."

"Dan di saat genting seperti ini, Raja kita malah lebih fokus mengumpulkan banyak wanita," gerutu penjaga pertama dengan nada sinis.

"Ssst! Pelankan suaramu, bodoh!" tegur penjaga kedua panik, melirik ke sekeliling. "Jika ada telinga lain yang mendengar, kepalamu bisa melayang besok pagi!"

"Jadi, kau tidak akan mengajukan diri lagi ke garis depan?"

"Itu sudah jelas. Ngomong-ngomong, apakah setoran wanita dari suku-suku dan desa-desa pinggiran yang kerajaan kita lindungi masih terus berjalan?"

"Sepertinya jumlahnya sudah dikurangi drastis semenjak beberapa bulan lalu."

"Kenapa? Apa Raja kita sudah mulai merasa cukup?"

"Bukan," jawab penjaga pertama, suaranya merendah. "Tiga bulan lalu aku sempat ikut misi untuk mengambil kembali para wanita yang direbut oleh pihak Bizantium. Suku tempat para wanita itu berasal kabarnya telah dimusnahkan. Jadi, tak akan ada lagi setoran dari sana."

"Tunggu... jadi pasukan Bizantium itu menyerang suku-suku dan desa yang kita lindungi? Tapi untuk apa?"

"Mana aku tahu. Mungkin itu bagian dari strategi mereka."

Suara derap langkah kedua penjaga itu mulai kembali bergema, bergerak menjauh menyusuri koridor lain. Namun, percakapan mereka masih tertinggal dan bergaung keras di kepalaku. Aku menahan napas di balik bayangan pilar, membiarkan keheningan malam kembali merayap masuk.

Valenia.

Seperti yang baru saja kudengar, saat ini aku sedang berdiri sebagai budak di jantung sebuah kerajaan bernama Valenia. Dari arah rasi bintang, letak geografis, dan iklimnya, aku cukup yakin kami berada di daratan sebelah utara Laut Hitam. Dan fakta ini sukses membuat otak mahasiswiku berpikir sangat keras.

Dalam seluruh catatan literatur dan manuskrip sejarah yang pernah kupelajari di Al-Azhar, nama Kerajaan Valenia sama sekali tidak pernah ada. Secara historis, wilayah utara Laut Hitam pada abad keenam ini seharusnya sudah, atau akan segera, diintegrasikan ke dalam Kekaisaran Bizantium.

Logikanya hanya satu: Kerajaan Valenia ini akan segera rata dengan tanah, dihancurkan tanpa sisa oleh Bizantium hingga eksistensi mereka terhapus permanen dari sejarah. Sialnya, aku sedang terjebak di dalam kapal yang akan segera karam ini. Semoga saja penghancuran itu tidak terjadi dalam waktu dekat.

Bunyi pantulan sepatu bot besi itu akhirnya benar-benar hilang ditelan kelokan lorong. Aku mengintip sedikit dari balik pilar untuk memastikan keadaan aman.

"Sepertinya mereka sudah pergi," bisikku sambil menoleh ke belakang.

Pria itu membuang napas panjang yang sedari tadi ditahannya, bahunya merosot lega. "Huuufft... ayo jalan lagi."

Kami kembali mengendap-endap menembus koridor gelap. Hanya suara gesekan alas kaki kami yang terdengar. Di tengah keheningan yang kembali menegangkan ini, pikiranku merajut ulang bagaimana aku bisa berakhir keluyuran di tengah malam seperti ini.

Tiga bulan ini memang mengubah banyak hal. Salah satu perubahan paling revolusioner adalah: aku akhirnya mulai bisa membaca dan menulis aksara lokal. Memang masih terbata-bata dan butuh waktu untuk mengeja, namun itu jauh lebih baik daripada saat aku bahkan tidak bisa membedakan satu huruf dengan huruf lainnya.

Dan orang yang mengajariku adalah laki-laki cerewet yang sekarang sedang berjalan di belakangku ini.

Namanya Niketas. Umurnya sekitar awal dua puluhan. Ia adalah putra dari seorang juru tulis kerajaan bernama Theodoros, sekaligus seorang penganut Kristiani yang sangat taat. Pertemuan kami berawal dari ironi yang menggelikan. Niketas bertugas sebagai pencatat stok gudang perbekalan para budak. Dan entah karena kebetulan atau memang ini jalan Allah, aku berakhir mengajarinya matematika modern saat ia nyaris gila kesulitan mencatat dengan pasti barang-barang di gudang.

Sebagai gantinya, ia mengajariku baca tulis. Awalnya aku hanya mengajarinya penjumlahan dan perkalian sederhana. Namun, wajahnya berubah seolah baru saja melihat mukjizat turun dari langit ketika mengetahui ada cara berhitung yang jauh lebih cepat daripada metode sempoa dan coretan angka yang biasa dia gunakan.

Ngomong-ngomong, jika kalian bingung, di tempat ini peradabannya sudah lebih maju. Mereka menggunakan penanggalan tahun dan bukan lagi sekadar menghitung "musim dingin" seperti di wilayah Goran. Intinya sama-sama 365 hari, hanya cara mereka menghitung dan membaginya yang sedikit berbeda.

Ingatan tentang wajah tercengangnya saat pertama kali melihat rumus angka membuatku hampir tersenyum, namun langkah kami yang akhirnya tiba di sebuah persimpangan memaksaku kembali fokus pada realita.

Bayangan gelap lorong berakhir di sini. Sebuah pintu kayu oak tebal berpalang besi berdiri kokoh di hadapan kami.

"Wow... kau benar, Qatilah! Jalan pintas ini langsung mengarah ke gudang tanpa terlihat oleh para penjaga!" bisik Niketas takjub.

"Sudah kubilang, kan?" balasku melipat tangan di dada.

"Tapi, bagaimana caramu bisa tahu rute rahasia ini? Kau kan baru tiga bulan berada di sini."

"Itulah gunanya cara hitung yang kuajarkan padamu, Niketas! Huruf-huruf dan rumus probabilitas itu tak hanya bisa digunakan untuk menghitung barang, tapi juga menghitung jadwal rotasi penjaga."

Niketas membelalakkan matanya kagum. "Benarkah? Kalau begitu kau harus mengajari cara hitung... mati-matata yang itu juga kepadaku! Hmm, kau ini benar-benar aneh. Umurmu baru lima tahun saat kau masih menjadi bangsawan dulu, kan? Memangnya seberapa banyak hal gila yang diajarkan keluargamu?"

"Matematika!" ralatku jengah, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Dan itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah, bagaimana cara kita masuk? Pintunya kelihatan dikunci rapat dari luar."

Niketas tersenyum sombong, menepuk dadanya sendiri. "Aku kan pengurus gudang ini. Tentu saja aku membawa..."

Tangannya meraba sabuk pinggangnya. Senyumnya mendadak luntur. Ia merogoh kantong tuniknya dengan panik.

"...heh? Di mana kunciku?"

Aku memejamkan mata, memijat pelipisku pelan menahan emosi. "Sudah kuduga kau memang tidak bisa diandalkan."

"Aaah, sialan! Sepertinya aku lupa menutup pintu gudangnya tadi sore, jadi kuncinya tertinggal di dalam!"

Aku mendengus kasar, bersiap mengomeli kebodohannya yang bisa membuat kami berdua kehilangan kepala malam ini. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari mulutku, hawa dingin yang tak wajar tiba-tiba menyergap tengkukku.

"Apa kalian mencari benda ini?"

Sebuah suara wanita yang serak namun sarat akan otoritas mutlak tiba-tiba memecah keheningan.

Kami berdua membeku seketika. Aku menoleh perlahan.

Seorang nenek tua dengan postur anggun dan gaun sutra kelabu melangkah keluar dari bayangan pilar. Di tangannya yang keriput namun dihiasi cincin-cincin emas, sebuah kunci besi berayun pelan memantulkan cahaya obor.

Mata Niketas nyaris melompat keluar. Pemuda itu langsung menjatuhkan diri, berlutut menyapu lantai batu dengan tubuh gemetar hebat.

"Ib... Ibu Suri...?" cicit Niketas dengan suara yang nyaris putus.

Tubuhku kaku. Darahku terasa membeku. Otakku seolah berhenti berputar.

Ibu Suri?

Ya Allah... matilah aku sekarang.

1
Eka
agak bosen sih Thor 2 bab dialog semua, walaupun akhirnya banyak yg terungkap 👍
Maya: sabar ya 🤭
total 1 replies
ThuscarRabbit
nih thor bunga 🤭 /Plusone//Rose/
ThuscarRabbit
gw suka ilustrasinya
Maya: makacih 😄
total 1 replies
ThuscarRabbit
pasti gatel geli geli 🤣
ThuscarRabbit
Bagus sih, isekai tema timur tengah
ThuscarRabbit
berani ya authornya bikin isekai model begini but, semangat aja thor 💪, yg penting enggak melenceng dari sejarah asli 🤭
Maya: semoga ya 🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
loh kok? ohhhh maksud nya bab 1 nya di bawah ya? aduhaku bingung🤣
Maya: ooo iya itu 🤭, males ngarang judul 😄
total 3 replies
Eka
Keren Thor di tunggu updetnya
Eka
oh ini ganti POV ya?
Eka
judulnya apa Thor?
Maya: Thats the way it is 😄
total 1 replies
Eka
wajar sih
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka
yg satu kepo GK prnah liat orang tua yg tua cerdik bet kek kancil 🤣
Eka
kasian 🤣
Eka
detail ya juga gambarinnya ya
Eka
buset beda jauh badannya ya😄 padahal di bab brapa gitu yg ada gambarnya juga masih sama kecilnya sama si mc
Eka
oh jadi emang anak kandung si raksasa ya
Eka
time skip lagi
Eka
sebarbar itu emang ya jaman itu
Eka
suka ni udah mulai ada ilustrasi gambarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!