NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aspal Panas

Viktor duduk di satu-satunya kursi besi yang tersedia, sementara Seravina berdiri di sampingnya dengan wajah berseri-seri, seolah ia baru saja menyajikan mahakarya dari koki bintang lima.

"Selamat makan," ucap Seravina riang, meletakkan sebuah mangkuk keramik retak di depan Viktor.

Viktor menunduk, menatap isi mangkuk itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Di depannya tersaji sesuatu yang seharusnya disebut sebagai bouillabaisse, namun penampakannya lebih mirip dengan cairan sisa pembersihan mesin yang bercampur dengan potongan benda-benda keras. Warnanya ungu kecokelatan yang mencurigakan, dengan permukaan yang sedikit berbuih dan mengeluarkan aroma yang... tajam di hidung.

Makanannya dari neraka... batin Viktor sambil tetap mempertahankan wajah datarnya.

Ada sepotong wortel yang masih utuh dan keras, serta potongan ikan yang tampak seolah-olah telah bertarung hidup dan mati di dalam panci panas tadi. Seravina memberikan sendok ke tangan Viktor, menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh harap, menunggu reaksi pertama dari pria yang biasanya tidak takut pada apa pun—kecuali mungkin, pada masakan ini.

"Kenapa diam saja?" tanya Seravina, tangannya bertumpu di atas meja, mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Viktor. "Kau bilang tadi lapar, kan? Aku sudah susah payah membuatnya untukmu."

Viktor memegang sendok itu seolah sedang memegang senjata tajam. Ia melirik Seravina, lalu kembali menatap sup maut di depannya. Pria yang baru saja menumbangkan raksasa di ring tanpa berkeringat itu kini tampak ragu-ragu untuk menyuapkan satu sendok cairan itu ke dalam mulutnya sendiri.

Viktor menatap mangkuk itu cukup lama, seolah sedang menghitung peluang keselamatannya jika cairan itu sampai menyentuh kerongkongannya. Sendok di tangannya sudah menggantung di udara, namun ia tidak kunjung menyuapkannya.

Seravina semakin mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit penuh selidik. "Ayo, Viktor... Satu suapan saja."

Viktor meletakkan kembali sendoknya ke atas meja dengan bunyi klunting yang pelan namun pasti. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke arah Seravina dengan ekspresi paling serius yang pernah ia tunjukkan.

"Aku lagi diet," ucap Viktor singkat dan padat.

Hening.

Dapur kecil itu mendadak sunyi sesunyi padang salju Siberia di tengah malam. Seravina berkedip berkali-kali, mulutnya sedikit terbuka seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Diet?" ulang Seravina dengan nada tinggi yang tidak percaya. "Kau? Petarung setinggi beruang kutub yang ototnya saja butuh ribuan kalori per hari, bilang padaku kau sedang... diet?!"

"Ya. Diet ketat," jawab Viktor tanpa berkedip. Wajahnya begitu meyakinkan sampai-sampai jika ada orang lain di sana, mereka mungkin akan percaya bahwa Viktor hanya makan satu butir kacang polong sehari. "Aku tidak bisa makan... makanan berminyak dan... ungu seperti ini."

Padahal semua orang tahu, lima belas menit yang lalu Viktor baru saja menghabisi raksasa di ring dan biasanya dia bisa melahap satu porsi besar daging sapi tanpa sisa.

Seravina menatap mangkuk masakannya, lalu kembali menatap Viktor. Ia merasa ingin marah, tapi alasan Viktor yang begitu konyol justru membuatnya ingin tertawa lagi.

"Viktor," ucap Seravina dengan nada yang mulai manis namun berbahaya. "Kau lebih memilih bilang sedang diet daripada mengakui kalau masakanku terlihat seperti racun tikus, ya?"

"Ternyata kau sadar," sahut Viktor pendek.

Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa filter.

Seravina tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata. Ia hanya diam, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat manis. Ia menatap Viktor dengan binar mata yang jernih, seolah ia adalah wanita paling sabar di seluruh Rusia.

Di balik senyum malaikat itu, isi kepala Seravina jauh dari kata damai.

Dalam imajinasinya, ia sudah meraih pisau dapur berkarat yang ada di samping mangkuk sup, lalu dengan gerakan secepat kilat mencucukkannya tepat ke dalam mulut lancang pria di depannya ini. Ia membayangkan betapa menyenangkannya melihat ekspresi terkejut Viktor saat lidahnya tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata jujur yang menyebalkan itu. Ia ingin sekali merobek wajah datar yang tidak punya sopan santun tersebut.

"Oh... begitu ya?" ucap Seravina akhirnya, suaranya tetap lembut dan tenang, berbanding terbalik dengan hasrat membunuh yang sedang menari-nari di otaknya.

"Jadi..." Seravina memulai, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh tekanan yang tersembunyi. "Kau benar-benar tidak mau makan? Sedikit pun tidak?"

Ia bertanya sekali lagi, memberikan kesempatan terakhir sebelum kesabarannya benar-benar habis. Matanya melirik ke arah pisau dapur yang tergeletak tak jauh dari tangannya, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus memaksa makanan itu masuk ke tenggorokan Viktor atau menggunakan pisau itu untuk hal lain yang lebih memuaskan hasrat marahnya.

Viktor melirik ke arah mangkuk itu, lalu kembali menatap Seravina dengan tatapan yang sama sekali tidak goyah. Ketegangan di antara mereka merayap naik, memenuhi dapur kecil yang berantakan tersebut.

Tanpa mengeluarkan suara, Viktor hanya memberikan respon singkat. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, sekali ke kiri dan sekali ke kanan. Matanya tetap menatap lurus ke arah Seravina dengan ketegasan yang mutlak.

Seravina yang melihat gelengan kepala itu hanya bisa terpaku, senyum manisnya masih tertahan, urat di pelipisnya tampak sedikit berdenyut menahan emosi.

Viktor menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan kepasrahan. Ia menatap mangkuk di depannya seolah sedang menatap jurang kematian. Entah karena rasa kasihan melihat wanita gila itu berdiri terus di sana, atau karena ia merasa berhutang nyawa pada kesabarannya sendiri, Viktor akhirnya menyerah.

Ia meraih kembali sendok logam yang tadi ia letakkan.

Dengan gerakan yang sangat lambat—nyaris seperti gerakan lambat di film horor—ia menyendok sedikit cairan ungu pekat yang permukaannya tampak berminyak itu. Ia bisa merasakan tatapan Seravina yang kini terpaku pada setiap gerakannya, menanti dengan binar mata yang kembali berkilau.

Viktor membawa sendok itu ke depan mulutnya. Aroma tajam yang menusuk hidung membuatnya sempat berhenti sejenak.

Ia memejamkan mata dan... hap.

Ia memasukkan sesendok makanan neraka itu ke dalam mulutnya.

Seketika, seluruh indra perasa Viktor seolah meledak dalam protes. Rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata; ada sensasi pahit yang ekstrem, asam yang menusuk, dan tekstur yang seharusnya tidak ada dalam makanan manusia.

Dengan kekuatan mental seorang petarung yang sudah biasa menahan rasa sakit, Viktor tetap diam. Ia mengunyah pelan sesuatu yang keras di dalamnya—yang ia curigai sebagai tulang ikan yang belum dibersihkan—lalu menelannya dengan susah payah.

Jakunnya naik turun saat cairan itu melewati tenggorokannya. Viktor membuka matanya, wajahnya tetap datar seperti tembok, meski di dalam perutnya ia merasa seolah-olah baru saja menelan cairan pembersih lantai yang dipanaskan.

"Bagaimana?" tanya Seravina dengan suara yang sengaja dilembutkan, tetap mengandung nada menuntut. "Enak?"

Viktor terdiam, mencoba menetralkan rasa mual yang mengocok perutnya sebelum menatap Seravina dengan pandangan kosong.

"Seperti makan aspal panas," jawab Viktor datar.

Mendengar jawaban Viktor, Seravina justru tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung. Sebaliknya, ia malah membusungkan dadanya dengan bangga, seolah aspal panas adalah pujian paling tinggi bagi seorang koki amatir sepertinya.

Ia tersenyum lebar, mencondongkan tubuhnya ke arah Viktor dengan binar mata yang penuh kemenangan.

"Berarti itu maksudnya enak, kan?" tanya Seravina dengan nada suara yang sangat bangga dan penuh percaya diri. "Aku tahu itu! Aspal panas kan memberikan kesan yang kuat, berkarakter, dan... membekas. Persis seperti aku!"

Ia bahkan tidak peduli betapa anehnya perumpamaan itu bagi orang normal. Di dalam logika Seravina yang sedikit melintir, jika Viktor tidak langsung mati atau memuntahkannya, berarti masakannya adalah sebuah kesuksesan besar.

"Ayo, habiskan! Jarang-jarang kau bisa makan makanan berkarakter seperti ini!" serunya riang sambil menepuk-nepuk bahu Viktor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!