Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Hua Khon untuk Sang Pangeran
"Topeng? Apa pangeran benar mencari topeng?" Wai Hang merenggangkan otot-ototnya.
"Iya, aku membutuhkan topeng"
Pangeran muda Syah Hang, berdiri dan keluar dari kandang kuda tempat bermalam mereka.
"Untuk apa topeng itu?"
"Aku ingin memakainya"
Wai Hang kembali dibuat berpikir oleh sang pangeran Syah Hang. Lalu Wai Hang mencoba mencari tahu alasan mengapa sang pangeran ingin menggunakan topeng.
"Apakah maksud pangeran kita akan menyamar? Ini strategi?"
"Mereka menyingkirkan ibuku dengan topeng-topeng yang penuh kebusukan. Sehingga membuat ayahku membuang ibuku dari istana. Jadi aku ingin menggunakan cara yang sama untuk membalas mereka"
Wai Hang menghela nafas. Kini dia sudah mendapatkan jawabannya. Dan memang benar dengan topeng kepalsuan dan kelicikan, Selir Tsu En menyingkirkan permaisuri Hyung Pathan.
"Apakah kita akan menggunakan tipu daya, dan kelicikan juga untuk membalas mereka pangeran?"
"Hanya topeng, dan sedikit siasat. Tapi tidak dengan tipu daya" Sorot matanya terlihat menyimpan amarah yang terpendam tapi menyala-nyala.
"Topeng nyata, untuk membuat kita leluasa berada di sekitar mereka. Dan siasat untuk menyingkirkan mereka. Ide yang bagus pangeran"
"Sekarang kita cari topeng yang cocok untukku"
"Lalu untukku?" panglima Wai berisyarat memakaikan topeng di wajahnya.
"Cukup aku saja yang bertopeng. Karena mereka pasti mencari-cari ku sampai detik ini"
"Aku juga memerlukan topeng pangeran"
Pangeran muda Syah Hang berbalik badan menghadap Wai Hang. Lalu tersenyum dengan gigi geraham yang hampir terlihat semua.
"Wajah panglima Wai sudah sangat berubah dari dua puluh tahun yang lalu. Aku rasa tidak perlu menggunaka topeng"
Mantan Panglima Perang Wai Hang pun meraba wajahnya perlahan. Benar apa yang dikatakan. Dua puluh tahun itu bukan waktu sebentar. Tentunya wajah dan penampilan sudah berubah.
"Apa aku sudah terlihat sangat tua pangeran?"
Pangeran muda Syah Hang tertawa geli hampir tanpa suara. Lalu pangeran Syah mengambil sebuah cermin kecil dari balik pakaiannya.
"Ini, lihatlah" cermin kecil itu diberikan pada Wai Hang.
"Aku belum setua itu tuan Pangeran" Wai Hang pun bercermin dengan cermin dari pangeran muda Syah Hang.
Dipandanginya wajahnya dengan teliti dan seksama. Cukup lama dipandanginya wajah nya yang sekarang. Tapi pikirannya kembali dua puluh tahun silam. Bayangan wajahnya yang masih muda dan gagah muncul dalam cermin. Pakaian kebesaran panglima perang, dengan topi baja serta pin tanda pasukan elit istana sempurna menambah wibawa dan kegagahan Wai Hang dimasa gemilangnya.
"Apa sudah jelas, anda tidak perlu menggunakan topeng. Karena selir Tsu En dan pengikutnya tak akan mengenalimu lagi" Pangeran Syah Hang tersenyum menahan tawa gelinya.
Wai Hang sadar jika ia sedang ditertawakan oleh tuan sekaligus pangerannya. Wai memasang wajah setegas mungkin. Lalu cermin pun dikembalikan kepada tuannya.
"Tapi aku rasa aku harus menambahkan kumis dan jenggot untuk benar-benar membuat mereka tak mengenaliku lagi"
"Ide cemerlang panglima Wai"
Pangeran muda Syah berjalan menuju kuda milik Wai Hang. Lalu ia menaikinya dan berkata pada Wai Hang.
"Aku akan kembali sebelum matahari terbit" sekali menarik tali pelana kudanya pun melesat menghilang di kegelapan malam buta.
"Tunggu pangeran!!" teriakan Wai Hang pun tak bisa menghentikan pengeran muda Syah Hang dalam pencarian topengnya.
"Pangeran yang aneh" Wai Hang hanya bisa memutar bola matanya karena tingkah sang pangeran pewaris tahta kerajaannya.
~~
Dalam perjalanan
Pencarian topeng yang akan dipakainya, pangeran Syah Hang memacu kudanya ke arah timur laut tepian kota. Firasatnya yang membawanya ke arah sana. Bahkan gambaran seperti apa topeng yang akan dipilihnya pun belum terlintas di benaknya. Tapi Syah Hang sang pangeran pewaris tahta Raja Hang Dzo itu terus memacu kudanya hingga sampai di sebuah perkampungan.
Tali pelana kudanya ditarik hingga sang kuda hitam perkasa itu meringkik dengan kedua kaki depannya terangkat tinggi-tinggi.
Dan kuda hitam itu pun berhenti, pangeran Syah Hang turun dari punggung kudanya. Diikatnya tali kendali kuda di pohon yang tidak jauh dari tempat berdiri.
"Sunyi sekali" pangeran Syah mulai berjalan menuju perkampungan.
Sayup sayup terdengar suara keramaian dari ujung jalan sana. Suara gong, seruling beserta alat-alat musik lainnya. Seperti sebuah pesta pertunjukan. Seiring langkah sang pangeran Syah Hang, suara itu semakin jelas. Tandanya memang semakin dekat dengan sumber suara.
Dan ternyata memang benar. Sebuah pertunjukan opera di tengah malam buta. Terlihat para penduduk kampung ramai menonton pertunjukan opera tersebut. Dari orang tua, dewasa, ibu-ibu hingga ke anak-anak pun ada disana.
"Pertunjukan opera" Sang Pangeran bersandar pada sebuah pohon dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Kedua matanya terus memperhatikan ke pertunjukan opera yang tampak menarik. Senyuman pun mulai terkembang di bibir pangeran muda Syah Hang. Ada sesuatu yang membuat pangeran Syah senang. Ya, sebuah topeng. Akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya. Topeng, sebuah topeng untuk ia pakai sebagai identitas barunya.
Para pemain opera disana menggunakan topeng. Topeng pertunjukan opera yang memang terlihat sangat menarik. Dan juga bukan sembarang topeng. Karena setiap topeng yang dipakai pemain opera, menunjukkan karakter tokoh dalam cerita yang dibawakannya. Pangeran muda Syah Hang pun dengan sabar menunggu pertunjukan opera itu hingga usai. Tujuannya hanya satu, yaitu topeng. Ada satu topeng yang membuatnya tertarik untuk memilikinya. Topeng raksasa hijau bermahkota emas.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Pertunjukan opera usai sudah. Para penonton pun membubarkan diri kembali ke rumah mereka masing-masing. Yang tersisa hanya para pemain opera yang sedang bersiap untuk merapikan tempat pertunjukannya.
Pangeran Syah Hang segera menghampiri para pemain opera itu.
"Selamat pagi tuan-tuan" Syah Hang memberi salam pada seorang pemain opera yang memerankan tokoh dibalik topeng yang sedaritadi diincarnya itu.
"Iya tuan" jawab pemeran topeng hijau Khon yang membuat pangeran Syah Hang kepincut.
"Maaf aku dari desa lembah damai putih. Apakah topeng itu dijual?" dengan mata yang tidak lepas dari topeng hijau yang sedang di rapikan oleh tuannya.
"Anda menginginkan topeng Ra Khon ini?" katanya sambil membersihkan topengnya sehingga terlihat bercahaya dan mengkilap.
"Iya, aku ingin membelinya" Syah Hang terus saja memperhatikan topeng yang dinamai topeng Ra Khon oleh empunya alias pemiliknya.
Pemilik topeng tersenyum simpul lalu menyimpan topeng Ra Khon itu ke dalam peti. Lalu dikeluarkannya topeng yang hampir mirip dengan topeng Ra Khon yang diinginkan pangeran Syah. Hanya saja sedikit berbeda warnanya. Topeng yang baru dikeluarkan berwarna hijau, namun tidak begitu mengkilap seperti topeng Ra Khon.
"Kalau anda mau ambilah yang ini" disodorkannya topeng itu kepada pangeran Syah Hang.
"Ini boleh kubeli?" pangeran Syah Hang ragu untuk menerimanya.
"Ia, ambilah. Ini lebih cocok untuk anda. Ini topeng Hua Khon"
"Apa perbedaan topeng Ra Khon dan Hua Khon?" tanyanya pada sang empunya.
"Hua Khon adalah raja raksasa dalam kisah ravayan di tradisi kami"
"Dia karakter hebat? Baik?" Pangeran muda Syah Hang sangat antusias bertanya.
"Hua Khon Raja yang bijak, Sayanga dia Raksasa" jawab sang empunya.
"Apa aku cocok dengan topeng ini" keraguan mulai muncul di benak pangeran Syah.
"Aku rasa cocok, karena Sebenarnya Hua Khon tidak seperti yang dikisahkan" sang empunya topeng mulai memperhatikan pangeran Syah Hang dengan teliti.
"Apa ada yang aneh dengan ku?" tanyanya kepada pemeran opera yang malah memperhatikannya dengan teliti.
"Tidak tuan, aku hanya memastikan anda cocok dengan topeng Hua Khon"
"Benarkah?" sambil mencoba memakai topeng Hua Khon itu ke wajahnya.
"Sungguh topeng itu lebih cocok untuk anda tuan" dengan mata yang membulat memandangi pangeran Syah Hang.
"Baiklah, aku menerimanya" sambil melepas topeng diwajahnya.
"Berapa aku harus membayar nya?" Syah Hang merogoh kantong uang miliknya.
"Ehhh...tidak usah tuan, itu untuk anda. Topeng Hua Khon itu aku berikan untuk anda" kata pemilik topeng degan senyuman.
"Ini sungguhan?" dengan senyum yang lebar di bibir pangeran Syah Hang.
"Iya tuan. Topeng Hua Khon itu sekarang milik anda"