Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Terlalu jauh
Di kamar sebuah hotel, tempat Aditya membawa Laras kencan. Laras masih enggan berdekatan dengan Aditya, tentu saja karena traumanya muncul semakin menghantui. Mewanti untuk selalu waspada. Walau Aditya lebih muda darinya, tapi dia cowok yang memiliki tenaga lebih besar daripada cewek. Laras tidak boleh lengah barang sedetikpun.
"Santai aja dong, ini kan kencan pertama kita... Laras sini duduk, emang enggak capek berdiri nempel tembok gitu? Mau cosplay jadi cicak?" Aditya kembali pada sifat aslinya. Berbicara seperti kereta tanpa peduli keadaan Laras.
"Panggil aku kak."
"Kak Larass, sini donggggg." Aditya menggoda, cowok itu mendekati Laras. Menarik tangan yang sudah dingin itu. Aditya merasakan perbedaan suhu dirinya dan Laras.
"Kayaknya tadi berani bener, tapi ini?" Cowok itu menatap tangan Laras kemudian mengunci pandangan Laras. "Loe enggak bakal bisa macem-macem sama gue, yang ada justru kebalikannya."
Ancaman itu bukan sungguhan, Aditya hanya ingin mengerjai Laras. "Sini duduk, gue cuma mau istirahat kok." Kali ini suaranya melembut, Aditya benar-benar lelah.
Tidak ada yang bisa Laras lakukan selain menurut. Gadis itu akhirnya mengikuti kemauan Aditya. Duduk dengan bersandar di ranjang, sedangkan Aditya tidur disebelahnya, tangan cowok itu masih terus menggenggam erat tangan Laras. Menjadikan sebagai penyangga pipi.
Laras mengamati sekitar dan pandangannya tertuju pada jaket di ujung ranjang. Setitik cahaya datang. Sekarang, Laras mulai menenangkan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan pelariannya. Gadis itu bersandar dengan lega, menatap tangan yang semakin menghangat karena terus dalam dekapan Aditya. Mereka saling meng-transfer suhu tubuh.
Aditya adalah cowok paling nekat yang pernah Laras temui, entah karena masih dalam masa peralihan atau didikan orang tua. Gadis di luar sana mungkin akan senang jika menjadi dirinya saat ini. Tapi untuk Laras sendiri, Aditya adalah cobaan terbesar dalam hidupnya.
Selama ini Laras selalu hidup dalam kedamaian, selalu menghindar orang-orang dengan tenaga berlebih. Membatasi pertemanan untuk menjaga energinya tetap stabil. Dan kedatangan Aditya, sukses menguras energi dalam dirinya. Laras tidak bisa bertahan dalam lingkungan yang bebas dan ramai, gadis itu cepat sekali lelah. Semangat dalam hidupnya tidak sebesar orang -orang. Laras hanya mentolerir 2 manusia seperti Aditya, Rara sang adik dan Rani teman dari kecil sampai saat ini.
Di lain sisi, Aditya tidak sepenuhnya tidur. Walau mata tertutup, dirinya tetap terjaga. Beberapa kali Aditya mencuri-curi pandang sambil berpikir hal apa yang membuat Laras tidak tertarik kepadanya. Ganteng? Iya
Proposional? Iya
Agak berotot? Iya
Kaya? Apalagi!
Harusnya Aditya tidak perlu memikirkan sebegitu keras. Tapi sayangnya tidak bisa. Dari awal mereka bertemu, Aditya memang sudah menaruh penasaran pada Laras. Tingkah aneh Laras dan tatapan Laras yang tidak pernah tertarik dengan apapun. Maksudnya Aditya belum menemukan hal yang bisa membuat Laras tertarik, tapi mungkin saat ini gadis itu sedang terobsesi dengan satu benda. Proxy card, sebuah kartu akses yang digunakan untuk membuka pintu hotel. Dugaan Aditya langsung terbukti saat Laras dengan sangat pelan menarik tangannya.
Gadis itu berusaha melepaskan diri dan Aditya terus mengamati dalam diam dan gelap. Membiarkan Laras melakukan apapun yang direncanakan.
Aditya diam-diam membuka matanya tanpa Laras tahu, melihat Laras yang perlahan bangkit dan mengambil jaket Aditya. Mencari kartu akses yang tersimpan di saku. Aditya dapat melihat senyum sumringah Laras, tapi sayangnya, untuk saat ini gadisnya harus lebih cepat kehilangan senyum itu.
"Mau ngapain, kak Larasss?" Aditya langsung bangkit dan menarik kembali tubuh Laras. Menjatuhkannya ke kasur, memerangkap tubuh itu dalam pelukan kuat, bersamaan dengan teriakan Laras yang memecah keheningan.
Sialan, Laras memaki. Degupan jantung melonjak begitu saja. Sedangkan Aditya malah terkekeh, cowok itu segera mengambil ponsel di atas nakas. Membuka fitur kamera dan mengambil beberapa foto dirinya dan Laras. Foto-foto yang terlihat int*m sedikit menampakkan wajah Laras. Make up tipis membuat wajah Laras terlihat natural di dalam foto.
Laras berusaha mengambil ponsel Aditya, tapi cowok itu langsung menyimpan ponselnya di saku celana.
Tawa Aditya terdengar renyah di telinga Laras. "Kalo foto kita kesebar pasti seru." Aditya membayangkan betapa heboh jagat Maya saat foto itu beredar.
Laras tidak bersuara, tapi dirinya berusaha keras untuk keluar dari kungkungan Aditya. Di detik selanjutnya giliran Aditya yang mengunci pergerakan Laras. Cowok itu menindih tubuh Laras tanpa sungkan. Seakan sudah biasa melakukan hal tercela itu.
"Kak, kita menikah yuk." Sebuah ajakan konyol keluar dari mulut Aditya tanpa cowok itu pikirkan lebih dahulu. Sebuah ajakan spontan yang membuat Laras terkejut.
Tentu saja Laras menggeleng, menolak ajakan aneh itu. "Enggak!"
"Kenapa?"
"Please lepasin, aku capek Aditya." Laras tidak menjawab, gadis itu mengungkapkan perasaannya saat ini. Tubuh Laras lemas, ruang gerak yang sempit membuat Laras malas meronta.
"Menikah yuk... ."
Laras kembali menggeleng.
"Kenapa sih?"
"Kamu udah tau alasannya."
Aditya mengeluarkan tatapan nakalnya. Sebuah ide cerdik muncul. Berbekal video dewasa yang pernah ditontonnya, cowok tengil itu siap menjadikan Laras sebagai bahan uji coba. Sekaligus membuktikan kebenaran tentang kelainan Laras. walaupun Aditya yakin jika alasan itu hanya kebohongan, dirinya tidak peduli. Siapa suruh berbohong. Inilah akibat berkata bohong.
"Mulai dari mana yaa?" batin Aditya, ekspresi cowok itu sangat serius. Memperhatikan wajah, rambut, leher bahkan sampai d*da Laras. Membuat yang ditatap dilanda kepanikan.
"Jangan aneh-aneh. Jangan bertindak tidak sopan pada yang lebih tua." Laras menyadarkan Aditya akan jarak umur keduanya. Tapi Aditya tidak peduli. Tangan dengan urat yang sedikit menonjol itu membelai rambut Laras kemudian menyelusup ke belakang leher. Sedangkan tangan satunya mulai meraba ke tubuh bagian bawah. Aditya menghirup pelan aroma leher Laras dan langsung mendapat jambankan maut. Laras memukul tubuh Aditya sekuat tenaga. Membuat Aditya meringis.
Tidak terima dengan kekerasan yang di alami, Aditya menangkap kedua tangan Laras, menariknya ke atas kepala gadis itu kemudian mengikat dengan lengan jaket.
Laras masih mempertahankan kewarasan dengan menghentakan kaki. Menekuk kemudian mendorong tubuh besar diatasnya dengan sekuat tenaga. Aditya sempat lengah karena lutut Laras mengenai pinggangnya. Tapi hal itu cepat diatasi.
Aditya melanjutkan prakteknya, insting cowok itu menggiring tangannya agar semakin ke bawah. Mengelus pusat sensitivitas yang tertutup celana, menghantarkan ketegangan dan sukses melumpuhkan kewarasan Laras.
Laras meluruskan kaki karena tegang, sedangkan wajahnya mulai menahan tangis dan perasaan asing. Energinya hampir mencapai minus, hampir tidak ada cara untuk bertahan selain pasrah.
"Benar-benar luar biasa," Aditya mulai terlena. Tangannya semakin dalam bermain, bahkan kini mencoba untuk melepas satu persatu kain yang membungkus tubuh Laras.
"Persis seperti yang dikatakan Tommy," Aditya mengingat cerita dewasanya dengan Tommy saat mereka sedang nongkrong.