NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: FOTO DI DEPAN RENCANA RESTORAN

Pagi itu, udara di Sektor Bawah terasa lebih ringan daripada biasanya. Sisa-sisa pesta semalam masih tersisa dalam bentuk senyum yang tertinggal di wajah anak-anak panti dan kehangatan yang masih menyelimuti dada para anggota Squadron Aurora. Namun, sebelum kembali ke markas, Bimo bersikeras ada satu hal terakhir yang harus mereka lakukan.

"Ayo ikut aku," ajak Bimo, memimpin langkah mereka menyusuri jalan setapak berdebu di belakang panti asuhan. "Ada tempat yang ingin aku tunjukkan."

Mereka berjalan sekitar lima menit hingga tiba di sebuah tanah kosong yang cukup luas. Lokasinya strategis, berada di persimpangan jalan utama sektor ini, dekat dengan pasar pagi tapi tidak terlalu bising. Di sana hanya ada rerumputan liar yang tumbuh di antara retakan beton dan sebuah pohon tua yang batangnya bengkok namun masih rindang.

Bimo berhenti tepat di depan tanah kosong itu. Dia menatap hamparan lahan tersebut dengan pandangan yang begitu intens, seolah dia tidak melihat rumput liar dan beton retak, melainkan melihat bangunan megah yang sudah jadi di matanya.

"Ini dia," bisik Bimo, suaranya bergetar penuh harap. "Lokasinya sempurna. Dekat dengan keramaian, tapi punya halaman luas buat anak-anak main. Pohon itu bisa kita jadikan tempat duduk teduh di sore hari."

Dia merogoh saku seragamnya, mengeluarkan serbet kertas kusut yang sudah dilipat rapi—sketsa "Bimo's Corner" yang telah menjadi saksi janji mereka semalam. Dengan tangan gemetar karena emosi, Bimo membentangkan serbet itu, lalu menempelkannya dengan hati-hati pada batang pohon tua tersebut menggunakan selotip kecil yang dia bawa.

Sketsa restoran itu kini tergantung di sana, berkibar pelan ditiup angin pagi. Gambar garis pensil yang sederhana itu terlihat kontras dengan kenyataan lapangan yang masih gersang, namun bagi keempat sahabat itu, gambar itu lebih nyata dari gedung pencakar langit mana pun di Neo-Solara.

"Di sini," kata Bimo, menunjuk sketsa itu. "Nanti pintu masuknya ada di sini. Jendelanya besar, biar cahaya matahari bisa masuk. Dan di sudut sana..." jarinya menunjuk sudut kanan sketsa, "...aku bakal bikin dapur terbuka, biar pelanggan bisa lihat aku masak."

Kai tersenyum, matanya menyipit di balik kacamata hitamnya. "Sistem ventilasi bakal kubuat efisien biar bau masakan nggak nyengat ke jalan, tapi cukup menggoda buat narik pelanggan."

"Aku akan tanam bunga-bunga di sekeliling teras," tambah Elara, membayangkan warna-warni yang akan menghiasi tempat itu. "Biar siapa saja yang lewat merasa disambut."

Raka tidak berkata apa-apa segera. Dia hanya menatap sketsa itu, lalu menatap Bimo yang wajahnya bersinar penuh impian. Dadanya sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan: kebanggaan, cinta, dan ketakutan yang menghantui paling dalam. Dia tahu waktu mereka semakin sedikit. Dia tahu partikel emas di tubuhnya semakin banyak beterbangan setiap detiknya. Tapi melihat antusiasme Bimo, Raka memutuskan untuk mengubur rasa takut itu jauh-jauh.

"Bim," panggil Raka, melangkah maju hingga berdiri tepat di sebelah sahabat besarnya itu. "Ini bakal jadi restoran terbaik di seluruh Neo-Solara. Aku yakin."

Bimo menoleh, matanya bertemu dengan mata Raka. "Kamu yakin, Rak? Bukan cuma mimpi anak preman yang kebablasan?"

"Nggak," jawab Raka tegas. Dia meletakkan tangannya di bahu Bimo, menekan kuat sebagai tanda keseriusan. "Ini janji. Janji Aurora. Begitu perang ini selesai, begitu tugas kita usai, kita bakal bangun tempat ini bareng-bareng. Aku nggak akan kemana-mana sampai restoran ini berdiri kokoh. Aku bakal ada di sini, bantu lo pasang bata pertama, cat tembok pertama, sampai kita potong pita peresmian bersama."

Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan penuh. Aku nggak akan kemana-mana.

Bagi Bimo, Kai, dan Elara, itu adalah janji persahabatan yang menguatkan hati.

Bagi pembaca yang tahu takdir Raka, kalimat itu terasa seperti pisau tajam yang menusuk jantung. Karena mereka tahu, Raka justru akan pergi. Perginya bukan karena keinginan, tapi karena kehancuran tubuhnya yang tak terelakkan. Janji "aku nggak akan kemana-mana" adalah ironi paling menyakitkan yang pernah diucapkan seorang pahlawan yang sedang menghitung mundur napasnya sendiri.

"Ayo kita abadikan momen ini," usul Kai, mengangkat kamera instan tua yang dibawa Raka sejak festival. "Sebagai bukti awal. Sebelum tanah ini berubah jadi restoran impian."

Mereka berempat berpose di depan pohon tua itu, dengan sketsa restoran yang berkibar di batang pohon sebagai latar belakang.

Bimo berdiri di tengah, tersenyum lebar sambil menunjukkan dua jempol. Kai di sebelahnya memberikan tanda damai dengan gaya khasnya. Elara berdiri manis, tangannya secara alami melingkari lengan Raka. Dan Raka... Raka tersenyum. Senyum yang sangat cerah, sangat tulus, seolah dia benar-benar percaya bahwa masa depan itu menunggu mereka.

Klik.

Suara mekanis kamera terdengar renyah di keheningan pagi.

Whirrrr...

Foto putih keluar dari slot kamera. Raka mengambilnya, menggoyangkannya pelan sambil meniupnya agar cepat kering. Perlahan, gambar muncul. Empat wajah bahagia, tanah kosong yang menjanjikan, dan sketsa restoran yang menjadi simbol harapan mereka.

"Ini bukti janji kita ya, Ka," kata Bimo, mengambil foto itu dan memandangnya dengan hormat, seolah itu adalah benda suci. "Nggak boleh lupa. Nggak boleh ingkar."

"Sumpah, Bim," jawab Raka, menepuk punggung Bimo kuat-kuat. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi dia menahan air matanya agar tidak jatuh. "Kita bakal realisasikan. Aku janji."

Mereka berdiri diam beberapa saat lagi, menikmati angin pagi yang membawa aroma tanah dan harapan. Tidak ada yang bicara, tapi ikatan di antara mereka terasa semakin kuat, terpatri oleh janji masa depan yang indah.

"Oke, ayo pulang," kata Elara akhirnya, memecah keheningan. "Komandan Varen pasti sudah menunggu laporan akhir misi."

"Mari!" seru Bimo semangat, melipat foto itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke saku dadanya, berdampingan dengan sketsa serbet kertasnya. "Perjalanan pulang bakal lebih ringan karena kita punya tujuan yang jelas!"

Mereka berjalan meninggalkan tanah kosong itu, meninggalkan sketsa yang masih menempel di pohon tua. Angin berhembus kencang sebentar, membuat sketsa itu bergoyang hebat, seolah melambai-lambai perpisahan. Pohon tua itu berdiri tegak, menjadi penjaga sunyi bagi sebuah janji yang mungkin tidak akan pernah terpenuhi sepenuhnya oleh semua pihak.

Perjalanan kembali ke markas berlangsung lancar. Mereka bercanda, bernyanyi, dan membahas menu apa yang akan jadi andalan di "Bimo's Corner" nanti. Suasana hatinya penuh dengan optimisme buta yang indah. Mereka merasa dunia ada di genggaman mereka, bahwa kebahagiaan adalah hak yang pasti akan mereka dapatkan setelah berjuang keras.

Namun, saat kendaraan hover mereka memasuki gerbang utama Markas Delta-7, suasana berubah drastis.

Lampu peringatan merah berkedip liar di seluruh dinding markas. Sirine berbunyi nyaring, berbeda dari sirene latihan biasa. Ini adalah kode darurat tingkat tertinggi.

PERINGATAN! PERINGATAN!

TERDETEKSI ANOMALI ENERGI MASIF DI BATAS KUBAH UTARA!

POLA SERANGAN TIDAK DIKENALI. LEVEL BAHAYA: KRITIS!

Wajah-wajah ceria mereka langsung berubah tegang. Bimo memasukkan foto impian itu cepat-cepat ke sakunya, melindungi harta karunnya sebelum menghadapi realitas perang. Kai langsung menyalakan tabletnya, jari-jarinya menari cepat memeriksa data. Elara menarik napas panjang, mode komandannya aktif seketika.

"Apa yang terjadi?" tanya Raka, meski dalam hatinya dia sudah tahu. Getaran di tubuhnya malam ini semakin hebat, partikel emas di ujung jarinya beterbangan tak terkendali, merespons panggilan dari badai di luar sana.

Layar besar di ruang kontrol menampilkan pemandangan mengerikan. Di langit utara Neo-Solara, awan hitam pekat bergulung-gulung membentuk pusaran raksasa. Di tengahnya, cahaya merah darah mulai merembes keluar, membelah langit biru buatan yang selama ini melindungi mereka. Itu bukan badai biasa. Itu adalah "Badai Merah" yang telah lama ditakutkan, musuh sesungguhnya yang telah mengintai di balik kegelapan ruang angkasa.

Komandan Varen berlari mendekati mereka, wajahnya pucat namun tatapannya baja. "Squadron Aurora! Lupakan istirahat! Ini bukan latihan! Musuh utama telah menembus lapisan pertahanan terluar. Mereka datang untuk menghancurkan inti energi kota!"

Varen menatap mereka satu per satu, terutama menatap Raka dengan pandangan yang sulit diartikan—seolah dia tahu rahasia pemuda itu.

"Siapkan diri kalian. Ini adalah pertempuran terbesar dalam sejarah Neo-Solara. Mungkin... ini adalah pertempuran terakhir kita."

Bimo mengepalkan tangannya erat, memegang foto di sakunya melalui kain seragam. Matanya menyala dengan tekad. "Kita nggak akan biarkan mereka hancurkan kota ini. Kita punya hal yang harus dilindungi. Punya restoran yang harus dibangun!"

"Iya!" seru Kai dan Elara serempak.

Raka berdiri di tengah mereka, menatap layar yang menampilkan langit yang mulai berubah merah. Rasa sakit di dadanya memuncak, tapi dia justru tersenyum tipis. Senyum penerimaan.

Akhirnya datang juga, batinnya. Badai yang akan menguji semua janji kita.

Dia menoleh ke teman-temannya, menyimpan wajah-wajah mereka dalam memorinya untuk yang terakhir kalinya dengan kejelasan sedemikian rupa.

"Ayo," kata Raka, suaranya tenang namun penuh kekuatan. "Kita hadapi bersama. Seperti janji kita. Tidak ada yang pergi sendirian."

Mereka berlari menuju hanggar, memakai armor tempur mereka dengan kecepatan kilat. Di belakang mereka, foto di saku Bimo bergetar pelan, seolah menangis mendahului nasib pemiliknya. Langit semakin merah. Badai telah tiba. Dan kisah cinta, persahabatan, dan pengorbanan mereka akan segera memasuki babak paling kelam sekaligus paling heroik.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!