NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Canggung

Pagi setelah ciuman itu, Senja turun sarapan tujuh menit lebih lambat dari biasanya.

Tujuh menit bukan waktu yang panjang. Tetapi bagi rumah seefisien Wijaya Mansion, tujuh menit cukup untuk membuat Pak Hadi melirik jam dinding sekali, pelayan menahan teko teh di udara, dan Rayhan mengangkat wajah dari tabletnya.

Senja menuruni tangga dengan rambut diikat rapi dan wajah yang terlalu tenang.

Terlalu tenang berarti tidak tenang sama sekali.

"Pagi," katanya.

Suara itu keluar tipis.

Rayhan menatapnya. "Pagi."

Satu kata.

Sama seperti kemarin, tetapi pagi ini kata itu membawa seluruh ruang keluarga kecil, sofa, tangan, ciuman, dan pintu ruang kerja yang tertutup.

Senja duduk di kursinya.

Pak Hadi menuangkan teh hangat. "Ramuan Tante Lian setelah makan, Nyonya."

"Iya, Pak."

Rayhan melihat mangkuk buburnya. "Makan."

Senja hampir menjawab, aku tahu. Namun begitu membuka mulut, dia teringat bibir Rayhan di bibirnya. Pipinya panas tanpa izin.

Dia cepat menunduk dan menyuap bubur.

Rayhan diam.

Pak Hadi berdiri di antara mereka dengan ekspresi sopan yang terlalu sempurna. Senja punya firasat mengerikan bahwa Pak Hadi tahu sesuatu. Bukan detailnya, tentu saja. Tetapi orang seperti Pak Hadi tidak perlu detail untuk membaca perubahan udara.

Sarapan berjalan dengan sangat rapi.

Terlalu rapi.

Rayhan tidak bertanya berapa banyak dia tidur. Senja tidak bertanya apakah dia benar-benar bekerja semalam. Mereka berdua berbicara hanya kepada Pak Hadi, seolah meja panjang itu tiba-tiba menjadi kantor layanan pesan.

"Pak Hadi, mobil jam sebelas."

"Baik, Tuan muda."

"Pak Hadi, aku ke sanggar jam satu."

"Baik, Nyonya."

"Pak Hadi, kirim dokumen London ke kantor."

"Baik."

"Pak Hadi, tolong ingatkan aku membawa catatan Gedung Kesenian."

"Baik."

Pak Hadi akhirnya berkata dengan lembut, "Tuan muda dan Nyonya bisa langsung saling menyampaikan. Saya berdiri di sini, tapi saya bukan meja pos."

Sendok Senja hampir jatuh.

Rayhan terbatuk sekali, sangat kecil.

Senja menunduk lebih dalam. "Maaf, Pak."

"Tidak apa-apa, Nyonya."

Rayhan mengambil kopi. "Pak Hadi."

"Ya, Tuan muda?"

"Jangan terlalu banyak bicara pagi-pagi."

"Baik, Tuan muda."

Namun sudut mata Pak Hadi tampak tersenyum.

Setelah sarapan, Senja berniat segera pergi ke kamar untuk mengambil tas. Namun di koridor, langkahnya berpapasan dengan Rayhan yang keluar dari ruang kerja. Mereka berhenti bersamaan.

Koridor itu luas.

Sebenarnya cukup untuk dua orang lewat tanpa saling menyentuh.

Tetapi pagi itu, Senja merasa ruangnya terlalu sempit.

"Kamu dulu," kata Rayhan.

"Tidak, kamu dulu."

"Aku tidak terburu-buru."

"Aku juga."

Mereka berdiri diam.

Di belakang, seorang pelayan yang membawa vas bunga berhenti, jelas tidak tahu harus lewat atau mundur.

Senja akhirnya melangkah ke kanan.

Rayhan melangkah ke kanan juga.

Mereka berhenti.

Senja pindah ke kiri.

Rayhan juga.

Pelayan itu menunduk, menahan tawa dengan seluruh tenaga.

"Rayhan," Senja berbisik panik.

"Diam. Jalan."

"Ke mana?"

"Kanan."

"Kananmu atau kananku?"

Rayhan menutup mata sebentar. "Senja."

Mendengar namanya dengan nada itu, Senja seharusnya kesal. Namun yang muncul justru ingatan suara Rayhan semalam, sangat dekat, menanyakan apakah dia takut.

Wajahnya kembali panas.

Rayhan melihatnya.

Dan itu membuat situasi semakin buruk.

Pada akhirnya, Rayhan mundur satu langkah dan menempel ke dinding, memberi ruang terlalu lebar seolah Senja membawa barang pecah belah.

"Lewat."

Senja lewat cepat, hampir tersandung ujung karpet.

Rayhan menangkap sikunya refleks.

Sentuhan itu hanya satu detik.

Namun cukup untuk membuat keduanya membeku.

Pelayan dengan vas bunga memutuskan mundur pelan tanpa suara.

Rayhan melepas siku Senja. "Hati-hati."

"Iya."

"Jangan lari di koridor."

"Aku tidak lari."

"Kamu hampir jatuh."

"Karena kamu membuat koridor menjadi rumit."

Kalimat itu keluar sebelum Senja sempat menyaringnya.

Rayhan menatapnya.

Untuk satu detik, Senja takut dia marah. Lalu dia melihat sudut bibir Rayhan bergerak sangat tipis.

"Koridor ini sudah ada sebelum kamu datang," katanya.

"Tapi tidak serumit ini."

Kali ini, Rayhan benar-benar terdiam.

Senja sadar mereka sedang menggoda satu sama lain.

Pikiran itu membuatnya lebih panik daripada semua konflik sebelumnya.

Dia menarik sikunya pelan. "Aku ke kamar."

"Aku tahu."

"Jangan jawab semua hal."

"Sulit."

Senja berbalik cepat dan berjalan ke tangga.

Di kamar, dia menutup pintu, bersandar di baliknya, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar seperti setelah latihan putaran penuh.

Ponselnya bergetar.

Lara.

Lara: Kamu aneh hari ini?

Senja menatap pesan itu dengan curiga.

Senja: Kenapa?

Lara: Ko Jefri bilang orang yang habis menangis biasanya besok lebih ringan. Kamu malah mengirim jadwal latihan tiga kali dengan typo.

Senja melihat chat sebelumnya. Benar. Dia menulis "latigan" dan "Denah panggung kiri kanan kanan kiri" tanpa sadar.

Lara: Ada apa?

Senja menatap layar lama.

Tidak mungkin dia menulis: aku dicium suamiku dan sekarang koridor terasa terlalu sempit.

Jadi dia mengetik jawaban lain.

Senja: Tidak apa-apa.

Lara: Kalimat terlarang.

Senja memejamkan mata.

Bahkan Lara memakai aturan Rayhan.

Senja: Aku bingung.

Lara: Itu lebih jujur.

Senja: Kalau seseorang melakukan sesuatu yang tidak buruk, tapi membuatmu tidak bisa tidur?

Lara: Rayhan?

Senja hampir menjatuhkan ponsel.

Senja: Kenapa langsung Rayhan?

Lara: Karena tidak mungkin Pak Hadi.

Senja menutup wajah lagi.

Lara: Dia ngapain?

Senja mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Senja: Nanti aku cerita.

Lara: Aku akan menagih.

Senja: Aku tahu.

Siang itu, latihan di sanggar berjalan kacau. Bukan karena tubuh Senja lemah. Justru tubuhnya terlalu sadar. Setiap gerakan tangan membuatnya mengingat tangan Rayhan di pipinya. Setiap instruksi "lebih pelan" dari Ko Jefri membuatnya mendengar suara Rayhan berkata mulai pelan.

Ko Jefri akhirnya menghentikan musik. "Senja, pikiranmu tidak di sini."

Lara duduk di sudut dengan wajah penuh kecurigaan.

Senja mengambil napas. "Maaf, Ko."

"Kalau ini soal Serena, kita bisa bicara."

"Bukan Serena."

Lara langsung mengangkat alis.

Ko Jefri memandang Senja, lalu memilih tidak bertanya. "Baik. Hari ini cukup. Pulang, makan, tidur."

"Latihan baru satu jam."

"Kualitas satu jam lebih baik daripada tiga jam tubuhmu bergerak tapi pikiranmu tersangkut di tempat lain."

Senja tidak bisa membantah.

Ketika pulang lebih awal, dia menemukan Rayhan juga sudah berada di rumah, menerima panggilan kerja di ruang keluarga. Begitu melihat Senja, dia berhenti bicara selama sepersekian detik.

Senja berdiri di foyer.

Rayhan menutup mikrofon panggilan. "Kenapa pulang cepat?"

"Ko Jefri menyuruh."

"Kamu sakit?"

"Tidak."

"Pusing?"

"Tidak."

"Makan?"

"Rayhan."

Dia menatapnya.

Senja menahan napas, lalu berkata, "Aku hanya... tidak fokus."

Rayhan diam.

Di layar laptopnya, seseorang dari London memanggil, "Mr. Wijaya?"

Rayhan tetap menatap Senja satu detik lebih lama, lalu berkata ke mikrofon, "Continue."

Senja cepat naik ke kamar sebelum dia mengatakan hal lain.

Di belakangnya, Rayhan mencoba kembali ke laporan London, tetapi angka-angka di layar mendadak lebih sulit dibaca daripada biasanya.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!