Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muncul Dihadapan
“Eh!”
Evelyn langsung membuka matanya secara tiba-tiba.
Napasnya sedikit memburu. Seolah baru saja terbangun dari mimpi yang sangat panjang.
Di sampingnya, Evander yang sejak tadi berada di dalam kamar langsung menyadarinya.
Ia segera bangun dari kursinya dan duduk di tepi ranjang.
“Apa yang terjadi?” tanya Evander.
Evelyn berkedip beberapa kali. Tatapannya mengelilingi ruangan.
“Aku dimana?”
“Di kamarku.”
“Oh.”
Evelyn mengangguk pelan. Lalu beberapa detik kemudian matanya langsung membesar.
“Lalu ritualnya?”
“Berhasil.”
Deg.
“Eh?”
Evelyn langsung duduk tegak.
“Berhasil?”
“Iya.”
“Jadi Mantan Yang Mulia Ratu benar-benar hidup kembali?”
“Benar.”
Deg.
Mata Evelyn langsung membulat sempurna.
“ASTAGA!”
Membuat Evander langsung memegang dahinya.
“Aku benar-benar melakukannya?”
“Iya.”
“Dan aku tidak melihat apa-apa setelah itu.”
“Kau tertidur.”
Deg.
Wajah Evelyn langsung memerah.
“Aku tidak tertidur.”
“Kau pingsan.”
“Itu lebih baik.”
“Kau mendengkur.”
Sunyi.
“......”
“......”
“AKU TIDAK MENDENGKUR!”
Protes Evelyn dengan wajah merah.
Sudut bibir Evander sedikit terangkat.
Sementara Evelyn langsung menutupi wajahnya dengan bantal.
Namun beberapa saat kemudian. Kepalanya kembali muncul dari balik bantal.
“Sekarang hari sudah berganti berarti?”
“Iya.”
“Pagi?”
“Tidak.”
“Eh?”
“Hampir siang.”
Deg.
Evelyn langsung membeku.
“Hampir siang?”
“Iya.”
“Aku tidur selama itu?”
“Semalaman.”
“Astaga...”
Evelyn langsung memegangi kepalanya. Namun tiba-tiba.
Ia merasakan sesuatu yang aneh.
Perasaan seperti sedang diperhatikan.
Deg.
Seketika Evelyn menoleh ke arah jendela.
Tidak ada siapa-siapa.
Lalu ke arah pintu. Kosong. Kemudian ke arah sofa yang berada di sudut kamar.
Dan detik berikutnya.
Deg!!!
Tubuh Evelyn langsung membeku.
Karena di sana. Ada seorang pria yang sedang duduk santai sambil menyilangkan kakinya.
Pria berambut hitam panjang. Dengan mata merah gelap yang terasa sangat familiar.
Sangat familiar. Seolah dia pernah mendengar suaranya berkali-kali.
“Eh...”
Pria itu tersenyum tipis. Dan melambaikan tangannya.
“Halo, Evelyn.”
Deg!
Mata Evelyn langsung membelalak. Lalu perlahan ia menunjuk pria tersebut dengan tangan gemetar.
Kemudian menoleh ke arah Evander. Lalu kembali ke arah pria itu. Lalu ke Evander lagi.
Dan beberapa detik kemudian.
“AAAAAAAAAAAAA!”
Teriakannya langsung menggema di seluruh kastel.
“ORANG SIMBOLNYA KELUAR!!!”
Sementara pria itu hanya tertawa kecil.
Karena reaksi Evelyn ternyata jauh lebih heboh daripada yang ia bayangkan.
“Evander!”
Teriak Evelyn sambil menunjuk pria yang duduk santai di sudut ruangan.
“D-dia orang yang berada di tanganku kan?!”
Tanyanya dengan heboh.
Deg.
Ruangan langsung menjadi sunyi.
Pria itu sendiri terlihat tersenyum tipis. Seolah sangat menikmati reaksi Evelyn. Sementara Evander hanya menghela napas pelan.
“Iya.”
Deg.
Mata Evelyn langsung membesar.
“IYA?!”
“Benar.”
“Jadi selama ini aku berbicara dengan orang sungguhan?!”
“Iya.”
“Dan kalian semua tahu?!”
Sunyi.
Evander tidak menjawab. Namun ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.
Deg.
Evelyn langsung menunjuk satu per satu.
“Jadi Ayahmu tahu?”
“Iya.”
“Lucien juga tahu?”
“Iya.”
“Ciel?”
“Iya.”
“Lyrielle dan Selena?”
“Iya.”
“Bahkan Lucthen juga tahu?!”
“Iya.”
“HAAAAAAAA?!”
Evelyn langsung memegangi kepalanya.
“Jadi cuma aku yang tidak tahu?!”
Pria itu akhirnya tertawa kecil.
“Kau terlalu lucu.”
Seketika Evelyn langsung menoleh.
“Jangan tertawa!”
“Kenapa?”
“Karena aku merasa dibohongi!”
“Tapi reaksimu sangat menarik.”
“EVANDER!”
Protes Evelyn sambil menunjuk pria itu.
“Dia menggodaku!”
Deg.
Pria itu malah terlihat semakin terhibur.
Sementara Evander hanya menatapnya datar.
“Memang.”
“Hah?”
“Dia memang seperti itu.”
Deg.
Evelyn langsung membeku. Lalu perlahan menoleh kembali ke arah pria tersebut.
“Sebentar.”
“Hm?”
“Kau bisa keluar dari simbol kapan saja?”
“Tentu.”
“Lalu kenapa kau membiarkanku berbicara sendiri selama ini?!”
Sunyi.
Pria itu tampak berpikir beberapa detik.
Kemudian menjawab dengan santai.
“Karena itu menyenangkan.”
Deg.
“......”
“......”
“Aku mau menangis.”
Membuat pria itu kembali tertawa.
Untuk pertama kalinya. Tawa itu terdengar jelas di dalam kamar.
Dan entah kenapa.
Evelyn merasa suara itu sangat familiar.
Persis seperti suara yang selalu mengomelinya dari dalam simbol.
“Berapa usiamu?” tanya Evelyn penasaran.
Pria itu yang sejak tadi duduk santai langsung menatapnya.
“Lebih tua dari mereka semua.”
Deg.
Evelyn langsung menoleh ke arah Evander.
Lalu ke arah pria itu lagi. Kemudian ke arah Evander.
“Lebih tua dari Valerius juga?”
“Iya.”
“Lebih tua dari Raja Vampir pertama?”
“Jauh.”
Deg.
Mata Evelyn langsung membulat.
“Hah?!”
“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku sangat tua?”
Evelyn langsung menatap wajah pria itu dari atas sampai bawah.
Lama.
Sangat lama. Sampai pria itu sendiri mengangkat sebelah alisnya.
“Ada apa?”
Lalu dengan polosnya Evelyn bertanya,
“Tapi, kenapa kau terlihat sangat tampan walaupun sudah terlalu TUA?”
Sunyi.
Sangat sunyi.
Deg.
Lucien yang baru saja masuk ke kamar hampir tersedak.
Sementara Evander langsung memejamkan matanya. Karena dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Pria itu sendiri tampak membeku selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya. Ekspresi santainya sedikit retak.
“...Terlalu tua?”
“Iya.”
Evelyn mengangguk polos.
“Usiamu pasti ribuan tahun kan?”
“Kurang lebih.”
“Nah itu.”
Evelyn menunjuk wajahnya.
“Harusnya kau terlihat seperti kakek-kakek.”
Deg.
Lucien langsung berbalik membelakangi mereka. Bahunya bergetar keras. Jelas sedang menahan tawa.
“Lucien,” tegur Evander dingin.
“Aku tidak tertawa.”
“Bahumu bergerak.”
“Karena sedih.”
Sementara itu pria tersebut hanya menatap Evelyn.
“Jadi menurutmu aku seharusnya terlihat tua?”
“Iya.”
“Dan sekarang?”
Evelyn berpikir beberapa detik. Lalu menjawab dengan jujur.
“Kau terlihat seperti pria umur dua puluhan.”
Sunyi.
“Jadi aku tampan?”
“Iya.”
“Lalu kenapa kau mengatakannya seperti penghinaan?”
“Karena usiamu terlalu tua.”
Deg.
Lucien akhirnya gagal.
“Hahahahahaha!”
Tawanya langsung memenuhi kamar.
Bahkan dari luar kamar terdengar suara
Lyrielle yang ikut tertawa karena mendengar percakapan mereka. Sementara pria itu hanya menghela napas panjang.
“Aku mulai mengerti kenapa kau dipilih.”
“Hah?”
“Karena tidak ada seorang pun selama ribuan tahun terakhir yang berani mengatakan aku terlalu tua di depan wajahku.”
Evelyn berkedip polos.
“Memangnya itu tidak boleh?”
Deg.
Dan untuk pertama kalinya. Pria itu benar-benar tertawa keras.
“Evelyn.”
Panggilan Evander terdengar sangat dingin.
Deg.
Seketika Evelyn langsung menoleh.
“Apa?”
Tatapan merah Raja Vampir itu tertuju lurus kepadanya.
“Bagaimana bisa kau memuji pria yang lebih tua di depanku?”
Sunyi.
Evelyn berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu wajahnya menunjukkan ekspresi bingung.
“Hah?”
Sementara pria misterius itu langsung menyandarkan dagunya di tangannya.
Jelas tertarik melihat ke mana arah pembicaraan ini.
“Aku hanya mengatakan fakta,” jawab Evelyn polos.
Deg.
Aura dingin di sekitar Evander langsung bertambah.
“Fakta?”
“Iya.”
“Kau mengatakan dia tampan.”
“Iya.”
“Di depanku.”
“Iya.”
Sunyi.
Evelyn masih belum mengerti. Sementara Lucien yang berdiri tidak jauh dari sana langsung menutup wajahnya.
“Astaga...”
“Kenapa?” tanya Evelyn bingung.
“Kau benar-benar tidak mengerti?”
“Tidak.”
Deg.
Evander langsung berdiri dari kursinya.
Lalu melangkah mendekati ranjang.
Membuat Evelyn refleks sedikit mundur.
“Evander?”
“Aku tampan atau tidak?”
Deg.
Seketika seluruh ruangan langsung hening.
Bahkan pria misterius itu sampai mengangkat sebelah alisnya.
Karena pertanyaan itu terdengar sangat tidak terduga keluar dari mulut Raja Vampir.
“Hah?”
Evelyn membeku.
“Apa hubungannya?”
“Jawab.”
“Eh...”
Evelyn langsung gugup.
Tatapannya berpindah dari Evander ke pria misterius itu. Lalu kembali lagi.
“Ka-kalian berdua tampan?”
Deg.
Lucien langsung memegang dahinya.
“Jawaban yang buruk.”
“Lucien, diam,” sahut Evander dingin.
Sementara pria misterius itu terlihat sedang menahan tawa.
“Aku suka gadis ini.”
Deg!
Aura membunuh Evander langsung memenuhi kamar.
“Jangan ikut campur.”
“Hahaha.”
Pria itu justru tertawa. Sementara Evelyn semakin bingung.
“Tunggu.”
Tatapannya berpindah kepada Evander.
Lalu perlahan matanya membesar.
“Evander.”
“Apa?”
“Kamu cemburu?”
Deg.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Bahkan Lucien sampai memalingkan wajahnya.
Karena dia tidak ingin melihat reaksi kakaknya.
Sementara Evander hanya diam.
Lalu menjawab datar.
“Tidak.”
“Kamu cemburu.”
“Tidak.”
“Kalau tidak cemburu, kenapa marah?”
“......”
Deg.
Untuk pertama kalinya.
Raja Vampir tidak memiliki jawaban.
Dan detik berikutnya. Tawa pria misterius itu kembali memenuhi seluruh kamar.
“Jika kau tidak cemburu,” ucap Evelyn sambil menyilangkan kedua tangannya.
Tatapannya lurus mengarah kepada Evander.
“Berarti jangan marah kalau aku memuji pria itu tampan.”
Deg.
Seketika seluruh ruangan langsung sunyi.
Lucien langsung menutup wajahnya.
Sementara pria misterius itu terlihat semakin tertarik dengan percakapan mereka. Evander sendiri hanya menatap Evelyn tanpa berkedip.
“Jadi begitu?”
“Iya.”
“Karena kalau kamu tidak cemburu, berarti itu bukan masalah kan?”
“......”
Evelyn menganggukkan kepalanya mantap.
“Lagipula aku hanya mengatakan fakta.”
“Fakta?”
“Iya.”
Lalu Evelyn menunjuk pria misterius itu.
“Dia memang tampan.”
Kemudian tanpa sadar jarinya berpindah menunjuk Evander.
“Dan kamu juga tampan.”
Deg.
Untuk pertama kalinya ekspresi dingin Evander sedikit melemah. Namun Evelyn belum selesai.
“Tapi usianya terlalu tua.”
Brak!
Lucien langsung membenturkan dahinya ke dinding.
“Astaga...”
Pria misterius itu hanya tertawa kecil.
“Kau masih membahas usiaku rupanya.”
“Tentu saja.”
Evelyn mengangguk.
“Karena itu mengejutkan.”
“Bagian mana?”
“Kau lebih tua dari semuanya.”
“Iya.”
“Tapi wajahmu tidak berubah.”
“Iya.”
“Menyeramkan.”
Deg.
Seketika Lyrielle yang baru masuk ke kamar langsung berbalik keluar lagi karena tidak sanggup menahan tawanya. Sementara pria misterius itu hanya menghela napas.
“Aku mulai merasa dihina.”
“Aku sedang memuji.”
“Itu bukan pujian.”
“Itu pujian.”
“Bukan.”
“Pujian.”
“Bukan.”
“Pujian.”
Sunyi.
Lalu Lucien langsung menunjuk Evelyn.
“Aku menyerah. Menang saja kau.”
Sementara itu Evander yang sejak tadi diam tiba-tiba menarik tangan Evelyn.
Deg.
“Hah?”
Evelyn langsung kehilangan keseimbangan.
Dan sebelum sempat bereaksi. Ia sudah terduduk tepat di samping Evander.
“Evander?”
Tatapan merah Raja Vampir itu mengarah kepada pria misterius tersebut. Lalu dengan nada datarnya berkata,
“Kalau begitu teruslah memujinya.”
“Hm?”
“Aku akan marah tetap.”
Deg.
Mata Evelyn langsung membesar.
“Jadi kamu memang cemburu!”
Sunyi.
Lucien langsung menutup matanya. Sementara pria misterius itu tertawa tanpa menutupi kesenangannya.
Dan untuk pertama kalinya. Ujung telinga Raja Vampir terlihat sedikit memerah.