NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

"Hidup itu bagaikan ilusi, kadang nyata kadang tak nyata. Namun kita dipaksa untuk menerima takdir, walau pun takdir itu melenceng jauh dari apa yang kita harapkan. Tugas kita hanya menerima dan menjalaninya. Mengeluh itu boleh tapi jangan terlalu sering, yang paling sering harus kita lakukan adalah berdoa pada Tuhan. Satu lagi, jangan pernah percaya akan ucapan manusia, karena sejatinya manusia itu punya dua watak yang bertolak belakang."

^^​Ziva Alqueena A.^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

​Tepat di samping balkon rooftop sekolah, Mahendra menghentikan langkahnya. Keheningan siang itu hanya dipecahkan oleh semilir angin yang memainkan anak rambut mereka. Salah satu jari panjang Mahendra terulur, menempel pada permukaan dinding bata yang terlihat kusam dan tak terawat.

​Ziva mengernyitkan dahi penuh keheranan. Matanya yang bulat mengikuti setiap gerak-gerik cowok di hadapannya itu. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Mahendra? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi di dinding itu? Namun, sejauh mata Ziva memandang, dinding beton tersebut terlihat sangat biasa saja, penuh dengan guratan semen kasar tanpa ada hal yang aneh sedikit pun.

​Tak lama setelah Mahendra menempelkan sidik jarinya di titik tertentu pada tembok, sebuah suara klik pelan terdengar, disusul oleh getaran halus. Tembok tebal itu tiba-tiba terbuka, bergeser ke samping dengan sendirinya secara perlahan, menampakkan sebuah lorong tersembunyi yang remang-remang.

​Kedua mata Ziva seketika melotot sempurna. Mulut mungilnya terbuka lebar karena rasa terkejut yang luar biasa. Dirinya benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Ini sungguhan seperti trik sulap yang biasa ia tonton di film-film fiksi! Benar-benar luar biasa.

​Mahendra terkekeh kecil, suara rendahnya terdengar begitu seksi di telinga Ziva. Ia menatap gemas ke arah wajah Ziva yang saat ini terlihat sangat lucu, persis seperti seekor anak kucing yang sedang kebingungan sekaligus terkesiap.

​"Tutup mulutnya, sayang. Nanti ada lalat yang masuk," goda Mahendra dengan senyuman jahil yang menghiasi wajah tampannya.

​Seketika kesadaran Ziva kembali. Dengan wajah yang mendadak terasa panas, Ziva langsung merapatkan kembali mulutnya rapat-rapat. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah samping, menghindari tatapan intens dari Mahendra. Sungguh, rasa malu yang teramat sangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya saat ini Ziva ingin menghilang saja dari bumi atau tenggelam ke dalam lantai rooftop.

​"Tidak perlu malu, sayang. Kamu terlihat sangat menggemaskan seperti ini," ucap Mahendra lagi, seakan-akan ia bisa membaca dengan jelas apa yang berkecamuk di dalam pikiran Ziva. Sudut bibir Mahendra semakin terangkat naik saat menyadari rona merah merona kini telah menjalar hingga ke telinga gadisnya.

​Dan disinilah mereka berada sekarang. Langkah kaki membawa mereka masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia yang sangat luas. Ziva terpaku di tempatnya. Atmosfer di dalam sini sangat berbeda dengan lingkungan sekolah yang bising. Ruangan ini penuh dengan benda-benda antik berharga tinggi, guci-guci keramik kuno tertata rapi di sudut-sudut estetis, dan di sepanjang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan bernilai seni tinggi.

​Namun, dari semua kemewahan klasik tersebut, ada satu hal yang paling mencolok dan langsung menyedot seluruh perhatian Ziva. Di dinding utama tengah ruangan, terpajang sebuah foto seorang gadis cantik dalam ukuran yang sangat besar. Gadis di dalam foto itu sedang tersenyum lebar ke arah kamera, memancarkan binar kebahagiaan yang murni. Ziva tertegun, karena gadis di dalam foto besar itu adalah dirinya sendiri.

​Mahendra melangkah santai menuju sebuah sofa tunggal (single sofa) berbahan kulit premium yang terletak di tengah ruangan. Setelah sampai, dirinya langsung mendudukkan diri dengan nyaman. Namun, ia tidak membiarkan Ziva menjauh. Dengan gerakan cepat namun lembut, Mahendra menarik pinggang Ziva, membuat gadis itu kini duduk manis di atas pangkuannya dengan posisi menyamping.

​Merasa posisi ini terlalu intim dan berbahaya bagi kesehatan jantungnya, Ziva bergerak gelisah. Ia mencoba bertumpu pada lengan sofa untuk berdiri.

"Mau kemana, sayang?" tanya Mahendra dengan nada suara yang melembut namun sarat akan penekanan.

​"Mau duduk di sana sendiri," ucap Ziva pelan, sembari menunjuk sofa panjang kosong yang berada tepat di samping mereka.

​"Di sini saja." Mahendra tidak menerima penolakan. Ia semakin mengeratkan pelukan lengannya di pinggang ramping milik Ziva, mengunci pergerakan gadis itu seakan-akan dirinya sama sekali tidak mengizinkan Ziva untuk duduk di tempat lain selain di atas pahanya.

​"Nggak nyaman..." cicit Ziva dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata elang Mahendra dari jarak sedekat ini.

​"Dinyamanin aja sayang. Karena ke depannya kita akan sangat sering berada dalam posisi seperti ini. Kamu harus mulai terbiasa, karena kamu adalah milikku. Milik Mahendra, sayang," ucap cowok itu dengan penuh kepemilikan yang mutlak.

​Melawan?

Tentu saja lintasan pikiran untuk memberontak sempat terbersit di benak Ziva. Namun, ia tahu diri. Saat ini dirinya belum memiliki cukup tenaga untuk melawan dominasi seorang Mahendra. Mungkin jika energinya sudah pulih seratus persen, dirinya akan menyerang Mahendra kembali dengan rentetan perkataan pedas yang levelnya setara dengan seblak level sepuluh. Untuk sekarang, mengalah adalah pilihan paling aman.

​"Ini... di mana?" Tanya Ziva akhirnya, mencoba memecah kecanggungan karena rasa penasarannya sudah terlanjur membubung tinggi.

​"Kita sedang berada di ruang pribadiku, sayang. Dan mulai detik ini, tempat ini juga akan menjadi ruang pribadi milikmu," jawab Mahendra sembari jemari tangannya bergerak lembut, mengusap dan merapikan helaian rambut panjang milik Ziva.

​"Kenapa gue juga?" Ziva heran, spontan menggunakan kata ganti formal yang biasa ia gunakan.

​"Bahasanya, sayang!" Tegur Mahendra dengan cepat. Nada suaranya mendatar dan tatapannya mendadak menajam, membuat atmosfer di sekitar mereka sedikit mendingin.

​Ziva langsung gelagapan sendiri karena sadar dirinya telah salah menyebut kata ganti di depan cowok protektif ini. "Ah, maksudnya... kenapa ruangan ini juga akan menjadi milikku juga?" tanya Ziva ulang dengan nada yang jauh lebih halus dan sedikit gugup.

Tatapan tajam Mahendra langsung melunak kembali. "Karena kamu pacar aku, sayang. Apapun yang ada di dunia ini yang menjadi milikku, maka secara otomatis itu juga akan menjadi milikmu."

​"Termasuk rumah?" tanya Ziva spontan,

​"Rumah? Tentu saja rumahku juga milikmu, sayang. Bahkan jika hari ini kamu meminta uang dalam jumlah besar atau mobil mewah sekalipun, katakan saja padaku. Pasti akan langsung aku kabulkan semua keinginanmu saat ini juga," jawab Mahendra tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya.

​Ziva mengerjapkan matanya berulang kali dengan tidak percaya. Ziva mengira Mahendra akan langsung menuduhnya sebagai gadis matre atau menyebalkan. Ia bahkan mengira akan dimarahi karena berani mempertanyakan harta milik cowok itu. Namun nyatanya, dengan ekspresi sesantai itu, Mahendra justru menawarkan seluruh dunianya.

​"Tidak perlu," jawab Ziva cepat, merasa tidak enak hati.

​"Mahen... kenapa di sana ada fotoku? Dan kenapa ukurannya sangat besar seperti itu? Kamu dapat dari mana foto aku?" Ziva bertubi-tubi mengajukan pertanyaan.

​Mahendra tersenyum, sebuah senyuman yang begitu tulus dan sangat mempesona hingga guratan ketampanannya naik berlipat ganda. "Kamu tahu, sayang? Foto itu adalah foto dari seorang gadis yang mampu membuat hatiku yang dulunya sedingin es kini mencair sepenuhnya. Hanya dengan melihat senyum lebarnya di foto itu, hatiku yang kosong bisa terasa sangat hangat. Dan kenapa ukuran foto itu dibuat sangat besar dibanding yang lain? Itu karena aku ingin terus mengingat dan memandangimu. Dari jarak sejauh apapun di ruangan ini, wajah cantikmu akan tetap terlihat jelas. Dan soal dari mana aku mendapatkannya... aku mengambilnya dari media sosial milikmu, sayang. Milik Ziva Alqueena."

​Ziva tertegun mendengar penjelasan panjang lebar dari Mahendra. Ia terpaku menatap senyuman tulus yang terpancar dari wajah cowok yang biasanya terkenal kejam dan tak tersentuh di sekolah ini. Senyuman yang rasanya sangat langka dan mungkin hanya diperlihatkan khusus untuk dirinya.

​Cup.

​Sebuah kecupan basah dan tiba-tiba mendarat di pipi chubby milik Ziva, membuyarkan seluruh lamunannya.

​"Aku tahu aku tampan, sayang. Tapi jangan sampai lupa berkedip hm," ucap Mahendra terkekeh pelan setelah sukses mencuri kecupan di pipi gadisnya.

​"Nggak usah cium-cium ya!" protes Ziva dengan wajah yang semakin memerah sempurna, tangannya refleks mengusap pipi yang baru saja dikecup.

​"Kamu terlalu candu untuk tidak dicium, sayang," balas Mahendra dengan santai, sama sekali tidak merasa bersalah.

​Ziva menghela napasnya dengan amat kasar. Detik berikutnya, binar di matanya meredup, wajah cantiknya menunduk lesu menatap jemari tangannya sendiri.

​"Mahen... menurut kamu, apa aku harus menyerah sekarang?" tanya Ziva dengan nada suara yang teramat sendu. Dadanya terasa begitu sesak, rasanya dirinya sudah benar-benar berada di titik nadir dan tidak kuat lagi menjalani kehidupannya yang penuh dengan siksaan batin ini.

​Mendengar kalimat itu, tangan kanan Mahendra yang berada di samping tubuhnya langsung mengepal dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang besar seketika bergejolak di dalam dadanya. Sungguh, Mahendra paling tidak suka melihat tatapan sendu penuh keputusasaan dari mata Ziva. Apalagi saat gadisnya itu melontarkan kata 'menyerah', rasanya ada bagian dari diri Mahendra yang ikut tercabik.

​"Hey, tatap aku. Dengerin aku, sayang," ucap Mahendra dengan nada selembut mungkin, berusaha keras meredam amarahnya agar tidak menakuti gadis di pangkuannya. Ia menangkup dagu Ziva, memaksa mata indahnya untuk menatap langsung ke dalam manik matanya.

​"Aku tidak suka jika kamu menyerah begitu saja pada keadaan, sayang. Kamu harus ingat, sekarang kamu masih punya aku. Aku akan selalu ada di sini untuk kamu, kapan pun kamu butuh. Kamu ada aku sayang, ada aku. Jadi, jangan pernah katakan kata menyerah lagi di hadapanku. Kamu pasti bisa melalui semua badai ini. Apapun masalah berat yang sedang kamu hadapi sekarang, percayalah, pasti akan selalu ada jalan keluarnya."

​"Dan kematian itulah jalan satu-satunya, Mahen. Hidup yang tenang bagiku hanyalah sebuah kematian," batin Ziva dengan sangat sendu. Air mata rasanya sudah menggenang di pelupuk matanya namun ia tahan sekuat tenaga.

​"Mahen, jika suatu saat nanti aku benar-benar pergi... apa kamu akan melupakan aku?" Perkataan bernada pasrah itu spontan keluar begitu saja dari belahan bibir Ziva, mencerminkan isi kepalanya yang sudah terlampau lelah.

​"Kamu bicara apa sih, hmm?" Mahendra menggelengkan kepalanya tegas, ada nada tidak suka yang terselip dalam suaranya.

"Nggak akan ada yang pergi, sayang. Kamu akan selalu bersama aku di sini. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama. Kamu adalah orang paling spesial yang aku miliki sekarang, jadi untuk melupakan namamu atau melupakan semua tentang kamu di dunia ini, itu adalah hal yang sangat mustahil bagiku. Jangan pernah katakan hal-hal buruk seperti itu lagi, oke?"

​Entah mengapa, mendengar setiap untaian kata yang keluar dari mulut Mahendra, sudut terdalam dari hati kecil Ziva perlahan merasa menghangat. Sepanjang hidupnya yang malang, tidak pernah ada satu orang pun yang sudi memberikan kata-kata dukungan seindah ini. Tidak ada yang pernah menganggapnya berharga.

​Ayahnya?

Sang ayah selalu memprioritaskan Sanya, kakak tirinya. Bagi ayahnya, untuk sekadar mengakui keberadaan Ziva atau melihat wajahnya saja rasanya sangat sulit dan enggan. Di rumah itu, Ziva diperlakukan layaknya makhluk halus yang tidak kasat mata dan tidak berharga.

​Namun, saat dirinya berada di dekat Mahendra, situasinya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Di sini, Ziva diperlakukan dengan sangat hormat dan penuh kasih sayang selayaknya seorang tuan putri di sebuah kerajaan. Mahendra tidak pernah sekalipun membentaknya atau menaikkan nada bicaranya menjadi kasar saat bersamanya. Cowok itu selalu ada di garda terdepan untuk memberikan kata-kata penenang. Dan yang paling penting, Mahendra mampu memberikan rasa aman dan nyaman yang luar biasa tanpa perlu diminta. Padahal, niat awal Ziva saat pertama kali mengenal Mahendra adalah ingin menjauhinya sejauh mungkin dan membenci kehadirannya.

Namun sepertinya, kini Ziva harus menjilat ludahnya sendiri.

​Kenyataannya saat ini...

Ziva benar-benar merasa sangat nyaman berada di dekat Mahendra.

​"Apa suatu saat nanti aku bakal bisa bahagia, Mahen?" tanya Ziva lagi, menyuarakan setitik harapan yang tersisa. Dirinya sejujurnya hanya membutuhkan sedikit saja kebahagiaan sejati. Jika memang kebahagiaan itu terlalu mahal dan tidak layak untuk didapatkannya, maka setidaknya ia hanya memohon agar dijauhkan dari orang-orang jahat di sekelilingnya. Tidak apa-apa jika ia harus hidup menyendiri dan menjalani kehidupan yang monoton, asalkan jiwanya tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang yang terus menyakitinya.

​Mahendra mengangguk mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. "Suatu saat nanti kamu pasti akan bahagia, sayang. Sangat, sangat bahagia. Dan di masa depan nanti, kamu pastinya akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayangimu dan menerima kehadiranmu apa adanya. Percaya pada aku, kamu pastinya akan memetik kebahagiaan itu. Jika sekarang kamu merasa sedang berada di dasar jurang yang gelap, maka percayalah suatu saat nanti aku sendiri yang akan membawamu berdiri di atas istana yang penuh dengan kebahagiaan."

​"Tapi... bagaimana jika hal indah itu tetap tidak akan pernah terjadi?"

​"Itu pasti akan terjadi, sayang. Percaya dan pegang ucapanku. Kata orang tua zaman dulu, kesedihan itu harus dibagi-bagi dan dikeluarkan. Karena jika tidak, kesedihan yang dipendam terlalu lama akan mengendap dan lama-kelamaan akan berubah menjadi batu yang sangat keras dan dingin di dalam hati. Mau berbagi kesedihan itu denganku, hmm? Aku selalu siap untuk menerima dan menampung seluruh kesedihanmu, sayang," ucap Mahendra sembari mengulas senyum lebar yang terlihat begitu menawan.

Namun sayang, senyuman sehangat matahari itu hanya berlaku dan hanya akan diperlihatkan untuk seorang Ziva Alqueena.

​"Jangan pernah memendam semua masalah berat sendirian lagi, sayang. Itu akan terasa sangat menyakitkan bagi jiwamu. Lebih baik kamu lampiaskan masalah itu dengan bercerita kepadaku, atau dengan cara apapun, yang penting jangan pernah menyimpannya sendirian di dalam hati."

​"Mungkin lain kali," ucap Ziva pelan sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain, belum sepenuhnya siap untuk membongkar seluruh luka lamanya.

​Mahendra mengangguk paham. Dirinya tentu

tidak akan bersikap egois dengan memaksakan Ziva untuk bercerita sekarang juga. Mungkin jika nanti Ziva sudah mulai terbuka sepenuhnya dan bisa menerima kehadirannya secara total, gadis itu akan dengan suka rela berbagi setiap jengkal kesedihan dan kesenangannya. Untuk sekarang, Mahendra memilih untuk diam dan memberikan ruang, walau jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat penasaran dengan trauma apa yang sebenarnya telah dialami oleh Ziva hingga gadis itu kerap kali menangis histeris saat terbawa ke alam mimpi.

​"Entah kenapa aku merasa waktu hidupku di dunia ini sudah tinggal sedikit lagi, Mahendra. Jika memang firasat ini benar, aku justru akan merasa sangat senang. Dengan begitu, aku bisa pergi dan bertemu dengan Bunda dengan lebih cepat di atas sana. Pasti di surga sana Bunda sudah sangat merindukanku dan sedang menunggu putrinya ini untuk datang menemuinya," batin Ziva sendu, diiringi oleh senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan.

​"Mau bobok lagi, hmm?" tanya Mahendra dengan suara berbisik yang sangat lembut saat menyadari kelopak mata Ziva kembali bergerak pelan dan mulai tertutup rapat karena rasa kantuk yang menyerang akibat kelelahan mental.

​Ziva hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia kemudian menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas dada bidang milik Mahendra. Sungguh, kehangatan dari tubuh Mahendra dan detak jantung cowok itu entah mengapa selalu berhasil menjadi obat penenang paling ampuh bagi Ziva.

​Mahendra tersenyum tipis melihat respons pasif namun penuh kepercayaan dari gadisnya. Lengan kirinya bergerak perlahan, menepuk-nepuk punggung Ziva dengan ritme yang konstan dan pelan, berusaha memberikan kenyamanan ekstra agar Ziva bisa secepatnya terlelap ke alam mimpi.

​Tak butuh waktu lama, suara dengkuran halus dan teratur mulai terdengar keluar dari mulut mungil Ziva. Mahendra menundukkan kepalanya ke bawah, menatap lekat-lekat wajah tidur Ziva yang terlihat berlipat ganda lebih menggemaskan di matanya. Di mana saat ini, Ziva secara tidak sadar memasukkan sedikit ibu jarinya ke dalam mulut dan menyesapnya pelan, persis seperti kebiasaan seorang bayi mungil yang sedang tertidur lelap.

Ah, bagi Mahendra, Ziva memanglah bayi kecilnya yang harus dijaga dengan taruhan nyawa. Ingat, umur boleh saja sudah beranjak dewasa, tapi tingkah manja seperti bayi terkadang harus dimainkan untuk menarik seluruh atensi penuh dari sang kekasih, hahaha.

​"Gue janji, gue bakal balas semua perbuatan orang-orang yang sudah berani membuat kamu menangis dan sedih seperti ini, sayang. Bahkan, gue sendiri yang akan memastikan kalau balasan yang mereka terima akan jauh lebih menyakitkan dari apa yang sudah mereka lakukan sama kamu selama ini. Dan setelah semua urusan gue sama tikus-tikus itu selesai, kita berdua akan pergi hidup bahagia berdua tanpa perlu ada drama dari orang lain lagi. Kita tunggu saja tanggal mainnya, bitch!" batin Mahendra bergejolak penuh amarah yang tertahan. Sisi gelapnya mencuat ke permukaan. Dirinya benar-benar tidak terima dan murka melihat Ziva-nya selalu dirundung kesedihan, terlihat rapuh, dan selalu diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan, bahkan oleh darah dagingnya sendiri.

​Sementara itu, di sebuah tempat lain yang letaknya cukup jauh dari area sekolah, atmosfer ketegangan yang pekat terasa begitu menyengat. Di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang gelap gulita, di mana satu-satunya sumber pencahayaan hanyalah berasal dari sebuah lampu bohlam tua yang sinarnya sudah mulai meredup dan berkedip-kedip, tampak beberapa orang dengan jenis kelamin berbeda sedang duduk melingkar mengelilingi meja kayu yang lapuk. Mereka terlihat sedang mendiskusikan sebuah agenda rahasia yang sangat serius.

​"Gue nggak mau tahu! Pokoknya lo harus secepatnya singkirin gadis jalang itu dari cowok incaran gue!" sentak seorang gadis dengan nada suara yang melengking tinggi penuh dengan kebencian yang mendalam.

​"Jaga ucapan lo. Dia bukan jalang!" balas seorang laki-laki yang duduk di seberangnya dengan nada suara yang tak kalah dingin dan tajam.

​"Ya, ya, terserah apa kata lo! Intinya, lo harus cari cara untuk menyingkirkan dia dari cowok gue secepatnya! Ingat itu baik-baik, jangan sampai lo teledor," ucap gadis itu dengan sikap masa bodoh yang teramat menyebalkan.

​"Iya, gue tahu. Nggak usah terus-terusan lo perintah," ucap laki-laki itu dengan nada yang terdengar sangat malas dan jengah menghadapi perangai egois gadis di depannya.

​"Lalu, apa rencana yang sudah lo siapin?" tanya gadis itu lagi, menuntut kejelasan sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

​"Gue punya satu rencana yang menurut gue cukup menarik untuk dimainkan. Dan untuk lo, lo yang harus turun tangan langsung untuk menjalankan skenario rencana dari gue," jawab sang laki-laki dengan senyuman misterius yang terukir di wajahnya.

​Gadis itu langsung menggebrak meja dengan kesal. "Kenapa harus gue?! Lo yang punya ide dan rencana, lalu kenapa jadi gue yang harus repot-repot ngejalaninnya?!"

​"Hey, ayolah, pakai otak lo. Pikir secara logis," sahut laki-laki itu sembari mengetukkan jarinya di pelipis.

"Lo itu tinggal satu rumah sama dia, jadi lo bisa dengan sangat leluasa memantau pergerakannya dan menjalankan rencana ini tanpa menimbulkan kecurigaan. Apalagi, lo kan anak kesayangan bokap lo."

​Mendengar kalimat terakhir itu, ego sang gadis seketika melambung tinggi. "Hm, lo bener. Gue emang anak kesayangan bokap! Apapun yang gue minta pasti bakal di kabulin, beda sama anak pembawa sial itu," ucapnya dengan penuh percaya diri dan senyuman sombong yang terpatri jelas di wajahnya.

​"Kalau begitu, buruan kasih tahu gue! Apa rencana detailnya?!" tagih gadis itu yang sudah tidak sabar lagi.

​"Iya, sabar. Sini deketan, gue mau bisikin sesuatu sama lo," perintah laki-laki itu.

​Gadis itu segera memajukan badannya ke depan, mendekatkan telinganya pada bibir laki-laki tersebut. Dengan suara yang sangat rendah mirip desisan ular, laki-laki itu membisikkan rentetan rencana busuk dan kejam ke telinga sang gadis.

​Mendengar penuturan tersebut, seulas senyuman licik dan mengerikan perlahan terbit di wajah sang gadis. "Menarik. Sangat menarik. Dan untuk membuat permainan ini menjadi jauh lebih seru, gue bakal tambahin bumbu-bumbu penderitaan tambahan di dalamnya untuk dia," ucapnya sembari menyeringai puas, membayangkan kehancuran korbannya.

​Mendengar penuturan tambahan dari sang gadis, raut wajah laki-laki itu mendadak berubah menjadi serius. Ia mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan cukup kuat. "Ingat satu hal penting ini, jangan sampai lo bertindak ceroboh dan membuat gadis gue kesakitan melebihi batas! Jangan rusak aset gue."

​Gadis itu berdecak sebal dan mengempaskan tangan laki-laki itu dengan kasar. "Ck, iya, iya! Posesif amat lo jadi orang. Lagian tuh cewek belum tentu mau sama lo," celetuknya dengan nada suara yang sangat kesal.

​"Yaudah, urusan gue di sini sudah selesai. Gue cabut duluan," pamit laki-laki itu sembari berdiri dari kursinya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan remang-remang tersebut.

​"Hm," jawab gadis itu singkat tanpa minat.

​Setelah punggung laki-laki yang bisa disebut sebagai rekan sekongkolnya itu sudah benar-benar menghilang dari pandangan dan suasana kembali hening, gadis itu tertawa renyah sendirian. Suara tawanya terdengar sangat menggema dan mengerikan di dalam ruangan yang sepi itu.

​"Bahkan sejujurnya, gue sama sekali nggak peduli dengan keselamatan atau penderitaan cewek jalang itu. Yang paling penting bagi gue hanyalah bagaimana cara menjadikan cowok tampan itu menjadi pacar dan milik gue seutuhnya. Walaupun untuk mewujudkan ambisi besar gue itu, gue harus melukai atau bahkan melenyapkan gadis jalang itu sekalian dari dunia ini! Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghentikan langkah gue kali ini, hahaha!" Ucap nya di dalam hati dengan penuh dendam dan ambisi yang membakar jiwanya.

"Apapun di dunia ini yang sudah gue targetkan untuk menjadi milik gue, maka selamanya harus menjadi milik gue! Jika ada orang yang berani menjadi batu penghalang di tengah jalan, maka dengan senang hati akan aku singkirkan orang itu dengan menggunakan cara apapun, tidak peduli seberapa kotor cara itu!" Ucap nya dengan penuh tekad yang kuat dan urat wajah yang menegang, seakan-akan dirinya memiliki kekuatan mutlak untuk membuat seseorang lenyap dan pergi dari atas muka bumi ini selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!