NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : Pertemuan Kembali

Bagi Aeros, riuh rendah suasana restoran bergaya kolonial di pusat kota malam itu, tak lebih dari sekedar polusi suara yang harus ia toleransi.

Di umurnya yang menginjak 28 tahun, ia tumbuh menjadi pria yang tenang, dingin, dan memiliki batasan yang tegas dengan orang lain.

Di sebelahnya, Riche—kakak perempuannya yang berusia 30 tahun—sesekali tersenyum getir, saat ibunya mulai menyinggung soal cucu, topik sensitif bagi Riche yang sudah menikah dua tahun namun belum dikaruniai anak. Aeros hanya menyesap teh hitamnya yang tanpa gula, matanya datar, enggan ikut campur dalam basa-basi keluarga.

"Kael, gimana rasanya kerja di perusahaan ayah sendiri?" tanya Ayah Aeros kepada Kael, anak dari sahabat lamanya.

Kael yang duduk di samping Mamanya tersenyum sopan.

"Ya begitulah, Om," jawab Kael singkat.

Ia adalah seorang akuntan di perusahaan Papanya—Perusahaan V, sebuah perusahaan logistik yang sudah berkembang pesat selama berpuluh tahun.

Pertemuan dua keluarga yang bersahabat sejak lama ini sudah menjadi rutinitas tahunan, namun pertemuan kali ini ada yang spesial, yaitu menyambut kepulangan Sael, kembaran Kael yang baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri.

"Sael juga pasti membuat Killian bangga di sana," timpal ibu Aeros lembut, membuat suasana meja makan sempat hening sejenak. "Di umurnya yang baru 22 tahun, ia sudah pulang sebagai lulusan hukum terbaik dan langsung ditarik ke firma besar."

Mendengar nama Killian kakak dari si kembar disebut, jemari Aeros yang memegang cangkir teh sempat tertahan di udara. Memori delapan tahun lalu, saat ia dan Killian masih sama-sama pemuda berusia 20 tahun yang penuh ambisi, mendadak berputar.

Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Killian dan menyisakan trauma mendalam bagi Sael, adik Killian yang saat itu masih berusia 14 tahun.

𝘊𝘦𝘬𝘭𝘦𝘬.

Pintu ruangan itu bergeser, fokus Aeros langsung terkunci pada figur yang melangkah masuk. Sael, gadis 14 tahun yang dulu ia lihat menangis hancur di pemakaman Killian, kini telah berubah menjadi wanita dewasa berusia 22 tahun yang sangat cantik.

Ia mengenakan kemeja satin hitam dengan 𝘵𝘸𝘦𝘦𝘥 𝘣𝘭𝘢𝘻𝘦𝘳, lengkap dengan sepatu hak tinggi. Terlihat anggun dan dingin.

Namun bagi Aeros yang diam-diam memendam perasaan pada Sael sejak remaja, ia langsung menyadari, binar di mata Sael redup. Ada guratan kelelahan di sudut matanya.

"Maaf telat, Papa , Mama, Tante, Om, Kak Riche," ucap Sael, suaranya terdengar sedikit serak. "Tadi ada dokumen kasus yang harus diselesaikan di kantor," ucapnya lagi.

"Nggak apa-apa Sael. Sini duduk, Nak," ujar Mama Sael, menunjuk kursi kosong yang tepat berada di seberang Aeros.

"Kamu pasti capek, baru dua hari sampai rumah, langsung masuk kerja," Mama Sael menepuk punggungnya pelan.

Sael melangkah ke tempat yang ditunjuk Mamanya, lalu pandangannya bertemu dengan Aeros untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun berpisah. Sael sempat terpaku, terkejut melihat sosok Aeros yang kini jauh lebih dewasa, Aeros hanya memberikan anggukan kecil yang sopan, gaya khasnya yang selalu menjaga jarak dengan lawan jenis.

Namun, begitu Sael duduk, tangan Aeros bergerak secara refleks. Di meja bundar yang berputar itu, Aeros menggeser teko berisi teh hangat ke dekat piring Sael, lalu menukar sup pembuka milik Sael dengan mangkuk baru yang uapnya masih mengepul.

Semua itu ia lakukan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, seolah itu adalah hal yang sudah biasa ia lakukan.

Sael sempat tertegun melihat pergerakan tangan Aeros. Ia membalas dengan memberikan senyuman tipis dan anggukan sopan.

Setelah makan malam selesai, para orang tua tenggelam dalam obrolan bisnis dan nostalgia, sementara Riche sesekali tertawa kecil menanggapi gurauan ibunya.

Sael memanfaatkan kesempatan itu untuk bangkit dari kursinya, dengan alasan ingin mencari udara segar, ia pergi menuju balkon restoran.

Begitu pintu kaca balkon tertutup, suasana hening menyambutnya. Ia memejamkan matanya dan bersandar pada pagar pembatas balkon, membiarkan angin malam menyapu wajahnya.

"Kau tidak suka keramaian, atau kau hanya tidak suka berada di ruangan itu?"

Suara itu berat, tenang dan sangat familiar meski sudah tujuh tahun tidak ia dengar.

Sael membuka matanya, Aeros sudah berdiri di belakangnya, hanya beberapa langkah darinya, Aeros kemudian bersandar pada pilar balkon dengan satu tangan didalam saku celananya, pandangannya lurus kearah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah.

"Keduanya," jawab Sael singkat.

"Dan kau? Pemilik kafe yang sibuk tidak biasanya menghabiskan waktu dengan basa-basi keluarga seperti ini."

Aeros berbalik, menatap Sael dengan tatapan yang membuat gadis itu menahan napas sejenak. "Tiba-tiba aja aku ingin datang. Kenapa? Apa aku membuatmu tidak nyaman?," tanyanya.

Sael terdiam, bahunya sedikit menegang.

"Hm ... enggak... cuman pengen tanya aja."

"Jangan khawatir," lanjut Aeros, langkahnya mendekat. "Aku tahu batasanku, Sael, aku tidak akan bertanya apa yang terjadi di luar negeri ataupun tentang pria itu," ujar Aeros lagi.

Sael menoleh tajam, "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hm... Kael, saudara kembar mu itu terlalu banyak bicara," potong Aeros datar.

"Hahaha ... Dia memang begitu dari dulu," Sael tersenyum canggung.

Aeros terdiam sejenak, angin malam menerbangkan sedikit rambut hitamnya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya.

"Nomormu masih sama?" tanyanya sambil menyentuh ikon kontak.

"Hm ... Aku sudah ganti nomor," jawab Sael.

"Masukkan nomormu," Aeros menyodorkan ponselnya.

Sael mengernyit, sempat ragu sebelum akhirnya menerima ponsel dari tangan Aeros dan mengetikkan deretan angka disana.

Setelah mendapatkan nomor Sael, sebuah senyum tipis tersungging di wajah Aeros.

"Makasih... Nanti kuhubungi, " ujar Aeros, wajahnya kembali datar, seraya pergi dari balkon dan meninggalkan Sael yang kebingungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!