Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Senyum Palsu
Pukul tujuh malam tepat, pintu ganda ruang utama terbuka lebar.
Aira berdiri kaku di balik pintu pelaminan, menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan lewat mulut.
Malam ini, ia berganti gaun ballgown krem keemasan rancangan desainer ternama.
Aira tampak bagaikan putri kerajaan dari negeri dongeng. Tapi sayang, suasana hati sang putri malam ini tak ubahnya seperti bom waktu yang tinggal menanti detik terakhir untuk meledak.
"Ingat kata-kata Papi tadi, Aira," suara Papi Surya Hermawan kembali terngiang di kepalanya, tepat saat mata Aira menangkap sosok sang papi yang sedang berdiri di dekat tangga.
Papi Surya menatapnya, memberi isyarat tajam lewat usapan pelan di dagunya—sebuah pengingat tak tertulis bahwa 'rekening dan fasilitas' Aira ada di dalam genggamannya malam ini.
Aira menelan ludah yang terasa pahit. Dengusan kesal lolos dari hidungnya. "Hmph."
Dengan terpaksa, Aira memaksakan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Sebuah senyuman manis yang luar biasa kaku—lebih mirip senyum kecut menahan sakit gigi—langsung terukir di wajah cantiknya. Ia menghela napas berat berkali-kali untuk menetralkan dadanya yang sesak oleh kepura-puraan ini.
Di sebelahnya, Devan tampak amat memukau dengan setelah tuxedo hitam buatan penjahit Italia. Garis rahangnya yang tegas tampak makin karismatik di bawah cahaya lampu.
Melihat Aira yang mendadak menunduk nurut sambil memasang senyum 'akting' paling palsu sepanjang sejarah, tatapan geli langsung menyala di mata Devan. Bagi Devan, melihat Aira berusaha keras menahan emosi di bawah ancaman sang papi adalah hiburan paling menyenangkan malam ini.
"Mana senyum cantiknya, Istriku?" bisik Devan santai, melangkah mendekati Aira. "Senyumnya agak lebaran dikit dong. Itu bibir kamu kenapa ditarik gitu? Kayak lagi nahan makan cabe rawit sepuluh biji."
Aira memutar matanya tajam ke arah Devan, tapi bibirnya tetap mempertahankan 'senyum palsu' yang diperintahkan Papi Surya.
"Bisa diam nggak sih lu?!" desis Aira amat pelan. "Gue lagi akting nih demi kartu kredit gue! Jangan bikin fokus gue buyar ya, Devan!"
Devan bukannya takut, justru makin bersemangat. Ini dia momen yang paling ia tunggu-tunggu sejak tadi pagi. Aira yang mau marah tapi nggak bisa meluapkannya secara terang-terangan adalah mangsa paling menggemaskan di mata Devan.
Saat pemandu acara membawakan salam dan meminta pengantin berjalan menyusuri aisle menuju pelaminan utama, Devan sengaja mengambil langkah mendahului sedikit. Tanpa permisi, Devan meraih jemari tangan kanan Aira yang terbebas.
Srett.
Aira tersentak kaget. Sebelum Aira sempat memprotes atau menarik tangannya, Devan dengan gerakan mulus dan tegas menarik lengan Aira, lalu melingkarkan tangan wanita itu di lingkar lengannya. Devan bahkan menggenggam jemari Aira yang ada di atas lengannya, sehingga Aira berada dalam jarak yang sangat dekat, tak ada celah di antara mereka.
Sensasi hangat dari tubuh Devan dan aroma parfumnya langsung mengurung Aira. Jantung Aira berdesir hebat, melompat kencang bagai kena kejutan listrik.
"Devan! Lepasin nggak!" pungkas Aira panik, mencoba menarik tangannya secara halus. "Sempit banget gila! Gue susah jalan kalau mepet-mepet begini!"
"Nggak mau," balas Devan sangat santai, terus berjalan menatap tamu di depan mereka sambil melambaikan tangan dengan wajah ramah. "Suami istri kalau jalan di aisle ya emang harus begini, Calista. Biar semua orang tahu kamu itu udah resmi jadi milik aku."
"Milik lu kepala lu peang!" desis Aira sengit. Mau mengamuk, tapi di ujung aisle sana Papi Surya sedang memperhatikan mereka dengan senyuman puas, mengangguk-angguk bangga melihat 'kemesraan' anak dan menantunya.
Aira mendengus kesal luar biasa. "Ck!"
Reaksi Aira yang kepanasan, rona merah padam di pipinya karena campur aduk antara emosi dan rasa malu, serta bibirnya yang terus bergumam mengutuk dirinya... murni sebuah tontonan mahakarya bagi Devan. Pria itu menahan tawa, mengulum senyuman kemenangan di balik raut wajah tenangnya.
"Geser dikit, Devan... tangan lu kenceng banget megangnya, pergelangan gue sakit nih!" bisik Aira lagi, matanya mendelik galak tapi bibirnya tetap dipaksa tersenyum manis ke arah tamu-tamu yang melambaikan tangan dari pinggir karpet.
"Sakit?" Devan melonggarkan sedikit tekanan genggamannya, tapi bukannya melepas, jemari Devan justru menyusup ke celah jari-jemari Aira, menautkan jemari mereka dengan sangat erat—sebuah pose hand-holding yang jauh lebih intim. "Nah, gini kan nggak sakit lagi. Lebih mesra malah."
Aira rasanya mau pingsan saat itu juga. Tangannya ditautkan di depan para tamu.
"Lu bener-bener manfaatin situasi ya, cowok licik!" maki Aira berbisik, memasang wajah manis paling dramatis ke arah kamera fotografer yang tiba-tiba berlutut di depan mereka buat ambil foto close-up.
"Bukan licik, Istriku. Ini namanya memanfaatkan peluang bisnis dengan bijak," sahut Devan ringan, sama sekali tak terganggu oleh cercaan Aira.
Mereka akhirnya sampai di atas panggung pelaminan yang dihiasi ribuan tangkai bunga anggrek putih impor. Musik saksofon meluncur merdu, mengiringi sesi bersalaman dengan para tamu undangan yang mulai mengular panjang di tangga pelaminan.
Setiap kali ada relasi penting Papi Surya atau kolega bisnis Devan dari luar negeri yang naik ke panggung, Aira terpaksa harus bersikap bagaikan istri paling penurut dan paling bahagia se-dunia.
"Wah, Selamat ya Devan! Istri kamu cantik banget, anggun sekali," puji seorang pengusaha senior berambut uban sambil berjabat tangan dengan Devan.
Devan tersenyum menawan, menarik pinggang Aira agak mendekat ke sisinya lagi dengan santai. "Terima kasih, Pak. Iya, Aira emang cantik banget malam ini. Mana nurut dan lembut banget lagi sifatnya."
Aira yang mendengar pujian palsu itu langsung tersedak ludahnya sendiri.
Nurut?! Lembut?! Muka lu! batin Aira histeris.
Aira memaksakan senyum paling lebarnya ke arah Bapak itu. "Makasih banyak ya, Pak... Devan emang suka bercanda," sahut Aira dengan suara yang dibuat lembut, padahal jemari tangannya yang ada di belakang punggung Devan sengaja mencubit pinggang Devan dengan sekuat tenaga.
Cekit!
Aira mencubit pinggang Devan. Namun, Devan—yang otot pinggangnya tampaknya terbuat dari baja—sama sekali tidak meringis atau mengaduh. Pria itu cuma melirik Aira dari sudut matanya, lalu menyunggingkan cengiran penuh kejahatan.
Begitu pengusaha senior turun dari panggung, Devan merundukkan kepalanya ke arah telinga Aira.
"Cubitan kamu kurang kencang, Ra. Mau coba lagi?" bisik Devan mengejek, suaranya sarat akan nada menggoda yang bikin dada Aira makin berdebar tak karuan.
"Lu tuh ya... urat saraf sakit lu udah putus ya?!" sembur Aira berbisik sengit, menjauhkan wajahnya dari Devan. "Capek gue! Kaki gue pegel, muka gue kaku gara-gara senyum terus dari tadi!"
"Ya udah, sandaran aja di bahu aku kalau capek," tawar Devan santai, menepuk bahu jasnya sendiri. "Biar kelihatan makin mesra di depan Papi kamu tuh. Papi kamu dari tadi liatin kita terus lho dari Meja VIP satu."
Aira refleks melirik ke arah meja VIP satu. Benar saja. Papi Surya dan Mami Maya sedang duduk di sana bersama Om Bramantyo, menatap ke arah pelaminan dengan senyuman lebar dan puas. Papi Surya bahkan mengangkat gelas minumannya sedikit ke arah Aira, seolah bilang: Bagus, gitu dong nurut.
Aira menghela napas berat lagi. "Haaaah..."
Rasa frustrasi yang menumpuk di dadanya membuat Aira benar-benar kehilangan energi buat melawan Devan. Ia cuma bisa berdecak kesal berkali-kali, membiarkan tangannya tetap dilingkarkan di lengan Devan karena kalau ia melepaskannya, Devan bakal sengaja menariknya kembali dengan pose yang jauh lebih ekstrim.
Satu jam... dua jam... antrean tamu bersalaman rasanya tak pernah habis.
Padahal katanya pernikahan privat, tapi tamu yang lebih dari dua ratus. Apa-apaan ini?
Di tengah-tengah sesi foto bersama teman-teman alumni kampus Devan, Devan sengaja merapatkan tubuhnya lagi. Tangan kirinya merangkul pinggang Aira dengan sangat protektif, sementara tangan kanannya merapikan helai rambut Aira yang menutupi leher jenjangnya.
Tindakan Devan yang tiba-tiba merapikan rambutnya dengan gestur yang amat sangat lembut itu membuat Aira tertegun kaku. Tatapan mata Devan saat melakukan hal itu... Murni tatapan hangat yang amat dalam—tatapan yang persis sama dengan tatapan Devan delapan tahun lalu saat mereka masih saling mencintai.
Jantung Aira berdegup kencang, tak terkendali. Aira menatap mata Devan dari jarak beberapa sentimeter, mendadak lupa cara bernapas.
"Jangan melamun gitu," bisik Devan pelan, menepuk pipi Aira dengan ujung jarinya secara lembut. "Nanti makin kelihatan kalau kamu terpesona sama suami sendiri."
Brak!
Pesona masa lalu itu hancur seketika saat kalimat ejekan Devan kembali meluncur dari mulutnya.
Aira menyenggol perut Devan dengan sikutnya agak keras. "Pede banget lu! Siapa juga yang terpesona sama lu?!"
Devan cuma tertawa rendah, merasa sangat puas berhasil mengacak-acak emosi dan perasaan Aira sepanjang malam ini. Bagi Devan, melihat Aira terus-terusan merespons godaannya dengan raut marah, kesal, dan pipi memerah adalah bukti bahwa wanita itu sama sekali tidak pernah benar-benar netral jika berhadapan dengannya.
Aira boleh saja bilang benci. Aira boleh saja bilang ingin bercerai. Tapi di mata Devan, api emosi yang menyala di mata Aira malam ini jauh lebih baik daripada tatapan dingin tak peduli.
"Senyum lagi, Ra," bisik Devan sambil merangkul pinggang Aira lebih erat saat kamera fotografer kembali siap mengabadikan gambar mereka. "Tamu berikutnya udah mau naik tuh."
Aira menggigit bibirnya, membuang napas kasar untuk kesekian kalinya malam ini, lalu kembali menaikkan kedua sudut bibirnya.
"Gue sumpahin lu keselek air minum pas pulang nanti, Devan," bisik Aira manis sambil tersenyum lebar ke arah kamera.
"Makasih doanya, Istriku Sayang," balas Devan tak kalah manis, melayangkan senyuman paling menawan yang sukses membuat para tamu wanita di bawah panggung menjerit iri melihat kemesraan pasangan pengantin baru itu.
Pesta resepsi malam itu akhirnya ditutup dengan kemenangan telak di tangan Devan Argawinata, sementara Aira cuma bisa meratapi nasibnya yang kini resmi terikat dalam cengkeraman sang mantan.
semangat thorr💪💪😍
siapa ya yang di ruangan itu🤔