Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Clara juga menyadari itu.
Terlebih lagi, dia merasa bahwa ini mungkin kompensasi Edward karena tidak mengizinkan paman Vanessa dan keluarganya pindah ke seberang rumah pamannya.
Lagi pula, mengingat perasaannya terhadap Vanessa, gimana mungkin dia tega membiarkan Vanessa sedih hanya demi menolong Clara?
Dylan pun berkata, "Kalau dia benar-benar menyembunyikan kemampuannya, berarti... "
Meski mereka adalah murid Prof Nian dan dia sering bersikap dingin pada mereka, hubungan mereka dan dosen mereka itu sebenarnya bisa dibilang lumayan baik.
Walaupun dosen mereka tegas terhadap mereka, sebenarnya dia adalah orang yang berwajah dingin tetapi berhati lembut.
Namun, dia juga seorang yang berprinsip.
Jika kemampuan dan bakat Vanessa benar-benar memadai, dia tidak akan menolaknya hanya karena masalah antara Clara dan Vanessa.
Jadi...
Clara segera menenangkan diri dan berkata, "Kita urus urusan kita sendiri dulu."
Yang bisa dilakukannya hanyalah menjadi dirinya sendiri.
Malam itu, dia pulang larut dan nenek Keluarga Anggasta sudah tertidur.
Akan tetapi, ketika dia tiba di rumah, Edward masih belum pulang.
Mungkin saja, dia tidak akan pulang.
Namun, ketika dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Edward.
Dia benar-benar pulang.
Ketika melihat Edward, langkahnya terhenti dan dia mengangguk sedikit padanya sebagai salam.
Adapun mengapa dia membuat janji dengan Prof Nian hari ini, dia tidak menanyakannya pada Edward.
Edward juga tidak mengatakan apa-apa. Setelah meliriknya, dia pergi ke kamar mandi.
Keesokan paginya, dia bangun terlambat.
Ketika turun dari kamarnya, dia mendengar nenek Keluarga Anggasta berkata kepada Edward dengan nada sarkas, "Semalam aku tidur jam sepuluh lewat, tapi kamu masih belum pulang. Aku pikir kamu nggak pulang lagi!"
Sementara Edward sih, hanya duduk berhadapan dengan nenek dan minum air dengan tenang, tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Nenek pun mengetuk meja dan berpura -pura marah, "Bicara! Nggak usah pura-pura bodoh!"
Saat ini Edward meletakkan cangkir dan melihat Clara menuruni tangga. Dia meliriknya sekilas, lalu berbalik dengan tenang dan berkata, " Bukannya nenek yang suruh aku pulang dan bilang kalau aku harus temani nenek pagi ini?"
"Nenek pikir kamu nggak mau dengerin Nenek lagi!"
"Aku nggak berani."
Walaupun dia berkata gitu, ekspresinya tampak tenang, tidak terlihat takut sedikit pun.
Nenek Keluarga Anggasta makin marah padanya, jadi dia mengabaikannya dan melambai ke arah Clara, memintanya untuk duduk.
Clara pun duduk dan bertanya, " Nenek, apa kalian akan pergi nanti?"
"Bukan 'kalian', tapi kita!" Nenek berkata sambil tersenyum, "Ayo kita pergi bareng. Clara, kamu mau main ke mana? Nenek ikuti kemauanmu."
Clara terkadang merasa bahwa dirinya memang orang yang sangat membosankan.
Dia benar-benar tidak punya ide tentang tempat hiburan yang disukai semua orang.
Jadi dia berkata, "Ke mana saja boleh.
Aku terserah Nenek saja."
Nenek sebenarnya sudah punya ide. Setelah mendengar ini, dia pun bertanya, "Gimana kalau pergi mandi air panas? Terakhir kali aku bilang mau mandi air panas, tapi bukannya mandi air panas, aku malah jadi sakit karena marah sama seseorang'. Kali ini, 'orang itu' harus menebusnya."
Yap, orang yang dibilang nenek memang adalah Edward.
Edward mendengarkan dengan saksama dan terus meminum tehnya dengan tenang. Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak nyaman atau bersalah karena nenek menyebutkan masalah ini.
Seolah-olah hal itu tidak layak untuk dibicarakan sama sekali..
Dia tidak pernah menganggap serius masalah ini.
Memikirkan hal ini, Clara menarik kembali pandangannya.
Dia pernah mandi air panas di Vila Air Panas sebelumnya.
Jadi saat ini, dia sebenarnya tidak tertarik mandi air panas.
Tetapi karena nenek sudah berkata demikian, dia pun hanya bisa menuruti perintahnya dan berkata, " Iya, Nek."