NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Debaran yang Pahit

​Sore di Kota Bandung selalu memiliki magisnya tersendiri. Angin yang berembus membelah dahan-dahan pohon beringin tua di taman kota itu membawa hawa dingin khas dataran tinggi yang mulai menusuk pori-pori kulit. Suara deru mesin kendaraan dari jalan raya terdengar bagai dengungan lebah raksasa, menjadi musik latar yang ironis bagi dua anak manusia yang tengah duduk bersisian di atas bangku besi yang catnya mulai mengelupas.

​Alan memejamkan matanya sejenak setelah menegaskan bahwa Rahmi adalah 'magnet' pelipur laranya. Ia meneguk habis sisa minuman kalengnya, membiarkan sensasi dingin soda itu membasuh tenggorokannya yang sedari tadi terasa kering kerontang akibat kelelahan fisik dan mental yang mendera.

​Di sebelahnya, Rahmi sedang bertarung mati-matian melawan badai di dalam dadanya sendiri. Keputusasaan, cinta yang tak terbalas, dan rasa sakit karena hanya dianggap sebagai "tempat singgah" membuat napas gadis tomboi itu terasa berat. Ia menelan ludahnya susah payah, memaksa matanya untuk tidak meneteskan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Rahmi menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara dingin Bandung, lalu mendongakkan kepalanya, menatap langit luas yang membentang di atas mereka.

​Kanvas langit sore itu terlihat begitu dramatis. Awan-awan kelabu sisa hujan siang tadi masih menggantung rendah di beberapa sudut, namun di ufuk barat, matahari yang sedang turun ke peraduannya memancarkan semburat jingga keemasan yang luar biasa memesona. Cahaya itu menyelinap di antara celah awan mendung, menciptakan kontras warna yang melankolis namun memanjakan mata.

​"Cuacanya cerah tapi sedikit mendung... tapi indah juga warna jingganya," gumam Rahmi memecah keheningan yang sempat membeku di antara mereka. Suaranya terdengar pelan, nyaris seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pandangannya menerawang jauh menembus batas cakrawala, mencoba mencari pelarian dari rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya.

​Alan yang sedang meremas kaleng soda kosong di tangannya hingga penyok, perlahan menoleh. Ia menatap Rahmi dengan tatapan menyelidik. Alis tebalnya bertaut heran, tidak terbiasa mendengar kalimat berbunga-bunga keluar dari mulut sahabat perempuannya yang biasanya lebih sering mengumpat atau berbicara dengan nada tinggi itu.

​Sebuah senyum miring perlahan terbentuk di sudut bibir Alan, senyum jahil yang selalu ia gunakan untuk menutupi kelelahannya saat sedang bersama sahabat-sahabat gengnya.

​"Puitis banget lu hari ini," cibir Alan dengan nada mengejek yang bersahabat. Ia memutar tubuhnya sedikit menghadap Rahmi, menyandarkan lengannya di punggung bangku taman. "Jangan-jangan lu mau pindah fakultas, Mi? Gaya lu udah kaya anak Sastra aja lu, pake ngomongin warna jingga segala. Kita ini anak Fakultas Akuntansi, Mi. Tiap hari kerjaan kita ngurusin balance sheet, pusing mikirin jurnal umum sama neraca lajur yang gak pernah balance. Otak lu harusnya isinya debit-kredit, bukan awan mendung sama senja jingga."

​Mendengar ledekan Alan yang membawa-bawa jurusan kuliah mereka, Rahmi refleks mendengus kasar. Topeng ketangguhannya kembali terpasang dengan sempurna. Ia menoleh, membalas tatapan Alan dengan sorot mata yang dibuat setajam mungkin.

​"Tapi emang bener, bego," sungut Rahmi, nada suaranya kembali ke setting-an awal ala preman kampus yang ketus. Ia mengangkat dagunya, menunjuk ke arah langit dengan isyarat kepalanya. "Mata lu kan normal, liat aja ke atas noh. Emang langitnya lagi cakep. Jangan karena hidup lu lagi suram, lu jadi buta warna sama keindahan alam."

​Alan tertawa pelan mendengar balasan pedas itu. Tawa yang, meskipun terdengar parau dan lelah, cukup membuat hati Rahmi sedikit menghangat di tengah kepedihannya.

​"Iya, iya... udah gue liat," jawab Alan mengalah, mengangkat sebelah tangannya seolah menyerah. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, mengikuti arah pandangan Rahmi menatap langit jingga yang perlahan mulai digerogoti oleh kegelapan malam.

​Hening kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit. Angin sore meniup pelan rambut sebahu Rahmi, membuat beberapa helai anak rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Di tengah keheningan itu, pikiran Alan kembali mengembara ke masa lalu. Ke hari-hari pertamanya menginjakkan kaki di tanah perantauan Bandung ini, ke masa orientasi kampus di mana ia pertama kali bertemu dengan Rahmi, Randi, dan Ardi. Tiga sahabat dari Fakultas Akuntansi yang mengubah hidupnya yang sebatang kara menjadi jauh lebih berwarna.

​Alan menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang sarat akan rasa syukur yang mendalam, namun juga diiringi oleh rasa rendah diri yang tak pernah bisa ia hilangkan sepenuhnya.

​"Enak ya jadi anak pengusaha properti di kota Bandung kayak lu, Mi," ucap Alan tiba-tiba, suaranya berubah menjadi sangat lembut dan serius. Nada bicaranya mengalun pelan, memecah deru angin malam.

​Rahmi menoleh, sedikit terkejut dengan perubahan topik yang mendadak itu. Ia menatap sisi wajah Alan yang masih mendongak menatap langit. Gurat-gurat kelelahan terlihat begitu jelas di bawah mata pemuda itu.

​"Apa-apa gampang buat lu," lanjut Alan, senyum getir terlukis di bibirnya. "Lu mau beli buku kuliah yang harganya jutaan, tinggal minta. Lu mau makan enak, gak perlu nunggu akhir bulan. Kehidupan lu itu ibarat jalan tol yang mulus, Mi. Gak kayak gue... gembel perantauan yang harus mati-matian lari di jalanan berbatu cuma buat sekadar bisa makan besok pagi."

​Alan menundukkan kepalanya, menatap sepatunya yang sudah mulai pudar warnanya. Tangannya yang kasar bertumpu di atas lututnya.

​"Tapi gue bersyukur banget... sumpah, gue bersyukur banget Tuhan nakdirin gue masuk di kelas Akuntansi dan ketemu sama kalian," suara Alan sedikit bergetar, memancarkan ketulusan yang luar biasa. "Gue ini miskin, Mi. Tapi lu, Randi, sama Ardi... kalian yang dari keluarga berada gak pernah sekalipun mandang gue sebelah mata. Kalian gak pernah ngebiarin gue ngerasa sendirian. Gue selalu dibantu elu, Randi, sama Ardi dalam hal apa pun. Mulai dari urusan tugas kampus, ngerjain paper, sampai urusan perut kalau gue lagi bener-bener bokek."

​Alan terdiam sejenak, menelan ludahnya yang terasa agak pahit. Pikirannya melayang pada amplop tebal berisi uang yang baru saja ia terima pagi tadi.

​"Bahkan... bahkan orang-orang di sekitar kalian juga ikutan baik sama gue," ucap Alan dengan suara yang semakin pelan. "Bang Hendri pun selalu bantu gue. Hari ini, dia tiba-tiba ngasih gaji gue di awal, bahkan... bahkan dia ngasih bonus tambahan yang jumlahnya gak kira-kira, Mi. Uang itu gede banget buat ukuran pelayan kafe biasa kayak gue. Kadang gue mikir, apa kebaikan yang udah gue lakuin di masa lalu sampai gue dikelilingi orang-orang sebaik kalian? Padahal gue ini bukan siapa-siapa."

​Mendengar penuturan jujur yang keluar dari lubuk hati Alan yang paling dalam, Rahmi merasa dadanya seolah dihantam oleh ribuan jarum tak kasat mata. Hatinya mencelos. Uang bonus yang Alan bicarakan dengan penuh rasa syukur itu... uang itu sebagian besar adalah uang dari tabungan Rahmi sendiri. Uang yang ia titipkan kepada Bang Hendri agar Alan bisa membayar biaya sekolah adiknya di kampung tanpa harus merasa berutang budi atau harga dirinya terluka.

​Rahmi ingin sekali menangis saat itu juga. Ia ingin berteriak dan mengatakan bahwa 'Itu uang gue, Lan! Gue yang ngasih karena gue sayang sama lu! Gue gak mau liat lu menderita!'

​Namun, bibir Rahmi terkunci rapat. Ia tidak boleh menghancurkan harga diri Alan. Ia hanya bisa menatap pemuda di sebelahnya itu dengan pandangan yang memancarkan penderitaan batin yang luar biasa hebat. Rahmi menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat, menahan air mata yang mendesak ingin keluar.

​Di saat Rahmi sedang berperang dengan emosinya sendiri, Alan kembali tenggelam dalam pusaran lamunannya yang rumit.

​Pikiran Alan kini tidak lagi berada di taman itu. Pikirannya melayang jauh melintasi gedung-gedung fakultas, berpindah dari Fakultas Akuntansi menuju gedung megah Fakultas Manajemen. Pikirannya tertuju pada satu nama, satu wajah yang sejak pagi tadi mengobrak-abrik seluruh rasionalitasnya. Bunga.

​Alan teringat pada senyum Bunga, teringat pada rasa cemburu buta yang menyiksanya, dan teringat pada kalimat Bunga yang menyiratkan bahwa gadis itu mungkin saja membuka hati untuknya. Perasaan itu... perasaan berdebar yang menyakitkan, rasa takut kehilangan, rasa tak pantas yang menyiksa... semuanya bercampur aduk menjadi sebuah adonan emosi yang tidak bisa dicerna oleh otak Alan yang lelah.

​Dalam kebingungan dan kekosongan jiwanya, tanpa ada sedikit pun niatan sadar, tubuh Alan bergerak mencari sebuah jangkar. Mencari sebuah pegangan untuk memastikan bahwa ia masih berpijak di bumi.

​Dengan gerakan yang teramat pelan, Alan mengangkat tangan kanannya. Tangan yang permukaannya kapalan, kasar akibat rutinitas mengangkat galon, menggosok lantai kafe, dan meracik kopi panas setiap hari. Tangan kasar itu bergerak melintasi jarak setengah meter di antara mereka, lalu...

​GREPP!!!

​Alan menggenggam tangan kiri Rahmi yang sedang tergeletak lemas di atas paha gadis itu.

​Genggaman itu tidak kuat, bukan sebuah cengkeraman. Genggaman itu terasa begitu lembut, begitu hati-hati, seolah tangan Rahmi adalah porselen rapuh yang akan hancur jika ditekan terlalu keras. Kulit Alan yang kasar bersentuhan langsung dengan kulit Rahmi yang halus dan dingin.

​Alan tidak berhenti sampai di situ. Masih dalam kondisi setengah melamun dengan mata yang menatap kosong ke arah kegelapan malam, Alan perlahan menarik tangan Rahmi yang ada dalam genggamannya, mengangkatnya, lalu menempelkan telapak tangan Rahmi itu tepat di atas dada sebelah kirinya. Tepat di atas letak jantungnya.

​Tubuh Rahmi tersentak hebat.

​Napas Rahmi seketika berhenti di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, sebesar piring kecil, menatap tangannya yang kini terkunci rapat di dada Alan. Seluruh sistem saraf di tubuhnya seakan mengalami korsleting massal. Waktu di sekitarnya terasa membeku total. Suara deru kendaraan di jalan raya mendadak senyap, digantikan oleh suara dengungan nyaring di telinganya dan...

​Dug... dug... dug...

​Suara detak jantung.

Bukan jantungnya. Melainkan detak jantung Alan yang berdegup kencang, memukul-mukul telapak tangannya melalui lapisan kain kaus dan jaket hitam pemuda itu. Detakannya terasa ritmis, kuat, namun di saat yang bersamaan terasa begitu... memilukan.

​Alan, yang akal sehatnya masih melayang entah ke mana, membuka suaranya. Nada bicaranya terdengar seperti sebuah bisikan keputusasaan yang lahir dari rongga jiwa yang paling sunyi.

​"Tapi... gue belum ngerti sepenuhnya tentang cinta, Mi," bisik Alan pelan, matanya masih menerawang kosong ke depan, sama sekali tidak menatap Rahmi. Ibu jarinya secara refleks mengusap pelan punggung tangan Rahmi yang menempel di dadanya.

​"Gue bingung," lanjut Alan dengan suara parau yang menyayat hati. "Gue ngerasa ada yang aneh sama diri gue hari ini. Dan detakan jantung gue ini... lu bisa rasain kan, Mi? Detakan jantung gue ini... dia terasa berdetak kencang, tapi... tapi rasanya gak berisi. Kosong. Kayak ada yang kurang. Gue ngerasa takut, gue ngerasa gak pantes, gue ngerasa... hampa."

​Rahmi terdiam mematung. Seluruh persendian di tubuhnya menegang hebat, kaku seperti sebongkah batu es. Ia kehilangan kemampuan untuk bernapas, apalagi untuk merangkai kata. Tangan Alan yang kasar tapi memancarkan kehangatan yang luar biasa itu membakar telapak tangannya, menyalurkan arus listrik jutaan volt yang langsung menyengat langsung ke pusat hatinya.

​Otak Rahmi yang biasanya cerdas dalam berhitung dan berdebat kini lumpuh total.

​'Lan...' jerit batin Rahmi dengan histeris, sebuah jeritan kebingungan, keterkejutan, dan harapan semu yang menyiksa. 'Tangan gue... tangan gue lu pegang begitu lembutnya, Lan... dan lu tempelin di dada elu. Di atas jantung lu! Ada apa ini?! Apa maksud dari semua ini, Lan?! Kenapa lu ngelakuin ini ke gue di saat gue lagi mati-matian nyoba ngubur perasaan gue?!'

​Telapak tangan Rahmi bisa merasakan dengan sangat jelas setiap detak jantung pemuda yang ia cintai setengah mati itu. Dug... dug... dug... Irama itu menjalar ke lengannya, merambat naik ke dadanya sendiri, memaksa jantungnya untuk ikut berdetak dengan ritme gila yang sama.

​Namun, di balik eforia sentuhan fisik pertama yang begitu intim ini, logika Rahmi yang kejam datang menamparnya.

​Ia tahu, ia sangat sadar, bahwa detakan jantung kosong yang dibicarakan oleh Alan saat ini... bukanlah karena dirinya. Alan sedang membicarakan Bunga. Alan sedang kebingungan menghadapi perasaannya sendiri terhadap bidadari Fakultas Manajemen itu. Dan Rahmi... Rahmi hanyalah dijadikan sebagai medium, sebagai dinding ratapan tempat Alan menumpahkan kebingungannya. Rahmi menyadari bahwa Alan menggenggam tangannya bukan karena Alan menginginkannya sebagai seorang wanita, melainkan karena Alan menganggapnya sebagai saudara yang aman untuk diajak berkeluh kesah.

​Fakta itu menancap di dada Rahmi bagaikan sebilah belati berkarat yang diputar perlahan-lahan. Sakit. Sakit sekali hingga rasanya ia ingin mencabut jantungnya sendiri.

​Selama hampir satu menit penuh, posisi itu bertahan. Angin malam Bandung berembus semakin kencang, namun kehangatan di antara tangan mereka menolak untuk padam.

​Lalu... perlahan-lahan, kesadaran mulai merayap kembali ke dalam otak Alan.

​Sensasi dingin dan halus dari telapak tangan yang berada di dadanya perlahan mengirimkan sinyal nyata ke pusat otaknya. Alan berkedip beberapa kali. Tatapannya yang tadi kosong dan menerawang perlahan mulai fokus. Otaknya yang kelelahan mengalami lag selama beberapa detik. Memproses informasi.

​Tunggu... tangan siapa yang lagi gue pegang ini?

​Alan menundukkan pandangannya secara perlahan. Matanya langsung tertuju pada dada sebelah kirinya. Di sana, tangan besarnya sedang menggenggam erat sebuah tangan mungil berkulit kuning langsat, menekannya tepat di atas jantungnya. Tangan itu berbalut ujung lengan jaket jeans pudar. Jaket jeans yang sangat ia kenali.

​Detik itu juga, aliran darah di sekujur tubuh Alan terasa berhenti.

​Dengan gerakan patah-patah layaknya sebuah mesin tua yang berkarat, Alan memutar kepalanya ke samping kanan. Menatap langsung ke arah wajah gadis yang duduk di sebelahnya.

​Rahmi sedang menatapnya dengan mata membelalak lebar, wajah memerah padam, dan bibir yang sedikit bergetar.

​Alan melihat ke arah mata Rahmi. Rahangnya terjatuh. Mulutnya terbuka lebar membentuk huruf 'O', namun sama sekali tidak ada suara yang keluar. Pita suaranya seolah putus. Kosakata andalannya saat sedang salah tingkah—kalimat seperti 'apaan sih lu bego' atau 'eh kampret, apaan sih'—yang biasanya sangat lancar meluncur dari bibirnya jika digoda oleh Randi atau Ardi, kini menguap tak berbekas dari kamus otaknya.

​Alan melihat lagi ke arah dadanya. Menatap tangannya yang dengan lancang menempelkan tangan Rahmi di atas jantungnya sendiri.

​Otak logis Alan akhirnya meledak. Kepanikan stadium akhir menyerangnya dengan sangat brutal.

​'Eh, ini...' jerit batin Alan, suaranya di dalam kepala melengking penuh horor dan rasa malu yang luar biasa mematikan. Matanya melotot menatap tangannya sendiri seolah itu adalah benda asing yang menjijikkan. 'Gila! Gue kenapa megang tangan si Rahmi sampai nempelin tangannya di dada gue begini?! Setan alas dari mana yang ngerasukin badan gue barusan?! Astaga naga, mati gue! Bisa-bisanya gue ngelakuin adegan sinetron alay begini ke sahabat gue sendiri?!'

​Sadar akan tindakan memalukannya yang sudah di luar nalar persahabatan, Alan bereaksi dengan kecepatan cahaya. Seperti seseorang yang baru saja menyentuh panci panas yang mendidih, Alan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rahmi dengan gerakan sentakan yang sangat kasar dan refleks.

​Tangan Rahmi jatuh terempas ke atas pangkuannya sendiri.

​Alan langsung menarik tubuhnya mundur hingga punggungnya menabrak sandaran kursi dengan keras. Wajahnya yang berkulit sawo matang kini memerah sempurna bagaikan kepiting rebus. Ia terlihat sangat panik, salah tingkah, dan luar biasa gugup. Matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan, tidak berani menatap mata Rahmi sedetik pun.

​Ia mengusap dadanya sendiri dengan cepat, seolah ingin menghapus jejak tangannya dari sana.

​"Eh... s-sorry, Mi!" seru Alan dengan suara yang pecah dan terbata-bata parah, memecah kecanggungan yang sangat mencekik udara di sekitar mereka. "Sumpah, gue... gue bener-bener gak sadar barusan! Sorry banget, ya Tuhan, sorry parah!"

​Alan meremas rambut hitamnya sendiri dengan frustrasi. Ia mencoba mencari-cari alasan paling logis yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan harga dirinya yang baru saja terjun bebas ke dasar jurang.

​"M-mungkin... mungkin ini gara-gara kecapean, Mi!" lanjut Alan dengan tempo bicara yang sangat cepat, seolah sedang dikejar anjing gila. Tangannya bergerak abstrak di udara. "Iya, bener! Gue kecapean banget hari ini shift pagi sampai sore! Belum lagi tugas dosen Cost Accounting yang ngebantai otak gue kemaren. Jadi... jadi gue kurang fokus. Pikiran gue nge-blank, ngelantur ke mana-mana. S-sori banget, lu jangan mikir yang aneh-aneh, ya?!"

​Di tempatnya duduk, Rahmi masih berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan jiwanya yang baru saja terbang melayang ke surga lalu dihempaskan kembali ke neraka dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Sensasi hangat dari telapak tangan Alan dan irama detak jantung pemuda itu masih tertinggal jelas, tercetak secara permanen di telapak tangan kirinya. Tangan kirinya itu kini bergetar hebat di atas pahanya.

​Melihat Alan yang kalang kabut memberikan alasan yang penuh kepanikan, hati Rahmi kembali berdenyut perih. Ia sadar betul. Reaksi jijik dan panik Alan saat menyadari ia memegang tangan Rahmi adalah bukti paling mutlak bahwa di mata pria ini, Rahmi sama sekali tidak memiliki daya tarik romantis. Bagi Alan, menyentuh Rahmi dengan cara seperti itu adalah sebuah "kesalahan teknis" yang sangat memalukan, bukan sebuah ketidaksengajaan yang didasari oleh perasaan terpendam.

​Rasanya seperti ditampar berulang-ulang di tempat yang sama. Namun, di sinilah letak kutukan dari sebuah topeng persahabatan yang sudah terlanjur melekat erat di wajah. Rahmi harus ikut bermain dalam skenario "tidak terjadi apa-apa" ini, meskipun jiwanya berteriak kesakitan.

​Rahmi menelan ludahnya, memaksa tenggorokannya yang tersekat untuk berfungsi kembali. Ia memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat sumbang dan kering.

​"L-lu..." Rahmi membalas dengan suara yang ikut terbata-bata, ketegasannya sebagai gadis tomboi menguap entah ke mana. Matanya menatap sepatunya sendiri, tak berani mendongak. "Lu... kecapean kali, Lan. J-jadi kurang fokus. Kurang aqua lu makanya ngelantur megang-megang tangan gue. Jijik gue, dikira tangan gue apaan."

​Rahmi mencoba menambahkan kalimat umpatan di akhir kalimatnya untuk mengembalikan suasana seperti sedia kala, namun suaranya terlalu lemah untuk terdengar meyakinkan.

​Keheningan yang amat sangat canggung kembali merajai suasana. Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan dari semak-semak di sekitar taman, seolah menertawakan kebodohan dua manusia keras kepala ini.

​Alan berdeham dengan keras, mencoba mengusir kecanggungan yang rasanya bisa diiris dengan pisau saking tebalnya. Ia memposisikan duduknya kembali, menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sendiri untuk mencari kehangatan, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang paling aman dan paling jauh dari apa yang baru saja terjadi.

​"Ngomong-ngomong..." Alan memulai lagi, suaranya dibuat-buat seringan mungkin, mencoba mengembalikan vibe sahabat toxic yang biasa mereka lakukan di kantin fakultas. Ia menoleh sedikit ke arah Rahmi, bibirnya menyunggingkan tawa jahil yang terlihat sangat dipaksakan.

​"Lu ngapain sih di sini sendirian tadi?" tanya Alan, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menggoda. "Galau lu? Galau milih cowok-cowok yang naksir lu di kampus? Gue denger dari si Randi, anak-anak cowok dari Fakultas Teknik sama anak Hukum banyak yang caper ke lu belakangan ini. Bingung lu ya mau nerima yang mana? Secara mereka pada tajir melintir semua."

​Alan tertawa jahil, sebuah tawa yang nyaring namun kosong. Ia berharap candaan receh ini bisa menormalkan kembali detak jantungnya dan menghapus insiden "pegang dada" tadi dari ingatan Rahmi.

​Namun bagi Rahmi, godaan Alan ini justru memicu sebuah ledakan emosi yang sudah lama ia timbun rapat-rapat di dasar hatinya. Mendengar pria yang dicintainya justru dengan enteng "menjodoh-jodohkannya" dengan pria lain membuat batas kesabaran Rahmi jebol seketika.

​Darah Rahmi mendidih. Rasa sakit di hatinya berubah menjadi amarah yang meletup-letup. Ia mendongakkan kepalanya dengan cepat, menatap tajam ke arah wajah Alan yang sedang tertawa jahil. Tanpa bisa ia cegah, kalimat balasan meluncur begitu saja dari bibirnya layaknya peluru yang lepas dari laras senapan.

​"Lebay banget sih lu!" bentak Rahmi dengan nada suara yang sedikit meninggi, memotong tawa Alan seketika. Napasnya memburu menahan gejolak di dadanya.

​Rahmi memajukan tubuhnya sedikit, matanya berkilat penuh dengan emosi yang tak bisa ia sembunyikan lagi.

​"Denger ya, Lan. Walaupun mereka semua ganteng... walaupun mereka dari kalangan anak terpandang, anak orang kaya, bawa mobil ke kampus..." Rahmi berbicara dengan tempo cepat, suaranya bergetar menahan tangis dan amarah. "Bagi gue... semua itu gak ada artinya! Harta mereka, tampang mereka, itu semua sampah buat gue! Karena semua itu gak ada artinya dibandingkan el..."

​DEGH!

​Dunia di sekitar Rahmi seakan berhenti berputar pada detik itu juga.

​Suku kata terakhir menggantung di udara malam yang dingin. Waktu seolah membeku. Mulut Rahmi masih terbuka, siap untuk melontarkan huruf 'u' yang akan menjadi klimaks dari kehancuran persahabatan mereka.

​Sebuah pengakuan cinta yang frontal nyaris saja meluncur keluar dari bibirnya. 'Gak ada artinya dibandingkan elu, Lan! Gue cuma mau elu! Gue cuma cinta sama elu!' Itulah kalimat yang sebenarnya ingin ia teriakkan di depan wajah pemuda bodoh dan tidak peka ini.

​Namun, alarm peringatan darurat di dalam otak Rahmi menyala merah dengan suara sirine yang memekakkan telinga. Realita menghantamnya dengan sangat keras. Ia menyadari sepenuhnya bahwa jika ia meneruskan kalimat itu, jika ia mengucapkan kata 'elu', maka tamatlah sudah. Topengnya akan hancur lebur. Persahabatan mereka akan hancur seketika. Alan, dengan segala insecurity dan perasaannya yang sedang condong pada Bunga, pasti akan menjauhinya, merasa bersalah, atau lebih buruk lagi... merasa jijik karena sahabat baiknya sendiri menaruh hati padanya.

​Rahmi tidak sanggup kehilangan Alan. Ia lebih rela hancur menahan sakitnya memendam perasaan daripada harus kehilangan keberadaan Alan dalam hidupnya sama sekali.

​Dengan sisa-sisa tenaga dan kewarasan yang ia miliki, Rahmi mengerem mulutnya sekuat tenaga. Ia mengatupkan rahangnya dengan bunyi klik yang tertahan.

​'Bego! Bego! Bego!' Rahmi merutuki perkataannya sendiri di dalam batin dengan kepanikan luar biasa. Jantungnya berdetak secepat kilat, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. 'Ini bibir kenapa sih gak bisa di kontrol?! Kenapa lu jadi ember gini sih, Rahmi?! Hampir aja! Hampir aja gue keceplosan bilang 'elu'! Kalau sampai dia denger, hancur semuanya malem ini juga! Bodoh banget lu, Mi! Bodoh!'

​Di sampingnya, Alan menghentikan tawa jahilnya. Kening pemuda itu berkerut dalam, menatap Rahmi dengan ekspresi bingung bercampur penasaran. Ia menunggu kelanjutan dari kalimat Rahmi yang menggantung itu dengan polosnya.

​Melihat Alan yang sedang menunggu jawabannya, otak Rahmi dipaksa berpikir di luar batas kemampuannya untuk mencari jalan keluar dari situasi mematikan ini.

​Dengan sangat tiba-tiba, Rahmi mengangkat tangannya dan menutupi mulutnya sendiri. Ia mulai terbatuk-batuk dengan suara yang sengaja dikeraskan dan dilebih-lebihkan.

​"Uhuk! Uhuk!" Rahmi terbatuk sambil memukul-mukul pelan dadanya sendiri. Ia berdeham dengan sangat keras. "Ehem! Ehem! Aduh..."

​Rahmi memalingkan wajahnya dari Alan, pura-pura menyentuh lehernya seolah sedang kesakitan.

​"Ehem... gatal nih tenggorokan gue," kilah Rahmi dengan suara yang sengaja dibuat serak, berbohong dengan sangat buruk, namun ia berharap kebohongan murahan ini bisa menyelamatkannya.

​Ia kembali menatap Alan, menelan ludahnya, lalu melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat terpotong dengan alibi yang paling masuk akal yang bisa ia pikirkan dalam waktu satu detik.

​"Maksud gue..." Rahmi menghela napas panjang, menetralkan suaranya kembali ke mode tomboi yang santai. "...maksud gue, semua cowok tajir itu gak ada artinya dibandingkan... dibandingkan kuliah gue, Lan. Dibandingkan cita-cita gue ngebanggain bokap gue. Ngapain gue galauin cowok gak jelas di saat IPK Akuntansi gue aja masih empot-empotan? Cinta-cintaan mah ntar aja lah, gak penting buat gue sekarang. Lagian gue lebih demen nongkrong sama elu pada, sama si Randi, si Ardi. Jelas lebih seru daripada date sama cowok jaim."

​Rahmi mengakhiri alibinya dengan tawa kecil yang terdengar sangat natural, sebuah tawa dari seorang aktris peraih piala Oscar untuk kategori 'Menyembunyikan Patah Hati Terbaik Sepanjang Masa'.

​Hening sejenak. Angin malam kembali berembus, membawa daun-daun kering yang berguguran melintasi ujung sepatu mereka.

​Rahmi menahan napas, menatap wajah Alan dengan sudut matanya, menunggu reaksi dari pemuda itu. Menunggu apakah alibi murahannya itu berhasil mengelabui otak analitis seorang mahasiswa Akuntansi.

​Dan nyatanya... ketidakpekaan Alan Prawija terhadap urusan asmara memang pantas dicatat dalam buku rekor dunia.

​Cowok yang ketidakpekaannya sudah mencapai stadium akhir akut ini sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia menelan mentah-mentah alasan yang baru saja dilontarkan oleh Rahmi. Tidak ada sepercik pun kecurigaan di matanya bahwa sahabat perempuannya itu baru saja nyaris menyatakan cinta mati kepadanya.

​Bagi Alan, jawaban Rahmi sangatlah logis. Tentu saja Rahmi lebih memprioritaskan kuliahnya demi meneruskan perusahaan ayahnya. Tentu saja Rahmi merasa lebih nyaman berteman dengan cowok-cowok urakan seperti dirinya, Randi, dan Ardi ketimbang pria-pria kaya yang membosankan. Itu sangat sesuai dengan karakter tomboi Rahmi yang selama ini ia kenal.

​Alan mendengus pelan, lalu tertawa kecil, membenarkan ucapan Rahmi dalam hatinya.

​"Bener juga sih kata lu, Mi," jawab Alan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan, membuang jauh-jauh rasa herannya. "Fokus kuliah emang lebih penting. Cinta-cintaan malah bikin pusing, apalagi kalau beda kasta kayak..."

​Alan tidak meneruskan kalimatnya. Pikirannya kembali melayang pada sosok Bunga yang ada di fakultas seberang. Jurang perbedaan antara dirinya sang pelayan kafe miskin dan Bunga sang primadona manajemen kaya raya kembali menganga lebar di dalam benaknya.

​Dengan perasaan lelah yang kembali menyelimuti hatinya, Alan menolehkan kepalanya dari Rahmi. Ia kembali menatap lurus ke arah langit malam yang kini sudah sepenuhnya gelap gulita, dihiasi oleh beberapa bintang yang bersinar redup di balik polusi cahaya Kota Bandung. Wajahnya kembali murung, kembali diselimuti oleh keputusasaan akan masa depannya sendiri. Ia tenggelam dalam dunianya sendiri, melupakan sepenuhnya eksistensi gadis yang sedang duduk di sebelahnya.

​Sementara itu, di sebelah Alan, Rahmi perlahan menurunkan tangannya dari lehernya.

​Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap profil samping wajah Alan yang tampak begitu melankolis di bawah cahaya lampu taman yang temaram. Rahmi menatap rahang tegas itu, menatap mata sayu itu, menatap bibir yang beberapa menit lalu tersenyum manis namun bukan untuknya.

​Batin Rahmi menjerit dalam keheningan yang menyayat hati. Topengnya malam ini hampir saja pecah berkeping-keping, dan meskipun ia berhasil mempertahankannya dengan sebuah kebohongan yang sangat menyedihkan, rasa sakit di dadanya justru berlipat ganda. Tangan kirinya tanpa sadar bergerak naik, mencengkeram kemeja di atas dada sebelah kirinya sendiri, tepat di atas jantungnya yang masih berdetak dengan ritme yang menyakitkan.

​Tangan itu... tangan yang tadi sempat berada di atas dada Alan. Tangan yang sempat merasakan debaran yang pahit.

​Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tidak bisa lagi dibendung. Satu tetes kecil air mata lolos dari sudut matanya, meluncur turun melewati pipinya, dan jatuh terserap ke dalam kerah jaket jeans-nya, lenyap tanpa suara.

​Malam itu, di bangku taman kota Bandung yang dingin, jarak di antara bahu mereka berdua mungkin hanya beberapa sentimeter saja. Namun bagi Rahmi, jarak di antara hati mereka berdua terasa sejauh jutaan tahun cahaya, sebuah jarak yang tak akan pernah bisa ia seberangi, sehebat apa pun ia menyembunyikan cintanya di balik tawa dan makian seorang sahabat.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!