Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 penempaan cangkang ilusi dan tirai panggung Kekaisaran
Hawa panas yang menyembur dari balik pintu batu berukir naga di dalam *Tungku Api Penyucian* tidak seperti panas api spiritual biasa. Panas ini berasal langsung dari magma inti bumi kuno yang dialirkan melalui formasi ukiran raksasa di bawah tanah Ibukota Kekaisaran Naga Langit. Udara di dalam ruangan itu mendidih, mendistorsi pandangan dan membuat logam fana biasa meleleh hanya dengan terpapar uapnya.
Yan Xinghe berdiri di tengah ruangan yang menyerupai kawah gunung berapi tersebut. Ia telah melepaskan jubah sutra hitamnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang pucat namun memiliki definisi otot yang dipahat dengan kesempurnaan mutlak. Di bawah cahaya merah membara dari tungku utama, kulit *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya memancarkan pendaran cahaya emas-ungu yang menolak segala jenis kerusakan dari suhu ekstrem tersebut.
Di depannya, balok logam raksasa **Meteorit Bintang Kegelapan** tergeletak di atas landasan tempa yang terbuat dari baja bintang.
Master Ku, sang pandai besi eksentrik, berdiri di sudut ruangan dengan tubuh gemetar, mengabaikan keringat yang membanjiri celemek kulitnya. Sepasang matanya yang tua tak berkedip menatap proses yang sedang dilakukan pemuda di hadapannya.
"Api Inti Bumi sudah mencapai batas suhu maksimal, anak muda!" teriak Master Ku menembus raungan api. "Bahkan baja kosmik pun akan melunak dalam kondisi ini! Tapi ingat, batu ilusi itu memiliki sifat yang sangat rapuh terhadap elemen api jika tidak dikendalikan dengan presisi spiritual tingkat dewa!"
Xinghe tidak menjawab. Sepasang matanya yang segelap malam menyala dengan kilatan emas murni dari **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Kedua**. Ia memanggil **Api Gagak Emas** dari dalam Dantiannya, mengalirkannya menembus pori-pori lengan kanannya. Api suci purba itu menyatu dengan Api Inti Bumi, menciptakan suhu yang secara harfiah mulai membakar ruang itu sendiri.
Tangan kiri Xinghe melempar **Batu Bintang Jatuh Ketiadaan** ke udara, tepat di atas bilah tumpul meteorit hitamnya.
"Hancur," perintah Xinghe dengan tenang.
Satu letupan Niat Pedang melesat dari jari telunjuknya, membelah batu kosmik berwarna perak pudar itu. Seketika, batu itu meleleh menjadi cairan perak yang bersinar terang, melayang di udara menyerupai merkuri kosmik yang memancarkan hukum manipulasi ruang skala kecil.
Xinghe meraih *Palu Bintang* seberat sepuluh ribu kati dengan tangan kanannya. Otot-otot di bahunya menegang, mengunci seluruh persendiannya dengan kekuatan mekanik murni. Ia tidak membuang waktu. Palu raksasa itu diayunkan dari atas ke bawah, menghantam cairan perak tersebut hingga memercik menyelimuti seluruh permukaan *Meteorit Bintang Kegelapan*.
*TENG!*
Suara dentuman pertama tidak terdengar seperti besi beradu, melainkan seperti lonceng surga yang bergaung menembus dimensi. Gelombang kejut dari hantaman itu memadamkan separuh api di dalam tungku sejenak.
*TENG! TENG! TENG!*
Xinghe memukul dengan ritme yang luar biasa presisi. Setiap hantaman *Palu Bintang* memasukkan selapis cairan ilusi perak ke dalam pori-pori logam meteorit hitam tersebut. Dalam pandangan Master Ku yang terbelalak, sebuah keajaiban manipulasi materi terjadi di depan matanya.
Balok logam hitam legam yang kasar, tebal, dan tumpul itu perlahan-lahan diselimuti oleh lapisan cahaya perak. Di bawah kendali Niat Pedang Xinghe, cairan ilusi itu memanipulasi persepsi visual dan aura senjata. Bentuk kasar meteorit itu mulai tampak menyusut, meramping, dan menajam.
Tiga jam berlalu dalam pusaran bunyi godam dan raungan api.
Ketika Xinghe menurunkan palunya dan menarik kembali energinya, ruangan itu tiba-tiba jatuh ke dalam keheningan yang mencekam. Asap putih mengepul dari atas landasan tempa, menyamarkan hasil akhir mahakaryanya.
Xinghe mengulurkan tangan kanannya ke dalam kepulan asap, meraih gagang senjatanya, dan mengangkatnya.
Asap memudar. Di tangan Xinghe, tidak ada lagi balok logam hitam raksasa yang buruk rupa. Sebagai gantinya, ia memegang sebilah pedang panjang berwarna perak murni yang sangat elegan. Bilahnya tampak tipis, memancarkan kilau tajam bagaikan cermin, dengan ukiran awan-awan halus di sepanjang permukaannya. Senjata itu tampak seperti pedang spiritual tingkat menengah yang biasa digunakan oleh para cendekiawan pedang yang mengutamakan kecepatan dan keindahan.
Namun, hanya Xinghe yang tahu kebenarannya.
"Ilusi yang sempurna," bisik Xinghe, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang mematikan.
Secara visual, pedang itu tampak ringan dan tipis. Namun di tangannya, massa absolut seberat lima ribu kati dari *Meteorit Bintang Kegelapan* tidak berkurang satu gram pun. Batu ilusi itu hanya memanipulasi persepsi ruang dan cahaya, menyembunyikan wujud asli dan aura berat dari senjata pembantainya. Siapa pun yang mencoba menangkis pedang "tipis" ini akan langsung berhadapan dengan hantaman gunung baja yang tak terlihat.
Master Ku jatuh berlutut, air mata haru mengalir di pipi keriputnya. "Sebuah pedang ilusi tingkat transenden... Penempaan yang menipu hukum alam! Tuan Muda, senjata apakah gerangan yang baru saja lahir dari tungkuku ini?"
Xinghe menyarungkan pedang perak itu ke dalam sarung sutra putih baru yang telah disiapkan. "Untuk saat ini, mari kita sebut dia **Bilah Awan Perak**."
Malam itu, di dalam Tungku Api Penyucian, sebuah kebohongan kosmik yang akan merenggut ribuan nyawa di atas panggung kekaisaran telah resmi ditempa.
### **Rencana Licik di Balik Istana Emas**
Di waktu yang sama, di bagian atas Ibukota Kekaisaran Naga Langit yang melayang di atas awan, Pangeran Ketiga Long Tian melangkah mondar-mandir di dalam ruang studinya yang terbuat dari emas murni. Wajahnya yang biasa tampan dan congkak kini terdistorsi oleh amarah yang tak tertahankan. Bekas rasa terhina di distrik bawah tanah masih membakar harga dirinya.
"Apakah kau sudah menemukan identitas pemuda berjubah hitam itu?!" bentak Long Tian, melempar sebuah vas giok bernilai ribuan koin ke arah dinding hingga hancur berkeping-keping.
Di hadapannya, seorang pria tinggi berpakaian zirah hitam dengan lambang naga merah—Komandan Zhao dari Pasukan Bayangan Kekaisaran—berlutut dengan satu kaki.
"Ampun, Yang Mulia," jawab Komandan Zhao dengan nada hati-hati. "Distrik Ketenangan Bayangan terlalu rumit untuk disisir dalam satu malam. Namun, informan kami di Asosiasi Pedagang Awan Besi melaporkan bahwa mereka baru saja memberikan rekomendasi pendaftaran Turnamen Bintang Kekaisaran kepada seorang petarung independen baru. Pemuda itu memiliki deskripsi yang mirip: selalu berpakaian hitam, kulit pucat, dan memiliki aura yang sangat dingin. Ia mendaftar dengan nama **Lin Xing**."
"Lin Xing?" Long Tian menyipitkan matanya. "Hanya petarung independen dari asosiasi dagang rendahan? Beraninya dia mempermalukan seorang pangeran kekaisaran! Dia pasti menggunakan semacam artefak penekan aura untuk menjatuhkan pengawalku waktu itu."
Long Tian tersenyum kejam, ide licik mulai meracuni pikirannya. "Komandan Zhao, tahapan kualifikasi Turnamen Bintang besok menggunakan format *Battle Royale*, bukan?"
"Benar, Yang Mulia. Seratus petarung akan dimasukkan ke dalam satu arena. Hanya sepuluh orang terakhir yang berdiri yang berhak lolos ke babak utama."
"Bagus," Long Tian mengepalkan tinjunya. "Atur agar si 'Lin Xing' itu dimasukkan ke dalam Blok 4. Aku akan mengirim tiga puluh pengawal rahasiaku yang berpura-pura menjadi peserta ke dalam blok yang sama. Perintahkan mereka untuk memotong kedua kaki dan tangannya di atas arena. Aku ingin dia merangkak keluar dari stadion itu seperti anjing cacat!"
"Titah Anda akan dilaksanakan, Pangeran."
Di balik layar emas istana, jaring konspirasi fana mulai dirajut, tanpa menyadari bahwa mereka sedang mencoba menjaring seekor naga kosmik purba menggunakan benang laba-laba yang rapuh.
### **Satu Bulan Kemudian: Pembukaan Panggung Berdarah**
Waktu di dunia kultivasi berlalu bagaikan kedipan mata. Satu bulan masa tenggang yang diberikan oleh panitia Turnamen Bintang Kekaisaran akhirnya usai.
Di pagi hari yang cerah, Ibukota Kekaisaran Naga Langit berada dalam kondisi eforia yang memuncak. **Stadion Bintang Jatuh**, arena pertarungan terbesar di benua ini yang melayang tepat di bawah bayangan Istana Kekaisaran, dipenuhi oleh ratusan ribu penonton. Bangunan arena ini tidak memiliki atap, dikelilingi oleh tribun yang terbuat dari batu giok putih, dengan sembilan formasi perisai transparan yang dirancang khusus untuk menahan dampak pertarungan tingkat tinggi.
Di balkon VVIP tertinggi, Kaisar Naga Langit yang mengenakan jubah naga emas duduk di singgasana, memancarkan aura **Alam Transformasi Roh** yang mendominasi seluruh stadion. Namun, di kursi kehormatan tepat di sebelah kanannya, duduk seorang pemuda dengan jubah sutra putih Tanah Suci.
Pemuda itu adalah Tuan Muda Gongsun Zhi. Lengan kanannya yang sebelumnya terputus kini telah digantikan oleh sebuah lengan buatan (prostetik) yang terbuat dari *Giok Teratai Roh*, memancarkan cahaya hijau yang terus-menerus memulihkan sisa jaring sarafnya. Wajah femininnya tampak jauh lebih muram dan kejam dari sebelumnya. Sepasang matanya terus memindai puluhan ribu peserta yang berkumpul di pelataran bawah, mencari sosok iblis berjubah hitam yang menjadi mimpi buruknya.
"Apakah formasi pelacak sudah diaktifkan di seluruh pintu masuk arena?" tanya Gongsun Zhi pada pengawal barunya tanpa menoleh.
"Sudah, Tuan Muda. Namun hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda fluktuasi Niat Pedang atau aura dari pemuda bernama Yan Xinghe tersebut," jawab sang pengawal dengan hormat.
Gongsun Zhi menggertakkan giginya. "Jika dia punya nyali untuk mendeklarasikan perang, dia pasti akan muncul. Terus awasi!"
Di bawah, di antara lautan puluhan ribu peserta yang berasal dari berbagai sekte dan faksi militer, Yan Xinghe berdiri dengan tenang. Ia mengenakan pakaian yang sedikit berbeda hari ini; bukan jubah sutra kebesaran, melainkan pakaian tempur ringkas berwarna hitam gelap dengan pelindung bahu kulit yang tipis. Caping bambunya digantikan oleh ikat kepala kain hitam yang mengikat sebagian rambut panjangnya.
Di pinggang kirinya, tergantung sebuah pedang panjang bersarung putih—**Bilah Awan Perak**.
Tidak ada yang memperhatikan pemuda pucat yang tampak biasa ini. Fluktuasi energinya ditahan dengan sempurna di tingkat *Pembukaan Meridian Tingkat Awal*, sebuah tingkat kekuatan yang sangat umum di ibukota.
Di tribun penonton kelas menengah, Ye Ling'er duduk bersama Yan Qingshan. Qingshan mengenakan jubah tebal untuk menutupi otot raksasanya, sementara Shen Yulan dan Xiaoxiao tetap berada di kediaman bawah tanah yang aman demi menghindari risiko terburuk.
"Giliran Penatua Yan ada di Blok 4," Ye Ling'er berbisik pada Qingshan, matanya menatap papan kristal raksasa di atas arena. "Tapi ada yang aneh. Berdasarkan informasi asosiasiku, Blok 4 dipenuhi oleh petarung-petarung bayaran dari faksi bayangan yang terafiliasi dengan Pangeran Ketiga. Ini jebakan."
Qingshan menyilangkan lengannya, tersenyum tipis. "Jebakan? Ling'er, satu-satunya yang terjebak di sana adalah mereka yang berpikir bahwa adikku bisa dikurung."
Suara lonceng surgawi bergema ke seluruh penjuru stadion. Turnamen Bintang Kekaisaran, ajang pembuktian kekuatan terbesar di Tiga Ribu Dunia fana ini, resmi dimulai.
Tahap kualifikasi berlangsung cepat dan brutal. Blok 1 hingga Blok 3 mempertontonkan pertarungan *Battle Royale* yang penuh darah. Seratus orang saling bunuh, saling lempar teknik spiritual, hingga hanya menyisakan sepuluh orang yang berdiri. Bau darah mulai menguar di udara arena.
"Selanjutnya! Kualifikasi Blok 4! Para peserta diharap memasuki arena utama!" suara pembawa acara menggema melalui formasi pengeras suara.
Xinghe melangkah dengan ritme yang stabil. Kakinya menapak lantai arena yang terbuat dari logam khusus penahan kejut. Begitu ia berdiri di tengah-tengah arena bundar raksasa tersebut, ia menyadari bahwa dari sembilan puluh sembilan peserta lainnya, setidaknya tiga puluh orang secara terang-terangan mengunci pandangan membunuh ke arahnya.
Di balkon VVIP, Pangeran Ketiga Long Tian tersenyum lebar, menyesap anggur merahnya. "Habisi dia. Tunjukkan pada semut bawah tanah itu apa akibatnya menyinggung naga kekaisaran."
Gongsun Zhi yang duduk tidak jauh dari sana melirik malas ke arah arena Blok 4. Ia tidak mengenali wajah "Lin Xing" karena dari jarak yang jauh dan pakaian yang berbeda. Terlebih lagi, senjata yang dibawa pemuda itu adalah pedang tipis yang terlihat ringkih, sama sekali berbeda dengan balok logam iblis yang menghancurkan lengan kanannya.
"Mulai!"
Tepat saat aba-aba diberikan, arena Blok 4 tidak berubah menjadi kekacauan acak seperti blok sebelumnya. Tiga puluh pria bertubuh kekar, yang menyembunyikan kultivasi Alam Meridian Tingkat Menengah mereka di balik pakaian petarung jalanan, langsung melesat mengepung Xinghe dari segala penjuru. Tujuh puluh peserta lainnya yang tidak tahu apa-apa memilih mundur ke tepi arena, membiarkan pengeroyokan itu terjadi.
"Bocah! Pangeran Ketiga menitipkan salam untuk kedua lututmu!" raung pemimpin pengeroyok itu, seorang pria dengan bekas luka bakar di lehernya. Ia mengayunkan sebuah palu gada berduri besar yang dilapisi energi elemen tanah, mengincar kaki Xinghe.
Di saat yang sama, puluhan pedang, tombak, dan rantai melesat dari berbagai sudut. Ini adalah formasi pengeksekusi yang terkoordinasi dengan sempurna, dirancang agar target tidak memiliki setitik pun ruang untuk menghindar.
Xinghe berdiri diam di tengah kepungan. Wajah pucatnya tidak menunjukkan kepanikan, hanya sebuah kebosanan yang teramat sangat.
Tangan kanannya dengan santai bertumpu pada gagang pedang putih di pinggangnya.
"Senjata yang tipis untuk manusia yang akan segera menjadi pasta daging," ejek salah satu penyerang melihat Xinghe berniat mencabut pedangnya yang terlihat ringan dan rapuh.
Xinghe tersenyum. Seulas senyum yang sedingin dasar neraka.
Ia tidak menggunakan **Niat Pedang** tingkat dewa. Ia tidak menggunakan energi guntur yang meledak-ledak. Ia murni memanfaatkan mekanisme fisik dari batu kosmik yang ia bawa.
*Sring!*
Xinghe mencabut **Bilah Awan Perak** dari sarungnya. Pedang itu berkilau memantulkan cahaya matahari, terlihat begitu tipis dan ringan bagai sehelai bulu perak. Ia melangkah satu langkah ke depan, merendahkan kuda-kudanya, dan melakukan satu putaran tebasan horizontal sejauh tiga ratus enam puluh derajat.
Gerakannya terlihat sangat lambat dan anggun, seolah ia sedang menari dengan pedang tipisnya.
Para penyerang tertawa. Beberapa dari mereka bahkan tidak repot-repot menggunakan teknik pertahanan tingkat tinggi, yakin bahwa senjata rapuh itu akan patah saat membentur aura mereka.
Namun, saat *Bilah Awan Perak* itu membelah udara, dunia di sekitar Xinghe mendadak berubah menjadi anomali fisika.
Udara di depan pedang "tipis" itu menjerit kesakitan, terkompresi secara paksa hingga membentuk dinding angin transparan yang membias. Pedang itu mungkin terlihat ringan, tetapi massa absolut seberat lima ribu kati dari *Meteorit Bintang Kegelapan* sedang bergerak dalam kecepatan sentrifugal penuh!
*DUUUUAAAAARRRR!*
Benturan pertama tidak terdengar seperti pedang yang memotong daging. Itu terdengar seperti gunung baja yang ditabrakkan ke dalam rumah kaca.
Palu gada berduri milik pemimpin penyerang hancur berkeping-keping menjadi serbuk saat bersentuhan dengan pedang tipis Xinghe. Tidak berhenti di situ, pedang "ringan" itu terus melaju menghantam pinggang pria tersebut.
Tulang punggung, panggul, dan organ dalam pemimpin itu meledak hancur seketika akibat transfer momentum mekanik raksasa. Tubuhnya terlipat menjadi dua bagian dengan sudut yang mustahil, terlempar menghantam lima rekannya di belakang hingga mereka semua ikut terpental muntah darah.
Tebasan memutar Xinghe terus berlanjut.
Setiap kali pedang peraknya menyentuh senjata, zirah, atau tubuh para pengeroyoknya, suara retakan tulang yang memekakkan telinga meledak di seluruh arena. Tiga puluh petarung elit kekaisaran yang dikirim oleh Pangeran Long Tian tersapu bersih bagaikan daun kering yang dihantam badai topan.
Hanya dalam satu ayunan pedang tunggal, udara arena dipenuhi oleh kabut darah merah dan potongan senjata yang berterbangan. Tubuh-tubuh kaku bergelimpangan di lantai, organ dalam mereka hancur murni karena benturan gravitasi dari pedang ilusi tersebut.
Ketika putaran pedangnya selesai, Xinghe kembali berdiri tegak. Bilah pedang peraknya yang mengkilap tidak meneteskan setitik pun darah; kecepatan dan kepadatan senjatanya membuang semua cairan sebelum sempat menempel.
Keheningan yang mencekik menyelimuti seluruh **Stadion Bintang Jatuh**. Ratusan ribu penonton, para tetua sekte, dan peserta lainnya membeku di kursi mereka. Otak mereka gagal memproses tontonan tersebut. Bagaimana mungkin sebilah pedang yang terlihat seberat pedang latihan cendekiawan bisa memancarkan daya hancur fisik yang menyamai gada raksasa seberat gunung?!
Di balkon VVIP, cangkir anggur di tangan Pangeran Long Tian tergelincir jatuh, pecah berantakan di lantai marmer. Wajah pangeran congkak itu pucat pasi, tubuhnya gemetar melihat tiga puluh elit rahasianya musnah dalam satu tarikan napas.
Di kursi kehormatan lainnya, Tuan Muda Gongsun Zhi dari Tanah Suci perlahan berdiri dari kursinya. Mata femininnya menyipit tajam, menatap lurus ke arah pemuda berpakaian hitam di tengah arena.
Prostetik lengan gioknya tiba-tiba berdengung pelan. Meskipun wajah pemuda itu asing, meskipun senjata yang digunakannya terlihat sepenuhnya berbeda... ada sebuah kebrutalan absolut dalam ayunan tersebut yang memicu trauma terdalam di jiwa Gongsun Zhi. Sebuah trauma tentang balok besi raksasa yang meremukkan seluruh keangkuhannya di wilayah perbatasan.
"Lin Xing..." Gongsun Zhi menggumamkan nama palsu itu, aura membunuh perlahan menguar dari tubuhnya. "Siapa sebenarnya kau?"
Di bawah tatapan puluhan ribu pasang mata, Xinghe dengan santai mengibaskan pedang peraknya. Ia menoleh ke arah tujuh puluh peserta lain di tepi arena yang kini menggigil ketakutan hingga beberapa dari mereka menjatuhkan senjata.
"Hanya tersisa sepuluh yang boleh berdiri," suara Xinghe mengalun tenang, memantul di seluruh dinding arena yang sunyi. "Kalian memiliki waktu lima detik untuk melompat keluar dari arena ini, sebelum aku memutuskan untuk membersihkan lantai ini dari sisa-sisa napas kalian."
Tidak ada yang mempertanyakan otoritasnya. Dalam waktu kurang dari dua detik, tujuh puluh praktisi fana itu berhamburan melompat melewati batas arena, menyerahkan diri mereka untuk diskualifikasi daripada harus berhadapan dengan dewa iblis berpedang ilusi di tengah panggung kekaisaran.
Babak kualifikasi Blok 4 berakhir sebagai legenda instan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Turnamen Bintang Kekaisaran, hanya ada satu orang peserta yang berdiri dari satu blok, melenggang bebas menuju babak utama sambil membawa teror misterius yang mulai mencekik leher para penguasa fana di tribun kehormatan. Tirai panggung kekaisaran telah resmi ditarik, dan sang aktor utama siap menyajikan pertunjukan darah yang akan dicatat abadi di Tiga Ribu Dunia.